• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

1. Gambaran Wilayah Kecamatan Jampangkulon

Kecamatan Jampangkulon merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Sukabumi bagian selatan. Luas wilayah sekitar 8.219,61 Ha, didominasi oleh lahan pertanian seluas 7.095, 12 Ha dan lahan non pertanian seluas 1.124,12 Ha. Jumlah penduduk 44.507 Jiwa terdiri atas 22.456 laki-laki dan 22.051 perempuan, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Secara geografis karena kecamatan ini berada di daerah pegunungan di atas ketinggian 300-500 m, maka mata pencaharian penduduk pada umumnya ialah pertanian dan perkebunan, serta terdapat pula lahan industri seperti sandang dan pangan. Kecamatan ini memiliki batas wilayah dari sebelah utara yaitu Kecamatan Waluran dan Lengkong, sebelah selatan dibatasi oleh Kecamatan Cibitung, sebelah timur dibatasi oleh Kecamatan Cimanggu dan Kalibunder, dan sebelah barat yang dibatasi oleh Kecamatan Waluran dan Surade. Kecamatan Jampangkulon terletak pada garis lintang/garis bujur 7° 15' 28" S / 106° 37' 32" E, dengan visualisasi sebagai berikut:

Gambar 4. 1 Peta Wilayah Jampangkulon

Sumber: Google Maps 2. Pendidikan di Kecamatan Jampangkulon

Berdasarkan Data Referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan jumlah SD/MI/sederajat di kecamatan Jampangkulon saat ini berjumlah 32 sekolah 31 negeri dan 1 swasta yang tersebar di 11 desa.94 Namun saat ini ada beberapa sekolah yang sudah mulai mutase ke sekolah lain, contohnya seperti SD talagawinaya sekarang bermutasi ke SDN Bojonggenteng 1, saat ini namanya diubah menjadi SDN Bojonggenteng saja, dan beberapa sekolah lainnya. Mutasi ini dilakukan agar mempermudah orang tua untuk menyekolahkan anaknya dan mengurangi tingkat persaingan yang tinggi karena lokasi kedua sekolah yang berdekatan.

Dalam mengembangkan pendidikan di Kecamatan Jampangkulon, dinas pendidikan di sana membentuk stuktur organisasi kepengurusan guru yang menaungi, membina, merumuskan, menjalankan, dan mengevaluasi konsep kegiatan untuk para guru dalam meningkatkan Profesionalisme mereka, organisasi ini disebut dengan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Seiring berjalannya waktu para guru mulai ikut serta dalam pelaksanaan

94 Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Jampang Kulon dalam Angka 2020, (Sukabumi: BPS Kabupaten Sukabumi, 2020), hal. 37.

kegiatan dan turut andil dalam perumusan masalah di kepengurusan PGRI sehingga terbentuklah struktur kepengurusan PGRI cabang Jampangkulon.

3. Struktur Kepengurusan PGRI Kecamatan Jampangkulon Susunan Personalia

Pengurus Cabang PGRI Jampangkulon Masa Bakti XXII Tahun 2020-2025 Pengurus Harian:

a. Ketua : Iman Hilman, S.Pd.

b. Wakil Ketua : Amo Sudarmi, S.Pd., M.M.

c. Sekretaris : Sulastri, S.Pd.SD.

d. Wakil Sekretaris : Apip Ruswandi, S.Pd.

e. Bendahara :H. Suryani, S.Pd.

Bidang:

a. Bidang Organisasi dan Kaderisasi : Maman Sumanta, S.Pd.

b. Bidang Profesi : Samsun, S.Pd.

c. Bidang Karir : Joko Witono, S.Pd.,

M.M

d. Bidang Penegakan Kode Etik, Advokasi, :Entin H. Sujana, S.Pd.

Bantuan Hukum, dan Perlindungan Profesi

e. Bidang Pendidikan dan Pengabdian : Linggi Andri, S.Pd.

Masyarakat:

f. Bidang Pembinaan dan Pengembangan : Adendi Supriadi, S.Pd.

Lembaga Pendidikan:

g. Bidang Kesejahteraan dan Pengembangan : Deri Rismayadi, S.Pd.

Usaha.

h. Bidang Pemberdayaan Perempuan : Anisah, S.Pd., M.M.Pd.

i. Bidang Komunikasi dan Informasi : Dede Reka Rahayu, S.Pd.

j. Bidang Olah Raga : Dede, S.Pd.

k. Bidang Seni : Heli Rosdiawati, S.Pd.

l. Bidang Pembinaan Kerohanian dan : Deni Heryadi, S.Pd.I.

Karakter bangsa

m. Bidang Hubungan Antar Lembaga/ : Mulyana Lesmana, S.Pd Instansi/Organisasi Lain:

n. Bidang Pengembangan Pendidikan Khusus: Yanti Meilawati, S.Pd.

dan non-Formal

Struktur di atas merupakan kepengurusan cabang PGRI di Kecamatan Jampangkulon. Sebagaimana diketahui bahwa PGRI merupakan suatu organisasi keguruan yang terdiri atas para guru. Organisasi ini memiliki tujuan umum sebagai berikut: mewujudkan cita-cita proklamasi, mensukseskan pembangunan nasional, memajukan pendidikan nasional, meningkatkan Profesionalisme guru, dan meningkatkan kesejahteraan guru.

Sama halnya pada PGRI di kecamatan Jampangkulon, memiliki visi, misi, dan tujuan yang sama. Adanya PGRI di setiap daerah membuat pendidikan tersebar secara merata di segala penjuru Indonesia,

4. Sekolah Dasar di Kecamatan Jampangkulon

Dalam penjelasan ini secara rinci akan penulis daftarkan nama-nama SD (Sekolah Dasar) yang ada di Kecamatan Jampangkulon, berikut data yang penulis dapatkan dari Dinas Pendidikan Kecamatan Jampangkulon:

Tabel 4. 1. Data Sekolah Dasar di Kecamatan Jampangkulon dan Akreditasi

No Nama Sekolah NPSN Alamat Akreditasi TMT Akreditasi 1 SDN 1 Cikarang 20202998 Jl. Kertasa, Desa

Cikarang

A 2019-12-12

2 SDN 1 Curughilir 20202807 Kp. Ciranji, Desa Mekarjaya

B 2026-11-16

3 SDN 1

Jampangkulon

20203016 Kp. Cilubang, Desa

Jampangkulon

A 2018-12-04

4 SDN 1 Situhiang 20203026 Jl Situhiang, Desa Nagraksari

B 2014-10-15

5 SDN 2 Cikarang 20202791 Kp. Bojongkerta, Desa Cikarang

B 2016-10-19

6 SDN 2 Curughilir 20202945 Kp. Tegalloa, Desa Mekarjaya

B 2019-09-17

7 SDN 2

Jampangkulon

20202794 Jl. Cilubang, Desa Jampangkulon

B 2012-10-21

8 SDN 2 Situhiang 20202796 Jl Panimbaan, Desa Nagraksari

B 2016-10-19

9 SDN 3

Jampangkulon

20202808 Kp. Cibarusah, Desa Tanjung

B 2018-12-04

10 SDN

Bojonggenteng

20202506 Jl. Bojonggenteng Desa Cikaso

12 SDN Cigarogol 20202677 Kp. Selaeurih, Desa Ciparay

B 2016-10-19

13 SDN Cigaronggong 20202679 Kp.

Cigaronggong, Desa Bojongsari

B 2012-10-21

14 SDN Cijaksa 20202700 Jl Cijaksa, Desa Padajaya

B 2015-10-13

15 SDN Cijorong 20203127 Kp Cijorong, Desa Bojongsari

B 2017-11-20

16 SDN Cilalay 20203107 Kp Cilalay, Desa Nagraksari

B 2015-10-13

17 SDN Ciledek 20253878 Jl Ciledeg, Desa Mekarjaya

B 2016-10-19

18 SDN Ciparay 20202942 Kp. Ciparay, DesaCiparay

B 2015-10-13

19 SDN Gununglarang 20203011 Jl Gununglarang, B 2017-11-20

Desa Nagraksari 20 SDN Karang Anyar 20202137 Kp Karanganyar,

Desa Karanganyar

22 SDN Mataram 20253879 Jln Perkebunan Mataram, Desa

24 SDN Nyalindung 20253880 Jln Nyalindung, Desa Bojongsari

B 2017-11-20

25 SDN Pasir Gombong

20202007 Kp Pasirgombong, Desa

Cikaranggeusan

B 2016-10-19

26 SDN Pasir Malang 20202067 Jl.Pasirmalang, Desa Tanjung

28 SDN Purwasedar 20202470 Jl Ciburial, Desa Padajaya

B 2016-10-19

29 SDN Cikaret 69961007 Jl. Cikaret, Desa Mekarjaya

B 2015-10-13

30 SDS Darul Amal 20253881 Kp. Selajati, Desa Bojonggenteng

A 2016-10-19

Sumber: Dokumentasi (Data Akreditasi SD Kecamatan Jampangkulon)

Dari data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat 30 Sekolah Dasar, terdiri atas 29 sekolah negeri dan 1 sekolah swasta yang terdaftar di dinas pendidikan kecamatan Jampangkulon dengan akreditasi yang beragam, berikut rata-rata akreditasi yang digapai setiap sekolah di Kecamatan Jampangkulon.

Tabel 4. 2 Rata-Rata Akreditasi SD se-Kecamatan Jampangkulon

Sumber: SPSS Versi 20

Dari 30 Sekolah Dasar 3 SD mendapatkan akreditasi A, 26 SD mendapatkan akreditasi B, dan 1 SD mendapat akreditasi C. hal ini dapat disimpulkan bahwa rata-rata SD memperoleh akreditasi B berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kecamatan Jampangkulon. Sekolah dengan akreditasi C di atas merupakan sekolah dengan jarak tempuh dari pusat pemerintahan Kecamatan terjauh yakni 14, 7 KM, dan kondisi saat ini tidak adanya akses internet di sana.95

5. Guru dan Tenaga Pendidik Honorer

Data berikut merupakan nama-nama guru honorer Sekolah Dasar yang terdata di Dinas Pendidikan Kecamatan Jampangkulon, disertai dengan kualifikasi akademik yang telah dicapai dan status kepegawaiannya.

Tabel 4. 3 Data Guru dan Tenaga Pendidik Honorer

No Nama Sekolah Tenaga Pendidik Pendidikan

Terakhir Status Kepegawaian 1 SDN 1 Cikarang 1. Burhanudin

2. Eli Fitri Susilawati 3. Liantika

4. Suherlandi

S1 S1 S1 S1

Guru Honor Sekolah Guru Honor Sekolah Guru Honor Sekolah Guru Honor Sekolah

2 SDN 1 1. Dede Fauji S1 Guru Honor Sekolah

95 Tim Dapodikbud (https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/), diakses pada Senin, 24 Januari 2022.

Curughilir 2. Denda

3. Eka Ratna Dewi

4. Rista Rosita 5. Yanti Setiasari

S1

2. Handri Yudistira 3. Suprapti

1. Dede Firmansyah 2. Irni Eliani Juanda

5. Yuniawati S1 Guru Honor Sekolah 11 SDN Bojongsari

1

2. Eris Rusdiawati Fatimah

1. Bambang Rusyana Irwansyah 5. Wulan Purnamasari 6. Yulianti Amirudin

S1 3. Santi Krisnawati 4. Sarah Mulidah

1. Bambang Gunawan

2. Hamim

3. Mardiah

2. Nurani Malasari 3. Santi Susanti

3. Ujang Mulyadi S1 Guru Honor Sekolah 5. Giri Nasupriatna

Numbara

6. Gunawan Agustian 7. Mela Sundari

Sumber: Dokumentasi (Data PTK Dapodik Kecamatan Jampangkulon Tahun 2021)

*Guru Tetap Yayasan/Pegawai Tetap Yayasan

Data di atas menginterpretasikan guru honorer pada setiap Sekolah Dasar di Kecamatan Jampangkulon beserta kualifikasi akademiknya. Berikut penulis tampilkan rata-rata kualifikasi akademik yang dimiliki para guru honorer

Tabel 4. 4 Kualifikasi Akademik Guru Honorer SD se-Kecamatan Jampangkulon

Sumber: SPSS Versi 20

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa dari total 116 guru honorer yang tercatat di Kecamatan Jampangkulon 98 guru merupakan lulusan S1, 1 guru merupakan lulusan D3, 4 guru merupakan lulusan D2, 1 guru merupakan lulusan SMA/sederajat, 1 guru merupakan lulusan paket C, dan terdapat 1 guru yang belum ter-input data kualifikasi akademiknya.

Berdasarkan data dapodik Kecamatan Jampangkulon dari 98 guru yang telah menyandang gelar S1 terdapat 2 guru yang tidak linier dengan bidangnya satu merupakan sarjana Teknik Informatika dan satu lagi merupakan sarjana Biologi, kemudian 5 guru tanpa keterangan program studi.

6. Rata-rata Jawaban Setiap Variabel Instrumen Penelitian

Analisis terhadap butir instrumen penelitian digunakan untuk melihat hubungan variabel secara komprehensif agar dapat memperoleh data yang tepat dan akurat, dengan maksud jika hasil penelitian tidak sesuai dengan ekspektasi atau keadaan sebenarnya dapat dilihat melalui hasil analisis berikut:

a. Kesejahteraan

Tabel 4. 5 Rata-rata Jawaban para guru atas instrument kesejahteraan

Sumber: SPSS Versi 20

Data di atas mendeskripsikan rata-rata jawaban yang diberikan para guru honorer SD di Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terkait kesejahteraan mereka, penamaan X1, X2, X3, dan seterusnya merupakan nomor pertanyaan pada instrumen penelitian yang dapat dilihat di lampiran. Dari 4 pertanyaan terkait kesejahteraan materi hanya dua yang valid yaitu X2 (ketepatan waktu pemberian upah) dan X3 (upah yang diterima mencukupi kebutuhan hidup). Dapat dilihat bahwa data di atas menginterpretasikan kesejahteraan guru secara materi memiliki rata-rata 2,46 dan 3,54 artinya disini interval rata-rata jawaban para guru adalah 1-3, dimana hal itu merupakan jawaban Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju, dan Ragu, disini berarti dari segi upah/honor yang diterima sangatlah kurang dan butuh perhatian lebih. Profesionalisme Guru. Adapun indikator lainnya terkait kesejahteraan non materi memperoleh rata-rata jawaban 3-5, artinya mereka telah mendapatkan sebagaimana yang ditanyakan dalam instrumen.

b. Profesionalisme Guru

Tabel 4. 6 Rata-rata Jawaban guru atas instrument Profesionalisme Guru

Sumber: SPSS Versi 20

Data di atas mendeskripsikan rata-rata jawaban para guru atas instrumen terkait profesionalisme guru honorer SD di Kecataman Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sebagaimana dalam indikatornya disebutkan. Dapat dilihat dari data di atas rata-rata jawaban mereka di atas 4, hal ini dapat diartikan bahwa rata-rata jawaban mereka pada interval 4-5 atau Sangat Setuju dan Setuju. Maka atas hal ini profesionalisme guru honorer di sana terbilang sangat baik, jika dilihat berdasarkan pengukuran yang penulis buat melalui pertanyaan angket yang berlandaskan standar kompetensi yang wajib dimiliki oleh guru.

B. Pembahasan Hasil Analisis Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas

Hasil analisis terhadap uji normalistas yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS V.20 sebagai berikut:

Tabel 4. 7 Hasil Uji Normalitas melalui Kolmogorov Smirnov

Sumber: SPSS Versi 20

Pada hasil uji data menggunakan Kolmogorov Smirnov di atas terlihat bahwa dari 70 responden nilai signifikansi sebaran data 0.200 > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

Kemudian dari hasil uji menggunakan grafik Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual, memperoleh deskripsi atas sebaran data sebagai berikut:

Tabel 4. 8 Hasil Uji Normalitas melalui Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

Sumber: SPSS Versi 20

Berdasarkan hasil pada uji Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual menunjukan bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah diagonal. Maka dapat disimpulkan dari hasil uji ini bahwa sebaran data berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas

Hasil analisis terhadap uji homogenitas yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS V.20 melalui Test of Homogeneity of Variances dan One-Way ANOVA sebagai berikut::

Tabel 4. 9 Hasil Uji Homogenitas melalui Test of Homogenity of Variences

Sumber: SPSS Versi 20

Berdasarkan data di atas nilai signifikansi pada sebaran data yang ditampilkan dalam Test of Homogeneity of Variances adalah 0.083 dimana nilai ini lebih besar dari 0.05/5%, maka varian populasi data dinyatakan homogen.

Tabel 4. 10 Hasil Uji Homogenitas melalui One-Way Anova Test

Sumber : SPSS Versi 20

Pada data yang ditampilkan dalan ANOVA memiliki signifikansi 0.429 dimana hal ini pula lebih besar dari nilai alpha (0.05/5%), memperkuat hasil uji homogenitas ini bahwa varian populasi data dinyatakan homogen.

3. Uji Linieritas

Hasil analisis terhadap uji linieritas yang dilakukan menggunakan aplikasi SPSS V.20 melalui One-Way Anova Test, sebagai berikut:

Tabel 4. 11 Hasil Uji Linieritas melalui One-Way Anova Test

Sumber: SPSS Versi 20

Berdasarkan hasil uji di atas dapat dilihat nilai signifikansi pada tabel bagian deviation from liniearity diketahui bahwa nilai signifikansinya adalah 0.799 sebagaimana dasar pengambilan keputusan ketika nilai signifikansi >

0.05/5% maka terdapat hubungan linier secara signifikan antara variabel X (Kesejahteraan) dengan Y (Profesionalisme Guru).

C. Pembahasan Hasil Analisis Uji Hipotesis 1. Uji Regresi Linier Sederhana

Berdasarkan hasil analisis terhadap uji regresi linier sederhana atau uji hubungan antar variabel dengan menggunakan aplikasi SPSS V.20 melalui One-Way Anova Test memperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4. 12 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana melalui One-Way Anova Test

Sumber: SPSS Versi 20

Dari output tersebut diketahui bahwa nilai F hitung = 4.951 Dengan tingkat signifikansi sebesar 0.029 < 0.05 (H0 ditolak dan H1 diterima), maka model regresi dapat dipakai untuk memprediksi variabel partisipasi atau

dengan kata lain ada hubungan variabel kesejahteraan (X) terhadap variabel Profesionalisme guru (Y).

2. Koefisien Determinasi

Berdasarkan hasil analisis terhadap uji Koefisien Determinasi dengan menggunakan aplikasi SPSS V.20 memperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4. 13 Koefisien Determinasi

Sumber: SPSS Versi 20

Tabel model summary uji regresi di atas menjelaskan besarnya nilai korelasi/hubungan (R) yaitu sebesar 0.261. Dari output tersebut diperoleh koefisien determinasi (R Square) sebesar 0.068, yang mengandung pengertian bahwa variabel bebas (kesejahteraan) mampu menerangkan variabel terikat (Profesionalisme) sebesar 6.8%.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Setelah melakukan proses input, pengolahan, dan analisis data, penulis akan jabarkan secara jelas hasil yang diperoleh dari sebaran data yang telah diolah dalam program SPSS versi 20 dan hasil pengamatan penulis selama melakukan penelitian. sebagaimana diketahui dalam penelitian parametik memerlukan banyak pengujian asumsi seperti uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, hingga linieritas yang kemudian setelah hasilnya sesuai dengan dasar pengambilan keputusan langkah selanjutnya ialah melihat seberapa besar variabel X (kesejahteraan) menerangi variabel Y (Profesionalisme guru).

Uji asumsi klasik menjadi syarat sebelum melaksanakan uji hipotesis, dengan hasil sebagai berikut:

1. Sebaran data berdistribusi normal memiliki signifikansi 0.200 lebih besar dari 0.05 atau 5%, dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov.

2. Sebaran data bersifat homogen memiliki signifikansi 0.429 lebih besar dari 0.05 atau 5%, dilakukan dengan uji One-Way Anova.

3. Terdapat hubungan linier secara signifikan antar kedua variabel dengan nilai signifansi 0.799 lebih beasr dari 0.05 atau 5%.

Kemudian hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat Hubungan Kesejahteraan dan Profesionalisme guru. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji regresi linier sederhana yang memberikan nilai signifikansi sebesar 0.29 lebih kecil (<) dari 0.05/5%, maka dengan hasil ini sebagaimana dalam dasar pengambilan keputusan disebutkan bahwa ada hubungan antara variabel X (kesejahteraan) dan Y (Profesionalisme guru). Kemudian dalam koefisien determinasi disebutkan bahwa banyaknya variabel X menerangi variabel Y adalah sebesar 0.068 atau 6.8%, kemudian sisanya 93.2% diterangi oleh faktor lain yang tidak penulis teliti. Hasil ini pula merupakan bentuk interpretasi dari jawaban para guru dalam menjawab angket yang diberikan penulis. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam permasalahan ini Hubungan Kesejahteraan dengan profesionalisme guru honorer SD di Kecamatan Jampangkulon memang ada namun kurang signifikan, dilihat dari hasil uji hipotesis yang telah dijabarkan.

Jika dilihat dari rata-rata jawaban para guru atas angket yang penulis bagikan, setelah dilakukan analisis terhadap akumulasi jawaban mereka pada masing-masing variabel dengan keterangan sebagai berikut:

1. Seluruh pertanyaan yang diberikan kepada para guru merupakan pernyataan positif. Pertanyaan pada variabel professional yang terdiri atas 3 dimensi yaitu pedagogic, professional, dan social, pada pertanyaan yang mengindikasikan peran mereka sebagai guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dijawab dengan poin 4-5 (dalam skala likert) artinya mereka setuju atau sangat setuju bahwa mereka telah melaksanakan hal-hal seputar keprofesionalan mereka yang ditanyakan dalam angket tersebut

2. Pertanyaan pada variabel kesejahteraan yang terdiri atas 2 dimensi yaitu materi dan non materi memperoleh beragam jawaban. Pada dimensi

pertama yang menyangkut akan upah rata-rata dijawab dengan rentang skala 1-2 artinya banyak dari mereka yang merasa upah yang mereka dapatkan dirasa kurang dengan berbagai pertimbangan yang mereka pikirkan, seperti jika dibandingkan dengan kebutuhan pribadi, keluarga, dan sebagainya. Adapun hal di luar upah seperti fasilitas penunjang pembelajaran yang tersedia dijawab dengan skala 2-5 hal ini memiliki variasi jawaban karena tergantung pada sekolah masing-masing.

Sedangkan pada dimensi kedua yang berkaitan dengan non materi memperoleh rata-rata jawaban pada rentang skala 4-5 artinya mereka telah mendapatkan hal-hal yang ada pada indikator tersebut.

Keterangan di atas menunjukan bahwa alasan mengapa hubungan kesejahteraan yang dalam hal ini penulis ambil upah sebagai Faktor utamanya kurang berhubungan secara signifikan terhadap profesionalitas guru, karena mereka telah mendapatkan hal di luar upah tersebut yang membuat mereka merasa nyaman dan terus menjaga serta meningkatkan kualitas mereka.

Sebagaimana diketahui pada pembahasan sebelumnya bahwa dalam Hubungan Kesejahteraan dengan profesionalisme guru honorer SD di Jampangkulon kesejahteraan hanya mampu menerangkan profesionalisme guru sebesar 6.8%, artinya kesejahteraan atau dalam hal ini yang penulis maksud ialah upah yang mereka terima tidak ada hubungannya dengan profesionalisme mereka dalam mendidik. Tidak seperti beberapa penelitian sebelumnya (Mumu Munandar, dkk,96 dan Stefania Seto dan Juwita Merdja97 yang menunjukan hasil penelitian kesejahteraan sangat berhubungan terhadap profesionalisme guru) persentase yang ditunjukan sangatlah rendah. Berikut hasil analisis penulis tentang hasil penelitiandan beberapa temuan yang menunjukan bahwa hubungan kesejahteraan yang kurang signifikan terhadap Profesionalisme guru honorer SD di Kecamatan Jampangkulon:

96 Mumu Munandar, dkk., Effect of Welfare and Teaching Motivation on Professional Competence of Elementary Teachers Using Participatory Action Research (PAR) Methods, International Journal of Scientific and Techlnology Reseaha, 2019.

97 Stefania Seto dan Juwita Merdja, Hubungan Pemberian Gaji terhadap Motivasi Kerja, dan Profesionalisme Guru Honor, Jurnal PEDAGOGIKA, Vol. 11, 2020.

1. Secara akademik para guru honorer merupakan sarjana S1/D4 dan memiliki program studi yang linier dengan profesi mereka, dalam hal ini adalah PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)/PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), maka secara akademis mereka sudah mengetahui apa saja yang perlu dipersiapkan sebagai seorang guru.

2. Terdapat unsur kesejahteraan lain yang menjadi faktor pendukung para guru seperti motivasi kerja, jaminan Kesehatan yang difasilitasi sekolah, lingkungan social yang baik, dan penghargaan atas prestasi dan capaian.

Hal ini dilihat dari rata-rata jawaban para guru pada indicator-indikator penelitian.

3. Dinas Pendidikan Kecamatan Jampangkulon bekerjasama dengan seluruh kepala sekolah secara serentak merekomendasikan para guru honorer untuk mengikuti program PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) agar mendapatkan hak yang sama dengan para PNS lainnya seperti fasilitas, tunjangan, dan sebagainya.

4. Upah yang diberikan kepada para guru honorer di sekolah negeri diambil dari dana BOS yang disalurkan pemerintah dengan rata-rata pendapatan guru yang tidak memiliki jabatan lain sebeasr 100-300 ribu rupiah dan terkadang dibayarkan rangkap per tiga bulan. Berbeda dengan swasta yang memiliki Yayasan yang bertanggungjawab atas pemberian upah mereka.

5. Rata-rata guru honorer yang telah memiliki kualifikasi akademik belum memiliki sertifikasi pendidik, karena walaupun semua guru dapat mengikuti program tersebut namun terdapat seleksi bagi guru yang ingin mengikuti program tersebut.

6. Kehidupan di kampung memiliki resiko tekanan gaya hidup yang rendah, walaupun saat ini kebutuhan ekonomi sudah tidak memandang tempat dan waktu namun kemungkinan terjadinya stress akibat ekonomi yang kurang jarang terlihat di kehidupan karena hubungan antar masyarakat yang sangat kuat dan kesadaran masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat.

Hasil analisis di atas mungkin dapat mewakili alasan mengapa persentase yang dimunculkan sangatlah rendah, sehingga membuat kesejahteraan kurang berhubungan secara signifikan terhadap Profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Namun jika dilihat dari akumulasi jawaban yang telah penulis jabarkan sebelumnya, secara materi (gaji) para guru di sana merasakan banyaknya kekurangan, namun hal lain menyangkut kesejahteraan di luar gaji tergambar tidak adanya kekurangan yang mereka keluhkan, jadi mungkin karena hal inilah yang membuat kesejahteraan kurang berhubungan secara signifikan terhadap guru-guru honorer di sana, walaupun pada kenyataannya setelah keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang menyatakan pegawai non-PNS di instansi pemerintah melaksanakan tugas paling lama hingga 2023. Namun hal baik pula dilakukan oleh pemerintah daerah setempat yang bekerjasama dengan kepala sekolah membantu para guru untuk dapat mengikuti seleksi PPPK yang diselenggarakan oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bagi guru-guru yang profesional dengan latar belakang sarjana S1 dan mengajarnya sejalan dengan rumpun keilmuannya keejahteraan tidak diukur hanya sebatas materi tetapi dari ranah kepuasan yang diberikan guru kepada peserta didik, seperti perhatian, keseriusan guru dalam melakukan proses belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian bahwa hubungan kesejahteraan guru disini kurang signifikan terhadap profesionalisme guru.

97

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan terdapat Hubungan Kesejahteraan dengan profesionalisme guru. Hal ini diketahui uji regresi tingkat signifikansi lebih kecil dari nilai alpha yaitu 0.029 < 0.05, maka hal ini dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Kemudian berdasarkan analisis korelasi determinasi menyatakan bahwa hubungan antar variabel terbilang rendah yakni hanya berada pada persentase 6.8%, hal ini sejalan dengan analisis korelasi sederhana yang dilakukan sebelumnya, dinyatakan bahwa hubungan antar variabel dalam penelitian ini terbilang rendah karena hanya memiliki nilai pearson correlation sebesar 0.261 dan berada pada interval 0.20-0.399.

Maka dengan hasil penelitian di atas berdasarkan perhitungan melalui SPSS V.20 memberikan hasil bahwa kesejahteraan memiliki hubungan dengan Profesionalisme guru honorer SD di Kecamatan Jampangkulon, namun kurang signifikan. Hubungan kesejahteraan dengan profesionalisme guru jika dilihat dari

Maka dengan hasil penelitian di atas berdasarkan perhitungan melalui SPSS V.20 memberikan hasil bahwa kesejahteraan memiliki hubungan dengan Profesionalisme guru honorer SD di Kecamatan Jampangkulon, namun kurang signifikan. Hubungan kesejahteraan dengan profesionalisme guru jika dilihat dari

Dokumen terkait