1.5 Kerangka Teori
1.6.2 Gamelan Selonding
1.6 Konsep
Konsep merupakan definisi singkat mengenai sekelompok fakta atau gejala yang menjadi pokok perhatian dalam penelitian yang bersangkutan. Konsep-konsep yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini adalah eksistensi, gamelan selonding, fungsi, dan makna.
1.6.1 Eksistensi
Eksistensi berasal dari kata exist dalam bahasa Inggris yang artinya ‘ada’. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa eksistensi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yang diartikan sebagai keberadaan yang menunjukkan akan suatu hal. Menurut Abidin Zaenal (2007: 16) eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, suatu, menjadi atau mengada. Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri, yakni exsistere, yang artinya keluar dari, melampaui atau mengatasi. Jadi eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal dan mengalami perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya.
1.6.2 Gamelan Selonding
Gamelan (dalam Bandem, 2013: 271) merupakan sebuah ansambel atau orkestra yang sebesar instrumennya berupa alat perkusi seperti gangsa, kendang, gong, kempur, kajar, kempli, reyong, trompong, dan kendang yang menggunakan laras pelog dan slendro. Dalam gamelan umumnya terdapat sejumlah alat tiup dan gesek seperti suling dan rebab. Munculnya istilah gamelan sebagai salah satu penyebutan seni musik tradisional sampai sekarang belum bisa diketahui secara
19
pasti. Kata gamelan berasal dari bahasa Jawa Kuna, yaitu gamel yang berarti “memegang” atau “memetik”. Gamel sebagai salah satu istilah bentuk instrumen baru muncul sekitar abad XII dalam kitab Bharatayudha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada masa Kerajaan Kediri (Wirjosuparto dalam Arsini, 1994: 13).
Selonding adalah jenis gamelan sakral yang terbuat dari besi. Kata selonding diduga berasal dari kata salon yang artinya “tempat” dan ning berarti “suci”, jadi gamelan selonding adalah yang disucikan dan dikeramatkan (Bandem, 1983:53). Dalam Tusan (2002: 16) juga disebutkan bahwa seorang berkebangsaan Swiss bernama Meier juga pernah menafsirkan kata selonding dengan “Salon-Ning” yang berarti tempat suci. Tusan juga menyebutkan bahwa asal-muasal kosa kata “selonding “ itu bermula dari kata “salunding”. Mardiwarsito (1985: 495) menyebutkan bahwa salunding itu adalah alat bunyi-bunyian atau gamelan semacam sarun (lihat juga Tusan, 2002: 14).
Gamelan selonding merupakan seperangkat alat musik pukul, memiliki laras pelog saih pitu, dan umumnya terdapat di desa-desa Bali Aga, seperti Desa Bungaya, Tenganan Pegringsingan, dan Timbrah, Kabupaten Karangasem (Bandem, 2013). Gamelan ini terdiri dari bilah-bilah yang lebar dan berbahan dasar besi yang diletakkan di atas wadah gema berbentuk bak yang terbuat dari kayu. Gamelan ini dipukul dengan panggul (seperti palu dari bahan kayu). Permainan selonding menggunakan teknik dua tangan.
Gamelan ini merupakan salah satu jenis gamelan sakral. Di Desa Bungaya, gamelan ini hanya boleh dimainkan oleh orang yang berstatus penanga (pemangku gamelan selonding) dan pragina selonding. Di beberapa masyarakat,
20
gamelan ini disebut Bhatara Bagus Selonding. Gamelan selonding menggunakan laras pelog saih pitu, yaitu lima nada pokok dan dua nada pemero. Kendati pun demikian, semua nada bisa digunakan sebagai tonika, tergantung dari lagu-lagu yang dimainkan. Di samping gamelan ini untuk memainkan lagu-lagu sakral, juga dapat digunakan untuk mengiringi tari sakral seperti Rejang dan saat upacara usaba.
1.6.3 Fungsi
Fungsi (dalam Fuadi, 2013) adalah suatu proses yang di dalamnya terdapat beberapa komponen-komponen yang saling mempengaruhi dan bertujuan untuk menghasilkan suatu tujuan tertentu. Menurut Kartasapoetra dan Hartini (dalam Fitrianto, 2013), fungsi atau function dapat didefinisikan sebagai berikut: (1) kegunaan; (2) golongan dari berbagai aktivitas organisatoris; (3) kontribusi unsur tertentu pada seluruh kegiatan; (4) suatu tipe aksi di mana bisa dilaksanakan secara khas oleh suatu struktur tertentu. R. Stryker (dalam Ritzer, 2015) menyebutkan bahwa suatu fungsi (function) adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan ke arah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem.
Menurut Robert K Merton, fungsi adalah konsekuensi-konsekuensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu. Merton (dalam Ritzer, 2015:136) memperkenalkan konsep fungsi nyata (manifes) dan fungsi tersembunyi (laten). Fungsi manifes yaitu konsensus objektif yang membantu penyesuaian atau adaptasi dari sistem dan itu disadari oleh partisipan atau anggota sistem, sedangkan fungsi laten yaitu fungsi yang tidak dimaksudkan atau tidak disadari.
21
Fungsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegunaan atau kontribusi dari budaya masyarakat, dalam hal ini budaya yang dimaksud adalah gamelan selonding. Fungsi tersebut ditujukan ke arah pemenuhan kebutuhan masyarakat, yang dalam hal ini adalah masyarakat Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Kebutuhan yang dimaksud utamanya merupakan kebutuhan rohani yang menyangkut masalah kepentingan upacara dan ritual keagamaan.
1.6.4 Makna
Mead (dalam Ritzer, 2015: 275) mengungkapkan bahwa makna bukan berasal dari proses mental yang menyendiri, tetapi berasal dari interaksi. Makna dapat muncul dari hubungan atau interaksi manusia dengan lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan transenden (niskala) dan lingkungan imanen (sekala). Makna merupakan arti dari suatu objek (Suarsana, 2008).
Geertz berpendapat bahwa makna dalam kebudayaan bersifat publik dan kembali kepada konteks masyarakat pendukungnya, karena mereka saling berbagi konteks makna dalam kebudayaan tersebut. Secara sosial kebudayaan terdiri dari struktur-struktur makna dalam tema-tema berupa sekumpulan tanda yang dengannya masyarakat melakukan suatu tindakan, mereka dapat hidup di dalamnya, ataupun menerima celaan atas makna tersebut dan kemudian menghilangkannya. Dengan demikian, kebudayaan menemukan artikulasinya melalui alur tingkah laku, atau melalui tindakan sosial.
22
Dalam penelitian ini, makna yang dimaksud adalah hasil dari interpretasi simbol-simbol dan nilai-nilai yang melekat dalam gamelan selonding. Mengikuti pandangan Geertz bahwa makna dalam kebudayaan bersifat publik dan sesuai konteks masyarakat pendukungnya, maka dalam hal ini simbol dan nilai yang diinterpretasi merupakan simbol dan nilai yang melekat dalam konteks kehidupan masyarakat Desa Bungaya.