V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
5.3. Gambaran Umum Usahatani Cabai Merah Keriting
Produksi cabai merah keriting di Desa Citapen melalui beberapa tahap. Tahap-tahap produksi terdiri dari penyiapan lahan, penyemaian benih dan pembibitan, penanaman, pemeliharan, hingga pemanenan dan pasca panen.
1. Persiapan Lahan
Tahap pertama yang dilakukan adalah pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, plastik mulsa, dan sampah lainnya. Setelah itu tanah dibajak dengan menggunakan alat cangkul dengan tujuan untuk mengembalikan kondisi kesuburan tanah agar tetap gembur. Kedalaman tanah yang dicangkul berkisar antara 30 cm hingga 40 cm agar akar tanaman dapat dengan leluasa memperoleh zat hara yang ada di dalam tanah.
Setelah tanah gembur, dibentuk bedengan setinggi 30 cm, dengan lebar bedengan 120 cm serta panjang yang disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki petani. Jarak antar bedengan 30 cm hingga 40 cm dengan tujuan agar jarak antar tanaman tidak terlalu rapat dan dapat dilalui petani. Selanjutnya tanah gembur
dicampur dengan kapur (dolomit) dengan tujuan memperoleh tanah dengan kisaran PH 5.6 – 6.8.
Pemupukan dasar juga dilakukan pada bedengan yang telah terbentuk dengan memasukkan pupuk kandang. Pupuk kandang diberikan untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan jumlah organisme tanah yang berguna dalam proses penguraian bahan organik menjadi bahan yang tersedia bagi tanaman. Jumlah pupuk kandang yang diberikan sebanyak 6.7 Ton per Ha. Tanah bedengan diaduk secara merata dan dibiarkan selama dua minggu. Persiapan lahan ini biasanya menggunakan tenaga kerja pria sebanyak dua orang hingga tiga orang pada lahan di bawah satu hektar.
2. Penyemaian Benih dan Pembibitan
Penyemainan benih cabai merah keriting dilakukan lebih awal dari proses persiapan lahan. Benih cabai merah keriting disemai di dalam polybag yang sebelumnya telah diisi dengan campuran tanah, pupuk kandang, pupuuk NPK, serta furadan. Polybag berisi benih cabai merah keriting disimpan dalam tempat persemaian tersendiri yang bagian atasnya diberi naungan bambu yang ditutupi plastik transparan.
Untuk mendapatkan bibit yang siap tanam, dilakukan perawatan pada semaian di antaranya adalah penyiraman serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore jika cuaca sangat panas. Jika cuaca baik atau turun hujan, maka penyiraman dilakukan satu kali di pagi hari. Saat bibit berumur 10 hingga 15 hari dilakukan penyemprotan pupuk daun dengan dosis rendah sebanyak 0.5 gram/liter air. Selain itu penyemprotan pestisida dilakukan dengan konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit. Saat umur bibit sudah mencapai 20 hari, maka bibit sudah siap dipindahkan ke lahan untuk ditanam.
3. Penanaman
Bibit cabai merah keriting ditempatkan di tengah lubang tanam. Selanjutnya dimasukkan dan ditimbun media tanam hingga padat. Hal ini bertujuan untuk membuat tanaman menjadi lebih kokoh. Waktu penanaman yang baik dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00–09.00 WIB atau sore hari setelah pukul 15.00 WIB. Setelah bibit ditanam, penyiraman dapat langsung
dilakukan. Tenaga kerja yang digunakan biasanya lima orang dalam waktu satu hari.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan selama masa proses produksi cabai merah keriting berlangsung. Kegiatan pemeliharaan tanaman cabai merah keriting meliputi pemasangan ajir, penyiraman, perempelan tunas dan bunga pertama, pemupukan susulan, serta pengendalian hama dan penyakit. Pemasangan ajir bertujuan untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh. Pemasangan ajir dilakukan saat umur cabai merah keriting mencapai empat minggu.
Penyiraman dilakukan pada awal pertumbuhan saat cabai merah keriting menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Pada awal pertumbuhan, penyiraman dilakukan setiap hari, terutama pada musim kemarau, namun setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, penyiraman berikutnya dilakukan sesuai dengan kondisi cuaca.
Perempelan tunas dan bunga pertama dilakukan pada saat tanaman berumur tujuh hingga 20 hari untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya yang lebih banyak dan produktif menghasilkan buah. Sepuluh hari setelah penanaman, dapat dilakukan pemupukan susulan pada tanaman cabai merah keriting. Pemupukan susulan dilakukan untuk menyuburkan tanaman agar tumbuh dengan baik. Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan daun dan tunas adalah pupuk dengan kadar Nitrogen yang tinggi, sedangkan pada saat pertumbuhan bunga dan buah digunakan pupuk daun yang memiliki kadar Phospor dan Kalium yang tinggi. Proses pemupukan dilakukan dengan teknik ‘kocoran’ larutan hasil campuran pupuk dengan air pada dosis tertentu.
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara penyemprotan obat-obatan dan penyiangan gulma. Untuk menghadapi penyakit pada tanaman cabai merah keriting seperti serangan penyakit busuk buah, bercak daun, cendawan tepung dilakukan penyemprotan obat-obatan yang terdiri dari insektisida dan fungisida sebanyak dua minggu sekali. Jika serangan hama dan penyakit lebih banyak dari biasanya, maka penyemprotan dilakukan satu hingga dua kali dalam seminggu. Jenis obat-obatan yang biasa digunakan oleh petani
cabai merah keriting di Desa Citapen antara lain Furadan, Confidor, Curacron, Decis, Antracol, Supergro, Gandasil, dan obat sejenis lainnya.
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma yang dapat mengambil makanan yang seharusnya hanya diserap oleh tanaman cabai merah keriting saja. Penyiangan dilakukan sebanyak dua hingga tiga kali dalam masa proses produksi cabai merah keriting. Tenaga kerja yang digunakan pada proses pemeliharan tanaman cabai merah keriting biasanya dilakukan sendiri dengan bantuan tiga hingga empat orang tenaga kerja.
5. Panen dan Pasca Panen
Panen cabai merah keriting dapat dimulai pada saat tanaman berumur seratus hari setelah tanam. Selanjutnya pemetikan buah dapat dilakukan selang enam hingga sepuluh hari sekali. Rata-rata cabai merah keriting dapat dipanen hingga 34 kali pemetikan. Produksi cabai merah keriting setiap panen hasilnya tidak selalu sama. Pada awal hingga panen ke-7, hasil panen belum optimal. Pada panen ke-8 akan menunjukkan kenaikan produksi hingga panen ke-12 yang akan mencapai produksi optimal. Kemudian jumlah produksi akan stabil hingga panen ke-20, dan akan menurun dengan lambat sampai habis masa produksinya.
Panen biasanya dilakukan pada pagi hari dan tenaga kerja yang digunakan untuk memetik adalah tenaga kerja wanita. Setelah cabai merah keriting dipeti, dilakukan penyortiran dengan memisahkan cabai merah keriting yang busuk atau patek, kemudian cabai merah keriting yang sudah disortir dikemas ke dalam karung plastik berukuran 50 Kg.
VI. KARAKTERISTIK USAHATANI, PEDAGANG, LEMBAGA DAN