3 HASIL DAN PEMBAHASAN
3.5 Gaya Pembangkit Turbulensi Vertikal
3.5.1 Lapisan Tercampur
Salah satu gaya pembangkit turbulensi vertikal adalah gradien vertikal kecepatan arus, yaitu perubahan kecepatan arus baik komponen barat-timur (u) atau utara-selatan (v) terhadap kedalaman. Nilai yang ditumpangtindihkan dengan gradien vertikal kecepatan arus pada kedalaman 10-100 m untuk transek utara-selatan (transek 1) dapat dilihat pada gambar 14. Transek 1 pada Gambar 14 (a) memiliki turbulensi vertikal pada area dimana gradien vertikal kecepatan arus memiliki nilai relatif besar yaitu pada kedalaman 20-50 m dan 80-90 m di bagian utara selat pada pintu masuk Arlindo. Sementara itu pada pintu keluar Arlindo yaitu di Kanal Labani terdapat beberapa turbulensi vertikal dimana yang terbesar terdapat pada kedalaman 90-100 m. Area ini juga merupakan area yang memiliki gradien vertikal kecepatan arus yang relatif besar.
Transek 9 adalah transek pada posisi paling barat dari Selat Makassar. Gambar 9 (b) memperlihatkan turbulensi vertikal dengan nilai yang menengah ditemukan pada kedalaman sekitar 30 m di stasiun 4 pada area dimana nilai gradien vertikal kecepatan arusnya relatif lemah. Sementara itu turbulensi vertikal dengan nilai yang relatif lebih besar ditemukan di stasiun 21 (transek 4) pada kedalaman sekitar 75 m dan stasiun 24 (transek 5) pada kedalaman sekitar 25-35 m dan 85 m.
Arus zonal dan meridional di Selat Makassar bisa dikatakan mengalir pada dua arah yang berlawanan. Mulai kedalaman 0-30 m mengalir arus dengan sebaran ke utara di sisi Barat selat, hal ini menyebabkan massa air permukaan bergerak dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan massa air pada lapisan bagian bawah (Horhoruw 2016). Kedalaman dibawah 30 m sampai sekitar 350 m pada lapisan termoklin mengalir Arlindo dengan arah dominan ke Selatan. Sementara itu pada lapisan 50-75 m di sisi tengah hingga Barat transek 3 dan 4 terjadi resirkulasi arus yang menyebabkan terjadinya eddy di wilayah tersebut (Horhoruw 2016). Perbadaan kecepatan aliran arus terhadap kedalaman ini, baik komponen zonal maupun meridional, yang dapat menghasilkan gradien vertikal kecepatan arus. Gradien vertikal kecepatan arus inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu sumber energi untuk terjadinya pengadukan vertikal di Selat Makassar.
Gambar 15 menampilkan keterkaitan antara , gradien vertikal kecepatan arus ( ) dan bouyancy frequency ( ) dengan memplotkan pada koordinat dan . Stratifikasi yang lemah [0(10-14 -10-4)s-2] dan sebaliknya, nilai yang tinggi [0(10-5 -10-3) m2s-2], memberikan dugaan kuat adanya hubungan antara dengan nilai Richardson number ( ) yang semuanya lebih kecil dari nilai kritisnya yaitu 0,25. Hal ini mengindikasikan salah satu penyebab turbulensi vertikal pada kisaran kedalaman 10-100 m adalah gradien vertikal kecepatan arus.
Kemungkinan adanya gaya lain yang menyebabkan turbulensi vertikal di lapisan tercampur dapat dilihat pada Gambar 15 (d) dan (f). Transek 4 dan 6 memiliki turbulensi vertikal yang relatif besar tetapi berada di atas garis = 0,25. Hal ini berarti pada kedua transek ini terdapat turbulensi vertikal yang bukan disebabkan oleh gradien vertikal kecepatan arus. Gaya lain yang diduga kuat menyebabkan turbulensi vertikal di transek 4 dan 6 adalah tekanan angin (windstress).
Turbulensi vertikal yang ditumpangtindihkan dengan gradien vertikal kecepatan arus untuk transek barat-timur dapat dilihat pada gambar 16. Keberadaan turbulensi vertikal yang bersesuaian dengan gradien vertikal kecepatan arus yang memiliki nilai relatif besar ditemukan di transek 2, 3, 4, 5 dan 6 masing-masing pada kedalaman 20-40 m, 30-50 m, 20-40 m, 20-30 m dan 80-90 m.
Gambar 14 Gradien vertikal kecepatan arus yang ditumpangtindihkan dengan di transek 1 (a) dan transek 9 (b). Skala di kanan adalah nilai Log10( ). Posisi transek dapat dilihat di sebelah kanan bawah Gambar
Stratifikasi yang lemah [0(10-6 - 10-4)s-2] dan nilai rata-rata gradien vertikal arus yang tinggi [0(10-5 -10-3) ms-1], memberikan dugaan kuat bahwa nilai berhubungan dengan nilai Richardson number ( ) yang semuanya lebih kecil dari nilai kritisnya yaitu 0,25. Hal ini mengindikasikan turbulensi vertikal di lapisan tercampur pada transek ini disebabkan oleh gradien vertikal kecepatan arus.
(a)
Gambar 15 Nilai pada koordinat ( , ) pada lapisan tercampur di transek 1 (a),2 (b), 3 (c), 4 (d), 5 (e) dan 6 (f) dengan skala di kanan adalah nilai dissipasi turbulen ( )
(g)
(a)
(b)
(c)
Turbulensi vertikal dengan nilai yang relatif tinggi ditemukan pada transek 4, dimana beberapa diantaranya bersesuaian dengan keberadaan gradien vertikal kecepatan arus. Turbulensi vertikal lainnya berada pada kedalaman dimana gradien vertikal kecepatan arusnya tidak terlalu besar. Gradien vertikal kecepatan arus yang paling tinggi ditemukan di sisi Barat transek 4 yaitu pada kedalaman 40-50 m di stasiun 20 - 19, dan pada area ini ditemukan turbulensi vertikal dengan nilai 10-4 m2s-1. Sementara itu turbulensi vertikal dengan nilai yang relatif paling besar ditemukan di sisi timur transek 4 pada kedalaman 25-45 m.
Hasil yang sama diperoleh Winkel et al. (2002) yang meneliti pola hubungan antara gradien vertikal kecepatan arus dan turbulensi vertikal di Selat Florida, dimana kecepatan arus di lokasi ini relatif besar. Turbulensi vertikal yang disebabkan oleh gradien vertikal kecepatan arus juga terdapat di Jones Bank, Laut Celtic pada saat kondisi surut (Palmer et al. 2013) dan di Oregon continental slope (Nash et al. 2007). Selain itu hasil yang sama juga diperoleh Cheng dan Kitade (2014) di Central Equatorial Pacific dimana turbulensi vertikal di area ini sebagian besar berhubungan dengan ketidakstabilan massa air akibat rendahnya stratifikasi dan tingginya nilai gradien vertikal kecepatan arus.
Gaya pembangkit lain yang diduga menyebabkan turbulensi vertikal pada lapisan tercampur adalah windstress. Nilai tekanan angin 10 m diatas permukaan laut dapat dilihat pada gambar 17. Gambar 17 memperlihatkan adanya kesamaan pola antara nilai maksimum di bagian Selatan Selat Makassar (stasiun 1, 2 dan 3 serta transek 2) dengan tekanan angin juga di bagian Selatan selat. Stasiun 1 sampai 2 mengalami penurunan nilai maksimum begitu juga pola tekanan anginnya. Stasiun 2 sampai 7, nilai maksimum mula-mula mengalami kenaikan lalu menurun sampai stasiun 6. Sementara itu nilai minimum mengalami penurunan dan sedikit kenaikan di ujung transek 2, sehingga bisa dikatakan sama dengan pola tekanan anginnya di bagian Selatan selat. Beberapa lokasi di bagian Selatan Selat Makassar ini memiliki pola tekanan angin yang sama dengan pola nilai maksimum dan minimumnya, sedangkan beberapa lokasi lainnya memiliki pola yang berbeda.
Transek 3 dan 4 di bagian tengah Selat Makassar (stasiun 14 sampai 19) memiliki pola maksimum dan minimum yang cenderung datar lalu meningkat pada stasiun 16 dan menurun lagi sampai stasiun 19. Sementara itu pola tekanan angin di bagian tengah Selat Makassar cederung mendatar sampai stasiun 19. Hal ini memperlihatkan adanya sedikit ketidaksamaan pola antara nilai dengan tekanan angin. Sementara itu beberapa lokasi lain di transek 3 dan 4 ini pola cenderung sama.
Gambar 16 Shear arus (ms-1) yang ditumpangtindihkan dengan di transek 2 (a), 3 (b), 4(c), 5 (d), 6(e) dan 9 (e). Posisi transek dapat dilihat di sebelah kanan bawah
Pola tekanan angin cenderung mendatar di bagian Utara Selat Makassar. Sementara itu nilai maksimum dan minimum mengalami sedikit kenaikan di stasiun 22 lalu kembali menurun sampai stasiun 29, dimana hal ini menunjukkan adanya ketidaksamaan pola antara nilai dengan tekanan angin.
Persamaan dan perbedaan pola nilai dengan tekanan angin menimbulkan dugaan kuat dimana selain gradien vertikal
(a)
(b)
(d)
(c)
kecepatan arus, tekanan angin (windstress) juga menjadi salah satu gaya pembangkit turbulensi vertikal di Selat Makassar. Pengaruh ini terbatas pada lokasi tertentu saja, dan diduga kuat pada lokasi yang memiliki kesamaan pola, seperti bagian Selatan Selat Makassar dan beberapa lokasi di transek 3 dan 4.
Vetor arah dan kecepatan angin 10 m diatas permukaan laut dapat dilihat pada Gambar 18. Gambar 18 (a), 18 (b) dan (c) serta (d) memperlihatkan kecepatan angin yang relatif tinggi masing-masing pada tanggal 7, 13 dan 15 Juni 2013. Ketiga tanggal ini bersamaan dengan waktu pengambilan data CTD berturut-turut untuk bagian Selatan, tengah dan Utara Selat Makassar. Tingginya kecepatan angin pada setiap lokasi ini sedikit banyaknya akan mempengaruhi turbulensi vertikal yang terjadi di Selat Makassar. Hal ini bisa dilihat dengan adanya beberapa kesamaan pola antara tekanan angin dan nilai
maksimum dan minimum.
Secara keseluruhan pada kurun waktu penelitian, tekanan angin tertinggi di temukan di awal bulan yaitu pada saat perekaman data CTD di bagian Selatan Selat Makassar (stasiun 1, 2 dan 3). Sementara itu nilai Log10 ( ) maksimum dan minimun secara keseluruhan pada area ini menunjukkan nilai yang relatif menengah.
Tingginya kecepatan angin di atas transek 3 dan 4 pada tanggal 13 Juni 2013, dibanding lokasi lainnya menyebabkan kedua transek ini memiliki energi yang lebih untuk terjadinya turbulensi vertikal, selain gradien vertikal kecepatan arus.
Vektor angin menunjukkan arah angin cenderung ke Timur Laut dengan kecepatan yang relatif besar di awal perekaman data CTD (Gambar 18 a). Sementara itu di pertengahan bulan Juni, kekutan angin mulai berkurang dan arahnya mulai tidak beraturan (Gambar 18 b dan c). Angin mulai berbalik arah ke Barat Daya pada akhir perekaman data CTD.
Gambar 17 Nilai maksimum dan minimum (a) serta pola tekanan angin (b) untuk tiga lokasi di Selat Makassar
(a)
Gambar 18 Stickplot arah dan kecepatan angin U10 di atas Selat Makassar pada tanggal 7 (a), 13 (b dan c) dan 15 (d) Juni 2013. Skala di kanan bawah adalah topografi dasar perairan
Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan hasil yang diperoleh dari Large-Eddy Simulation (Grant dan Belcher 2011) dimana tekanan angin sangat berpengaruh terhadap proses turbulensi. Hasil penelitian ini relatif sama dengan
yang didapat oleh D’Asaro (2001), dimana diperoleh nilai
korelasi yang rendah antara tekanan angin dengan kondisi gelombang permukaan dan energi kinetik turbulen di lepas pantai Vancouver Island. Selain gradien vertikal kecepatan arus yang secara dominan menyebabkan turbulensi vertikal di lapisan tercampur Selat Makassar, tekanan angin juga berperan sebagai gaya lain yang juga ikut mempengaruhi, walaupun terbatas hanya pada beberapa lokasi tertentu saja.
(a)
(b)
3.5.2 Lapisan Termoklin
Gambar 19 memperlihatkan kontur densitas potensial pada kolom air yang ditumpangtindihkan dengan turbulensi vertikal di lapisan termoklin serta kondisi pasang surut pada waktu yang bersesuaian. Nilai korelasi silang dihitung antara amplitudo gelombang internal ( ) dan diffusivitas vertikal ( ) untuk mendapatkan kuantitas keterkaitan antara keduanya dapat dilihat pada Gambar 20. Kontur densitas potensial pada beberapa kedalaman memiliki pola yang bisa dianggap sama dengan pola pasang surut permukaannya. Terdapat beberapa garis isopycnal (garis yang menghubungkan densitas yang sama) yang menghubungkan beberapa stasiun pada suatu transek. Garis isopycnal ini mengalami perubahan kedalaman yang relatif besar dengan membentuk pola gelombang yang periodenya sama sengan periode pasut permukaan, sehingga pola garis isopycnal ini bisa dianggap terjadi akibat adanya pasut internal.
Pola pasut permukaan di stasiun 1 sampai 3 mempunyai periode sekitar 32 jam. Sementara itu pola garis isopycnal terlihat cenderung mendatar dan sedikit membentuk lembah pada kedalaman 250-300 m. Beberapa turbulensi verikal dengan nilai log10( ) yang menengah terdapat pada garis ini. Nilai korelasi (r=0,4) relatif rendah memberikan dugaan turbulensi vertikal tidak banyak dipengaruhi oleh pasut internal.
Pola isopycnal stasiun 4 sampai 8 pada transek 2 berbeda dengan pola pasut permukaannya tetapi dengan periode yang sama yaitu ±20 jam. Garis isopycnal membentuk pola naik sedangkan pasut permukaanya membentuk pola turun. Turbulensi vertikal di transek 2 terdapat di sisi Barat maupun Timur selat. Nilai log10( ) terbesar ditemukan di sisi Timur selat pada kedalaman 320 m. Beberapa turbulensi vertikal dengan nilai Log10( ) yang relatif sedang ditemukan di bagian tengah selat dan bisa dikatakan bukan disebabkan oleh pasut internal. Hal ini dapat dilihat dari nilai korelasi (r=0,5) antara amplitido internal dan nilai log10( ) yang tidak terlalu tinggi.
Stasiun 9 sampai 13 pada transek 3 memiliki periode ±24 jam. Garis isopycnal hanya membentuk pola lembah gelombang, sementara itu pasut permukaannya membentuk pola dua bukit dan dua lembah. Tampaknya pola isopycnal pada transek 3 tidak menggambarkan pola pasut internal karena memiliki periodenya yang berbeda dengan periode pasut permukaannya. Nilai korelasi yang relatif tinggi (r=0,7) antara amplitido internal dan nilai log10( ) memberikan dugaan yang cukup kuat bahwa turbulensi vertikal di transek ini berhubungan dengan amplitido internal yang tidak berhubungan langsung dengan pasut permukaannya. Transek 3 pada lapisan termoklin memiliki beberapa turbulensi vertikal dengan nilai log10( ) mulai dari yang terendah sampai yang paling besar pada kedalaman 250 m di sisi Barat selat. Beberapa nilai log10( ) yang relatif tinggi berada pada puncak dan lembah profil vertikal isopycnalnya.
Pola gelombang pada garis isopycnal dengan periode ±12 jam terlihat menghubungkan stasiun 15, 16, 17 dan 18 pada transek 4. Pola ini bisa dikatakan sama dengan pola pasut permukaannya. Mulai stasiun 15, 16 sampai mendekati stasiun 17 membentuk pola lembah gelombang, sedangkan dari stasiun 17 dan 18 membentuk pola bukit gelombang. Sementara itu stasiun 16 dan 17 memiliki turbulansi vertikal dengan nilai yang relatif tinggi. Nilai korelasi (r=0,3) antara amplitido internal dan nilai log10( ) yang relatif rendah memberikan dugaan kuat turbulensi vertikal di transek ini tidak banyak dipengaruhi oleh pasut internal. Jumlah nilai log10( ) yang relatif tinggi lebih sedikit dibanding di transek 3, dimana tersebar di kolom air dengan pola yang berbeda dengan garis isopycnal.
Stasiun 24, 23 dan 22 pada transek 5 juga memiliki periode ±12-13 jam, tetapi garis isopycnal menunjukkan pola yang menaik dari stasiun 23 ke 24, sedangkan pasut permukaannya membentuk pola bukit gelombang. Antara stasiun 23 dan 24 tidak terdapat stasiun pengambilan data, sehingga tidak bisa diketahui secara akurat pola isopycnal sebenarnya. Sementara itu dari stasiun 22 ke 23 memiliki pola isopycnal yang sama dengan pola pasut permukaannya. Turbulensi vertikal nilai log10( ) yang relatif tinggi ditemukan pada stasiun 24 dan 23 dan membentuk pola yang bisa dikatakan sama dengan garis isopycnal yaitu cenderung menurun dari stasiun 24 ke 23. Nilai korelasi (r=0,3) relatif rendah memberikan dugaan turbulensi vertikal di transek ini tidak banyak dipengaruhi oleh pasut internal. Sebagian besar turbulensi vertikal tidak memiliki pola yang sama dengan garis isopycnal.
Pada transek 6 dengan posisi yang paling dekat dengan Samudra Pasifik, dari stasiun 25 sampai 29 memiliki periode ±24 jam. Pola isopycnal yang terbentuk hanya terlihat lembah gelombang yaitu yang menghubungkan stasiun 27 sampai 29 dan bisa dikatakan sama dengan pola pasut permukaanya yang sedang berada pada posisi surut. Sementara itu dari stasiun 27 sampai 25 garis isopycnal hanya membentuk garis lurus, sedangkan pasut permukaannya membentuk pola bukit gelombang. Terdapat beberapa turbulensi vertikal nilai log10( ) yang relatif tinggi pada kedalaman 200 m dan 210 m. Nilai korelasi (r=0,3) relatif rendah memberikan dugaan turbulensi vertikal tidak banyak dipengaruhi oleh pasut internal, dimana polanya berbeda dengan garis isopycnal.
Sebagian besar nilai korelasi tidak terlalu tinggi sehingga dapat dikatakan tidak semua turbulensi vertikal di lapisan termoklin memiliki kemungkinan besar disebabkan oleh pecahnya gelombang internal. Kemungkinan besar turbulensi vertikal di lapisan termoklin disebabkan oleh gradien vertikal kecepatan arus, mengingat adanya aliran Arlindo pada lapisan ini. Sayangnya keterbatasan data arus menyebabkan hubungan antara keduanya tidak bisa diteliti lebih lanjut.
Gambar 19 Kontur densitas potensial yang ditumpangtindihkan dengan nilai log10( ) di lapisan termoklin pada transek 1 dan 2 (a), 3 dan 4 (b) serta 5 dan 6 (c). Lokasi stasiun pasut : Donggala
(a)
(b)
Gambar 20 Korelasi linear antara log10( ) dan log10( ) di transek 1 (a), 2 (b), 3 (c), 4 (d), 5 (e) dan 6 (f)
Tipe pasut di Selat Makassar adalah campuran condong ke harian ganda atau Mixed Tide Prevailing semidiurnal (Dihidros-TNI AL 2013). Pasang surut dominan di Selat Makassar adalah tipe M2 dengan periode 12,42 jam (Hatayama 2004, Ray et al. 2005, Robertson dan Ffield 2005, Stewart 2008). Menurut Hatayama et al. (1996) gelombang pasut M2 merambat ke Utara dari bagian Selatan Selat Makassar. Menurut Robertson dan Ffield (2005) pasut M2 memasuki perairan Indonesia baik dari Samudra Pasifik maupun dari Samudra Hindia, melewati Laut Timor dan Selat Lombok lalu memasuki bagian Selatan Selat Makassar, sementara itu ada area tertentu yaitu di bagian Selatan selat dimana arah rambatan pasut M2 dari sisi Barat ke sisi Timur.
Hasil pada penelitian ini sama dengan yang diperoleh Nash et al. (2004) di lepas pantai Virginia dimana turbulensi vertikal terjadi di sepanjang area penjalaran
semidiurnal M2 internal tide yang berinteraksi dengan
kemiringan Continental Slope. Hasil penelitian Rippet et al. (2005) mendapatkan turbulensi vertikal di lapisan termoklin juga bisa disebabkan oleh ketidakstabilan gradien vertikal kecepatan arus. Penelitian yang dilakukan oleh Hall et al. (2001) mendapatkan turbulensi vertikal di Faroe-Shetland
(a)
(b)
(c)
Channel yang disebabkan oleh gelombang internal dengan periode M2 dimana nilai energi terbesarnya terdapat pada kontur utama pycnoklin. Sementara itu menurut Tian et al. (2005) pengadukan yang disebabkan oleh gelombang internal paling efektif terjadi di area midlatitude.
Hasil penelitian Horhoruw (2016) menemukan adanya resirkulasi massa air berbentuk eddy di sisi Barat selat yang teridentifikasi hingga kedalaman 350 m. Sementara itu di sisi Timur selat juga ditemukan eddy di transek 3-4 pada kedalaman 120-150 m (Horhoruw 2016). Kemungkinan besar kedua eddy ini akan ikut mempengaruhi terjadinya turbulensi vertikal selain angin dan gelombang internal. Gambar 19 (d) memperlihatkan adanya turbulensi vertikal di transek 4 pada sisi Barat (stasiun 21) dan sisi Timur (stasiun 15) Selat Makassar masing-masing pada kedalaman 350 m dan 120-150 m dengan nilai yang relatif menengah. Sementara itu turbulensi vertikal dengan nilai yang relatif besar ditemukan mulai stasiun 21 samapai 19 pada kedalaman 260-300 m. Turbulensi vertikal ini berada pada kedalaman yang sama dengan eddy di sisi Barat selat dan diduga kuat dipengaruhi oleh eddy ini.
3.5.3 Lapisan Dalam
Beberapa turbulensi vetikal di lapisan dalam dengan nilai yang relatif besar [0(10-3 - 10-1) m2s-1] terdapat di transek 3 sampai 6. Turbulensi vertikal di lapisan dalam kemungkinan besar disebabkan oleh interaksi antara pasut internal dan topografi dasar perairan. Tidak tersedianya data gelombang internal pada penelitian ini menyebabkan hubungan antara turbulensi vertikal dan gelombang internal tidak bisa diketahui secara lebih akurat. Hubungan antara keduanya hanya bisa dilihat dari nilai korelasi silang (r). Nilai r ini sebenarnya hanya menggambarkan kuantitas keterkaikan antara nilai-nilai variabelnya dan tidak bisa menerangkan faktor penyebab terjadinya turbulensi vertikal.
Sebaran spasial turbulensi vertikal untuk parameter di Selat Makassar beserta sketsa topografi dasar perairannya dapat dilihat pada gambar 21 dan 22. Topografi dasar sangat berpengaruh terhadap terjadinya turbulensi vertikal di suatu perairan. Transek 1 pada sisi Utara dan Selatan sama-sama memiliki turbulensi vertikal yang relatif besar terutama di area dekat dasar perairan. Sementara itu turbulensi vertikal di bagian Utara selat, kemungkinan besar disebabkan oleh kekasaran dasar perairan (topography roughness). Beberapa sill bisa dilihat pada Gambar 22 (e) yang terdapat di transek 6. Turbulensi vertikal di bagian Selatan kemungkinan besar disebabkan terbenturnya internal wave dengan dinding selatan Selat Makassar. Internal wave di Kanal Labani ditemukan pada kedalaman ±400-600 m (Purwandana 2013).
Transek 7 dan 8 dibuat untuk melihat pengaruh keberadaan sill dan kedalaman perairan terhadap turbulensi vertikal di dekatnya. Transek 7 dan 8 masing-masing berada
pada sisi barat dan timur Selat Makassar. Pada kedua sisi ini terdapat beberapa sill. Turbulensi vertikal di transek 7 pada sisi Utaranya kemungkinan besar disebabkan oleh sill yang terdapat pada kedalaman sekitar 800 m. Hal ini dapat terlihat dari nilai yang relatif besar disekitar sill ini.
Bagian Utara dan tengah transek 8 juga memiliki turbulensi vertikal yang relatif besar pada kedalaman sekitar 800 m yang berada di atas sill. Bagian bawah sill pada sisi Utara selat juga memiliki turbulensi vertikal yang relatif cukup besar pada kedalaman sekitar 1500 – 2000 m, Bagian Selatan transek 8 yaitu stasiun 5 dimana tidak terdapat sill pada topografinya, juga memiliki beberapa turbulensi vertikal yang relatif menengah. Turbulensi vertikal pada area ini berada di kisaran orde [0(10-5 – 10-4) m2s-1], lebih kecil dibandingkan dengan area di sekitar sill yang memiliki kisaran orde [0(10-4 – 10-2) m2s-1].
Turbulensi vertikal di sisi paling Barat Selat Makassar yaitu di transek 9 menunjukkan nilai yang relatif sama untuk bafian Utara dan Selatannya. Terlihat pada Gambar 21 (d) terdapat beberapa turbulensi vertikal dengan nilai yang relatif besar yaitu di stasiun 1, 2, 21 dan 24 masing-masing pada kedalaman 1500 m, 1200 m dan 600 m. Turbulensi vertikal di stasiun 21 dan 24 kemungkinan besar disebabkan oleh sill di dasar perairan.
Turbulensi vertikal pada transek 2 di lapisan dalam lebih intensif terjadi di sisi Barat, dimana pada area yang dekat dengan dasar perairan memiliki nilai yang relatif besar. Hampir sama dengan transek 2, transek 3 juga memiliki turbulensi vertikal yang relatif tinggi pada sisi Barat selat dan pada area dekat dasarnya. Kemiringan topografi dasar perairan khususnya sisi barat Selat Makassar, kemungkinan besar menyebabkan pecahnya gelombang internal sehingga bisa menyebabkan turbulensi vertikal pada area ini.
Beberapa turbulensi vertikal yang relatif besar ditemukan di sisi Barat dan Timur transek 4 dan 5 pada kedalaman ±500-1000 m dekat dengan dasar perairannya. Bagian tengah Selat Makassar memiliki kedalaman yang relatif lebih besar dibanding sisi Barat dan Timurnya, dimana turbulensi vertikal pada bagian tengah selat ini tidak terlalu intensif baik di lapisan tercampur, termoklin sampai lapisan dalam.
Transek 6 memiliki turbulensi vertikal yang relatif besar di sisi Barat selat pada kedalaman 350–500 m, di bagian tengah dan Timur selat masing-masing pada kedalaman ±350 m dan ±400 m. Selain itu juga terdapat turbulensi vertikal dengan nilai yang relatif besar pada kedalaman 2700-3000 m pada area dimana topografi dasarnya tidak rata dan memiliki beberapa sill. Turbulensi vertikal di area ini bisa dikatakan merupakan yang terbesar untuk keseluruhan area Selat Makassar. Hal ini bisa dilihat dari diffusivitas vertikal yang memiliki nilai 10-1 m2s-1.
Gambar 21 Sebaran spasial turbulensi vertikal untuk parameter beserta topografi dasar pada transek 1 (a), 7 (b), 8 (c) dan 9 (d)
Hasil ini sedikit lebih besar dari hasil penelitian Purwandana (2012) di Selat Alor, dimana nilai maksimum di lokasi ini adalah 10-2 m2s-1. Hasil ini sama dengan hasil yang didapat Suteja (2011) di lapisan dalam Selat Ombai dan Hatayama (2004) di dasar sill Dewakang yang mendapatkan