KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori 1. Hakikat Gaya Bahasa
2) Gaya Bahasa Berdasarkan Ketidaklangsungan Makna
Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna diukur dari langsung tidaknya makna. Hal ini berarti apakah acuan yang digunakan masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Jika acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Namun bila sudah ada perubahan makna, atau sudah ada penyimpangan jauh dari makna denotatifnya maka gaya bahasa tersebut dianggap sudah memiliki gaya berdasarkan ketidaklangsungan makna ini. Gaya bahasa ini biasanya disebut trope atau figure of speech, yang terbagi menjadi dua kelompok yakni gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Berikut penjelasan mengenai gaya bahasa tersebut:
a) Gaya Bahasa Retoris
Keraf berpendapat bahwa gaya bahasa retoris semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu. (2009: 129). Penyimpangan ini bisa dalam bentuk ejaan, pembentukan kata, konstruksi pada kalimat, klausa, dan frase, serta dalam bentuk aplikasi sebuah istilah untuk memperoleh kejelasan, penekanan, atau sesuatu efek yang lain. Adapun gaya bahasa yang termasuk kelompok gaya bahasa retoris antara lain:
commit to user (1) Aliterasi
Mengenai gaya bahasa aliterasi Keraf (2009) berpendapat bahwa aliterasi semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, meskipun terkadang ditemukan dalam prosa untuk memperindah serta memberikan efek penekanan (hlm. 130)
Contoh :
Takut titik lalu tumpah
Keras-keras kerak kena air lembut juga
(2) Asonansi
Keraf berpendapat bahwa asonansi semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, meskipun terkadang ditemukan dalam prosa untuk memperindah serta memberikan efek penekanan (2009: 130)
Contoh :
Ini luka penuh luka siapa punya
Kura-kura dalam perahu pura-pura tidak tahu (3) Anastrof
Keraf (2009) berpendapat bahwa anastrof atau inversi semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. (hlm. 130)
Contoh :
Pergilah ia meninggalkan kami, keheran kami melihat perangainya. Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul beragam bunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bunga
(4) Apofasis atau Preterisio
Mengenai apofasis atau preterisio Keraf (2009) berpendapat gaya tersebut merupakan sebuah gaya dimana pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, namun sebenarnya ia menekankan hal itu,
berpura-commit to user
pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu, tetapi sebenarnya memamerkannya. (hlm. 130)
Contoh :
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.
(5) Apostrof
Keraf (2009) berpendapat bahwa gaya bahasa apostrof merupakan bentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir (hlm. 131). Cara ini biasanya digunakan oleh orator klasik yang mengarahkan pembicaraannya langsung kepada sesutu yang tidak hadir, kepada barang atau obyek khayalan atau sesuatu yang abstrak.
Contoh :
Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.
(6) Asindeton
Keraf berpendapat bahwa asindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan, yang bersifat padat, mapat, dan beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan dengan koma (2009: 131). Contoh :
Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita, detik-detik penghabisan, orang melepaskan nyawa
(7) Polisindeton
Keraf (2009) mengatakan bahwa polisindeton merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan dengan kata sambung (hlm. 131).
Contoh:
Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya.
commit to user (8) Kiasmus
Keraf (2009) mengatakan bahwa kiasmus semacam gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, baik frasa atau klausa yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu sama lain. Namun susunan frasa atau klausanya itu terbalik jika dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya (hlm. 132).
Contoh :
Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.
(9) Elipsis
Keraf (2009) mengatakan bahwa elipsis merupakan suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca (hlm. 132). Contoh :
Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat, tetapi psikis ...
(10) Eufemismus
Keraf (2009) berpendapat bahwa eufemisme adalah acuan berupa ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau menyugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan (hlm. 132). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa eufemisme adalah gaya bahasa yang berusaha menggunakan ungkapan-ungkapan lain dengan maksud memperhalus.
Contoh:
Kaum tuna wisma makin bertambah saja di kotaku. (11) Litotes
Keraf (2009) berpendapat, “Litotes merupakan gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri” (hlm.
commit to user
132). Sesuatu hal dinyatakan kurang dari keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Bagas yang menyatakan bahwa bahwa litotes dapat diartikan sebagai ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri (2007: 1). Dapat disimpulkan bahwa litotes adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan dikurangi (dikecilkan) dari makna yang sebenarnya.
Contoh: Mampirlah ke gubug saya (rumah) (12) Histeron Proteron
Mengenai gaya bahasa histeron prosteron Keraf berpendapat, “Gaya bahasa histeron prosteron merupakan gaya bahasa yang menyatakan makna kebalikan dari sesuatu yang logis atau dari kenyataan yang ada” (2009: 133). Jadi dapat dikatakan bahwa histeron prosteron adalah gaya bahasa yang menyatakan makna kebalikannya yang dianggap bertentangan dengan kenyataan yang ada.
Contoh:
Jalan kalian sangat lambat seperti kuda jantan. (13) Pleonasme
Keraf (2009) berpendapat bahwa pleonasme adalah semacam acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu gagasan atau pikiran. Apabila kata yang berlebihan tersebut dihilangkan maka tidak mengubah makna atau arti. (hlm. 133). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa pleonasme menggunakan dua kata yang sama arti sekaligus, tetapi sebenarnya tidak perlu, baik untuk penegas arti maupun hanya sebagai gaya.
Contoh:
Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri. (14) Perifrasis
Mengenai gaya bahasa perifrasis, Keraf berpendapat “ Gaya bahasa perifrasis mirip dengan pleonasme yakni menggunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan, perbedaannya terletak pada,
kata-commit to user
kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja” (hlm. 134).
Contoh :
Ia telah berisitirahat dengan damai
Kalimat yang dicetak miring tersebut dapat diganti dengan satu kata yakni meninggal
(15) Prolepsis atau Antisipasi
Keraf (2009) mengatakan bahwa prolepsis atau antisipasi merupakan gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. (hlm. 134)
Contoh :
Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu
(16) Eoretis atau Pertanyaan Retoris
Mengenai gaya bahasa eoretis atau pertanyaan retoris, Keraf mengatakan bahwa gaya bahasa itu semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam, penekanan yang wajar, dan tidak menghendaki adanya suatu jawaban. (2009: 134)
Contoh :
Rayatkah yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi di negara ini?
(17) Silepsis dan Zeugma
Mengenai gaya bahasa silepsis dan zeugma, Keraf (2009) berpendapat, “Kedua gaya bahasa tersebut mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya yang mempunyai hubungan dengan kata pertama”. (hlm. 135).
Misalnya dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar.
commit to user Contoh :
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Konstruksi yang lengkap adalah kehilangan topi dan kehilangan semangat, yang satu bermakna denotasional yang lain bermakna kiasan.
Misalnya dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya sebenarnya hanya cocok untuk salah satu kata tersebut (baik secara logis maupun secara gramatikal)
Contoh :
Dengan membelalakkan mata dan telinganya, ia mengusir orang itu (18) Koreksio atau Epanortosis
Keraf (2009) berpendapat bahwa gaya bahasa koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud mula-mula menegaskan sesuatu tetapi kemudian memperbaikinya. (hlm. 135)
Contoh :
Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah, bukan, sudah lima kali.
(19) Hiperbola
Keraf (2009) berpendapat bahwa hiperbola yaitu semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal. (hlm. 135). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Maulana (2008) yang mengatakan bahwa hiperbola semacam sepatah kata yang diganti dengan kata lain yang memberikan pengertian lebih hebat dari pada kenyataan. (hlm.2) Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebihan dari kenyataan.
Contoh:
Hatiku hancur mengenang dikau, berkeping-keping jadinya. (20) Paradoks
Keraf (2009) mengemukakan bahwa paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang ada dengan
fakta-commit to user
fakta yang ada (hlm. 136). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa paradoks adalah gaya bahasa yang kata-katanya mengandung pertentangan dengan fakta yang ada.
Contoh:
Musuh sering merupakan kawan yang akrab. (21) Oksimoron
Keraf (2009) berpendapat bahwa oksimoron adalah suatu acuan yang berusaha menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. (hlm. 136). Gaya bahasa tersebut mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa oksimoron adalah gaya bahasa yang menyatakan dua hal yang bagian-bagiannya saling bertentangan.
Contoh:
Keramah-tamahan yang bengis Itu sudah menjadi rahasia umum. b) Gaya Bahasa Kiasan
Gaya bahasa kiasan juga termasuk bagian dari gaya bahasa yang didasarkan pada ketidaklangsungan makna. Hal ini berarti gaya bahasa ini mengalami penyimpangan khususnya dalam bidang makna. Keraf (2009) berpendapat bahwa gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. (hlm. 136). Adapun gaya bahasa yang termasuk kelompok gaya bahasa retoris antara lain:
(1) Simile atau perumpamaan
Mengenai gaya bahasa simile atau perumpamaan, Keraf berpendapat, “Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit atau langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain” (2009: 138). Hal tersebut relevan dengan pendapat Pradopo (2010) bahwa perumpamaan atau simile dapat diartikan sebagai suatu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain
commit to user
menggunakan kata pembanding misalnya: seperti, bagai, sebagai, bak, semisal, seumpama, laksana, sepantun, se, dan kata-kata pembanding yang lain. (hlm. 62)
Contoh:
Setiap hari tanpamu laksana buku tanpa halaman. (2) Metafora
Keraf berpendapat bahwa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal yang secara langsung tetapi dalam bentuk yang singkat (2009: 139). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Maulana (2008) yang mengatakan bahwa metafora merupakan majas yang memperbandingkan suatu benda dengan benda lain. Kedua benda yang diperbandingkan itu mempunyai sifat yang sama. (hlm.1) Metafora mempunyai kemiripan dengan simile. Pada prosesnya metafora merupakan simile yang disederhanakan bentuknya sehingga tidak lagi menggunakan kata-kata tugas tertentu untuk pengungkapannya. Hal ini senada dengan pernyataan Margriet Ruurts (2010) yang menyatakan:
“Simile and metaphor. What is the difference? In a simile you compare something (a feeling, an object) to something else by using the word like or as. For example, “The rolling thunder sounded like the roar of a lion”. Metaphor is a figure of speech in which you also compare but don‟t actually mention the original concept: The tree‟s arms reached for the sky.” (hlm. 1). Simile dan metapora. Apa yang membedakan keduanya? Dalam sebuah simile kamu membandingkan sesuatu (sebuah perasaan atau sebuah benda) dengan sesuatu yang lain melalui penggunaan kata seperti atau bagai. Sebagai contoh, “Gulungan itu bergemuruh seperti suara auman singa”. Metafora merupakan gaya bahasa yang membandingkan sesuatu tetapi tidak langsung menyebutkan pengertian atau konsep yang sebenarnya. Sebagai contoh, “Cabang pohon menyentuh langit”,
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan secara implisit yang tersusun singkat, padat, dan rapi.
Contoh:
commit to user (3) Alegori
Keraf (2009) berpendapat bahwa alegori adalah gaya bahasa perbandingan yang bertautan satu dengan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. (hlm. 140). Gaya bahasa ini juga mengandung ajaran moral. Alegori biasanya berbentuk suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya.
Contoh:
Hati-hatilah kamu dalam mendayung bahtera rumah tangga, mengarungi lautan kehidupan yang penuh dengan badai dan gelombang. Apabila suami istri, antara nahkoda dan jurumudinya itu seia sekata dalam melayarkan bahteranya, niscaya ia akan sampai ke pulau tujuan.
(4) Personifikasi
Keraf (2009) berpendapat bahwa personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. (hlm. 140). Hal senada juga dikatakan Maulana bahwa personifikasi juga dapat diartikan sebagai majas yang menerapakan sifat-sifat manusia terhadap benda mati (2008: 1). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa personifikasi adalah gaya bahasa yang memperamalkan benda-benda mati seolah-olah hidup atau mempunyai sifat kemanusiaan.
Contoh:
Pohon melambai-lambai diterpa angin. (5) Alusio
Keraf (2009) berpendapat bahwa alusi adalah acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antar orang, tempat, atau peristiwa. (hlm. 141). Dari pendapat di tersebut dapat disimpulkan bahwa alusi adalah gaya bahasa yang menunjuk sesuatu secara tidak langsung kesamaan antara orang, peristiwa atau tempat.
commit to user Contoh:
Bandung adalah Paris Jawa
Kartini kecil itu turut memperjuangkan persamaan haknya. (6) Eponim
Keraf (2009) menjelaskan bahwa eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat. (hlm. 141). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa eponim adalah pemakaian nama seseorang yang dihubungkan berdasarkan sifat yang sudah melekat padanya.
Contoh:
Kecantikannya bagai Cleopatra. (7) Epitet
Keraf (2009) berpendapat bahwa epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. (hlm. 141). Keterangan itu adalah suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suatu barang. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan epitet adalah gaya bahasa berwujud seseorang atau suatu benda tertentu sehingga namanya dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh:
Raja siang sudah muncul, dia belum bangun juga (matahari). (8) Sinekdoke
Keraf (2009) berpendapat bahwa sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte). (hlm. 142) Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pradopo (mengutip pendapat Altenbernd, 1970) mengatakan sinekdoke sebagai bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting dari suatu benda atau hal untuk benda atau hal itu sendiri (Pradopo, 2010: 78). Dari pendapat di
commit to user
atas dapat disimpulkan bahwa sinekdoke adalah gaya bahasa yang menggunakan nama sebagian untuk seluruhnya atau sebaliknya. Contoh sinekdoke pars pro toto:
Baru sekarang Rita menampakkan batang hidungnya. Contoh sinekdoke totum pro parte :
Indonesia berhasil mencetak gol dan kembali meraih kemenangan dalam pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Senayan.
(9) Metonimia
Keraf (2009) berpendapat bahwa metonomia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. (hlm. 142). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pradopo (mengutip pendapat Altenbernd, 1970) mengatakan metonomia merupakan penggunaan bahasa sebagai sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut (Pradopo, 2010: 77). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metonomia adalah penamaan terhadap suatu benda dengan menggunakan nama yang sudah terkenal atau melekat pada suatu benda tersebut.
Contoh:
Kakek membeli honda. (10) Antonomasia
Mengenai gaya bahasa antonomasia Keraf mengatakan bahwa gaya bahasa tersebut merupakan bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. (2009: 142)
Contoh :
commit to user (11) Hipalase
Keraf (2009) berpendapat bahwa hipalase adalah semacam gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata tertentu untuk menerangkan sebuah kata yag seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain (hlm. 142). Maksud pendapat di atas adalah hipalase merupakan gaya bahasa yang menerangkan sebuah kata tetapi sebenarnya kata tersebut untuk menjelaskan kata yang lain.
Contoh:
Dia berenang di atas ombak yang gelisah. (bukan ombak yang gelisah, tetapi manusianya).
(12) Ironi
Aminuddin (1995) berpendapat, “Ironi merupakan gaya bahasa yang mengandung pernyataan secara tersembunyi, mengandung pernyataan lain secara eksplisit” (hlm. 246). Sementara itu Keraf (2009) mengatakan bahwa Ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. (hlm. 143). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hadi yang mengatakan gaya bahasa ironi berupa sindiran halus berisi pernyataan yang maknanya bertentangan dengan makna sebenarnya. Gaya bahasa yang bermakna tetapi sebenarnya dengan tujuan untuk menyindir (2008: 2). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ironi merupakan gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara bertentangan dengan maksud mengejek. Contoh:
Alangkah bagusnya rapormu, begitu banyak angka merahnya. (13) Sinisme
Mengenai gaya bahasa sinisme Keraf berpendapat bahwa sinisme adalah gaya bahasa sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati (2009: 143). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan
commit to user
bahwa sinisme adalah gaya bahasa yang bertujuan menyindir sesuatu secara kasar.
Contoh:
Tak usah kuperdengarkan suaramu yang merdu dan memecahkan telinga itu.
(14) Sarkasme
Mengenai gaya bahasa sarkasme Keraf (2009) berpendapat sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Jadi yang dimaksud dengan sarkasme adalah gaya bahasa penyindiran dengan menggunakan kiata-kata yang kasar dan keras. (hlm. 143)
Contoh :
Mulutmu berbisa bagai ular kobra. (15) Satire
Mengenai gaya bahasa satire, Keraf (2009) berpendapat, “Gaya bahasa satire merupakan gaya bahasa yang berbentuk ungkapan dengan maksud menertawakan atau menolak sesuatu” (hlm. 144). Sementara itu Nurdin, Maryani, Mumu (2002) berpendapat bahwa satire adalah gaya bahasa yang berbentuk penolakan dan mengandung kritikan dengan maksud agar sesuatu yang salah itu dicari kebenarannya. (hlm. 29). Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa satire adalah gaya bahasa yang menolak sesuatu untuk mencari kebenarannya sebagai suatu sindiran. Tujuan satire adalah mengandung kritik agar diadakan perbaikan secara etis maupun estetis.
Contoh:
Sekilas tampangnya seperti anak berandal, tapi kita jangan langsung menuduhnya, jangan melihat dari penampilan luarnya saja.
(16) Inuendo
Mengenai gaya bahasa inuendo Keraf (2009) berpendapat bahwa innuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan
commit to user
kenyataan yang sebenarnya (hlm. 144). Hal itu senada dengan pendapat Nurdin, Maryani, Mumu (2002) yang mengatakan inuendo sebagai gaya bahasa yang mengecilkan maksud yang sebenarnya. Dengan demikian dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa innuendo adalah gaya bahasa sindiran yang mengungkapkan kenyataan lebih kecil dari yang sebenarnya.
Contoh:
Dia berhasil naik pangkat dengan sedikit menyuap. (17) Antifrasis
Keraf (2009) menjelaskan bahwa antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya (hlm. 144). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa antifrasis adalah gaya bahasa dengan kata-kata yang bermakna kebalikannya dengan tujuan menyindir.
Contoh:
Lihatlah si raksasa telah tiba (si cebol). (18) Pun atau Paronomasia
Mengenai gaya bahasa pun atau paronomasi, Keraf mengatakan bahwa gaya bahasa tersebut merupakan bahasa kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi, akan tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya (2009: 145).
Contoh :
Tanggal dua gigi saya tanggal dua
2. Hakikat Novel a. Pengertian Novel
Mengenai definisi novel, Nurgiyantoro (mengutip pendapat Abrams, 1981) mengatakan bahwa kata novel secara harfiah berasal dari bahasa Itali novella yang berarti sebuah barang baru yang kecil kemudian diartikan sebagai
commit to user
cerita pendek dalam bentuk prosa. (Nurgiyantoro, 2005: 9). Hal tersebut relevan dengan pendapat Tarigan (1993),”Dalam bahasa Latin kata novel berasal novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis lain, novel ini baru muncul kemudian” (hlm. 164).
Semi berpendapat (1993) bahwa novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus (hlm. 32). Dengan demikian novel mampu memberikan konsentrasi kehidupan yang lebih tegas, dengan roman yang diartikan dalam rancangannya yang lebih luas, mengandung sejarah perkembagan yang biasanya terdiri dari beberapa fragmen dan patut ditinjau kembali. Hal tersebut senada dengan pendapat Sudjiman yang mengatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang menyuguhkan tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa serta latar secara tersusun. Novel sebagai karya imajinatif mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang mendalam dan menyajikannya secara halus. Novel tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai bentuk seni yang mempelajari dan meneliti segi-segi kehidupan dan nilai-nilai baik buruk (moral) dalam kehidupan ini dan mengarahkan pada pembaca tentang budi pekerti yang luhur. (1998: 53)
Sementara itu, Nurgiyantoro (mengutip pendapat Wellek & Warren,