• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENGENDALIAN DAN GAYA

B. Gaya Kepemimpinan

Dalam banyak hal, terdapat perbedaan dan persamaan antara kepemimpinan dan manajemen. Kepemimpinan adalah proses yang serupa dengan manajemen dalam banyak hal.

Kepemimpinan mencakup pengaruh, sama seperti manajemen. Namun fungsi dominan manajemen adalah untuk menyediakan keteraturan dan konsistensi untuk organisasi, sementara fungsi utama kepemimpinan adalah untuk menghasilkan perubahan dan pergerakan. Manajemen berusaha mencapai keteraturan dan stabilitas, sedangkan kepemimpinan berusaha mencapai perubahan yang adaptif dan membangun. Bennis dan Nanus dalam Northouse (2013:

12) menyatakan bahwa “Manajer adalah orang yang melakukan segala sesuatu dengan benar, sementara pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang benar”. Rost menyatakan bahwa: “Kepemimpinan adalah hubungan pengaruh banyak arah, sementara manajemen adalah hubungan otoritas satu arah. Kepemimpinan terkait dengan proses untuk mengembangkan tujuan bersama, dan

manajemen ditujukan untuk mengkoordinasikan aktivitas guna menyelesaikan suatu pekerjaan”. Zaleznik menyatakan bahwa: “Manajer bersifat reaktif dan cenderung bekerja bersama orang untuk memecahkan masalah, tetapi melakukannya dengan keterlibatan emosional yang rendah, dan mereka bertindak untuk membatasi pilihan. Sedangkan pemimpin terlibat dan aktif secara emosional, dan mereka berusaha membentuk ide, bukan merespons ide, serta bertindak untuk memperluas pilihan yang tersedia untuk memecahkan masalah yang telah lama ada, dan pemimpin mengubah cara pikir orang-orang tentang kemungkinan yang ada”.

Dengan demikian ketika manajer terlibat di dalam memengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuannya, mereka terlibat dalam kepemimpinan. Ketika pemimpin terlibat dalam perencanaan, pengorganisasian, penetapan staf, dan kontrol, mereka terlibat dalam manajemen. Peran pemimpin (dan manajer) diharap dapat menjadikan satu kesatuan guna membantu pengikut untuk menegakkan kembali, mempertahankan dan meningkatkan motivasi pengikut. Pemimpin adalah orang yang membantu orang lain untuk memperoleh hasil-hasil yang diinginkan. Pemimpin bertindak dengan cara-cara yang memperlancar produktivitas, moral tinggi, respon yang energik, kecakapan kerja yang berkualitas, komitmen, efisiensi, sedikit kelemahan, kepuasan, kehadiran, dan kesinambungan dalam organisasi.

Kepemimpinan diwujudkan melalui gaya kerja (operating style) atau cara bekerja sama dengan orang lain

yang konsisten, baik melalui apa yang dikatakannya maupun apa yang diperbuatnya (tindakan). Cara pemimpin berbicara dan bertindak kepada pengikutnya merupakan gaya kerja.

Pendekatan gaya menekankan perilaku pemimpin. Ini membedakannya dari pendekatan sifat yang menekankan pada karakteristik kepribadian pemimpin, dan pendekatan keterampilan yang menekankan pada kecakapan pemimpin.

Pendekatan gaya terutama berfokus pada apa yang dilakukan pemimpin dan bagaimana mereka bertindak.

Peneliti yang mempelajari pendekatan gaya menyatakan bahwa kepemimpinan dibentuk dari dua jenis perilaku umum:

a). Perilaku tugas, dan b). Perilaku hubungan (Northouse, 2013: 74). Perilaku tugas membantu anggota kelompok mencapai tujuan. Perilaku hubungan membantu pengikut merasa nyaman dengan diri mereka sendiri, dengan orang lain, dan dengan situasi di mana mereka berada. Tujuan semuanya adalah memengaruhi pengikut dalam upaya mereka mencapai tujuan.

Sejumlah penelitian awal tentang pendekatan gaya kepemimpinan dilakukan di akhir tahun 1940-an. Dalam penelitian Negara Bagian Ohio, sekelompok peneliti percaya bahwa hasil dari studi kepemimpinan sebagai karakter kepribadian tampak tak berguna, dan memutuskan untuk menganalisis bagaimana individu bertindak ketika mereka memimpin suatu kelompok atau organisasi. Dalam kajiannya, pemimpin yang memberi struktur untuk pengikut dan pemimpin yang mengembangkan pengikut secara simultan, menunjukkan bentuk terbaik kepemimpinan dibandingkan

secara sendiri-sendiri. Dalam penelitian yang dilakukan University of Michigan, menganalisis perilaku kepemimpinan dengan memberi perhatian khusus pada dampak perilaku pemimpin pada kinerja kelompok kecil.

Dalam kaitan ini terdapat dua jenis perilaku kepemimpinan, yakni: a). Orientasi pegawai, dan b). Orientasi produk. Orientasi pegawai adalah perilaku pemimpin yang mendekati pengikut dengan penekanan hubungan antar-manusia yang kuat. Orientasi produksi mengandung perilaku kepemimpinan yang menekankan aspek teknis dan produksi dari suatu pekerjaan, di mana pekerja dilihat sebagai alat untuk menyelesaikan pekerjaan.

Mungkin, model perilaku manajerial yang paling dikenal adalah Managerial Grid, yang pertama muncul di awal tahun 1960-an, dan telah diperbaiki serta disempurnakan berulang kali (Blake & McCanse, 1991). Model ini telah digunakan secara luas di dalam pelatihan dan pengembangan organisasi. Managerial Grid atau Leadership Grid didesain untuk menjelaskan bagaimana pemimpin membantu organisasi untuk mencapai tujuan mereka melalui dua faktor, yaitu: a). Perhatian pada produksi, dan b). Perhatian kepada orang. Perhatian pada produksi mencakup aktivitas keputusan kebijakan, pengembangan produk baru, jumlah penjualan, dan lain-lain. Perhatian pada orang mencakup membangun komitmen organisasi dan kepercayaan, memberi kondisi kerja yang bagus, mempertahankan struktur gaji yang adil, dan lain-lain.

Pendekatan gaya memberi sebuah kerangka kerja untuk menilai kepemimpinan dalam cara yang luas, seperti perilaku dengan dimensi tugas dan hubungan. Pendekatan gaya berfungsi tidak dengan memberi tahu pemimpin cara untuk berperilaku, tetapi dengan mendeskripsikan komponen utama dari perilaku mereka. Prof. Smith datang ke kelas, memperkenalkan dirinya, mencatat kehadiran para siswanya, membahas apa yang ada dalam silabus, menjelaskan tugas pertamanya, dan membubarkan kelas. Apa yang dilakukan Prof. Smith dapat disebut perilaku tugas. Sedangkan Prof.

Jones datang ke kelas, setelah memperkenalkan diri serta membagikan silabus, mencoba membantu siswa saling mengenal, peminatannya, dan aktivitas non-akademis kesukaannya. Apa yang dilakukan Prof. Jones dapat disebut perilaku hubungan (Northouse, 2013:80).

Pendekatan gaya menawarkan pendekatan yang dapat diterapkan untuk memahami proses kepemimpinan.

Pendekatan gaya bersifat empiris, di mana pemimpin bisa belajar banyak hal tentang diri mereka dan bagaimana mereka menghadapi orang lain, dengan mencoba melihat perilaku mereka dalam dimensi tugas dan hubungan. Gaya kepemimpinan yang paling efektif adalah gaya tinggi-tinggi (yaitu tugas tinggi dan hubungan tinggi).

C. Efektivitas Pengendalian dan Gaya Kepemimpinan

Dokumen terkait