• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka

2.1.2 Postpartum Depression pada Primipara

2.1.2.5 Gejala Depresi Pasca Persalinan

Gangguan depresi pasca melahirkan termasuk dalam gangguan mood unipolar yang tidak ditentukan (NOS; not otherwise specified) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV). Gangguan depresi pasca melahirkan termasuk dalam gangguan mood depresi ringan, kriteria diagnostik untuk gangguan depresi ringan berlaku bagi pasien yang mempunyai gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan depresi berat dalam hal keparahan tetapi memenuhi kriteria dalam hal durasi (Kaplan & Sadock, 1997).

Kriteria diagnosis spesifik depresi pasca melahirkan tidak dimasukkan ke dalam DSM-IV karena tidak terdapat informasi yang adekuat untuk membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset episode dalam 4 minggu pasca melahirkan. Simtom yang biasanya muncul pada episode postpartum antara lain adalah perubahan suasana hati atau mood, labilitas mood, dan sikap yang berlebihan terhadap bayi.

Adapun kriteria gangguan depresi ringan menurut DSM IV adalah sebagai berikut:

a. Suatu gangguan mood yang didefinisikan sebagai berikut:

1) Setidaknya dua (tetapi kurang dari lima) gejala berikut telah ditemukan selama 2 periode minggu dan menunjukkan perubahan dari fungsi sebelumnya; setidaknya salah satu dari gejala adalah salah satu dari a) atau b):

a) Mood yang terdepresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang ditunjukkan oleh laporan subjektif (seperti merasa sedih dan kosong) atau pengamatan oleh orang lain (seperti tampak sedih).

b) Berkurangnya minat atau kesenangan secara jelas pada semua, atau hampir semua, aktivitas sepanjang hari, hampir setiap hari (seperti yang ditunjukkan oleh keterangan subjektif atau pengamatan yang dilakukan oleh orang lain).

c) Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak melakukan diet atau penambahan berat badan (seperti perubahan berat badan lebih dari 5% dalam satu bulan), atau penurunan atau penignkatan nafsu makan hampir setiap hari.

d) Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.

e) Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, tidak semata-mata perasaan subjektif adanya kegelisahan atau menjadi lamban).

f) Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari.

g) Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat (mungkin bersifat waham) hampir setiap hari (tidak semata-mata mencela diri sendiri atau menyalahkan karena sakit).

h) Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau tidak dapat mengambil keputusan, hampir setiap hari (baik secara subjektif atau melalui pengamatan orang lain).

i) Pikiran akan kematian yang berulang (bukan hanya takut akan kematian), gagasan bunuh dri yang berulang tanpa rencana spesifik, atau upaya bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.

2) Gejala menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

3) Gejala bukan karena afek fisiologis langsung dari suatu zat (seperti penyalahgunaan obat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum (seperti hipotiroidisme).

4) Gejala tidak lebih baik diterangkan oleh dukacita (seperti reaksi normal terhadap kehilangan orang yang dicintai).

b. Tidak pernah terdapat episode depresi berat, dan tidak memenuhi kriteria untuk gangguan distimik.

c. Tidak pernah terdapat episode manik, episode campuran atau episode hipomanik, dan tidak memenuhi kriteria untuk gangguan siklomatik. Catatan: pengecualian ini tidak berlaku jika semua episode mirip manik, campuran, atau hipomanik adalah diakibatkan zat atau terapi.

d. Gangguan mood tidak terjadi semata-mata selama skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan skizoaktif, gangguan delusional, atau gangguan psikotik yang tidak ditentukan.

Gejala depresi seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum, seperti: sulit tidur, merasa bersalah, kelelahan, sulit berkonsentrasi, hingga pikiran ingin

bunuh diri. Keluhan dan gejala depresi pasca melahirkan tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya. Hal yang terutama mengkhawatirkan adalah pikiran ingin bunuh diri, waham paranoid dan ancaman kekerasan terhadap anak- anaknya. Hal serupa diungkapkan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa gejala depresi pasca melahirkan yang dialami 60% wanita hampir sama dengan gejala depresi pada umumnya. Tetapi ada beberapa karakteristik spesifik yang dimiliki oleh depresi pasca melahirkan, yaitu:

a. Mengalami mimpi buruk.

b. Mengalami kesulitan tidur atau insomnia.

c. Muncul rasa takut berlebihan atau fobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh penderita, meskipun penderita tahu bahwa hal yang ditakuti itu irasional. Biasanya hal ini dialami oleh ibu yang melahirkan dengan cara bedah caesar. Wanita yang mengalami bedah caesar akan melahirkan kembali untuk kelahiran berikutnya, hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan operasi dan jarum.

d. Kecemasan. Adanya rasa tidak aman dan khawatir yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.

e. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca melahirkan meliputi penyesuaian diri dan pembiasaan diri seorang wanita. Ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, mengasuh hingga membesarkannya. Kurangnya pengalaman atau

kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau adanya tuntutan yang menekan akan meningkatkan sensitivitas ibu.

f. Perubahan mood. Depresi pasca melahirkan akan muncul dengan gejala sebagai berikut: kurang nafsu makan, perasaan sedih, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri sendiri, anhedonia, menyalahkan diri sendiri, ketidakberdayaan, tidak memiliki harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Terkadang ibu sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus-menerus .

Wanita yang mengalami depresi pasca persalinan akan sering mengalami kecemasan dan rasa panik yang cukup hebat. Secara karakteristik, penderita depresi pasca persalinan akan mengeluh kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain. Selain hal tersebut, penderita gangguan ini memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau melukai diri sendiri atau keduanya, dan hingga berujung kematian.

Dokumen terkait