• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3. Gambaran Umum Variabel Independent

Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian yang digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim

dan makhluk hidup lainnya, serta sebagai saran untuk pengembangan keluarga.. Tuberkulosis paru merupakan penyakit kronik dan menular yang erat kaitannya dengan keadaan dan kondisi lingkungan.

Indonesia pada tahun 2008 terdapat 26,9 juta unit rumah yang tidak layak huni, baik dari segi bangunan permanen maupun bangunan tidak permanen (BPS, 2008). Menurut Profil Kesehatan Indonesia (2012) diketahui pencapaian rumah sehat di Indonesia adalah sebesar 68,69 %, capaian rumah sehat di Indonesia pada tahun 2012 lebih tinggi jika dibandingkan dengan target nasional yang telah ditetapkan yakni sebesar 60%. Pencapaian rumah sehat tertinggi terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTT) yakni sebesar 98,99%, dan capaian rumah sehat terendah terdapat di Sulawesi Tenggara yakni sebesar 18,35 % (Kemenkes RI, 2012). Menurut Badan Pusat Statistik tahun 2016 menunjukkan bahwa trend rumah sehat di Kota Medan dari tahun 2005 hingga 2015 berfluktuasi. Pada tahun 2010 capaian rumah sehat di Kota Medan mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yakni sebesar 318.397 unit rumah, menurun di tahun 2011 menjadi sebesar 277.944 unit rumah, terus mengalami penurunan hingga tahun 2013 capaian rumah sehat di Kota Medan adalah sebesar 254.997 unit rumah, akan tetapi pada tahun 2015 capaian rumah sehat di Kota Medan mengalami kenaikan yakni sebesar 416.031 unit rumah, atau bisa dilihat pada tabel 4.3. dibawah ini :

Cakupan rumah sehat yang ada di Kota Medan setiap tahunnya mengalami peningkatan, meskipun pada tahun 2011 terjadi penurunan angka cakupan rumah sehat yakni 277.944 unit rumah sehat pada tahun 2011 dari tahun 2010 sebesar 318.397 unit rumah, penurunan cakupan rumah sehat di Kota Medan terus berlanjut

hingga tahun 2013 yakni sebesar 254.997 unit rumah. Namun terjadi peningkatan kembali pada tahun selanjutnya. Pada tahun 2015 di temukan angka cakupan rumah sehat di Kota Medan yakni sebesar 416.031 unit rumah, atau selengkapnya terdapat pada tabel 4.3 dibawah ini.

Tabel 4.3. Analisis Jumlah Rumah Sehat di Kota Medan tahun 2005-2015

No Tahun Jumlah Rumah Sehat

1 2005 172.797 2 2006 166.264 3 2007 117.031 4 2008 208.146 5 2009 311.108 6 2010 318.397 7 2011 277.944 8 2012 265.256 9 2013 254.997 10 2014 363.705 11 2015 416.031 Jumlah 2.871.676

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Medan 2016

Rumah sehat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penderita TB paru. Dalam penelitian ini data rumah sehat yang digunakan yaitu data rumah sehat berdasarkan jumlah seluruh rumah yang terdapat di Kota Medan tahun 2005 hingga 2015 dengan satuan yaitu ratusan ribu unit rumah.

b. Jumlah kendaraan bermotor

Menurunnya kualitas udara sudah lama menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara industri yang banyak memiliki pabrik dan kendaraan bermotor. Salah satu penyumbang terbesar dalam pencemaran udara adalah kendaraan bermotor. Kualitas udara yang buruk akan mampu menurunkan sistem imun seseorang, sehingga akan mempermudah penyebaran dan penularan penyakit Tuberkulosis paru. Sumber pencemaran udara di Kota Medan umunya disebabkan oleh jenis kegiatan seperti industri pengolahan, transportasi dan kegiatan keseharian rumah tangga. Tetapi sumber pencemaran yang cukup besar adalah berasal dari lalu lintas kendaraan bermotor. Kebutuhan akan kendaraan bermotor merupakan kebutuhan turunan (derived demand) akibat aktivitas ekonomi, sosial, dan sebagainya.

Pada periode 2010-2014, terdapat peningkatan jumlah kendaraan bermotor yag cukup tinggi yaitu sebsesar 10,39 % setiap tahunnya. Terdapat perkembangan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia pada tahun 2010 adalah 76.907.127 juta unit kendaraan bermotor, terus mengalami kenaikan jumlah setiap tahunnya, hingga pada tahun 2014 pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia adalah 114.209.260 juta unit kendaraan bermotor yag terdiri dari mobil penumpang, bis, mobil barang, dan sepeda motor. Pada tahun 2010 jumlah kendaraan bermotor menurut kepulauan di Indonesia tertinggi tedapat di Kalimantan dengan angka pertumbuhan pertahun mencapai 14,74 % dan terendah adalah Pulau Bali-Nusa Tenggara yaitu 7,44 %. Pada tahum 2014 jumlah kendaraan bermotor yang tertinggi adalah Pulau Jawa sebanyak 60.369.374 unit dan terendah adalah

Papua-Kepulauan Maluku yaitu 1.447.593 unit dan pada tahun 2014 terjadi kenaikan semua jenis kendaraan bermotor. Jenis kendaraan yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah mobil barang penumpang masing-masing (BPS, 2014).

Tabel 4.4. Analisis Jumlah Kendaraan Bermotor di Kota Medan tahun 2005-2015

No Tahun Jumlah Kendaraan

1 2005 1.172.128 2 2006 1.289.746 3 2007 1.425.943 4 2008 3.114.871 5 2009 3.418.930 6 2010 3.835.675 7 2011 4.352.041 8 2012 4.750.834 9 2013 5.485.860 10 2014 6.144.532 11 2015 6.712.362 Jumlah 41.702.922

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Medan 2013

Menurut Badan Pusat Statistik Kota Medan tahun 2013 jumlah kendaraan bermotor di Kota Medan mempunyai trend yang terus meningkat setiap tahunnya. Jumlah kendaraan bermotor yang dimaksudkan adalah (sepeda motor, mobil penumpang, mobil bus, mobil barang, kendaraan khusus) dengan satuan satu juta unit. Pada tabel 4.4. menunjukkan bahwa dari tahun 2005 hingga 2015 terjadi peningkatan yang bermakna jumlah kendaraan bermotor di Kota Medan. Dengan

jumlah kendaraan bermotor di Kota Medan yang terus mengalami peningkatan jumlah yang besar maka beban pencemaran udara yang ditimbulkan diperkirakan cukup signifikan.

c. Kepadatan penduduk

Tuberkulosis juga erat dikaitkan dengan peningkatan kepadatan penduduk yang tinggi disuatu wilayah. Wilayah yang didalamnya terdapat jumlah penduduk yang tinggi dan kepadatan penduduk yang tinggi akan cenderung memiliki tempat tinggal yang kumuh, kebersihan yang buruk dan nutrisi yang kurang yang akan memicu untuk menularkan penyakit TB dengan cepat.

Kepadatan penduduk di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2013, kepadatan penduduk tertinggi adalah terdapat pada Provinsi DKI Jakarta dengan kepadatan penduduk sebesar 15.015 jiwa/km², dan provinsi dengan kepadatan penduduk paling rendah adalah terdapat pada Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua dengan kepadatan penduduk untuk Provinsi Papua Barat sebesar 9 jiwa/km² dan Provinsi Papua sebesar 10 jiwa/km².

Di Sumatera Utara, ditemukan kasus TB yang tertinggi terdapat di Kota Medan. Hal ini disebabkan karena Kota Medan memiliki jumlah penduduk yang lebih besar bila dibandingkan dengan kota lainnya di Sumatera Utara. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Kota Medan dari tahun ke tahun maka rasio kepadatan penduduk Kota Medan juga mengalami peningkatan, hal ini juga dikarenakan karena luas Kota Medan yang tetap dan tidak mengalami perubahan namun jumlah penduduk Kota Medan terus bertambah.

Di Kota Medan pada tahun 2015 kepadatan penduduk tertinggi terdapat pada Kecamatan Medan Perjuangan dengan kepadatan penduduk sebesar 23.443 jiwa/km² dan kepadatan penduduk yang paling rendah terdapat pada Kecamatan Medan Labuhan dengan kepadatan penduduk sebesar 3.203 jiwa/km.

Tabel 4.5. Analisis Kepadatan Penduduk di Kota Medan tahun 2005-2015

No Tahun Kepadatan Penduduk

1 2005 7.567 2 2006 7.798 3 2007 7.858 4 2008 7.929 5 2009 8.001 6 2010 7.913 7 2011 7.987 8 2012 8.008 9 2013 8.055 10 2014 8.265 11 2015 8.339

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Medan 2016

Dari tabel 4.5. memperlihatkan bahwa kepadatan penduduk di Kota Medan dari tahun 2005 hingga 2015 mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 dan 2011 kepadatan penduduk di Kota Medan sempat mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yakni sebesar 7.913 jiwa/km² pada tahun 2010 dan 7.987 jiwa/km² pada tahun 2011, namun pada tahun selanjutnya mengalami peningkatan

jumlah kepadatan penduduk di Kota Medan, pada tahun 2015 didapati kepadatan penduduk Kota Medan yakni sebesar 8.339 jiwa/km².

d. Inflasi

Terbatasnya pembiayaan kesehatan akan semakin diperkuat oleh keadaan, bahwa pembiayaan kesehatan bergerak semakin mahal dengan laju inflasi 2-3 kali inflasi ekonomi secara umum. Pelayanan kesehatan (medical care) adalah salah satu yang paling rentan terhadap inflasi pembiayaan. Bila inflasi meningkat akan terjadi kenaikan harga dimasyarakat secara otomatis biaya infestasi dan juga biaya operasional pelayanan kesehatan akan meningkat pula (kenaikan harga alat kesehatan dan menurunkan kemampuan pembiayaan program), pembiayaan kesehatan untuk program TB paru juga akan menurun berdampak pada tingkat atau derajat kesehatan yang rendah.

Pada tahun 1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi, setelah krisis ekonomi tersebut nilai inflasi di Indonesia berfluktuasi. Pada tahun 2000 inflasi di Indonesia mencapai 9,35 % dan terjadi peningkatan inflasi yang tinggi pada tahun 2001 yakni sebesar 12,55 %. Pada tahun 2003 dan 2004 inflasi di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan yakni sebesar 5,06 % pada tahun 2003 dan sebesar 6,40 % pada tahun 2004. Akan tetapi pada tahun 2005 inflasi di Indonesia mnegalami kenaikan yang signifikan yakni sebesar 17,11 %, hingga tahun 2013 inflasi di Indonesia adalah 8,38 % (BPS dan BI, 2016).

Tingkat inflasi mencerminkan kenaikan harga barang-barang secara umum. Dinamika dari perkembangan besarnya laju inflasi yang terjadi di Kota Medan dalam kurun waktu antar tahun 2000-2001 relatif sangat flutuatif, hal ini dikarenakan rata-rata dalam kurun waktu 12 tahun terakhir mencapai angka 8,48%. Pada tahun 2001 angka inflasi Kota Medan masih sangat tinggi yakni lebih dari satu digit 15,51% dan berada diatas rata-rata inflasi nasional (prawidya, 2010). Hal ini berlanjut hingga tahun 2005 yang didapati nilai inflasi di Kota Medan adalah sebesar 22,91 % dan mengalami penurunan yang sangat signifikan pada tahun 2009 dari tahun sebelumnya yakni sebesar 2,69 % pada tahun 2009 dan 10,63 pada tahun 2010.

Tabel 4.6. Analisis Inflasi di Kota Medan tahun 2005-2015

No Tahun Inlasi 1 2005 22,91 2 2006 5,97 3 2007 6,42 4 2008 10,63 5 2009 2,69 6 2010 7,65 7 2011 3,54 8 2012 3,79 9 2013 10,09 10 2014 8,24 11 2015 3,32

Gambar 4.6. memperlihatkan bahwa pada periode penelitian ini, inflasi yang paling tinggi terdapat pada tahun 2005 dan 2010. Dimana pada tahun tersebut rata-rata inflasi mencapai 22,91 % tahun 2005 dan 10,9 % ditahun 2010.

Dokumen terkait