BAB V PENUTUP
Foto 13. Drama Korea Endless Love
3.1.2 Musik K-POP
Setelah melihat respon masyarakat Indonesia yang sangat baik terhadap penerimaan drama korea mulailah bermunculan serial drama lainnya hingga merambah pada industri musik seperti munculnya idol grup yang yang kehidupannya sangat dinanti-nanti oleh para fans yang ada di Indonesia. Berikut nama-nama idol grup asal Korea yang pernah datang ke Indonesia sekaligus tampil di layar kaca televisi tanah air: BTS, EXO, NCT, Black Pink, Super Junior, Girls Generation dll.19
18 Rahmi Safitri 2017 “K-drama Rating Tinggi Sepanjang Masa yang Tayang di Indonesia”diaskes pada 16 November 2020 pukul 12.30 https://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/korea/k-drama- rating-tinggi-sepanjang-masa-yang-tayang-di-indonesia.html
19 Rintan Puspita Sari "Deretan Idol Kpop yang Pernah Tampil di Layar Kaca Indonesia, Terbaru BTS" diakses pada 17 November 2020
https://www.kompas.com/hype/read/2020/07/23/080426966/deretan-idol-kpop-yang-pernah- tampil-di-layar-kaca-indonesia-terbaru-bts?page=all.
Foto 14. Boyband BTS di tengah penonton dan di atas pangggung (dok. Internet)
Para Idol K-POP merupakan bagian dari penyaluran gelombang- gelombang korea. Melalui bintang Hallyu ini penggemar secara tidak langsung mengkonsumsi tanda dan melakukan peniruan atas apa yang diterimanya melalui media. Pihak agensi idol tersebut menampilkan artisnya dengan balutan kehidupan yang sempurna. Sehingga para penggemar akan selalu merasa penasaran akan kehidupan para idol dibalik layar, panggung megah tempat mereka menampilkan tarian dan nyanyian. Para Idol K-POP khususnya pada Grup Idol laki-laki atau yang biasanya disebut dengan “Boyband” ditampilkan dengan citra yang maskulin dengan balutan feminisme, inilah salah satu contoh Hibridasi Maskulinitas yang dilakukan korea. Mereka merupakan laki-laki yang ditampilkan dengan rambut tertata dan makeup baik di mata, bibir, dan wajah yang diberi perawatan. Menurut laporan VOA Fenomena K-pop memang mampu mendongkrak penjualan kosmetik laki-laki. Penjualan produk perawatan kulit hingga kosmetik bagi konsumen laki-laki terus meningkat, terutama di Asia.
Penyebabnya antara lain fenomena music K-pop dan pengaruh “generasi sadar selfie” yang meningkatkan tuntutan akan penampilan serba sempurna, termasuk bagi kaum pria.20
20 Nova Poerwadi 2019 https://www.voaindonesia.com/a/fenomena-k-pop-mendongkrak- penjualan-kosmetik-laki-laki/4726309.html diakses pada 18 November 2020 pukul 10:31
Foto 15. Makeup cowok idola Korea (dok. Internet https://spinditty.com)
Gambar di atas merupakan citra yang ditampilkan dalam mengkonstruksi hybrid masculinity yakni menggabungkan citra laki-laki korea yang umum dengan sentuhan feminin melalui makeup di wajah dan tatanan rambut. Menurut (Jung, 2011:5) hybrid masculinity di sini berhubungan dengan budaya, dimana maskulinitas Korea tradisional bercampur dengan maskulinitas yang sengaja diproduksi. Di Korea sendiri sudah secara terang-terangan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan unsur feminin seperti melakukan perawatan wajah dan tubuh, menggunakan bb cream atau foundation, serta menggunakan lip balm atau lip gloss dan yang paling unik adalah melakukan aegyo. Aegyo (애교) yang artinya adalah gestur imut, membuat ekspresi wajah dan suara yang girly dan manis (Jung, 2011:226). Hal ini sering kali ditemukan pada penampilan boyband di atas panggung untuk menarik perhatian para penggemar, mereka memproduksi beberapa perilaku yang akhirnya banyak ditiru oleh para penggemar.
Foto 16. member BTS yang melakukan aegyo di atas panggung (dok. Internet)
Di Indonesia sendiri persepsi maskulinitas masih belum memasuki tahap seperti di Korea. Jika di Korea, konsep maskulinitas mulai dipadukan dengan unsur-unsur feminin, maka Indonesia sendiri nampaknya belum menunjukkan respon positif. Dalam jurnal Muhadjirin Darwin (1999) yang berjudul Maskulinitas: Posisi Laki-Laki dalam Masyarakat Patriarki menyebutkan bahwa maskulinitas menggambarkan derajat kelaki-lakian, di mana seorang laki-laki yang memiliki karakter stereotype maskulin, maka ia akan disebut sebagai lelaki maskulin.21
3.1.3 Perawatan Tubuh dan Wajah (Skin Care)
Dari perkembangan budaya dan Korean wave yang disebarkan melalui media, Indonesia yang masih sangat melekat pada maskulinitas tradisional, hanya mengadopsi beberapa komponen dari tampilan maskulin yang tersebar melalui media. Sehingga kriteria maskulinitas pria Indonesia bergeser pada “Grooming”.
Istilah grooming diartikan sebagai tindakan yang mengarah pada kepedulian terhadap penampilan dan perawatan. Di Indonesia hal ini dibuktikan dengan meningkatnya penjualan di bidang kosmetik dan perawatan pria. Industri kecantikan kini tak hanya didominasi oleh kaum wanita. Semakin banyak pria yang menunjukkan minat terhadap produk pearawatan kulit dan kecantikan.
Menurut Alied Market Research yang dilansir dari situs Beritagar.id, bahwa industri perawatan laki-laki nilainya diprediksi mencapai $166 miliar (sekitar Rp.
2,4 triliun pada 2020). Pergeseran defenisi maskulinitas juga dipercepat melalui kemajuan tekhnologi. Media sosial membuat paparan informasi seputar perawatan laki-laki semakin luas.22
Dilansir oleh Euromonitor Internasional dengan laporan bertajuk “The Future of Skincare” Indonesia merupakan penyumbang terbesar kedua dari nilai pasar global untuk pertumbuhan produk perawatan kulit sebesar U$$ 2 miliar pada 2019 atau 33% dari total nilai pasar kecantikan dunia. Menurut beberapa
21 Citra safira, Op.cit. hlm 8
22 Anindhita Maharani 2019 https://beritagar.id/artikel/berita/peluang-miliaran-dolar-industri- kecantikan-bidik-laki-laki diakses pada 18 November 2020 pukul 10:11
kajian, peningkatan pasar ini salah satu faktornya adalah meningkatnya jumlah pria khususnya di wilayah urban atau perkotaan yang membeli dan menggunakan produk kosmetik dan perawatan tubuh.23
Pemasaran produk perawatan bagi pria banyak ditemukan dalam beberapa iklan yang ditayangkan di televisi. Namun lagi-lagi maskulinitas tradisional yang mendominasi dan bercampur dengan defenisi maskulinitas dari negara lain seperti korea selatan, menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Jika korea selatan tanpa ragu menciptakan diri laki-laki dalam iklan perawatan wajah, dengan mendaulat boyband sebagai model dan melakukan beberapa aegyo (perilaku manis dan imut) untuk menarik konsumen, maka di Indonesia iklan perawatan wajah yang ditampilkan tetap dengan menegaskan laki-laki yang macho, dengan tampilan dandy yaitu sosok laki-laki yang memperhatikan penampilan namun tetap menunjukan sisi cool dan maskulin tanpa diikuti dengan aegyo. Karena Indonesia memiliki warisan kultural dan nilai-nilai tradisional yang masih sangat melekat mengenai persepsi seorang laki-laki. Baik secara sosial maupun agama mengatur bagaimana perilaku seorang laki-laki. Misalnya pada agama Islam diatur bahwasanya laki-laki tidak boleh menyerupai perempuan begitupun sebaliknya, Jika hal ini terjadi maka bukan hanya akan memperoleh dosa secara hukum yang diatur dalam agama Islam, namun dalam kehidupan sosial akan mendapat kritik atas ketidaksesuaian tersebut. inilah mengapa dalam memproduksi iklan tersebut pihak produser dengan tegas dalam hal pengkonstruksian citra maskulin lelaki dalam iklan tersebut. Karena hal tersebut sudah diatur dalam standar program siaran komisi penyiaran Indonesia tahun 2019 pada pasal 9, pasal 15 ayat 1, pasal 37 ayat 4 huruf a dan pedoman perilaku penyiaran komisi penyiaran Indonesia tahun 2012 pasal 4 dimana lembaga
23 Nursalam AR. kompasiana Feb. 2020https://www.kompasiana.com/nursalam ar/5e47ef2e097f36181e1518c2/pria-dan-skincare-seteru-atau-sekutu?page=all diakses pada 18 November 2020 pukul 11:0
penyiaran diarahkan untuk menjunjung tinggi nilai agama dan budaya bangsa yang multikultural.24
Surat edaran tersebut dibuat berdasarkan aduan dan keluhan masyarakat khususnya orangtua yang merasa khawatir terhadap konten-konten demikian yang dapat mempengaruhi anak-anak mereka. Sehingga laki-laki yang menunjukkan sisi kewanitaan dianggap tidak normal dan merupakan perilaku menyimpang.
Berikut gambar perbedaan signifikan bagaimana produksi iklan Korea dan Indonesia menampilan citra maskulin.
Foto 17. Boyband asal Korea yang menjadi bintang iklan produk Innisfree (dok. Internet)
Foto 18. Aktor asal Indonesia dalam iklan produk Garnier Men (dok. Internet)
Dalam Sebuah situs Male Indonesia disebutkan bahwa grooming yang berlebihan akan melumpuhkan maskulinitas seorang laki-laki. Meski penting dalam menunjang penampilan, tetapi sebagai pria harus tetap pada porsi yang secukupnya. Yang terpenting bisa mengatur kerapihan rambut, parfum, hingga perawatan lain yang memang lebih penting bagi pria. Pria yang mencoba merawat
24 KPI, 2016 http://www.kpi.go.id/index.php/id/lihat-sanksi/33267-edaran-kepada-seluruh- lembaga-penyiaran-mengenai-pria-yang-kewanitaan diakses pada 18 November 2020 pukul 11:40
kulitnya dari minyak, pori-pori, hal itu masih bisa dikatakan wajar, justru merupakan sebuah kemajuan. Tetapi jika efeknya lebih terlihat feminin, itu adalah bencana bagi diri mereka sendiri.
Grooming yang dikatakan berlebihan adalah Ketika seseorang laki-laki sibuk menghabiskan waktu untuk melakukan tahapan perawatan kulit. Seperti pembersih harian, toner, pelembab, dan pengelupas kulit untuk seminggu atau dua minggu sekali. Atau menghabiskan uang untuk peralatan-peralatan dandan seperti masker, krim, dan lulur, yang membuat seorang pria tersesat pada jurang grooming yang berlebihan. Memperhatikan jerawat yang muncul di wajah termasuk wajar namun apabila menghabiskan waktu dan uang untuk hal sederhana seperti itu maka hal ini sudah dikatakan mengarah kepada feminin.
Selain itu hal paling ekstrim dari grooming adalah tindakan operasi atau perawatan ke dokter kecantikan kulit untuk merawat diri atau bahkan mengubah sesuatu dari dalam dirinya agar sesuai dengan standart maskulinitas yang tercipta oleh pengaruh media. Hal ini justru dapat melumpuhkan maskulinitas dari seorang pria.25
Termasuk di Indonesia tindakan grooming ekstrim hanya akan dipandang sebelah mata. Mengingat stereotipe maskulinitas dalam kultur Indonesia masih didominasi oleh maskulinitas tradisional, artinya laki-laki harus memperlihatkan sisi yang kuat, mandiri dll. Sedangkan melakukan grooming berlebih akan dinilai sama dengan perempuan dan hal tersebut masih diangggap tabu. Sehingga masyarakat Indonesia khususnya pria di Kota Medan membatasi diri terhadap grooming dengan hanya memperhatikan kerapihan rambut, pakaian rapih dan sesekali mencuci wajah, hal ini menjadi temuan penelitian yang ada di JK Barbershop bahwa pelanggan rata-rata hanya melakukan penataan rambut agar terlihat lebih rapi dan menarik, sedangkan facial wajah termasuk jarang dilakukan.
Dari Pilihan pelayan dan perawatan yang ditawarkan oleh JK Barber Shop juga dapat dilihat bahwa JK Barber Shop membatasi grooming melalui pilihan
25 https://male.co.id/detail/2653/grooming-berlebih-perlahan-lumpuhkan-maskulinitas-men-scope-
perawatan yang lebih sedikit tidak sampai mengarah pada aspek feminin seperti perawatan kulit ekstrim, manicure pedicure kuku dll.
3.2 Barber Shop Sebagai Sarana Perwujudan dan Konstruksi Maskulinitas Pengaruh sosial dan budaya mempengaruhi penampilan maskulinitas seseorang. Oleh karena itu, pria dapat menunjukkan sifat maskulinitas yang berbeda berdasarkan kondisi sosial mereka. Ada banyak pengaruh yang masuk dalam mempengaruhi citra maskulinitas serta persepsi orang tentang maskulinitas.
Menjamurnya media dan kemajuan tekhnologi yang begitu cepat menyajikan informasi tersebut, membuat trend yang ada begitu mudah untuk diikuti.
Banyak sarana yang dapat mewujudkan citra maskulin. Di Indonesia yang khas dengan hegemoni maskulinitas patriarki, barber shop menjadi pilihan paling aman bagi lelaki yang ingin melakukan perawatan dan memperbaiki penampilan tanpa takut terlihat layaknya perempuan yang pada umumnya lebih sering memperhatikan penampilan dan perawatan. Inilah mengapa salon berbeda dengan barber shop. Sebelum berkembangnya usaha barber shop, para lelaki umumnya hanya dapat memperbaiki penampilan melalui potongan rambut dengan pergi ke tukang pangkas, namun perawatan rambut serta hal lain yang dapat menunjang penampilan lelaki sangat minim, sehingga bagi mereka yang ingin melakukan perawatan lebih, akan pergi ke salon yang melayani perempuan dan laki-laki.
Namun sudah dapat dipastikan bahwa di salon perempuan akan lebih mendominasi dibanding laki-laki. Melihat semakin meningkatnya kepedulian terhadap penampilan, maka mulailah bermunculan bisnis barber shop. Di Kota Medan sendiri ada sekitar 233 tempat pangkas dan barber Shop yang tersebar di beberapa daerah. Dalam pembahasan ini peneliti akan mencoba menampilkan perbandingan maskulinitas modern yang dikonstruksi oleh salah satu salon khusus pria di Jepang yang ditampilkan dalam hasil penelitian Humairah 2019 dengan pengkontsruksian maskulinitas modern yang dilakukan oleh salah satu barber shop di Kota Medan yaitu JK Barber Shop.
3.2.1 Salon Esute Pria di Jepang
Di Jepang sendiri, istilah maskulinitas dikenal dengan kata 男らしさ (otokorashisa) atau 男 性 性 (danseisei). Istilah ini merujuk pada istilah maskulin yang bersifat (sangat) kelaki-lakian atau sifat kelaki-lakian dan sedikit merujuk ke arah takumashī(逞しい)atau macho ( Inoue 2017). Gagasan maskulinitas biasanya terkait dengan stereotip tradisional yang divisualisasikan sebagai kuat, agresif, dan dominan. Gambaran yang dianggap sesuai dengan maskulinitas tradisional Jepang adalah samurai ( 侍 ) dan sararīman (salaryman) yang ada pada 1960 - 1980 atau oyaji (親父). Dilihat dari penampilannya, baik samurai maupun sararīman terkesan tidak peduli terhadap penampilan fisiknya. Meskipun pada masanya, samurai sangat mempengaruhi penampilan pria. Penampilan paling khas dari samurai ialah gaya rambut kuncirnya. Gaya dan model rambut inilah yang sangat mempengaruhi para pria di masa itu. Style ini sebenarnya berkembang karena kebutuhan, tujuannya adalah agar para samurai lebih nyaman saat memakai helm (Poisuo 2013). Sararīman tidak jauh beda dengan samurai, mereka tidak menaruh perhatian lebih terhadap penampilannya, melainkan tampil dengan jas dan tas yang berwarna gelap, senada, dan tidak menarik, tidak merawat wajah.
Miller (2002) menjelaskan bahwa di awal tahun 1980-an, para pemuda di Jepang semakin sadar terhadap penilaian yang ditunjukkan kepada mereka. Penilaian yang dimaksud adalah penilaian yang berkaitan dengan keindahan fisik dan daya tarik seksual. Kesadaran para pria terhadap penilaian yang ditujukan kepada mereka akan keindahan dan daya tarik seksual ini tidak lepas dari apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai "krisis maskulinitas". Krisis ini menggambarkan melemahnya posisi samurai dan sararīman sebagai perwujudan maskulinitas ideal.
Citra mereka perlahan-lahan tergeser dari posisi ideal maskulinitas ke posisi yang ditolak dan bahkan diejek oleh generasi yang lebih muda. Batas -batas apa yang dianggap sebagai maskulin pun mulai mengalami pergeseran.
Salon esute (エステ) berasal dari Bahasa Inggris yaitu aesthetic (estetika).
Bisnis salon esute berkembang sangat luas di Jepang dan diperkirakan penghasilan dari bisnis ini adalah sekitar US$ 4 miliar per-tahun dengan perkiraan 173.412 perusahaan nasional pada tahun 2003 (Miller 2006). Awalnya, bisnis ini menargetkan wanita sebagai konsumennya. Namun seiring berkembangnya zaman, beberapa salon esute juga hadir untuk pria. Miller (2002) menjelaskan bahwa salon esute pria pertama muncul di tahun 1980- an, yang ditandai dengan munculnya salon esute Men’s Joli Canaille. Namun dalam (Humairah, 2019) salon esute pertama yang muncul sebenarnya adalah salon esute Tokyo Beauty Center yang berdiri di tahun 1976. Kemudian di tahun 1983, muncul salon esute Ci:z Labo, lalu salon esute Dandy House di tahun 1984.
Sementara salon esute Elleseine, salon esute Men’s Victor, salon esute Release, salon esute de Mori, dan salon esute CREW, semuanya muncul di tahun 2000 ke atas.26 Dari kesembilan salon Esute yang ada di Jepang dilakukan penelitian oleh (Humairah, 2019) mengenai perawatan apa saja yang ditawarkan oleh Salon Esute tersebut sebagai bentuk pengkonstruksian maskulinitas modern di Jepang. Sehingga dapatlah temuan sebagai Berikut:
Wajah Tanpa Hige (ひげ) atau Bulu Wajah
Konstruksi pertama yang didapatkan dari pengamatan dan hasil analisis jasa-jasa perawatan salon esute adalah wajah tanpa Hige (ひげ) atau bulu wajah.
Hal ini dilihat dari adanya jasa perawatan epilasi wajah 顔脱毛 atau kaodatsumō.
Perawatan epilasi wajah ini merupakan perawatan yang ditawarkan di hampir seluruh salon esute pria, kecuali salon esute Ci:z Labo. Bisa dibilang perawatan ini adalah salah satu perawatan yang paling populer di kalangan pria kontemporer Jepang. Memiliki hige atau bulu wajah pada pria bukanlah pemandangan yang biasa di Jepang. Banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya hal ini, pertama karena memiliki hige memang biasanya dilarang di tempat kerja karena membuat pria terlihat tidak bersih dan tidak sesuai dengan penampilan sararīman
26 Humairah, Konstruksi Maskulinitas Pria Jepang Kontemporer: Salon Esute Dan Tubuh Ideal.
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya. Vol. 14 No. 1, 2019. Hlm 52-53.
kontemporer yang harus bersih dan rapi. Selain itu, hige dipandang sebagai representasi dari kekerasan atau bahkan sebagai pemberontakan, dan juga membuat pria terlihat jauh lebih tua dibanding usia aslinya.
Foto 19. Pria jepang yang memiliki wajah bersih tanpa bulu (dok. Internet)
Gambar di atas menunjukkan wajah pria Jepang yang bersih tanpa adanya sehelai hige. Wajah pria ini yang terlihat bersih, muda, dan segar tersebut membuat kesan bahwa mereka adalah orang yang pembersih, rapi, ramah dan tidak menyeramkan.
Kebanyakan pria masa kini di Jepang mencukur habis hige mereka secara permanen di salon esute agar tidak perlu repot-repot lagi mencukurnya tiap minggu. Walaupun biaya yang dikeluarkan untuk mencukur secara permanen tidak sedikit.
Wajah yang Mulus dan Bersih
Foto 20. Pria jepang yang memiliki wajah mulus dan bersih (dok. Internet)
Konstruksi kedua yang didapat dari pengamatan dan hasil analisis jasa- jasa perawatan salon esute adalah wajah yang mulus dan bersih. Hal ini dilihat dari adanya jasa perawatan facial yang beragam di salon esute pria. Perawatan facial merupakan perawatan yang paling umum atau paling populer ditawarkan oleh salon esute pria. Dari sembilan salon esute yang diamati oleh Humairah, seluruhnya menawarkan jasa perawatan facial dengan tujuan yang beragam mulai dari perawatan facial untuk wajah berjerawat, facial untuk melembabkan kulit, mengecilkan pori-pori, hingga mengencangkan wajah. Alat-alat dan metode yang digunakan di masing-masing salon esute untuk jasa perawatan facial pun berbeda- beda. Kepercayaan bahwa kulit mulus dan bersih dapat membuat seseorang menjalani kehidupan yang lebih baik tidak lagi berlaku untuk wanita saja. Pria Jepang sekarang nampaknya merasa perlu untuk tampil dengan kulit wajah yang mulus dan bersih, itulah yang menyebabkan berbagai perawatan facial yang ditawarkan di salon esute pria menjadi jasa yang paling populer di kalangan pria Jepang. Perawatan ini bertujuan untuk membuat pria terlihat “stand out” di kantor, dipuja oleh para wanita, dan dinilai menarik di masyarakat dengan memiliki kulit yang mulus dan bersih. Gambar di atas menunjukkan wajah pria Jepang yang mulus dengan pori-pori rapat tak nampak. Wajah seperti inilah wajah yang dianggap ideal karena bebas dari jerawat serta terlihat mulus dan bersih.
Wajah yang Tirus
Foto 21. Pria jepang yang memiliki wajah tirus (dok. Internet)
Konstruksi ketiga yang didapat dari pengamatan dan hasil analisis jasa- jasa perawatan salon esute adalah wajah tirus. Hal ini dilihat dari adanya jasa perawatan facial penirusan wajah di beberapa salon esute pria seperti Elleseine, Release, dan salon esute ternama seperti Dandy House dan Ci:z Labo. Bentuk wajah yang tirus kini menjadi dambaan para pria Jepang dewasa ini, sehingga wajah tirus ini menjadi perwujudan maskulinitas. Dapat dilihat dari aktor-aktor Jepang masa kini yang kebanyakan memiliki wajah tirus seperti gambar di atas.
Bentuk wajah tirus dianggap dapat membuat keseluruhan tampilan tubuh dan ketampanan wajah para pria ini terlihat lebih maksimal. Untuk mendapatkan wajah yang tirus dengan perawatan di salon esute pria ini harus mengeluarkan biaya yang tidaklah sedikit.
Alis yang Rapi
Foto 22. Pria jepang yang memiliki alis rapi dicukur (dok. Internet)
Alis yang rapi juga merupakan konstruksi maskulinitas kontemporer yang didapat dari pengamatan dan hasil analisis jasa-jasa perawatan salon esute. Hal ini dilihat dari adanya jasa perawatan bercukur alis atau 眉毛カット (Mayuge katto) di salon esute Salon de Mori. Para pria merapikan rambut-rambut alis yang tumbuh berantakan di alis mereka agar terlihat lebih rapi dan simetris. Rambut alis yang lebih panjang atau keluar dari garis alis natural mereka akan dicukur untuk dirapikan. Alis yang rapi ini tidak hanya membuat mereka terlihat bersih dan rapi, namun juga membuat mata mereka lebih berkarakter dan terlihat tidak menyeramkan, karena memiliki alis yang tebal dan tidak beraturan dapat membuat penampilan seseorang terlihat agak garang.
Alis yang terbentuk rapi ini juga merupakan bagian yang dianggap penting untuk menunjang penampilan seorang pria agar mereka terlihat lebih baik dan ramah. Meski mengadopsi kebudayaan masa lampau di mana pria dari kelas bangsawan mencukur alisnya kemudian menggambarnya di bagian atas dahi untuk mencegah lawan politik membaca perasaan mereka (Hsu 2017), namun perawatan alis masa kini dimaksudkan untuk memperoleh penampilan semata tanpa ada maksud manipulasi ekspresi seperti di masa lalu.
Rambut yang Lebat
Foto 23. Pria jepang yang memiliki rambut lebat (dok. Internet)
Selanjutnya adalah pria dengan rambut yang lebat, yang dikonstruksikan oleh jasa perawatan rambut pria yang ada di salon esute pria Ci:z Labo, Release, dan CREW. Pria Jepang juga sepertinya merasa perlu untuk tampil dengan rambut yang lebat. Namun, terkadang karena faktor usia dan stres emosional ataupun fisik, rambut pun akhirnya menjadi rontok. Dengan rambut yang lebat dan
Selanjutnya adalah pria dengan rambut yang lebat, yang dikonstruksikan oleh jasa perawatan rambut pria yang ada di salon esute pria Ci:z Labo, Release, dan CREW. Pria Jepang juga sepertinya merasa perlu untuk tampil dengan rambut yang lebat. Namun, terkadang karena faktor usia dan stres emosional ataupun fisik, rambut pun akhirnya menjadi rontok. Dengan rambut yang lebat dan