• Tidak ada hasil yang ditemukan

gambut dengan membuat 433 sumur bor, 50 sekat kanal, dan

mengembangkan alternatif ekonomi ramah gambut basah.“

akhirnya mulai dilaksanakan aksi cepat merestorasi gambut bersama masyarakat. Langkah yang telah diambil adalah dengan membangun sekat kanal bersama masyarakat di Tebing Tinggi Timur, Kepulauan Meranti, Riau, dan Kabupaten Pulang Pisau. Selain itu, pemasangan sumur bor di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Riau, dan tiga desa di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, berpedoman pada panduan dan POS yang sudah dibuat.

Terkait dengan konstruksi restorasi, BRG tengah merampungkan panduan dan prosedur operasional standar (POS) pembangunan infrastruktur pembasahan gambut (sekat kanal/ canal blocking), pembuatan persemaian (seedling nursery), penanaman di lahan gambut, dan pemasangan sumur pipa bor (deep wells). Dengan panduan ini, para pihak yang akan melakukan konstruksi infrastruktur restorasi hidrologi gambut bisa memiliki standar operasi kerja yang sama.

Pada tingkat tapak, BRG bersama Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD), sejumlah lembaga nonpemerintah, dan masyarakat telah melakukan pengelolaan dan perlindungan ekosistem gambut

dengan membuat 433 sumur bor, 50 sekat kanal, dan mengembangkan alternatif ekonomi ramah gambut basah. Sumur bor ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat agar bisa memadamkan kebakaran lahan dengan cepat. Selain dibangun BRG bersama masyarakat, pembangunan sumur bor terdapat juga perusahaan yang membuat sumur bor. Dalam hal ini, BRG memberi panduan teknisnya. Hingga akhir 2016, setidaknya ada 1.600 sumur bor yang dibangun perusahaan di Kalimantan Tengah.3

Laporan sejumlah media menunjukkan bahwa sumur bor ini terbukti efektif sebagai sarana jangka pendek untuk membantu pembasahan dan pemadaman api di areal gambut.

Sumur bor menjadi solusi sementara mengatasi kesulitan memperoleh sumber air saat kemarau. Di bawah gambut terdapat sumber air tanah yang besar yang bisa dipakai sebagai sumber air di saat kanal-kanal kering karena penyekatan belum optimal.

Pembuatan sumur bor juga relatif murah, Rp 2,5 juta per titik dengan waktu pembuatannya 1,5 jam dengan kedalaman sekitar 20 meter. Hasilnya, sumur bor ini bisa memancarkan air 4 liter per detik. Pengalaman di Rimbo

20

Panjang, Kampar, Riau, menunjukkan, titik panas gambut yang belum lama terbakar bisa dipadamkan selama 1,5 jam pengguyuran. Areal terbakar pun tak membesar karena api ”hanya”

merusak 20 x 20 meter persegi.

Langkah itu jauh lebih efektif dibanding mengandalkan truk pemadam berkapasitas 5.000 liter. Apalagi, saat musim kemarau, truk membutuhkan sumber air seperti sungai atau kanal yang umumnya telah kering.

Kebutuhan waktu mengisi tangki dan transportasi membuat kebakaran di lokasi tak bisa dikendalikan. Pompa sumur bor itu dilengkapi selang 150 meter agar fleksibel menjangkau titik panas yang muncul. Pompa ini selain bisa untuk memadamkan, juga bisa untuk membasahi gambut kalau kira-kira cuaca terlalu kering dan rawan dibakar.4

Sekalipun terbukti efektif, namun pembangunan sumur bor maupun sekat kanal ini sebenarnya masih sangat kurang dibandingkan target 1.000 sumur bor dan setidaknya 600 sekat kanal mengingat pada tahun pertama ini BRG lebih banyak melakukan perencanaan dan pemetaan, selain juga persoalan teknis tentang keterlambatan realisasi anggaran. Bagaimanapun, target ini harus dipenuhi karena syarat dasar untuk memulihkan gambut adalah dengan membasahinya kembali. Untuk itu, pada tahun 2017 pembuatan sumur bor dan sekat kanal ini akan kembali dilanjutkan.

Sementara itu, desa-desa yang telah mendapat pelatihan pembibitan adalah di Pulang Pisau dan Kepulauan Meranti. Sedangkan untuk persemaian dan pembuatan bank benih telah dilakukan di Pulang Pisau.

Untuk demo penanaman seluas 60 ha telah dilakukan di Pulang Pisau dan Kepulauan Meranti.

Kegiatan penunjang lainnya yang didukung oleh lembaga nonpemerintah selama rencana aksi BRG di tahun 2016 adalah peningkatan kapasitas sejumlah agen-agen penting masyarakat sebanyak 40 orang dalam pelatihan pembuatan sekat kanal, dan 70 orang dalam introduksi pembuatan sumur bor di lahan gambut. Beberapa capaian BRG di tahun 2016 dalam butir 1-12 dapat dilihat pada tabel.

Sebagaimana dimandatkan dalam Perpres, BRG wajib menyusun rencana dan pelaksanaan restorasi ekosistem gambut sebesar 30% dari total sekitar 2 juta hektar pada tahun 2016, yang kemudian diverifikasi oleh lembaga ini menjadi 2,4 juta ha lahan gambut terdegradasi yang harus direstorasi.5 Perlu dipahami bahwa target capaian sebesar 30% di tahun 2016 itu bukan berarti selesainya restorasi, tetapi jangkauan intervensi yang dilakukan dalam rangka restorasi.

Hingga akhir 2016, dari target 600.000 ha restorasi lahan gambut untuk tahun tersebut, tercapai sekitar 260.000 ha yang dikerjakan pemerintah, UNDP, donor, dan swasta. Kondisi ini terjadi karena sejak dibentuk, BRG lebih banyak melakukan perencanaan dan pemetaan, selain juga lebih banyak mendengar masukan dan aspirasi warga, selain penganggarannya yang belum besar untuk restorasi lahan. Namun, dengan telah selesainya perencanaan dan peta indikatif, untuk tahun 2017, BRG optimis bisa memenuhi target untuk merestorasi 400.000 ha ditambah sisa target 2016 sekitar 340.000 ha lahan atau total 740.000 ha lahan restorasi di tujuh provinsi. Selain ketersediaan anggaran APBN 2017 sekitar 60 persen, perencanaan dan sistem penganggarannya saat ini juga sudah jauh lebih baik.

3Pembangunan sumur bor oleh perusahaan ini bisa dilihat dalam artikel di http://www.antaranews.com/

berita/604700/langkah-awal-perjalanan-panjang-restorasi-gambut-indonesia. Diunduh pada 15 Januari 2016..

4Efektivitas pemadaman kebakaran lahan gambut menggunakan sumur bor ini diberitakan harian Kompas, 3 September 2016. Hal. 14. Laporan senada juga disampaikan Riau Pos pada 22 Juli 2016.

5Sebagaimana tertera dalam Pasal 4, ayat 1, butir a Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut.

Perjuangan Panjang Mengatasi Kebakaran Lahan Gambut di Rimbo Panjang

Jumat, 9 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo datang ke Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Presiden didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, Menteri Kesehatan Nila F. Moeleok, dan sejumlah pejabat daerah.

Saat itu, asap sisa kebakaran lahan gambut masih meyelimuti.

Dalam kunjungan itu, Presiden memantau pembangunan sekat kanal dan embung kecil di desa itu yang diharapkan bisa mengatasi kebakaran lahan gambut yang telah menghentikan aktivitas ekonomi dan mengancam kesehatan warga. Kedatangan Presiden bersama rombongan ke desa di pinggir Kota Pekanbaru yang langganan terbakar ini menjadi salah satu titik penting yang menandai keseriusan pemerintah dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan.

Desa Rimbo Panjang memiliki luas area 10.000 hektar dan sebagian besar merupakan lahan gambut yang telah berulangkali terbakar. Jarak Rimbo Panjang dengan Bandara Internasional Pekanabaru, Sultan Syarif Kasim II yang hanya 20 kilometer menyebabkan asap dari kebakaran lahan di desa ini berkontribusi dalam menghentikan aktivitas penerbangan di Riau. Melihat posisinya ini, upaya pencegahan kebakaran di Desa Rimbo Panjang menjadi sangat strategis.

Masalahnya, upaya untuk mengatasi kebakaran di desa ini tidaklah sederhana. Kebakaran terparah di Rimbo Panjang terjadi pada tahun 2008 seiring pembukaan hutan lebat menjadi tanah kaveling dan kemudian dibeli oleh orang dari luar desa, bahkan dari provinsi lain. Sebagian pembeli itu kemudian menjadikan lahannya sebagai kebun dengan cara membakar, sebagian lagi mengubahnya menjadi perumahan, dan sisanya dibiarkan telantar. Sejak saat itu, kebakaran menjadi rutin di Rimbo Panjang.

Sekretaris Desa Rimbo Panjang Heri mengatakan, lahan kaveling banyak yang tidak diurus dan dibiarkan mengering. Ini rawan kebakaran. Sebaiknya pengelolaannya diserahkan kepada warga desa agar bisa diolah menjadi kebun nanas atau palawija. Namun demikian, hingga kini masih belum ada kejelasan dalam mengatur tumpang tindih ruang dan lahan Rimbo Panjang ini.

“Kalau lahan dijadikan kebun nanas atau palawija berarti kan, dirawat dan dikelola dengan baik.

Sehingga bisa terhindar kebakaran jika musim kemarau tiba. Bukan itu saja lahan si pemilik kan, dijaga,” jelasnya.

Desa Rimbo Panjang menjadi salah satu sasaran restorasi gambut di Riau. Begitu terbentuk kelembagaannya, BRG bergerak cepat guna memastikan Rimbo Panjang tidak kembali terbakar. Sosialiasi kerja BRG di Rimbo Panjang tidak saja menyertakan pengambil kebijakan, dalam hal ini Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Kampar, tetapi juga masyarakat secara langsung.

BRG melatih MPA (Masyarakat Peduli Api) Rimbo Panjang yang telah terbentuk sejak 2008 untuk membangun sumur bor. Selain membuat sumur bor, MPA juga dilatih membuat sekat kanal. Kepala Pusat Pengendalian Kebakaran dan Rehabilitasi Hutan di Universitas Palangkaraya Aswin Yusuf diminta BRG melatih pembuatan sumur bor di Rimbo Panjang. Ia mengatakan, peran MPA sebelumnya tidak pernah dimaksimalkan. Padahal, mereka adalah garda terdepan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan. “Sepanjang saya melakukan dampingan di Rimbo Panjang dan Pulang Pisau (Kalimantan Tengah), masyarakat justru sangat antusias dan merasa dihargai karena mereka ditempatkan sebagai aktor penting yang berjasa untuk wilayahnya,” jelas Aswin.

Syahrial (43 tahun) dan Heri (38 tahun), motor penggerak MPA Rimbo Panjang, menjelaskan, keberadaan sumur bor sebenarnya sangat efektif untuk memadamkan kebakaran.

Begitu ada titik api, saat itu juga bisa dilakukan tindakan membuat sumur bor. Begitu sumur bor terpasang yang dibuat dalam waktu satu jam, segera dilakukan pemadaman. Api pun bisa tercegah meluas, mengingat gambut sangat cepat daya sambarnya. Apalagi jika gambutnya memang sudah rusak dan mengering di dalam.

Syahrial mencontohkan, ketika ada titik api di dekat Jalan Madura, di Rimbo Panjang, mereka langsung bergerak dan bisa memadamkannya hanya dalam waktu empat jam dengan menggunakan sumur bor. “Kebetulan sudah ada sumur bor yang kami pasang di sana. Posisinya sekitar 150 meter dari lokasi kejadian di Jalan Madura,” ujarnya. Begitu ada laporan titik api mereka bisa bergegas memadamkan api dengan menggunakan sumur bor. “Kami siram terus hingga terjadi proses pendinginan. Semuanya bisa dilakukan hanya memakan waktu empat jam saja, dan api langsung tuntas padam. Area yang terbakar hanya seluas 600 meter saja.”

Jika waktu itu tidak ada sumur bor, tambah Syahrial, kemungkinan api sudah memakan lahan hingga 6 hektar dalam waktu semalam. Karena jika mengandalkan Damkar yang jaraknya jauh, api dipastikan akan meluas. Syahrial juga menuturkan kapasitas sumur bor di lokasi tersebut bisa keluar 4 liter/detik, yang artinya dalam waktu satu jam sumur bor mampu mengeluarkan air 16.000 liter /detik. Hal ini setara dengan kemampuan empat mobil Damkar yang berisi 4000-5000 liter.

Pada Agustus 2016, sumur bor baru terpasang di 60 titik. Sebanyak 50 sumur bor yang terpasang merupakan bantuan dari BRG dan 10 lainnya merupakan swadaya masyarakat Desa Rimbo Panjang. Ke-60 sumur bor ini tidak menjangkau enam titik api yang baru muncul tersebut.

Masih dibutuhkan banyak sumur bor lagi untuk mengatasi kebakaran di Rimbo Panjang.

22

VI. KERJA SAMA

Dokumen terkait