Ciri khas dari konsentrasi ceramah adalah penyadaran dan transformasi nilai-nilai ajaran agama. Penyadaran untuk mengajak kepada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan syariat dan penyampaian ajaran Islam berdasarkan Al Quran dan Hadits. Pada dasarnya apa yang disampaikan para dai merupakan pesan ceramah berisikan ajakan, nasihat atau seruan untuk menjalankan perintah Allah dan tidak melakukan apa yang dilarangNya, seruan untuk berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran.
Berdasarkan temuan dilapangan menunjukan bahwa pesan ceramah merupakan pesan-pesan yang bersifat ajakan, himbauan atau nasihat (persuasi) serta kutipan dari dalil Al Quran dan Hadits yang berisi perintah dan larangan yang berimplikasi kepada imbalan dan hukuman berupa pahala dan dosa (surga dan neraka). Sebagaimana makna dakwah itu menurut ia adalah seruan atau mengajak orang-orang untuk kembali kejalanNya.
Ada banyak macam ajakan atau seruan (persuasi) dalam pesan ceramah. Para dai berusaha untuk meyakinkan khalayak terhadap keyakinan, perbuatan atau tindakan yang dianggap benar menurut syariat. Para dai dengan sadar (terencana) menyusun suatu pesan ceramah yang sistematis dan logis agar tercapainya tujuan ceramah yang disampaikan.
Saputra (2011:4-5) menyebutkan dalam strategi komunikasi penyampaian ceramah bahwa ada tiga cara yang biasa dilakukan dai, yaitu mendidik (retorika
116
edukasi), mengingatkan (retorika pengingatan) dan membangkitkan pemahaman pada alam pikiran pendengar (retorika persuasi). Ketiga penyampaian ini saling berkaitan, bahkan retorika mendidik dan mengingatkan bermuara pada usaha untuk mempengaruhi. Sebagaimana dalam pesan ceramah mengenai pembatal-pembatal syahadat dan macam-macam ibadah. McGuire dalam Ma‟arif (2015:71) mengatakan bahwa apabila komunikator mempunyai kekuasaan untuk memberikan reward dan punishment, akan lebih efektif untuk mengubah sikap karena terdapat unsur perasaan takut dari penerima pesan komunikator. Dai memiliki kekuasaan (power), yaitu pengethuan ilmu agama yang lebih dari jamaah, sedangkan pengetahuan merupakan salah satu bagian dari power tersebut.
Menurut pendapat McGuire diatas menegaskan bahwa pesan persuasi dalam pesan ceramah sangat dimungkinkan. Pesan ceramah tidak hanya mengandung makna, tetapi juga memiliki daya dorong atau force. Pesan-pesan persuasi secara sistematika ceramah dalam pesan ceramah dapat dicermati mulai dari pembukaan, isi dan penutupan ceramah.
Dalam pembukaan ceramah, pesan-pesan persuasi berupa ajakan untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat dan rahmatNya yang senantiasa kita dapatkan, begitu juga atas diutusnya Rasulullah SAW yang mengajarkan dan menjadi teladan bagi umat, sehingga umat menjadi tahu cara beribadah, menjadi mengenal Tuhan dan menjadi contoh yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik hubungannya dengan Allah juga hubungan sesama manusia. Begitu juga pembukaan ceramah tentang pentingnya duduk dimajelis taklim memperdalam ilmu agama, dinyatakan bahwa malaikat juga ikut hadir bahkan
mendoakan orang-orang yang hadir dalam majelis taklim.
Kaitannya dengan isi ceramah pesan persuasif merupakan pokok persoalan yang disampaikan. Ceramah masalah tasyabbuh, memaparkan perkara-perkara yang dilarang dalam hal meniru dimana perintah dan larangan itu dijelaskan alasannya dari Al Quran.
Dai merupakan orang yang melakukan suatu tugas untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama Islam yang berdasarkan suatu dalil dari Al Quran dan Hadits. Ajaran-ajaran Islam mencakup semua segi kehidupan manusia, ajaran yang tidak hanya mengajarkan perkara-perkara yang berhubungan dengan ketuhanan secara langsung melainkan juga perkara-perkara yang menyangkut hajat hidup manusia sebagai makhluk sosial.
Ketika seorang dai telah mampu berkomunikasi dengan cara pandang umatnya, langkah berikutnya adalah memperdalam insformasi apa saja yang ada pada umatnya dengan harapan dai memiliki gambaran yang lengkap dan utuh tentang keadaan sebenarnya. Berdasarkan gambaran ini seorang dai harus menyiapkan pesan dakwahnya sehingga dakwahnya nanti akan lebih bermakna.
Pesan dakwah yang meliputi seluruh ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan Hadis. Ajaran Islam mencakup semua segi kehidupan manusia, seperti teologi, ekonomi, budaya, sosial dan politik serta sains. Apa yang disampaikan oleh dai merupakan hal yang berkaitan dengan ajaran Islam, sehingga segala sesuatu yang disampaikan tersebut memiliki dasar yang sudah ditetapkan (dalil) secara kuat menurut Al Quran dan Hadits. Maka sebenarnya seorang dai hanyalah sebagai perantara atau jembatan penghubung antara ajaran Islam dan khalayak dalam hal ini jamaah.
Menurut temuan dari wawancara dengan Hery Prasetya dan Muhammad Yunus Rangkuti, bisa dijelaskan bahwa penentuan terhadap tema yang disampai dai ditentukan oleh pihak yang mengadakan (panitia) dalam hal ini koordinator bidang dakwah masjid yang mewakili jamaah. Hery juga mengatakan bahwa permintaan jamaah mengenai tema ceramah juga mengalami proses seleksi. Tidak semua permintaan tersebut dipenuhi. Kemampuan untuk mencari dai yang dapat “mengisi” ceramah tentang tema tersebut juga menentukan juga ketersediaan waktu dari dai untuk ceramah di masjid Al Anshor. Begitu pula dengan pendapat Muhammad Yunus Rangkuti selaku dai yang berceramah dalam kajian rutin tiap minggu kedua ini, ia mengatakan bahwa tema yang menjadi prioritasnya adalah masalah akidah, dari sekian banyak perkara, informan lebih mengutamakan untuk menyampaikan pesan mengenai akidah. Menurut informan perkara akidah merupakan pondasi utama dalam kehidupan beragama dalam Islam. Walau terkadang ada permintaan untuk “mengisi” dengan tema diluar akidah, namun informan lebih menyarankan untuk membahas masalah akidah, kecuali perkara yang diminta tersebut sangat “urgent” untuk masyarakat tersebut. Namun informan tidak berarti menolak untuk membahas diluar perkara-perkara akidah.
Berdasarkan penjelasan diatas, terdapat tiga faktor menyebabkan suatu tema diangkat dalam ceramah, yaitu faktor panitia (koordinator bidang dakwah) selaku pihak ketiga yang menjembatani antara jamaah dan dai, nilai-nilai yang dianut dai sendiri dan faktor tematik, maksudnya pesan ceramah yang disesuaikan dengan tema kegiatan.
Bekal ilmu yang akan disampaikan oleh dai diperoleh dengan beberapa jalan, diantaranya dari latar belakang pendidikan, membaca buku-buku dan juga
dari mendengarkan ceramah-ceramah dari orang yang dianggap orang tua yang memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman, juga dengan diskusi-diskusi. Membaca buku sebagai bekal ilmu ajaran dalam ceramah juga merupakan sebuah hobi menurut informan, hobi membaca Arab atau mengenai Islam.
Latar belakang pribadi seperti pendidikan, pengetahuan dan pengalaman pribadi dai menjadi bagian dari fokus tema yang disampaikan dalam ceramah. Antonio Safii dalam ceramah banyak mengupas mengenai ekonomi syariah, Syeik yang ceramahnya menjadi rujukan dalam ceramah masalah hukum tasyabbuh ini memfokuskan tentang kelompok-kelompok, serta informan yang menilai akiqah hal pokok sehingga dalam tiap ceramah Ustad lebih mengutamakan akiqah untuk diangkat kecuali permintaan dan itu dianggap urgent oleh ustad. Aa Gym lebih mengutamakan akhlak setiap ceramahnya.
Bahasa menurut Edward Sapiur dan Benyamin Whorf (Lusiana, 2002:20), bahasa tidak saja berperan sebagai suatu mekanisme untuk berlangsungnya komunikasi, tetapi juga sebagai sebagai pedoman ke arah kenyataan sosial. Bahasa dianalisis bukan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga menghubungakan konteks. Konteks disini berarti bahasa dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu.
Kaitannya dengan pemikiran ini dai menanggapi gejala yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini. Kaitannya dengan banyaknya aliran-aliran atau mahzab-mahzab dalam kehidupan beragama di masyarakat. Dimana setiap aliran ini mengklaim dirinya sebagai sebuah kebenaran yang paling benar. Secara umum aliran ini dikelompokan kepada dua, yaitu: kelompok yang berlebih-lebihan dalam agama. Kelompok ini sering dengan mudah mengkafirkan
muslim lain, menuduh muslim lain sesat, melakukan ibadah yang berlebihan yang tidak ada tuntunannya. Disisi lain kelompok yang mengampangkan urusan agama, seperti tidak perlu mengamalkan ajaran Islam asal “cukup percaya kepada Allah”, tidak melakukan hal-hal yang disunnahkan dan hanya melakukan hal-hal yang wajib saja.
Hal ini menunjukkan perhatian dai kepada banyaknya aktivitas ibadah yang dilakukan sebagian orang tidak atas dasar ilmu, melainkan hanya atas dasar sudah menjadi tradisi atau kebiasaan dari orang-orang sebelumnya. Berdasarkan wawancara dengan Muhammad Yunus Rangkuti juga mengatakan bahwa saat ini banyak orang-orang yang tidak tahu agama. Ia juga menyarankan untuk selalu mencari sendiri kebenarannya masalah-masalah yang baerkaitan dengan agama, begitu juga apa yang dikatakan seorang dai dalam ceramah kita dituntut untuk tidak menerimanya dengan mentah.
Shihab (1998:29) berpendapat bahwa kondisi objektif masyarakat sebagai hasil dakwah yang sangat variatif ini, terkadang membawa corak kepercayaan yang bersifat sinkretisme, yaitu mencampuradukan ajaran agama dengan doktrin yang berbeda secara total. Keadaan ini sesuai dengan seruan untuk selalui mengilmui dalam urusan agama.
Seorang dai sebagai seorang yang menafsirkan ajaran Islam yang bersumber Al Quran dan Hadits menurut teori Kesadaran Keterpengaruhan Sejarah oleh Gadamer ternyata dipengaruhi oleh situasi hermeneutik tertentu yang melingkupinya, baik berupa tradisi, kultur ataupun pengalaman hidupnya. Artinya bahwa dai tidak hanya mentransferkan atau menjembatani ajaran yang sudah ada kepada jamaah melainkan ada proses interpretasi dalam proses penyampaiannya,
tanpa mengubah inti dari suatu ajaran hal ini disebabkan karena perkembangan keadaan yang menimbulkan fenomena baru dalam masyarakat. Keterpengaruhan ini tidak hanya dalam menafsirkan suatu perkara dalam Islam melainkan dalam penentuan tema-tema yang berkenaan dengan keadaan masyarakat sekitar.
Keberadaan pesan ceramah yang disampaikan dai sebenarnya telah dipengaruhi oleh berbagai komponen yang terdapat dalam diri dai maupun sosial masyarakat. Pesan ceramah merupakan pesan yang sampaikan oleh dai secara lisan. Kehadiran pesan ceramah yang disampaikan dai tersebut tidak luput dari pengaruh sosial, ekonomi, politik dan budaya suatu tempat dan waktu tertentu. Sebuah ceramah yang disampaikan seorang dai dalam konteks ruang dan waktu berbeda akan berbeda pula isinya.
Pesan ceramah dalam rangka merespon kondisi-kondisi sosial yang dihadapi seseorang atau sekelompok orang, baik dalam bentuk menyetujui, mendebat, menentang mengkonter atau memberi solusi permasalahan sosial, politik, ekonomi, budaya serta peribadatan yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu pesan dakwah adalah identik dengan proses produksi dan reproduksi wacana agama yang tidak lepas dari konteks sosio budaya yang melingkupinya. Namun berdasarkan temuan dalam penelitian ini sebuah pesan ceramah yang disampaikan dai lebih kepada memberitahu (pengetahuan) dan mengajak untuk mengaplikasikan tuntunan beribadah bukan suatu reaksi untuk menjawab suatu permasalahan yang sedang terjadi.
Medan dakwah meliputi semua aktifitas manusia secara keseluruhan, baik secara individu sebagai ciptaan Allah maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu medan dakwah bersinggungan dengan aspek kehidupan dalam bidang
peribadatan, politik, sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. Medan dakwah berada diantara perlintasan berbagai kepentingan manusia yang masing-masing memperjuangkan versinya masing-masing. Medan dakwah juga acapkali menjadi arena pertarungan berbagai ideologi yang masing-masing mengklaim kebenarannya. Dengan demikian, proses produksi dan reproduksi wacana dakwah bukan berada pada ruang hampa yang bebas dari pengaruh ideologi lain (Laila, 2005:79). Oleh karena itu dalam memahami dan manafsirkan teks, asumsi-asumsi kepentingan tersebut akan sangat besar pengaruhnya (Hidayat, 2004:22).
Pesan dakwah adalah interpretasi dai terhadap pokok-pokok ajaran agama (Al Quran dan Hadis) dalam rangka memecahkan problematika sosial yang dihadapi masyarakat. Menurut Mulyana (2005:15-16) apa yang dibicarakan, bagaimana cara membicarakannya, apa yang dilihat, perhatikan, bagaimana berpikir dan apa yang dipikirkan dipengaruhi oleh budaya.
Ketika seseorang membaca dan memahami teks, secara tidak langsung ia memproduksi ulang dan manafsirkan teks sesuai dengan kemapuan dan subjektifitasnya. Oleh karenanya sebuah teks yang sama akan melahirkan pemahaman baru ketika dibaca ulang. Setiap pengarang teks dan pembaca tidak bisa lepas dari konteks sosial, politik, psikologis, teologis dan konteks lainnya dalam ruang dan waktu tertentu, sehingga dalam memahami teks diperlukan transfer makna.
5.2. Gaya Komunikasi Dai 2 : Abdul Wahid Silitonga
Keberhasilan menyampaikan pesan dakwah sangat ditentukan pada bagaimana cara dai menyampaikan pesan tersebut. Cara menyampaikan pesan
ceramah ini dapat ditinjau pada bagaimana pesan ceramah disampaikan dan cara penyampaian pesan ceramah. Unsur penting dalam komunikasi adalah pesan, karena itu pesan harus disampaikan melalui media yang tepat, bahasa yang dimengerti, kata-kata sederhana dan sesuai dengan maksud serta tujuan pesan itu akan disampaikan dan mudah dicerna oleh komunikan.
Dai merupakan orang yang menyampaikan pesan dakwah. Secara khusus dai dimaksudkan kepada orang yang dengan sengaja memilih jalan untuk konsisten menyampaikan pesan dakwah. Gaya komunikasi penting untuk diperhatikan oleh dai dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Penyampaian pesan ceramah bukan saja harus baik dalam hal isi (konten) melainkan juga harus baik dalam hal cara menyampaikannya. Cara menyampaikan ini dilihat pada seluruh yang melekat pada para dai tersebut. Termasuk diantaranya bahasa, cara bicaranya, serta bahasa non verbal yang menyertainya. Cara menyampaikan pesan ini yang disebut gaya komunikasi.
Gaya ceramah ustad Abdul Wahid Silitonga ini berdasarkan temuan penelitian merupakan gaya ceramah rekreatif, dimana gaya ceramah rekreatif ini dalam menyampaikan ceramahnya menggunakan perkataan humoris dan melantunkan seni bacaan Al Quran (Noviyanto & Jaswadi, 2014:124), sebagaimana yang dilakukan Uje dalam ceramahnya. Gaya ceramah ini sesuai digunakan jika karakter pendengarnya bersifat umum. Seorang dai dengan materi yang akan dibawakannya harus mampu untuk menganalisa karakter pendengarnya sehingga bagaimana pesan dibungkus dan dengan cara penyampaian yang sesuai.
Hakikat pesan ceramah Abdul Wahid Silitonga adalah mengajak para pendengar untuk melakukan shalat dan puasa yang berkualitas dengan
nasihat-nasihat, anjuran dan didikan yang baik. Begitu pula dalam menjelaskan perkara keutamaan wanita untuk shalat dirumah. Ia lakukan dengan melakukan peragaan yang sebetulnya bisa dilakukan dengan penjabaran yang logis. Ustad Abdul Wahid Silitonga cukup aktif dalam menggunakan bahasa tubuh ini. Beliau berpindah posisi kiri, tengah dan kanan panggung cukup sering. Beliau juga aktif memperagakan gerakan-gerakan untuk mencontohkan suatu tindakan. Hal ini terlihat dalam rekaman ceramahnya pada saat memeragakan alasan seorang wanita tidak diwajibkan untuk melaksanakan salat wajib di masjid walau diujung hadist beliau katakan bahwa suami juga tidak boleh melarang wanita untuk salat ke masjid. Ustad mengambil posisi kanan panggung dikarenakan jamaah wanita berada pada sisi kanan. Hal ini memberikan penekanan lebih kepada pendengar untuk lebih mudah memahami apa yang disampaikannya. Ekspresi wajahnya bervariasi selama proses ceramah, dia seolah-olah memaikankan peran tergantung pada topik yang sedang dibahas.
Manusia sebagai mahkluk yang memiliki selera humor, tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam percakapan sehari-hari. Beberapa ustad dalam berceramah acapkali menggunakan humor dalam ceramah untuk menarik minat jamaah. Humor yang digunakan dalam ceramah tidak juga bisa sembarang humor digunakan, jangan nanti tidak ada beda dengan stand up comedy. Humor-humor yang digunakan dalam berceramah adalah humor yang bersifat edukatif dan berisi ceramah. Seorang dai yang baik menggunakan humor sebagai penyegar atau mencairkan suasana dalam majelis.
Humor menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu yang lucu atau keadaan (dalam cerita dan sebagainya) yang menggelikan hati,
kejenakaan, dan kelucuan. Humor merupakan bagian dari dakwah dai, terkadang dalam berdakwah para dai memilih dengan gaya bercanda, sehingga lebih memudahkan jamaah dalam menerima pesan yang disampaikan oleh dai, namun perlu dipahami juga bahwa humor di gunakan sebagai selingan dan hanya menyegarkan suasana jama‟ah sehingga dakwah tidak monoton dan jamaah pun tidak jenuh.
Aktivitas ceramah yang disampaikan dai dan gaya komunikasi (berbicara mengenai gaya komunikasi berarti berbicara mengenai “how” menurut Saphiere, et. al. (2005;5). Bagaimana cara seorang dai menyampaikan pesan dakwah terhadap jamaah. Sebagai seorang dai yang bertugas sebagai penyampai pesan dakwah maka wajar jika gaya komunikasi memiliki andil yang cukup berpengaruh terhadap keberhasilan suatu dakwah.
Tujuan dakwah untuk mencapai kebahagiaan dan keadaan yang lebih baik serta keselamatan didunia dan akhirat, maka diperlukan adanya sinergi dalam aktivitas ceramah sebagai bagian integral dalam dakwah. Diperlukan manajemen dan strategi dakwah yang baik dan terpadu. Manajemen dakwah menurut A. Rosyad Shaleh (Arsam, 2010:208-223) adalah proses perencanaan tugas, mengelompokan tugas, menghimpun dan menempatkan tenaga-tenaga pelaksana dalam kelompok-kelompok tugas kemudian menggerakkan kearah pencapaian tujuan dakwah.
Perkembangan teknologi dan informasi telah mengalami kemajuan yang pesat. Menuntut keahlian dai dalam menghadapi pengaruh perkembangan jaman terhadap masyarakat. Dengan aktivitas ceramah dirasa bisa menyentuh aspek masyarakat “grass root”. Seorang dai dituntut untuk mampu mengoptimalkan
pemakaian teknologi serta mampu membendung masuknya pengaruh-pengaruh yang dianggap merusak bagi masyarakat.
Dakwah Islamiyah yang dilakukan saat ini dan kedepannya dihadapkan pada tantangan yang semakin berat. Seorang dai sebagai komunikator dakwah (ceramah) juga dituntut memiliki kredibelitas dalam menyampaikan pesan dakwah. Adanya tuntutan dari jamaah untuk dapat menjaga sikap dan kewibawaan sebagai seorang penceramah. Sebagaimana kritik pendengar terhadap sosok dai Nur Maulana yang dianggap sikap yang ditampilkannya dalam ceramahnya tidak sesuai, sikap yang agak “lebay” kekanak-kanakna. Namun begitulah dai Nur Maulana apa adanya, gaya ceramahnya memang sudah demikian sejak dulu sebelum terkenal dimedia televisi tidak ada kaitannya dengan strategi dalam berceramah. Gaya ceramah yang dianggap dapat menciptakan suasa santai dan tidak monoton, dimana selama ini penceramah di Indonesia terkesan kau, monoton, dan menggurui, ustad Maulana dianggap mampu menyugguhkan sesuatu yang baru, ringa, dan segar. Ustad Zainuddin juga hadir dalam keadaan gaya dai berceramah yang terkesan serius, Zainuddin hadir dengan membawakan suasana baru pada saat itu dengan mampu membuat pendengar tertawa, serta cara berbicara yang khas, santai.
Pembukaan dalam ceramah memiliki nilai penting sebagai penilaian awal keberhasilan dari ceramah. Pembukaan menjadi sarana untuk mendapatkan perhatian dari pendengar. Begitu juga dengan ceramah oleh Abdul Wahid Silitonga, membuka ceramahnya dengan dua pantun, “terasa” agak berbeda dari kebiasaan ceramah pada umumnya, sehingga menimbulkan kesan atau mempengaruhi dalam tataran kognitif. Isi ceramah adalah bagian pokok dari
ceramah. Pada bagian ini penceramah memaparkan inti materi yang akan disampaikan sebagai informasi dalam ceramah. Para dai menyelipkan candaan atau humor ringan agar pendengar tidak jenuh.
Gaya bicara mencakup gaya irama suara, dimana gaya irama suara ini merupakan dimensi vokal ataupun non verbal ceramah yang dijadikan data dalam analisis ini. Hal ini dijabarkan sebagai empat bagian irama suaranya, yang pertama adalah tangga nada, yaitu. Kedua, adalah mutu, watak, sifat atau tabiat dari suara. Suara ini ikut menentukan enak tidaknya suara didengar oleh para mad‟u. Ketiga, adalah keras atau tidaknya suara. Gaya ini merupakan seni dalam berkomunikasi untuk memikat perhatian dapat dilakukan dengan dengan jalan berbicara dengan irama yang berubah-ubah sambil memberikan tekanan tertentu pada kata-kata yang memerlukan perhatian khusus (Noviyanto & Jaswadi, 2014:127). Hal ini dilakukan oleh ustad Abdul Wahid Silingtonga, ia menggunakan nada pada bagian tertentu, suara yang keras, dengan kecepatan bicara yang cepat dan aksen bicaranya yang kental nuansa batak. Dalam konteks ceramah bagi masyarakat umum dirasa tepat mengena dengan menggunakan bahasa lokal dan aksen lokal. Tujuannya tidak lain agar lebih dekat dan memperoleh kesamaan dalam memaknai suatu ide, gagasan atau pesan.
Kaitannya profesi dan organisasi tercantum dalam “lima pekerjaan rumah” yang disampaikan Prof. Amien Rais (Ahmad, 2011:174-175) yaitu perlu adanya pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru dakwah (dai) dengan pembagian kerja yang rapi, dimana ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan pula diperlukan berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi paling mutakhir dan setiap organisasi Islam
yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah.