HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian 40 Genotipe di Rumah Kaca
Penilaian gejala gangguan salinitas terhadap tanaman padi dilakukan 8 minggu setelah tanam (MST). Berdasarkan pengelompokkan tingkat toleransi pada pengujian di rumah kaca terdapat tujuh genotipe toleran, 19 genotipe agak toleran, 14 genotipe agak peka, dan empat genotipe peka yang ditunjukkan pada Tabel 5. Varietas Lalan termasuk ke dalam kelompok toleran dengan persentase daun mati (PDM) sebesar 30.03 %, varietas Pokali termasuk ke dalam kelompok agak toleran dengan PDM sebesar 68.14 %, sedangkan varietas Ciherang dan IR 64 termasuk kedalam kelompok agak peka. dengan PDM sebesar 80.32 % dan 87.60 %. Tiga genotipe yang memiliki nilai toleransi yang paling tinggi adalah genotipe B11844-MR-23-4-6, B13133-9-MR-3-KY-2 dan B13136-3-MR-1-KY-5 dengan nilai PDM masing-masing sebesar 34.10 %, 35.03 % dan 38.30 %. Hasil klasifikasi tingkat toleransi 40 genotipe padi dapat dilihat pada lampiran 1. Genotipe yang memiliki nilai toleransi yang paling rendah (peka) adalah genotipe IPB106-F-85-DJ-2 PDM sebesar 98%.
Tabel 5. Rata-Rata dan Kisaran Nilai Bibit Padi pada Berbagai Peubah di Rumah Kaca Berdasarkan Tingkat Toleransi Persentase Daun Mati
Tingkat Jumlah Rata-rata
Toleransi Genotipe PDM (%) PT (cm) BKT (g) JD Toleran 7 39.38 91.44 3.17 18.4 (30.03 - 49.08) (83.52-103.02) (2.39-4.38) (16.2-21.3) Agak toleran 19 59.32 81.31 2.11 13.9 (50.25-69.96) (68.03-98.18) (0.96-3.69) (9.8-18.2) Agak peka 14 80.83 55.01 1.01 9.4 (70.10-89.68) (40.83-71.27) (0.40-1.95) (7.7-14.2) Peka 4 94.60 41.03 0.34 7.7 (91.55-98.15) (36.52-46.17) (0.17-0.45) (6.5-8.7) Keterangan : PDM = persentase daun mati, PT = Panjang Total Tanaman, BKB = Bobot kering
tanaman, JD = jumlah daun
Tanaman dengan tingkat toleransi rendah (peka) tidak mampu mengatasi kondisi lingkungan salin. Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 5 dapat
dilihat bahwa semakin kecil tingkat toleransi tanaman maka nilai untuk parameter pertumbuhan (panjang tanaman, berat kering tanaman, dan jumlah daun) semakin menurun. Hasil penelitian Suwarno (1985) menyatakan bahwa perlakuan NaCl dapat menurunkan jumlah anakan, panjang akar, tinggi tanaman, bobot kering tajuk, akar, dan total tanaman.
Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan. Gejala pertumbuhan tanaman pada tanah dengan tingkat salinitas yang cukup tinggi adalah pertumbuhan yang tidak normal seperti daun mengering di bagian ujung dan gejala klorosis. Gejala ini timbul karena tingginya konsentrasi garam terlarut yang menyebabkan menurunnya potensial larutan tanah sehingga tanaman kekurangan air.
Gambar 1 menunjukkan terjadinya gejala kerusakan tanaman padi akibat salinitas. Kerusakan akibat salinitas sangat terlihat pada bagian daun tanaman padi. Menurut Levitt (1980) rusaknya daun diakibatkan oleh keracunan Na yang ditandai dengan mengeringnya bagian tepi ujung daun, demikian juga keracunan Cl. Gejala tersebut sangat sulit dibedakan dengan gejala kekeringan.
(1) (2)
Keterangan : 1) kondisi tanaman di rumah kaca, 2) Gejala kerusakan daun
Gambar 1. Kondisi Tanaman di Rumah Kaca
Menurut Bernstein dalam Suwarno (1985) tanaman padi yang mendapat perlakuan NaCl akan mengakumulasi prolin, suatu asam amino yang dapat larut. Akumulasi prolin tersebut merupakan usaha tanaman untuk menyesuaikan tekanan osmotik. Penyesuaian tekanan osmotik ini membutuhkan energi sehingga akan mengurangi pertumbuhan tanaman. Yuniati (2004) menambahkan bahwa
19
berkurangnya laju dan kualitas pertumbuhan tanaman pada kondisi salin dapat disebabkan karena menurunnya potensial air dari substrat tempat tumbuh, meningkatnya penyerapan Na dan Cl, atau keduanya.
Menurut Gomez dan Gomez (1995), korelasi dapat memperlihatkan hubungan antar peubah. Analisis korelasi dilakukan antara peubah PDM dengan peubah lainnya yang diamati di rumah kaca. Peubah yang berkorelasi erat dengan PDM berarti dapat menggambarkan keadaan PDM. Berdasarkan analisis korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan dan berkorelasi negatif (Tabel 6).
Tabel 6. Korelasi Peubah PDM dengan Peubah Lain yang diamati di Rumah Kaca
Korelasi Koefisien korelasi
PDM vs JD -0.916** PDM vs BKT -0.796** PDM vs BKA -0.766** PDM vs BT -0.785** PDM vs PA -0.918** PDM vs TT -0.872** PDM vs PT -0.902**
Keterangan : PDM = persentase daun mati, JD = jumlah daun, PA = panjang akar, TT = tinggi tajuk, PT = panjang total tanaman, BKT = berat kering tanaman, BKA = bobot kering akar, BT = bobot kering tajuk, tn = tidak nyata, ** = nyata pada taraf 1%.
Tabel 6 menunjukkan korelasi antara peubah PDM dengan panjang akar (PA) memiliki nilai yang nyata dan menghasilkan nilai koefisien korelasi paling tinggi sebesar -0.918. Nilai koefisien korelasi yang negatif menunjukkan bahwa semakin besar PDM maka panjang akar semakin kecil. Yahya dan Adib (1992) menyatakan bahwa pada tanaman kakao, peningkatan taraf salinitas pada media tanaman di pembibitan secara nyata menekan pertumbuhan vegetatif tanaman salah satunya jumlah akar primer.
Menurut Cheeseman (1988) konsentrasi NaCl yang tinggi mengurangi pertumbuhan tanaman, baik tunas maupun akar. Meskipun keracunan NaCl lebih terlihat pada pucuk, tetapi juga terjadi pengurangan panjang akar akibat perlakuan NaCl. Hal tersebut disebabkan karena sel-sel meristem akar sensitif terhadap garam sementara aktivitas mitosis sel-sel tersebut sangat tinggi untuk pertumbuhan akar. Menurut Katsuhara (1996) ada dua alasan yang mungkin mendasari terjadinya pengurangan pertumbuhan akar dalam kondisi cekaman
garam, yaitu kematian sel dan hilangnya tekanan turgor untuk pertumbuhan sel karena potensial osmotik media tumbuh lebih rendah dibanding potensial osmotik di dalam sel.
Laboratorium
Uji Pendahuluan untuk Mendapatkan Beberapa Metode yang Berpotensial dalam Pengujian Toleransi Genotipe terhadap Salinitas
a. Media Padat
Uji pendahuluan untuk mendapatkan metode yang berpotensi dalam pengujian toleransi salinitas pada padi dilakukan menggunakan 54 macam kombinasi media tanam (Lampiran 3) untuk mendapatkan metode yang dapat membedakan antara padi toleran dengan peka terhadap salinitas. Dari 54 metode tersebut terdapat empat metode dengan nilai selisih tertinggi antara padi toleran dengan peka terhadap salinitas untuk peubah panjang tajuk (Tabel 7 ).
Tabel 7. Nilai Selisih Tertinggi antara Padi Toleran dengan Peka terhadap Salinitas pada Peubah Panjang Tajuk
NaCl Media Rataan Varietas Toleran Rataan Varietas Peka Selisih Hasil (ppm) T-P Uji t 6000 TK 11.98 8.55 3.43 tn 8000 TK 12.37 10.13 2.24 tn 3000 PK 10.27 8.72 1.56 tn 5000 PK 8.82 7.17 1.64 tn
Keterangan: TK = tanah kompos, PK = pasir kompos, T= varietas toleran, P= varietas peka, tn= tidak nyata
Berdasarkan pengamatan pada peubah tinggi tajuk terdapat empat metode dengan selisih tertinggi panjang tajuk antara varietas peka dan toleran. Dari keempat media tersebut nilai selisih terbesar untuk peubah panjang tajuk antara varietas peka dan toleran adalah pada media tanah + kompos dengan konsentrasi NaCl 6 000 ppm. Hasil analisis uji t pada keempat metode tersebut tidak nyata, maka dari seluruh percobaan pada media padat tersebut tidak digunakan pada penelitian selanjutnya.
Perbedaan respon antara pertumbuhan tanaman dengan media juga tergantung jenis media yang digunakan. Penggunaan media-media pada percobaan ini didasarkan pada kelebihan secara fungsional, kemudahan mendapatkan, dan efisiensi. Media tanam yang baik harus merupakan bahan yang memungkinkan
21
akar berpegang, aerasi tinggi, dan dapat menahan air. Selain itu, sifat lain yang harus dimiliki media tanam adalah bebas dari bibit gulma, hama dan penyakit. Gambar 2 menunjukkan terjadinya perbedaan tinggi tajuk antara varietas toleran dan peka.
Gambar 2. Pertumbuhan Tanaman pada Media Tanah + Kompos 6 000 ppm Kompos mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara, meningkatkan terjadinya granulasi agregat dan memantapkannya sehingga kemampuan media dalam mengikat air meningkat. Kompos juga mempunyai kemampuan menjerap kation tinggi, mampu memperbaiki daya jerap kation yang memungkinkan peningkatan kation-kation dapat dipertukarkan dan dapat menyediakan unsur-unsur hara mikro serta makro seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe, S, Mn, dan Cu (Suzana, 2008).
Media lain yang digunakan pada penelitian ini adalah pasir dan zeolit. Soepardi (1983) menyatakan pasir memiliki pori makro, tidak memiliki kemampuan untuk menyerap air sehingga perkolasinya berlangsung cepat, sehingga tanah berpasir memiliki drainase dan aerasi yang baik. Tanah berpasir memiliki beberapa kelemahan yaitu tidak dapat menahan air dan juga harus sering dipupuk karena pasir merupakan media yang lemah dalam memegang dan menyimpan unsur hara. Menurut Hanafiah (2005) pasir bersifat poros dan semakin poros suatu tanah akan makin mudah akar untuk berpenetrasi, serta makin mudah air dan udara bersirkulasi, tetapi makin mudah pula air hilang dari tanah. Menurut Suzana (2008) penggunaan zeolit pada tanah yang didominasi pasir juga memberikan pengaruh terhadap kemampuan dalam menahan air. zeolit juga mampu mempertahankan daya hantar listrik (DHL) rendah sekitar 0.02 – 0.015 dSm-1. Hal ini disebabkan zeolit didalam larutan sedikit mengeluarkan
garam-garam yang dapat menghantarkan listrik, sehingga tanaman dapat menyerap unsur hara dengan baik. Keuntungan lain dari penggunaan zeolit adalah kemampuannya dalam mengikat hara terutama K+ dan NH4+ sangat tinggi, sehingga kalium dalam media mengalami peningkatan.
b. Media Kertas
Uji pendahuluan dengan media kertas menggunakan metode Uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) dan didirikan serta dikecambahkan dalam germinator tipe alat pengecambah benih tipe IPB 73-2A/Bselama 14 hari. Kertas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kertas stensil (Gambar 3). Penggunaan kertas stensil dalam uji UKDdp merupakan standar yang biasa digunakan dalam pengujian perkecambahan benih padi di laboratorium. Media kertas di pilih karena mudah dalam aplikasi dan waktu yang diperlukan lebih singkat dibandingkan dengan metode pada media padat.
Gambar 3. Penanaman pada Media Kertas Stensil
Hasil uji t pada sembilan konsentrasi NaCl menunjukkan bahwa terdapat lima konsentarsi NaCl yang dapat membedakan varietas toleran dengan varietas peka pada peubah tinggi tajuk (Tabel 8). Konsentrasi yang dapat membedakan antara varietas toleran dengan varietas peka adalah perlakuan 4 000, 5 000, 6 000, 7 000 dan 8 000 ppm. Penelitian Madyasari (2011) menyatakan bahwa metode
23
kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 30 cm menjadi satu metode terpilih di laboratorium pada pengujian toleransi padi terhadap kekeringan.
Tabel 8. Hasil Uji t Peubah Tinggi Tajuk pada Media Kertas Stensil
NaCl Varietas Toleran Rataan
T
Varietas Peka Rataan
P Selisih Hasil (ppm) T1 T2 P1 P2 T-P Uji t 0 11.20 16.53 13.87 13.07 14.30 13.69 0.18 tn 3 000 12.27 15.50 13.89 13.67 14.33 14.00 -0.12 tn 4 000 12.53 14.87 13.70 11.43 12.40 11.92 1.79 * 5 000 11.60 14.13 12.87 11.53 12.30 11.92 0.95 * 6 000 11.33 12.87 12.10 10.97 11.10 11.04 1.07 * 7 000 11.27 11.60 11.44 10.40 9.97 10.19 1.25 * 8 000 11.03 11.50 11.27 9.20 9.70 9.45 1.82 * 9 000 6.67 9.97 8.32 8.42 7.35 7.88 0.43 tn 10 000 7.57 9.82 8.69 9.45 7.88 8.67 0.03 tn
Keterangan : T = toleran, P = peka, tn = tidak nyata, *= nyata pada taraf 5%
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi NaCl pada media kertas, peubah tinggi tajuk semakin rendah. Nilai selisih terbesar peubah tinggi tajuk antara varietas toleran dengan varietas peka pada konsentrasi 8 000 ppm. Suwarno dan Solahuddin (1983) menyatakan bahwa penyerapan air oleh benih menurun dengan meningkatnya tekanan osmosis pada larutan tanah akibat pemberian garam. Menurut Pearson dalam Suwarno (1985) beberapa tanaman padi dapat hidup pada tanah dengan salinitas tinggi berdaya hantar lisrik
15 mmhos/cm (9 600 ppm), tetapi pada tanah yang berdaya hantar listrik 6 – 7 mmhos/cm (3 840 ppm – 4 500 ppm) diduga telah terjadi penurunan hasil
sebesar 50 %.
Identifikasi Metode Terbaik untuk Pengujian Toleransi Genotipe Padi terhadap Salinitas
Hasil percobaan pendahuluan menunjukkan adanya perbedaan
pertumbuhan antara varietas toleran dan peka, perbedaan tersebut dilihat dari peubah panjang tajuk. Varietas toleran memiliki nilai panjang tajuk lebih tinggi dari varietas peka. Lima konsentrasi yang mampu membedakan ke dua sifat varietas tersebut berdasarkan hasil uji t dan nilai selisih diulang kembali pada pengujian ini untuk melihat konsistensi pengaruhnya terhadap tanaman. Ke lima konsentrasi tersebut adalah 4 000, 5 000, 6 000, 7 000 dan 8 000 ppm.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa faktor tunggal konsentrasi NaCl pada media kertas stensil berpengaruh sangat nyata terhadap peubah panjang tajuk, panjang akar, bobot kering kecambah, dan bobot tajuk, sedangkan peubah bobot akar tidak nyata (Tabel 9). Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi NaCl pada media kertas stensil yang digunakan mempengaruhi secara signifikan terhadap karakter tanaman. Faktor tunggal varietas (toleran dan peka) berpengaruh sangat nyata pada seluruh peubah yang diamati. Faktor ulangan hanya berpengaruh pada peubah panjang tajuk. Penentuan satu metode terbaik selanjutnya ditentukan dengan cara melihat selisih antara varietas toleran dengan varietas peka.
Tabel 9. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Varietas Padi dan Konsentrasi pada media kertas
Sumber Db KT (F) PT PA BKK BT BA Ulangan (U) 2 6.13 1.05 0.000025 0.000045 0.000002 (3.51)* (2.32)tn (0.30)tn (0.73)tn (0.41)tn Perlakuan (P) 4 33.71 2.09 0.000455 0.000417 0.000001 (19.29)** (4.59)** (5.29)** (6.64)** (0.22)tn Varietas (V) 3 56.07 6.22 0.001359 0.000969 0.000043 (32.09)** (13.63)** (15.77)** (15.43)** (6.03)** PxV 12 1.85 0.76 0.000078 0.000076 0.0000075 (1.06)tn (1.67)* (0.91)tn (1.22)tn (1.04)tn Galat 38 1.74 0.45 0.000086 0.000062 0.000007 Keterangan : PT = panjang tajuk, PA = panjang akar, BKK = bobot kering kecambah, BT = bobot
kering tajuk, BA = bobot kering akar, angka yang berada di dalam tanda kurung ( ) adalah nilai Fhitung, tn = tidak nyata, * = nyata pada taraf 5%, ** = nyata pada taraf 1%.
Hasil uji lanjut (Tabel 10) pada peubah panjang tajuk menunjukkan bahwa grup varietas T2 (lalan) berbeda nyata dengan varietas P1 (Ciherang) dan P2 (IR 64), sedangkan varietas T1 (Pokali) tidak berbeda nyata dengan varietas P1 (Ciherang). Berdasarkan data pada Tabel 10 dapat dilihat varietas toleran memiliki panjang tajuk lebih tinggi dari varietas peka membuktikan bahwa varietas toleran dapat menghadapai kondisi cekaman garam. Semakin tinggi tingkat konsentrasi garam pertumbuhan tanaman semakin terhambat. Nilai selisih terbesar pada peubah panjang tajuk terdapat pada media kertas dengan konsentrasi 8 000 ppm.
25
Tabel 10. Pengaruh Konsentrasi Garam pada Media Kertas terhadap Semua Peubah pada Masing-masing Varietas
Metode
Varietas Toleran Rataan (T)
Varietas Peka Rataan (P) Rataan M Selisih T-P T1 T2 P1 P2 Panjang Tajuk (cm) p4 11.08 14.47 12.78 11.77 12.20 11.99 12.38a 0.79 p5 10.98 13.99 12.49 9.32 11.90 10.61 11.55ab 1.87 p6 9.30 14.38 11.84 8.82 10.82 9.82 10.83b 2.02 p7 8.41 12.00 10.21 8.17 9.32 8.74 9.47c 1.46 p8 7.87 10.55 9.21 4.94 9.31 7.13 8.16d 2.08 9.53c 13.07a 8.60c 10.71b Panjang Akar (cm) p4 6.64 8.85 7.74 8.14 6.85 7.49 7.62a 0.25 p5 8.25 8.27 8.26 7.19 6.58 6.89 7.57a 1.37 p6 7.79 9.07 8.43 7.62 7.72 7.67 8.05a 0.76 p7 7.92 8.44 8.18 7.93 6.94 7.44 7.80a 0.74 p8 6.90 7.83 7.37 6.28 6.71 6.49 6.93b 0.87 7.50b 8.49a 7.43bc 6.96c Bobot Kering Kecambah (g)
p4 0.0531 0.0822 0.0677 0.0624 0.0726 0.0675 0.0675a 0.0002 p5 0.0597 0.0777 0.0687 0.0586 0.0618 0.0602 0.0644a 0.0085 p6 0.0673 0.0757 0.0715 0.0542 0.0604 0.0573 0.0644a 0.0142 p7 0.0573 0.0733 0.0653 0.0540 0.0572 0.0556 0.0604a 0.0097 p8 0.0470 0.0660 0.0565 0.0368 0.0569 0.0469 0.0516b 0.0096 0.0569bc 0.0749a 0.0532c 0.0617b Bobot Kering Tajuk (g)
p4 0.0419 0.0669 0.0544 0.0506 0.0623 0.0564 0.0554a -0.0020 p5 0.0478 0.0620 0.0549 0.0475 0.0538 0.0506 0.0527a 0.0042 p6 0.0546 0.0607 0.0576 0.0449 0.0484 0.0466 0.0521a 0.0110 p7 0.0450 0.0587 0.0519 0.0435 0.0461 0.0448 0.0483a 0.0071 p8 0.0368 0.0545 0.0457 0.0252 0.0445 0.0349 0.0402b 0.0108 0.0452bc 0.0605a 0.0509b 0.0423c Bobot Kering Akar (g)
p4 0.0112 0.0153 0.0133 0.0118 0.0103 0.0111 0.0122a 0.0022 p5 0.0120 0.0157 0.0139 0.0111 0.0080 0.0096 0.0121a 0.0043 p6 0.0127 0.0151 0.0139 0.0093 0.0121 0.0107 0.0121a 0.0032 p7 0.0123 0.0146 0.0134 0.0106 0.0111 0.0108 0.0117a 0.0026 p8 0.0102 0.0115 0.0108 0.0116 0.0124 0.0120 0.0114a -0.0012 0.0116b 0.0144a 0.0108b 0.0107b
Keterangan: T1= varietas Pokali, T2 = Varietas Lalan, P1= varietas Ciherang, P2=Varietas IR 64, p4 = perlakuan 4 000 ppm,p5 = perlakuan 5 000 ppm, p6 = perlakuan 6 000 ppm, p7 = perlakuan 7 000 ppm, p8 = perlakuan 8 000 ppm
Dapat dilihat dari gambar bahwa pertumbuhan varietas toleran lebih baik dari varietas peka. Suwarno dan Solahuddin 1983 menyebutkan bahwa ada kecenderungan varietas toleran menyerap Na dan Cl lebih sedikit serta dapat mencegah terakumulasinya unsur-unsur tersebut didalam tajuk.
Keterangan : v1 : varietas Pokali (T), v3 : varietas Ciherang (P)
Keterangan: v2 : varietas Lalan (T), v4 : varietas IR 64 (P)
Gambar 4 Pertumbuhan Varietas Toleran dan Peka Pada Media Kertas 8 000 ppm Tabel 11 menunjukkan selisih antara kelompok varietas toleran dan kelompok varietas peka. Sebagian besar peubah-peubah yang diamati pada media kertas memiliki selisih yang positif artinya nilai kelompok varietas toleran lebih besar dari nilai varietas peka. Panjang tajuk menjadi peubah yang paling utama untuk pemilihan metode selanjutnya karena diduga NaCl menyerang tajuk. Selain itu peubah tersebut praktis untuk diamati. Konsentrasi 8 000 ppm pada media kertas stensil terlihat konsisten dapat membedakan varietas toleran dengan yang peka. Oleh karena itu metode ini digunakan untuk menyeleksi 40 genotipe padi yang belum diketahui tingkat toleransinya.
Tabel 11. Rekapitulasi Data Selisih antara Varietas Toleran dan Peka pada Masing-masing Peubah yang Diamati Di Laboratorium
Peubah p4 p5 p6 p7 p8 PT (cm) 0.79 1.87 2.02 1.46 2.08 PA (cm) 0.25 1.37 0.76 0.74 0.87 BKK (g) 0.0002 0.0085 0.0142 0.0097 0.0096 BT (g) -0.0020 0.0042 0.0110 0.0071 0.0108 BA (g) 0.0022 0.0043 0.0032 0.0026 -0.0012 Keterangan : PT = panjang tajuk, PA = panjang akar, BKK = bobot kering kecambah, BT = bobot
kering tajuk, BA = bobot kering akar, p = Perlakuan
V2 V4
27
Pengujian Toleransi terhadap Salinitas 40 Genotipe Padi dengan Metode Terbaik
Pengujian 40 genotipe di laboratorium ini menggunakan media kertas stensil dengan konsentrasi 8 000 ppm. Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 12 faktor ulangan berpengaruh pada seluruh peubah yang diamati kecuali peubah panjang akar. Faktor genotipe menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang diuji di laboratorium menghasilkan nilai yang berbeda nyata pada seluruh peubah yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa antara genotipe yang diuji memberikan respon yang berbeda-beda dari cekaman salinitas.
Tabel 12. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Genotipe terhadap Peubah yang Diamati pada Satu Metode Terpilih di Laboratorium
Peubah Ulangan Genotipe Rata - rata Kisaran
Panjang tajuk (cm) ** ** 8.96 5.77 - 11.05
Panjang akar (cm) tn ** 10.07 8.87 - 12.89
Bobot kering kecambah (g) * ** 0.0594 0.0327 - 0.1004
Bobot kering tajuk (g) * ** 0.0424 0.0200 - 0.0722
Bobot kering akar (g) * ** 0.0211 0.0096 - 0.0678
Keterangan: tn= tidak nyata, *= nyata dalam taraf 5%, **= nyata dalam taraf 1%
Hasil analisis sidik ragam pengujian 40 genotipe-genotipe yang diuji berbeda sangat nyata pada peubah panjang tajuk, berdasarkan peubah tersebut nilai rata-rata dari pengujian pada metode ini sebesar 8.96 cm dengan nilai kisaran 5.77 sampai 11.05 cm (Tabel 12). Berdasarkan peubah panjang tajuk, genotipe yang memiliki nilai terbesar adalah genotype TOX4136-5-1-1-KY-3, IPB106-F-85-DJ-2, B10387F-MR-7-6-KN-3-KY-2, dengan tinggi rata-rata berturut-turut sebesar 11.05 cm, 10.99 cm, dan 10.17 cm. Cek varietas toleran pokali memiliki panjang tajuk sebesar 10.35 cm sedangkan lalan sebesar 10.94 cm. Varietas cek peka IR64 memiliki panjang tajuk sebesar 9.72 cm dan Ciherang sebesar 9.52 cm (Lampiran 5).
Korelasi antara Peubah di Rumah Kaca dengan Peubah di Laboratorium
Pengujian di rumah kaca dikorelasikan dengan pengujian di laboratorium bertujuan untuk melihat tingkat keeratan dari kedua pengujian tersebut. Hasil
analisis korelasi seluruh peubah di rumah kaca tidak ada yang berkorelasi dengan peubah yang diamati di laboratorium (Tabel 13) .
Tabel 13. Hasil Analisis Korelasi Peubah di Rumah Kaca dan Laboratorium
Lab Rumah kaca
Persentase Daun Mati Jumlah Daun Panjang Akar
Panjang Tajuk -0.12608 tn 0.12362 tn 0.07652 tn
Panjang Akar 0.05829 tn -0.06628 tn -0.05755 tn
Bobot Kering Kecambah 0.05311 tn -0.02503 tn -0.06469 tn
Bobot Tajuk 0.02863 tn -0.01702 tn -0.02553 tn
Bobot Akar 0.00872 tn 0.06049 tn -0.06281 tn
Keterangan: tn= tidak nyata
Nilai korelasi terbesar adalah nilai korelasi antara peubah persentase daun mati dengan peubah panjang tajuk yaitu sebesar -0.12608. Hal ini menunjukkan korelasi antara pengujian di laboratorium dengan rumah kaca berkolerasi rendah. Korelasi yang rendah dapat disebabkan oleh perbedaan stadia pertumbuhan, kondisi lingkungan dan juga viabilitas benih yang berbeda pada saat pengujian.
Pengujian di laboratorium dimulai setelah 6 bulan pengujian di rumah kaca, hal ini dapat menyebabkan penurunan viabilitas benih yang digunakan pada saat penelitian dilaboratorium. Stadia pertumbuhan yang berbeda juga menyebabkan korelasi antara pengujian rumah kaca dengan laboratorium rendah. Menurut Rahmawati (2006) padi relatif lebih toleran terhadap salinitas saat perkecambahan, akan tetapi tanaman bisa jadi rentan saat pindah tanam, bibit masih muda, dan pembungaan, sehingga sangat sulit menentukan hubungan antara toleransi terhadap salinitas pada fase perkecambahan dengan fase-fase berikutnya.
Pengelompokan tingkat toleransi peubah yang diamati di laboratorium berdasarkan pada peubah panjang tajuk. Panjang tajuk diurutkan dari nilai tertinggi hingga terendah kemudian dibagi kedalam empat klasifikasi tingkat toleransi. Semakin tinggi panjang tajuk di duga benih semakin toleran. Genotipe yang memiliki panjang tajuk rendah diduga genotipe tersebut peka.
29
Tabel 14. Rata-rata dan Kisaran Nilai Peubah di Laboratorium berdasarkan Tingkat Toleransi di Laboratorium
TT JG Rata-rata PT PA BKK BT BA T 11 10.23 9.85 0.0609 0.0434 0.0299 (9.6 -11.05) (8.97- 10.67) (0.0380-0.1004) (0.0203-0.0722) (0.0096-0.0678) AT 11 9.27 9.99 0.0613 0.0437 0.0212 (8.83-9.62) (9.51-10.51) (0.0356-0.0870) (0.0200-0.0640) (0.0103-0.0556) AP 11 8.61 10.46 0.0630 0.0459 0.0171 (8.44-8.78) (9.54-12.89) (0.0463-0.0807) (0.0336-0.0586) (0.0110-0.0222) P 11 7.74 9.98 0.0526 0.0364 0.0162 (5.77-8.41) (8.87-10.64) (0.0327-0.0727) (0.0203-0.0497) (0.0109-0.0231) Keterangan : TT : tingkat toleransi, T : toleran, AT : agak toleran, AP : agak peka, P : peka, JG :
jumlah genotipe, PT = panjang tajuk, PA = panjang akar, BKK = bobot kering kecambah, BT = bobot kering tajuk, BA = bobot kering akar
Simulasi Seleksi Padi Toleran Salinitas
Simulasi seleksi ini bertujuan untuk membandingkan padi yang toleran di pengujian rumah kaca dengan padi toleran di laboratorium. Peubah di rumah kaca yang digunakan untuk simulasi seleksi adalah persentase daun mati, sedangkan peubah di laboratorium menggunakan panjang tajuk.
Tabel 15. Simulasi Seleksi Hasil Pengujian di Rumah Kaca dan Laboratorium Intensitas Seleksi (%) Jumlah Genotipe yang terpilih Jumlah genotipe
yang sesuai Kesusaian (%)
PDMa) vs PTb) 10 4 0 0.00 20 8 1 12.50 30 12 2 16.66 40 16 4 25.00 50 20 10 50.00
Keterangan : PDM = persentase daun mati, PT = panjang tajuk, a) peubah rumah kaca, b) Peubah laboratorium
Penggunaan panjang tajuk pada simulasi seleksi dikarenakan panjang tajuk memiliki nilai koefisien korelasi paling besar dengan persentase daun mati (Tabel 13). Simulasi seleksi dilakukan dengan cara mengurutkan nilai peubah yang diamati dari terkecil sampai terbesar atau dari terbesar sampai terkecil tergantung dengan peubah yang digunakan dalam simulasi seleksi (Lampiran 6).
Peubah panjang tajuk diurutkan dari nilai terbesar hingga terkecil, sedangkan peubah persentase daun mati diurutkan dari nilai terkecil hingga terbesar. Hasil simulasi seleksi pada Tabel 15 menunjukkan bahwa penggunaan metode kertas stensil pada konsentrasi 8 000 ppm tidak dapat digunakan untuk menyeleksi 40 genotipe padi toleran terhadap salinitas. Pengujian dilaboratorium menggunakan kertas menyebabkan keseluruhan tanaman terbungkus dengan kertas sehingga transpirasi tanaman tidak berjalan dengan normal. Nilai intensitas seleksi yang semakin besar menunjukkan bahwa peubah di laboratorium tidak dapat menggambarkan keadaan persentase daun mati di rumah kaca secara akurat dalam menyeleksi genotipe padi yang toleran terhadap salinitas.