BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Wilayah Penelitian
Provinsi Bali terdiri dari 8 kabupaten dan 1 kota madya. Penelitian mencangkup kedelapan kabupaten dan kotamadya yang terdapat di Pemerintah Daerah Provinsi Bali. Adapun gambaran dari dari masing-masing kabupaten sebagai berikut :
5.1.1 Kabupaten Karangasem
Kabupaten Karangasem berada di belahan timur Pulau Bali yang secara administratif merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi Bali, dengan batas batas wilayah - wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara : Laut Jawa - Sebelah Selatan : Samudera Indonesia - Sebelah Timur : Selat Lombok - Sebelah Barat : Kabupaten Klungkung, Bangli dan Buleleng.
Wilayah administrasi Secara administratif Kabupaten Karangasem terdiri dari 8 wilayah kecamatan, 78 desa/keluraha yang terdiri dari 75 desa definitif dan 3 kelurahan, 529 banjar dinas/dusun dan 52 lingkungan. Secara adat Kabupaten Karangasem terdiri dari 188 desa adat dan 605 banjar adat.
Perkembangan dan pertumbuhan penduduk memberikan pengaruh terhadap berbagai sektor kehidupan kota. Salah satunya adalah bertambahnya volume timbunan sampah yang dihasilkan oleh penduduk. Langkah-langkah konkret dan strategis terkait pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana pengelolaan persampahan diperlukan untuk mempertahankan lingkungan Bali sebagai salah satu tujuan wisata andalan.
5.1.2 Kabupaten Klungkung
Kabupaten Klungkung, merupakan Kabupaten yang paling kecil dari 9 (Sembilan) Kabupaten dan Kota di Provinsi Bali dengan luas 315 km2 secara geografis terletak diantara 115.21’28” - 115.37’43’ Bujur Timur dan 008.27o 37 o – 008.49o 00 o Lintang Selatan. Batas-batas wilayah Kabupaten Klungkung
26 adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bangli, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Karangasem sebelah selatan Samudera India dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Gianyar.
Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Klungkung secara makro/antar wilayah akan diarahkan pada pengembangan dengan meningkatkan hubungan dengan pusat-pusat pelayanan regional di Bali Selatan melalui jaringan jalan arteri yang menghubungkan Kabupaten Klungkung dengan wilayah kabupaten lainnya di Propinsi Bali serta melalui jaringan jalan arteri Tohpati - Kusamba untuk pengembangan pusat-pusat utama di Bali Timur. Keberadaan jalan tersebut merupakan prasarana yang diharapkan dapat memperkuat keterkaitan wilayah Kabupaten Klungkung dengan kabupaten dan propinsi lainnya dengan memanfaatkan kekuatan interaksi antara dua dermaga penyeberangan Gilimanuk di bagian barat dan dermaga penyeberangan Padangbai di bagian timur Pulau Bali. Kedudukan Kota Semarapura, Dawan, Banjarangkan dan Sampalan sebagai pusat-pusat pertumbuhan di Kabupaten Klungkung didukung oleh Pelabuhan Rakyat di Kusamba, rencana Pelabuhan Penyeberangan di Gunaksa dan Pelabuhan Penyeberangan Nusa Penida serta disebelah timurnya terdapat Pelabuhan Padangbai, memiliki prospek cerah dalam pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Klungkung, terutama Kawasan Pariwisata Nusa Penida.
5.1.3 Kabupaten Bangli
Kabupaten Bangli terletak di tengah-tengah pulau Bali, dan menjadi satusatunya kabupaten yang tidak mempunyai pantai di Provinsi Bali. Secara geografis, Kabupaten Bangli terletak pada 1150 13’ 43” sampai 1150 27’ 24” Bujur Timur, dan 80 08’ 30” sampai 08 0 31’ 07” Lintang Selatan. Kabupaten Bangli terdiri dari empat kecamatan, yaitu Kecamatan Bangli, Tembuku, Susut, dan Kintamani. Dari empat kecamatan tersebut, 70% dari luas daerah Kabupaten Bangli terletak di Kecamatan Kintamani. Kecamatan Kintamani menguasai 366,92 km2 dari 480,61 km2 luas Kabupaten Bangli. Secara geografis, Kecamatan Kintamani terletak pada 9.097.357,50 m s.d. 9.076.529,26 m Lintang
27 Selatan, dan 305.346,84 m s.d. 329.210,17 m Bujur Timur. Daerah penelitian ini berada pada ketinggian 900 s.d. 1.550 m dpl, dengan kondisi topografi landai hingga berbukit. Tingkat kemiringan lahan pada daerah penelitian berada pada kondisi ds.d. tar hingga kemiringan 60%, dengan sebagian besar wilayah Kecamatan Kintamani merupakan pedesaan (99%).
5.1.4 Kabupaten Gianyar
Kabupaten Gianyar merupakan satu sembilan Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Bali. Secara Astronomis Kabupaten Gianyar terletak diantara 80180 520 Lintang Selatan, 1150 050 290 dan 1150 220230 Bujur Timur. Batas-batas administrasi sebagai berikut :
Sebelah Utara adalah Kabupaten Bangli, Sebelah Timur adalah Kabupaten Klungkung/Bangli, Sebelah Selatan adalah Kota Denpasar, dan Selat Badung Sebelah Barat adalah Kabupaten Badung.
5.1.5 Kotamadya Denpasar
Kota Denpasar terletak di tengah-tengah dari Pulau Bali, selain merupakan Ibukota Daerah Tingkat II, juga merupakan Ibukota Propinsi Bali sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perekonomian. Letak yang sangat strategis ini sangatlah menguntungkan, baik dari segi ekonomis maupun dari kepariwisataan karena merupakan titik sentral berbagai kegiatan sekaligus sebagai penghubung dengan kabupaten lainnya.
Luas wilayah Kota Denpasar 127,98 km2 atau 127,98 Ha, yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha, atau 2,27 persen dari seluruh luas daratan Propinsi Bali. Sedangkan luas daratan Propinsi Bali seluruhnya 5.632,86 Km2. Batas Wilayah Kota Denpasar di sebelah Utara dan Barat berbatasan dengan Kabupaten Badung (Kecamatan Mengwi, Abiansemal dan Kuta Utara), sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Gianyar (Kecamatan Sukawati dan Selat Badung dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Badung (Kecamatan Kuta) dan Selat Badung. Sebagian besar (59,1%) berada pada ketinggian antara 0 - 75 M dari permukaan laut. Dari luas tersebut
28 diatas tata guna tanahnya meliputi Tanah sawah 5.547 Ha dan Lahan Kering 10.001 Ha. Lahan Kering terdiri dari Tanah Pekarangan 7.714 Ha, Tanah Tegalan 396 Ha, Tanah Tambak/Kolam 9Ha, Tanah sementara tidak diusahakan 81 Ha, Tanah Hutan 538 Ha , Tanah Perkebunan 35 Ha dan Tanah lainnya: 1.162 Ha. Luas Lahan di Kota Denpasar dirinci per Kecamatan (hektar).
5.1.6 Kabupaten Badung
Kabupaten Badung merupakan salah satu dari kabupaten yang ada di wilayah Provinsi Bali, yang berkembang dari sistem pemeritahan kerajaan sebelum era kolonial. Pada awal kemerdekaan, dibentuk pemerintahan Swatantra Tingkat II Badung. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Orde Baru dijadikan pemerintahan Kabupaten Daerah Tingat II Badung. Setelah keluarnya UndangUndang No. 1, Tahun 1992 tentang Pembentukan Kota Madya (Kodya) Daerah Tingkat II Denpasar, pemerintahan Kabupaten Badung kemudian dipisahkan dengan Pemerintahan Kodya Denpasar (kini Kota Denpasar). Dengan keluarnya.
Peraturan Pemerintah (PP) No. 67, Tahun 2009 tentang Pemindahan Ibu kota Kabupaten Badung dari wilayah Kota Denpasar ke wilayah Kecamatan Mengwi, kemudian nama ibu kota Kabupaten Badung diganti dari Denpasar menjadi Mangupura.
Kabupaten Badung memiliki wilayah pembangunan yang terbagi menjadi 3 bagian dimana wilayah ini disesuaikan dengan kondisi dan potensi dai masing-masing daerah.
a. Wilayah Pembangunan Badung Utara,
Wilayah ini meliputi dua kecamatan yaitu Kecamatan Petang dan Abiansemal dengan pusat pengembangan wilayah di Blahkiuh, dengan dominasi aktivitas perkebunan, tanaman pangan, wisata alam, peternakan, kerajinan rumah tangga dan konservasi alam.
29 Wilayah ini meliputi Kecamatan Mengwi dengan pusat pengembangan di Mengwi dengan dominasi aktivitas pertanian, peternakan, pariwisata budaya serta industri kecil dan kerajinan rumah tangga.
c. Wilayah Pembangunan Badung Selatan,
Wilayah ini meliputi Kecamatan Kuta Selatan, Kuta dan Kuta Utara dengan pusat pengembangan di Kuta dan dominasi aktivitas pariwisata, pendidikan, perikanan, industri kecil, serta perdagangan dan jasa.
Adapun sektor-sektor yang termasuk sektor unggulan pada kabupaten badung adalah sebagai berikut :
a. Pariwisata
b.Pertanian dalam arti luas
c. Industri Kecil & Kerajinan Rumah Tangga
5.1.7 Kabupaten Tabanan
Luas wilayah Kabupaten Tabanan adalah 839,33 km2 atau sekitar 14,89 % dari luas Provinsi Bali. Secara administratif Kabupaten Tabanan terbagi menjadi 10 (sepuluh) kecamatan dan terdiri atas 131 desa
Kondisi makro ekonomi Kabupaten Tabanan selama kurun waktu empat tahun terakhir yaitu dari tahun 2005 sampai dengan 2008, bila dilihat dari
indikator angka pertumbuhan ekonomi menunjukkan kecenderungan
perkembangan yang berfluktuasi. Pada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi sebesar 5,96% turun menjadi 5,25 % pada tahun 2006, dan kemudian naik menjadi 5,76% pada tahun 2007. Pada tahun 2008 kembali turun tinggal 5,22%, pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 5,44%. Terjadinya penurunan angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 dipengaruhi oleh peristiwa tragedi Bom Kuta-Jimbaran yang terjadi pada bulan Oktober 2005. Dilihat dari kontribusi terhadap PDRB, Sektor yang cukup kuat dan tetap memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Tabanan adalah sektor pertanian dalam arti luas. Sektor ini memiliki porsi rata-rata 39,82% (tahun 2005-2007) dari PDRB Kabupaten Tabanan. Namun, kecendrungan pertumbuhan sub sektor tersebut semakin menurun yang tercermin dari laju pertumbuhannya mengalami penurunan dari
30 5,51% pada tahun 2005 menjadi 3,70% pada tahun 2006 dan 4,02% pada tahun 2007. Perkembangan sektor pertanian belum diikuti oleh berkembangnya industri pengolahan berbahan baku hasil pertanian yang ditunjukkan oleh masih rendahnya pertumbuhan industri pengolahan yaitu dari 6,55% pada tahun 2005 menjadi 6,66% pada tahun 2007. Investasi pembangunan, secara umum juga mengalami perkembangan yang berfluktuasi, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta/masyarakat. Pada tahun 2005 investasi pembangunan sebesar $ 3.025.000 pada tahun 2006 meningkat menjadi $ 6.830.000 Tahun 2007 sebesar $ 3.555.000 dan Tahun 2008 sebesar $ 1.550.000. Tingkat inflasi, menunjukkan angka yang berpluktuasi dari 11,31% (berdasarkan indek harga konsumen) pada tahun 2005, turun menjadi 4,30% pada tahun 2006. Pada tahun 2007 kembali naik menjadi 5,91% Tahun 2008 turun lagi menjadi 5,36%. Tahun 2009 akhir, inflasi dapat ditekan lagi menjadi 3,00% merupakan inflasi yang terendah selama lima tahun terakhir.
5.1.8 Kabupaten Buleleng
Kabupaten Buleleng merupakan salah satu kabupaten terluas di provinsi Bali dengan luas wilayah 136.588 hektar atau 24,25% dari luas Provinsi Bali. Secara administrasi terdiri dari 9 Kecamatan dengan 148desa/kelurahan. Secara geografis Kabupaten Buleleng terletak pada posisi 8o03’40” - 8o23’00” Lintang Selatan dan 114o25’55” - 115o27’28” Bujur Timur. Kabupaten Buleleng berbatasan dengan Kabupaten Jembrana dibagian barat, Laut Jawa/Bali dibagian utara, Kabupaten Karangasem dibagian timur dan berbatasan dengan 4 (empat) Kabupaten, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung dan Bangli di sebelah selatan.
Pertumbuhan ekonomi Buleleng semakin meningkat dari tahun ke tahun pasca krisis. Memperhatikan capaian tersebut dan mempertimbangkan potensi sektor-sektor yang berperan dalam penopang perekonomian serta arah kebijakan makro pembangunan perekonomian, maka proyeksi ataupun sasaran pertumbuhan ekonomi di tahun 2010 adalah sebesar 6,5 %. Sasaran/target ini sejalan dengan rencana yang telah dituangkan dalam RPJMD 2007-2012.
31 Untuk mencapai pertumbuhan tersebut maka sektor pertanian yang merupakan basis (potensinya cukup besar) harus dipacu pertumbuhannya. Demikian juga sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor - sektor lainnya yang selama ini pertumbuhannya cukup besar harus terus dipacu.
Struktur perekonomian Buleleng yang dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sektor sebagaimana telah diuraikan di depan, bahwa sektor tersier mendominasi struktur perekonomian Buleleng, kemudian diikuti oleh sektor primer dan sektor sekunder. Pada tahun 2010 sektor tersier diproyeksikan untuk mampu memberikan kontribusi yang semakin membesar dan disisi lain ada pergeseran yaitu meningkatnya peran sektor sekunder dan menurunnya peran sektor primer. Meningkatnya peran sektor sekunder ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja lapangan usaha industri pengolahan yang mampu memanfaatkan produk pertanian menjadi produk olahan (industri) sehingga memberikan nilai tambah dan sudah barang tentu juga berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat serta kesejahteraan masyarakat.
5.1.9 Kabupaten Jembrana
Kondisi Geografis Kabupaten Jembrana terletak pada belahan bagian barat Pulau Bali membujur dari barat ke timur pada posisi 8 o 09 30-8 o 28 02 LS dan 114 o 25 53-114 o 56 38 BT dengan luas wilayah Jembrana 84.180 Ha. atau 14,96 % dari luas wilayah Pulau Bali. Batas-batas administrasi Kabupaten Jembrana adalah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kabupaten Buleleng dan Selat Bali Sebelah Timur : Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Tabanan Sebelah Selatan : Samudera Hindia Sebelah Barat : Selat Bali B. Kondisi Fisik Wilayah Kab. Jembrana Topografi dan Kemiringan Topografi wilayah bervariasi dengan ketinggian 1.0 sampai ± 1000 mdpl, dengan titik tertinggi di deretan gunung Penginuman, Gunung Klatakan, Gunung Bakungan, Gunung Nyangkrut, Gunung Sanggang dan Gunung Batas. Komposisi kemiringan lahan adalah datar (25,00 %), wilayah landai (10,16 %), wilayah berbukit (25,24 %) dan wilayah curam (39,60 %) dari luas wilayah. Geologi Tata Lingkungan Geologi wilayah terdiri dari batuan gunung api berupa lava, breksi, tufa, yang diperkirakan berumur
32 Kwarter Bawah dan daerah pedataran yang sebagian daerah persawahan terbentuk dari batuan yang tergabung dan disebut dengan Formasi Palasari yang terdiri dari batu pasir, konglomerat dan batu gamping terumbu dan diperkirakan berumur Kwarter, sedangkan untuk daerah pesisir pantai pada umumnya endapan aluvium yang terdiri dari pasir, lanau, lempung dan kerikil, yang dijumpai di sekitar daerah pantai di Pengambengan, Tegalbadeng, Prancak, Yeh Kuning, Mendoyo dan dipantai Gilimanuk.
Keuangan dan Perekonomian Daerah Perekonomi Kabupaten Jembrana masih didominasi oleh sektor pertanian atau primer. Kondisi itu disebabkan oleh perkembangan industri atau sekunder dan jasa-jasa atau tersier, termasuk pariwisata pertumbuhannya sangat lamban, sehingga pertanian masih menjadi unggulan. Pertanian dalam arti luas sebagai sektor yang masih mendominasi struktur ekonomi Kabupaten Jembrana, diduga setiap tahun akan mengalami penurunan. Penurunan tersebut disebabkan oleh sumber daya alam, seperti lahan pertanian yang semakin hari semakin berkurang. Alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Jembrana, kendatipun tidak sedrastis di kota-kota besar, namun tetap saja mengalami penurunan setiap tahunnya. Dalam perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jembrana ditandai adanya perubahan atau pergeseran dalam kontribusi sektor ekonomi terhadap produk daerah sebagai akibat terjadinya pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian (primer) ke sektor industri (sekunder), kemudian kearah sektor jasa-jasa (tersier). Hal ini sesuatu yang sangat wajar dan biasa terjadi di daerah yang sedang membangun dan berkembang seperti Kabupaten Jembrana. Dari sudut biaya pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Jembrana, perlu dilihat kemampuan Kabupaten Jembrana dalam membiayai belanja pembangunan.