• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN

Bagan 1. Goal Path Theory

2. Gaya Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses hubungan manusia yang bersifat rumit. Sebagai sebuah gejala kebudayaan dalam kehidupan sosial manusia, kepemimpinan dipengaruhi banyak faktor. Karena itu, kepemimpinan seseorang dalam suatu organisasi, tak terkecuali dalam organisasi sosial dan keagamaan diperkirakan dipengaruhi oleh banyak faktor baik yang berasal dari diri pemimpin (leader), yang dipimpin (follower) maupun lingkungan atau situasi (situation) organisasi yang dipimpinnya. Setiap orang dalam memimpin memiliki gaya yang melahirkan perilaku tersendiri dalam memimpin satu organisasi atau dalam pergaulannya.

Winardi (1990) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu pendekatan yang dilakukan oleh pemimpin dalam melaksanakan kegiatannya bersama bawahan.

Dalam realitasnya gaya kepemimpinan (leadership style) senantiasa melekat pada cara-cara seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya. Perilaku seorang pemimpin memengaruhi orang

lain agar mau bekerja sama untuk melakukan suatu kegiatan melahirkan gaya kepemimpinan tersendiri.

Bagaimanapun, penampilan gaya kepemimpinan adalah cara seseorang pemimpin melaksanakan kegiatannya dalam upaya mem-bimbing, memandu, mengarahkan, dan mengontrol pikiran, perasaan, atau perilaku seseorang atau sejumlah orang untuk mencapai tujuan tertentu.

Dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan ialah suatu pola perilaku yang konsisten ditampilkan seseorang dan yang diketahui oleh pihak lain ketika dia berusaha memengaruhi kegiatan-kegiatan orang lain.

Gaya kepemimpinan juga diarahkan sebagai pendekatan yang dilakukan oleh pemimpin dalam memengaruhi orang lain untuk melaksanakan kegiatannya bersama atau dengan anggota-anggotanya.

Terry (1973) mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan itu timbul dari sejumlah faktor yang berhubungan dan kompleks sifatnya, yaitu: (1) pemimpin, (2) yang dipimpin, (3) organisasi yang bersangkutan, dan (4) nilai sosial kondisi ekonomi dan politik (situasi lainnya).

Secara umum gaya kepemimpinan menurut Hines dalam Timpe (1993) dibagi kepada tiga, yaitu otokratis, demokratis, dan kendali bebas (laissez faire).

Sutisna (1985) berpendapat bahwa kepemimpinan otokratis

menekankan semua kewenangan (hak dan kekuasaan) melakukan sesuatu berpusat pada manajer. Para manajer cenderung memaksakan putusan-putusan dengan menggunakan ganjaran dan rasa takut atau hukuman. Komunikasi cenderung berjalan satu arah dari manajer kepada pengikut serta kepatuhan pengikut sangat dituntut oleh manajer.

Reeser, dkk., (1973) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan otokratis cenderung menggunakan manajemen terpusat pada produksi. Gaya ini mengandalkan otoritas formal pribadi dalam kedudukan sebagai manajer dengan cara mengarahkan bawahan dengan perintah dan pengawasan yang ketat. Gaya kepemimpinan ini sangat berorientasi kepada tugas. Pemimpin lebih banyak memberikan instruksi-instruksi agar pekerjaan tidak keliru. Oleh karena itu, pemimpin lebih banyak melakukan pengawasan yang ketat terhadap pekerjaan. Hal ini mengakibatkan inisiatif dari staf atau karyawan tidak ada dan hubungan yang baik tidak dapat diciptakan.

Dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas dan produksi, akan tetapi kurang perhatian terhadap kebutuhan manusia atau pekerjanya. Pemimpin lebih banyak memberikan instruksi-instruksi agar pekerjaan tidak keliru. Oleh karena itu, pimpinan lebih banyak melakukan pengawasan yang ketat terhadap pekerjaan. Hal ini mengakibatkan inisiatif staf tidak ada dan hubungan yang baik tidak dapat diciptakan.

Kepemimpinan demokratis mengungkapkan tiga fungsi utama, yaitu: (1) menyebarkan atau membagi tanggung jawab, (2) pemberdayaan anggota organisasi, dan (3) bekerja sama secara baik. Demikian pula, bahwa gaya kepemimpinan demokratis atau partisipatif memper-timbangkan keinginan dan saran-saran dari para anggota maupun dari pemimpin. Di sini pendekatan hubungan antarmanusia merupakan proses penting dalam aktivitas kepemimpinan. Partisipasi dicari untuk menggalakkan komitmen para anggota terhadap putusan yang dibuat dalam pemecahan masalah organisasi (Sutisna, 1985).

Kemimpinan demokratis memiliki berbagai kecenderungan atau ciri-ciri. Tingginya partisipasi bawahan atau anggota dapat diukur dari hal-hal berikut: (1) melakukan lebih banyak komunikasi dua arah, (2) bawahan memiliki lebih banyak waktu untuk memengaruhi keputusan, (3) para staf pimpinan kurang agresif, dan (4) adanya pengakuan terhadap potensi anggota dapat membedakan sumbangan positif dalam pencapaian tujuan.

Mondy dan Premeaux (1995) menjelaskan: “A participative leadership

involves subordinates in decision making but may retain the final authority”.

Kecenderungan gaya demokratis atau partisipatif adalah meng-ikutsertakan anggota bawahan dalam pengambilan keputusan dalam rangka menumbuhkan komitmen kerja untuk mencapai tujuan.

Adapun gaya kepemimpinan kendali bebas (laissez faire) menekankan bahwa pemimpin tidak banyak berusaha untuk menjalankan kontrol atau pengaruh terhadap para anggota kelompok. Kepada para anggota diberikan tujuan-tujuan, tetapi dibiarkan menggunakan cara masing-masing untuk mencapainya. Pemimpin hanya berfungsi sebagai anggota, yang dapat memberikan nasihat dan pengarahan ketika diminta. Namun, perlu digarisbawahi bahwa gaya kepemimpinan ini biasanya kurang bermanfaat kecuali bagi kalangan kelompok profesional yang termotivasi tinggi dapat menjadi efektif.

Di sisi lain ada pula pemimpin yang menjalankan kepemimpinan kendali bebas. Dalam gaya kepemimpinan ini cenderung pemimpin sering memberikan kekuasaan kepada bawahan. Pengarahan hanya sedikit, dan anggota sering membuat sasaran dan memecahkan masalah sendiri tanpa dicampuri oleh atasan atau pimpinan, meskipun tetap dalam batasan-batasan yang diketahui dan ditetapkan atasan.

Untuk membandingkan dengan pendapat lain mengenai teori gaya kepemimpinan, maka dikemukakan di sini teori gaya kepemimpinan dengan kerangka manajerial (the managerial grid Blake and Mouton) dalam Hersey dan Blanchard (1985) membagi gaya kepemimpinan menjadi lima bagian berdasarkan penekanan pada hubungan kemanusiaan dan pelaksanaan tugas. Kelima gaya kepemimpinan kerangka manajerial, yaitu: (1) pembelot/pemiskinan/deserter, (2) otokratik, (3) pelindung dan penyelamat, ‘missionary/contry club’, (4) kompromi atau jalan tengah, dan (5) eksekutif/pelaksana, ‘team’.

Adapun gaya deserter adalah gaya kepemimpinan yang paling buruk, karena pemimpin yang kurang perhatian, baik perhatian terhadap tugas maupun perhatian terhadap hubungan manusia.

Kemudian gaya misionaris adalah gaya yang lebih berorientasi kepada manusia, akan tetapi kurang perhatiannya terhadap tugas atau produksi.

Gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas atau produksi, akan tetapi kurang mem-perhatikan terhadap kesejahteraan manusia atau anggotanya.

Gaya kompromi (jalan tengah) adalah gaya kepemimpinan yang cukup seimbang antara perhatian terhadap tugas dan produksi dengan perhatian terhadap hubungan manusia.

Sedangkan gaya kepemimpinan eksekutif adalah gaya kepemimpinan puncak, yaitu perhatian pemimpin sama besarnya kepada hubungan kemanusiaan (kepuasan kerja dan kesejahteraan anggota) dengan pelaksanaan tugas atau pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Gaya kepemimpinan dapat berubah sesuai dengan perubahan situasi. Para pemimpin dapat mengubah gaya kepemimpinannya atau menyesuaikannya dengan situasi yang dihadapi. Gaya kepemimpinan akan dipengaruhi oleh pemimpin itu sendiri, para pengikut, dan situasi yang ada pada saat itu dalam organisasinya.

Berkaitan dengan prinsip di atas, Roe dan Drake (1980: 97) men jelaskan, “Gaya kepemimpinan dapat disesuaikan dengan situasi (situational approach). Karena kepemimpinan pada dasarnya berhadapan dengan sejumlah situasi di dalam berbagai karakteristik kelompok dan gaya kepemimpinan menjadi penting sekali. Dengan kata lain, kepemimpinan bergantung atas situasi. Berbagai jenis situasi menentukan jenis atau gaya kepemimpinan yang dikembangkan. Dalam hal ini, variabel situasi yang menjadi bidang khusus adalah iklim organisasi, tugas dan jenis penugasan yang dikerjakan kelompok, serta tingkat kewenangan formal dan kekuasaan”.

Suatu hal yang penting digarisbawahi bahwa pemimpin yang baik sangat memerlukan anggota dalam interaksi yang baik pula. Dijelaskan oleh Shelton (1997: 44) bahwa: “Para pemimpin yang baik memiliki minat untuk berhasil dalam tugasnya. Kepemimpinan adalah suatu pemikiran tentang tugas. Pergantian dari hanya berbicara tentang kepemimpinan kepada secara aktual menjadi pemimpin tidak mudah. Untuk menjadi pemimpin yang berhasil, harus pertama kali belajar tentang teknologi yang baik, hubungan dengan orang-orang untuk memperoleh tindakannya, karena anggota akan menentukan keberhasilan dan kegagalan menjalankan kepemimpinan”.

Studi empirik mengemukakan bahwa kepemimpinan merupakan proses dinamis, yang berbeda dari situasi ke situasi lain dengan perubahan pemimpin, pengikut, dan situasi. Jadi, fokus pendekatan situasional terhadap kepemimpinan adalah menyesuaikan perilaku kepemimpinan terhadap iklim organisasi, tugas-tugas, dan kewenangan. Tegasnya, para pemimpin dapat menukar gaya kepemimpinannya dalam situasi nyata kepada yang lebih baik dan mantap sesuai tuntutan situasi (iklim, tugas, dan kewenangan).