• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.3.4 Gejala klinis dan diagnosis

Diagnosis rinosinusitis didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Thaler, 2001; Benninger dan Gottschall, 2006). Anamne-sis meliputi gejala, onset dan durasi gejala serta penyakit penyerta yang ber-hubungan misalnya riwayat asma, kistik fibrosis, penyakit imunodefisiensi, alergi, perokok, polip hidung, massa pada hidung, riwayat trauma maksilofasial atau infeksi gigi (Benninger dan Gottschall, 2006; Probst dkk., 2006).

Pasien dicurigai kuat menderita rinosinusitis jika memenuhi dua kriteria gejala mayor atau satu gejala mayor dan dua minor atau jika ada sekret purulen pada pemeriksaan endoskopi nasal. Pasien yang hanya memenuhi satu kriteria gejala mayor atau dua kriteria minor dicurigai menderita rinosinusitis (Levine, 2005; Benninger dan Gottschall, 2006; Busquets dan Hwang, 2006). Kriteria gejala mayor rinosinusitis meliputi nyeri/rasa tebal pada wajah, hidung tersumbat, ingus kental, post nasal drip purulen, gangguan penghidu, demam, adanya sekret purulen pada pemeriksaan endoskopi nasal. Kriteria gejala minor meliputi sakit kepala, napas berbau, batuk, nyeri telinga, rasa penuh di telinga (Busquets dan Hwang, 2006).

Pemeriksaan intranasal untuk menegakkan diagnosis rinosinusitis dilakukan dengan rinoskopi anterior menggunakan spekulum hidung atau endoskopi hidung.

Pemeriksaan dengan endoskopi terutama bermanfaat dalam mengevaluasi kompleks ostiomeatal (Probst dkk., 2006). Pada pemeriksaan intranasal didapat-kan mukosa hidung hiperemi, konka kongesti atau hipertrofi, adanya sekret hidung mukoid/purulen, dapat ditemukan polip hidung, deviasi septum, konka bulosa atau konka media paradoksal (Thaler, 2001; Benninger dan Gottschall, 2006; Fokkens dkk., 2007). Pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat abses gigi. Dasar sinus maksila berdekatan dengan akar gigi rahang atas sehingga infeksi pada gigi tersebut dapat menyebar ke sinus dan menimbulkan sinusitis. Drainase sinus berupa sekret purulen ke nasofaring dapat terlihat di posterior orofaring berupa post nasal drip (Benninger dan Gottschall, 2006).

Pemeriksaan sinus juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode palpasi. Nyeri pada rinosinusitis akut adalah khas berupa nyeri menusuk atau rasa sakit yang terlokalisir pada sinus yang terkena. Palpasi pada sinusitis maksila akan menimbulkan nyeri di infraorbital yang meluas ke gigi maksila dan kadang-kadang ke telinga. Nyeri pada sinusitis etmoid berupa nyeri di kantus medial dan dorsum hidung. Nyeri pada sinusitis frontal berupa nyeri di supraorbital yang meluas ke bitemporal atau oksipital, sedangkan nyeri pada sinusitis sfenoid terutama di verteks tulang tengkorak (Thaler, 2001; Benninger dan Gottschall, 2006).

Radiografi posisi Waters merupakan salah satu pemeriksaan diagnostik rinosinusitis. Hasil dikatakan positif jika ditemukan perselubungan, penebalan mukosa atau air fluid level di kavum sinus, namun hasil yang negatif tidak menyingkirkan kemungkinan rinosinusitis (Thaler, 2001). CT scan menjadi

penunjang diagnostik pilihan dalam menilai kemungkinan terjadinya komplikasi atau sebagai penunjang sebelum tindakan pembedahan dilakukan (Levine, 2005). Aspirasi sinus dan pemeriksaan kultur sekret sinus merupakan pemeriksaan baku emas dalam mendiagnosis rinosinusitis. Pemeriksaan ini diindikasikan pada rinosinusitis yang gagal dengan pengobatan antibiotika multipel, rinosinusitis disertai imunodefisiensi atau diabetes melitus yang tidak terkontrol (Benninger dan Gottschall, 2006).

2.3.5 Komplikasi

Komplikasi rinosinusitis akut dibagi menjadi komplikasi ekstrakranial dan intrakranial. Komplikasi ekstrakranial terutama mengenai orbita, yaitu berupa: selulitis preseptal, selulitis orbita, abses subperiosteal, abses orbita. Komplikasi intrakranial meliputi: meningitis, trombophlebitis sinus kavernosus, abses epi-dural, abses subdural dan abses otak (Thaler, 2001).

2.3.6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan rinosinusitis akut dapat berupa pemberian medikamentosa atau tindakan pembedahan. Berdasarkan pedoman terapi rinosinusitis PERHATI-KL Kelompok Studi Rinologi tahun 2007, pengobatan rinosinusitis akut adalah pemberian antibiotika lini pertama atau antibiotika lini kedua jika tidak ada perbaikan klinis dalam 2 x 24 jam (Soetjipto, 2007). Terapi tambahan dapat berupa dekongestan oral/topikal, mukolitik atau pencucian hidung dengan larutan salin isotonis (Papsin dan McTavish, 2003; Soetjipto, 2007; Yeung, 2011).

Pemakaian antibiotika untuk pengobatan rinosinusitis berdasarkan antibiotika yang telah terbukti keefektifannya atau berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas. The Bacteriology of Rhinosinusitis di Amerika Serikat seperti dikutip dari Levine (2005) menyatakan bakteri patogen terbanyak pada rinosinusitis akut adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, dan Moraxella catarrhalis. Antibiotik lini pertama yang direkomendasikan untuk pengobatan rinosinusitis akut adalah: amoxicillin, doxycicllin dan trimethoprim/ sulfamethoxazole. Namun tingginya angka resistensi menyebabkan amoxicillin tidak lagi dipilih sebagai terapi lini pertama untuk rinosinusitis akut. The Food and Drug Administration Amerika Serikat seperti dikutip dari Thaler (2001) menyatakan beberapa antibiotika berikut dapat digunakan sebagai pengobatan rinosinusitis akut yaitu: amoxycillin clavulanate, cefpodoxime, cefuroxime axetil dan untuk pasien dewasa dapat digunakan ciprofloxacin, cefditoren, levofloxacin, moxifloxacin. Jika pasien memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik β-lactam atau merupakan kontraindikasi penggunaan fluoroquinolone, maka azithromycin atau clarithromycin dapat menjadi pilihan alternatif. Pengobatan dengan antibiotika harus dilanjutkan minimal selama 10-14 hari. Pengobatan yang lebih singkat dapat menimbulkan kekambuhan infeksi dan kemungkinan terjadinya resistensi antibiotika (Thaler, 2001).

Pemberian dekongestan memberikan efek vasokonstriksi pada pembuluh darah hidung, menurunkan aliran darah dan mengurangi odema pada mukosa hidung. Dekongestan oral golongan adrenergik- agonis misalnya: phenyl-propanolamine dan pseudoephedrine. Penggunaan dekongestan topikal

(oxy-metazoline) dapat digunakan selama 3-5 hari untuk mengurangi gejala serta untuk meningkatkan kecepatan drainase sinus. Penggunaan dekongestan topikal yang lebih lama dapat menyebabkan terjadinya rinitis medikamentosa oleh karena efek rebound vasodilatation (Thaler, 2001). Pemberian mukolitik (guanifesin, ambroxol) berfungsi untuk mengencerkan sekret sehingga membantu fungsi drainase (Thaler, 2001; Levine, 2005).

Penggunaan larutan cuci hidung dengan salin terbukti aman bagi anak-anak, orang dewasa, kehamilan maupun usia lanjut (Papsin dan McTavish, 2003). Pencucian hidung dengan larutan salin isotonis dapat diberikan sebagai terapi tambahan pada rinosinusitis, rinitis alergi, infeksi saluran napas atas dan pascapembedahan sinus. Kontraindikasi penggunaan terapi ini adalah trauma wajah yang belum sembuh sempurna, gangguan neurologis dan muskuloskeletal. Tidak ada peneliti yang melaporkan adanya efek samping yang serius terhadap penggunaan larutan salin isotonis ini. Keluhan yang sering ditemui adalah rasa tidak nyaman dan cemas pada saat penggunaan awal larutan tersebut (Rabago dan Zgierska, 2009).

Pencucian hidung dilakukan dengan mengalirkan larutan salin ke dalam kavum nasi menggunakan teknik irigasi maupun semprot. Teknik irigasi dilakukan dengan memanfaatkan gaya gravitasi menggunakan tekanan tangan dengan syringe atau neti pot (Gambar 2.6), sedangkan teknik pencucian hidung dengan semprot menggunakan kemasan botol semprot yang bertekanan positif rendah (Rabago dan Zgierska, 2009).

Gambar 2.6

Pencucian hidung dengan teknik irigasi menggunakan neti pot (Rabago dkk., 2006)

Mekanisme kerja larutan salin sebagai larutan pencuci hidung belum diketahui dengan jelas, namun diperkirakan dapat memperbaiki fungsi mukosilia hidung melalui efek fisiologisnya yaitu: membersihkan mukosa hidung dari sekret atau krusta, mengurangi odema mukosa, melembabkan kavum nasi, mengurangi mediator inflamasi dan risiko perlengketan mukosa serta mempercepat penyembuhan mukosa pascapembedahan sinus (Papsin dan McTavish, 2003; Hauptman dan Ryan, 2007; Rabago dan Zgierska, 2009; Yeung, 2011). Penggunaan larutan salin sebagai pencuci hidung juga dapat mengurangi waktu penggunaan antibiotika sehingga dapat mening-katkan kepatuhan pasien dan berkurangnya biaya pengobatan (Papsin dan McTavish, 2003).

Sediaan larutan salin berupa larutan salin hipotonis (NaCl 0,45%), isotonis (NaCl 0,9%) dan hipertonis (NaCl 3%, 5%, 7%). Larutan cuci hidung salin isotonis dan hipertonis sama-sama dapat memperbaiki waktu transpor mukosilia hidung (Boek dkk., 1999; Ural dkk, 2009). Kedua larutan tersebut berbeda dalam hal kekuatan osmotik dan gradien konsentrasinya (Hauptman dan Ryan, 2007). Larutan salin isotonis adalah larutan yang tidak memiliki gradien osmotik

(Garavello dkk., 2003) dan diyakini sebagai larutan yang paling fisiologis ter-hadap morfologi seluler epitel hidung (Kim dkk., 2005), sehingga aman dan nyaman digunakan pada bayi, ibu hamil maupun usia lanjut (Healtley dkk., 2001). Pada larutan salin hipertonis, kondisi hiperosmolar di saluran pernapasan menyebabkan pelepasan kalsium dan prostaglandin E2 dari intraseluler, peningkatan availabilitas adenosine triphosphate pada aksonema silia sehingga terjadi peningkatan ciliary beat frequency (Daviskas dkk., 1996; Shoseyov dkk., 1998). Larutan salin hipertonis juga dapat menginduksi respon neural yang akan menyebabkan perubahan vaskuler pada mukosa hidung dan menimbulkan rasa tidak nyaman berupa sensasi terbakar dan iritasi pada mukosa hidung sehingga akan mempengaruhi kepatuhan pasien dalam penggunaannya (Hauptman dan Ryan, 2007).

Tindakan pembedahan diindikasikan pada rinosinusitis akut yang gagal dengan terapi konservatif dan rinosinusitis akut dengan komplikasi intrakranial atau ekstrakranial. Tindakan pembedahan dapat berupa irigasi sinus atau bedah sinus endoskopi fungsional (Busquets dan Hwang, 2006).

BAB III

Dokumen terkait