• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.4. Geopark dan Tata Ruang

Rencana Tata Ruang merupakan salah satu solusi sinkronisasi dan harmonisasi dalam pemanfaatan ruang dalam pengembangan Geopark (Oktariadi, 2016), tujuan penataan ruang sesuai UU No. 26/2007, Aman: tidak kena Bencana (Banjir, Gempa, Longsor, pasang laut dan lainnya), dalam lingkungan tempat tinggal/ ruang publik juga terjamin rasa amannya. Nyaman: serba mudah, tidak ada kemacetan, pencemaran terkendali, bersih, teratur, asri, hijau, harmoni. Produktif: sinergi antara sistem transport dan sistem produksi, biaya transportasi murah, sistem pelayanan efisien, living cost murah, mudah lapangan kerja, berdaya saing. Berkelanjutan: Mapan ekonomi, Good Governance, lingkungan terjaga dan menempatkan pada kepentingan generasi yang akan datang.

6 II.5. Potensi Sumber Daya Alam

Sumber daya alam adalah sumber lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan non hayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem.

Lapangan Usaha Kabupaten Sijunjung didominasi oleh 4 (empat) sektor yakni pertanian, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian. Pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan mata pencaharian terbesar dengan komoditi utama karet, kelapa sawit dan padi sawah. Sedangkan pertambangan dan galian menempati urutan kedua mata pencaharian masyarakat di Kabupaten Sijunjung dan salah satu potensi tambang yang cukup besar adalah emas.

II.6. Kawasan Lindung

Menurut UU No. 24/1992 Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi ulama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Situs-situs geologi di Kawasan Geopark Silokek telah memperoleh perlindungan tingkat nasional melalui SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SK.603/Menlhk/Setjen/PLA.2/8/2016 tentang Penetapan Fungsi Pokok Kawasan Suaka Alam Kawasan Pelestarian Alam Sebagai Taman Wisata Alam Batang Pangean I di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung Provinsi Sumatera Barat yang menetapkan kawasan tersebut menjadi kawasan konservasi seluas lebih 14.288 Ha.

Pada tingkat Kabupaten untuk perlindungan kawasan Geopark Silokek dikukuhkan melalui Peraturan Kabupaten Sijunjung No. 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Wilayah Sijunjung Tahun 2011 – 2031.

II.7. Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Penetapan kawasan budidaya dimaksudkan untuk memudahkan pengelolaan, dan pemantauan kegiatan termasuk penyediaan prasarana dan sarana maupun penanganan dampak lingkungan akibat kegiatan budidaya.

7 Kawasan Budidaya tersebut diklasifikasikan menjadi 9 (sembilan) kawasan berdasarkan peruntukannya yaitu : kawasan peruntukan hutan produksi, kawasan peruntukan hutan rakyat, kawasan peruntukan pertanian, kawasan peruntukan perikanan, kawasan peruntukan pertambangan, kawasan peruntukan permukiman, kawasan peruntukan industri, kawasan peruntukan pariwisata, dan kawasan pertahanan keamanan.

II.8. Geosite Daerah Silokek

Geosite merupakan bentang lahan yang memiliki potensi sebagai situs pariwisata dan memiliki nilai berdasarkan sudut pandang penilaian manusia. Analisis ini ditujukan untuk memberikan penilaian terhadap parameter – parameter tertentu seperti nilai pendekatan ilmiah, nilai pendidikan, nilai ekonomi, nilai konservasi dan nilai tambah (keindahan, budaya, faktor geologi) pada daerah tertentu. Silokek sebagai Kawasan Nasional Geopark ini memiliki geosite berupa Ngalau (goa), Singkapan Granit, Pasir Putih, Air Terjun, dan lainnya (Gambar 3).

Gambar 3. a. Air Terjun Sangkiamo, b.Ngalau Basurek

II.9. Kebencanaan Daerah Silokek

Kondisi kawasan Geopark Silokek merupakan kawasan rawan bencana banjir, longsor, gempa, asap akibat kebakaran lahan dan hutan, dan bencana akibat penambangan liar di sepanjang aliran sungai (Gambar 4). Untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana ini Pemerintah Kabupaten Sijunjung melalui Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sijunjung telah membentuk Kelompok Siaga Bencana (KSB) setiap nagari.

a

A b

A

8 Kelompok ini sebagai perpanjangan tangan BPBD dalam upaya penanggulangan bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Selain itu, juga meningkatkan pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana.

Gambar 4. Kebencanaan Geopark Silokek (a) Luapan Air (b) Longsor

9 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di instansi terkait dengan kurun waktu kurang lebih selama 30 hari, yaitu terhitung pada tanggal 1 September 2021 – 1 Oktober 2021. Adapun tempat dan waktu pelaksanaan pengerjaan Kerja Praktek adalah sebagai berikut :

Instansi : Pusat Informasi Geopark Geopark Silokek

Alamat : Muaro Silokek, Kec. Sijunjung, Kab. Sijunjung, Prov. Sumatera Barat Waktu : 1 September 2021 – 1 Oktober 2021

Dengan penempatan penelitian secara khusus adalah sebagai berikut:

Tempat : Muaro Silokek, Kec. Sijunjung, Kab. Sijunjung, Prov. Sumatera Barat Waktu : 1 September 2021 – 1 Oktober 2021.

III.2. Tahap Penelitian

Pada tahap pelaksanaan penelitian ini, terdapat beberapa tahap pelaksanaan, yaitu:

III.2.1. Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan dimulai dengan pengadaan peta topografi, peta geologi regional, peta lintasan geologi, foto udara (citra satelit), serta literatur yang berkaitan dengan daerah penelitian, selanjutnya analisis peta topografi dan interpretasi foto udara (citra satelit). Pada data sekunder tersebut dirancang perizininan, rencana lintasan penelitian, dan kegiatan untuk tahapan berikutya.

III.2.2. Tahap Eksplorasi dan Observasi

Pada tahap ini memetakan, eksplorasi, dan observasi kawasan daerah Geopark Silokek dan beberapa geosite seperti ngalau basurek, air terjun sangkiamo, air terjun batang taye, dan lainnya, serta lokasi yang memiliki potensi seperti luapan air (banjir) dan longsor

III.2.3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data

Pada tahap ini data yang didapat pada tahapan eksplorasi dan observasi seluruhnya

10 diolah dan dianalisis menggunakan software arcgis. Analisa yang dilakukan berupa pengolahan data deskripsi lapangan berdasarkan evaluasi tata ruang kawasan geopark silokek, serta menggunakan data resiko bencana geologi, kemudian diolah menggunakan software arcgis.

III.5. Diagram Alir Penelitian

Gambar 5. Diagram Alir Penelitian

11 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil

IV.2. Karakteristik Wilayah (Geografis)

Kawasan Geopark National Silokek secara administrasi termasuk ke dalam daerah yang berada di sepanjang Kenagarian Muaro Silokek dan Durian Gadang, dengan luas kawasan 300 km yang berlokasi di Kecamatan Sijunjung dan Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Silokek sangat menarik karena kondisi morfologi daerah tersebut berupa tebing batuan gamping (Karst), Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Sijunjung (2019) jumlah penduduk di Kabupaten ini yaitu 119.01 ribu jiwa laki-laki dan 118.36 ribu jiwa perempuan.

Pada kawasan Geopark Silokek ini memiliki sumber ekonomi berupa pertanian, dan perikanan. Mata pencaharian terbesar dengan komoditi utama karet, kelapa sawit dan padi sawah. Sedangkan pertambangan dan galian menempati urutan kedua mata pencaharian masyarakat di Kabupaten Sijunjung dan salah satu potensi tambang yang cukup besar adalah emas.

IV.3. Kemiringan Lereng Kawasan Geopark

Pada data morfometri ini menggunakan klasifikasi Van Zuidam 1983. Berdasarkan data morfometri pada kawasan Geopark Silokek, Geosite Ngalau Cigak, Ngalau Basurek, Air Terjun Palukahan, Pulau Andam Dewi, Pasir Putih, Ngalau Talago, Air Terjun Batang Taye, Ngalau Solok Ambah, Air Terjun Sangkiamo tersebut berada pada lereng perbukitan bergelombang hingga perbukitan curam serta litologi batuan di daerah tersebut berupa batugamping sehingga daerah pada geosite tersebut memiliki potensi bencana longsor (Gambar 6). geosite yang berada di status lahan sempadan sungai yang sudah di buffer 100 m ke kanan dan 100 m ke kiri, sehingga daerah tersebut memiliki potensi bencana banjir atau luapan sungai (Gambar 6).

12 IV.4. Tataguna Lahan Kawasan Geopark

Pada peta tataguna lahan kawasan Geopark Silokek berada pada 6 kawasan tata guna lahan (Gambar 7), yaitu:

1. Kawasan suaka alam merupakan kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa sebagai sistem penyangga kehidupan.

2. Hutan lindung merupakan kawasan yang digunakan untuk melindungi kekayaan hayati yang ada di dalamnya.

3. Hutan konversi merupakan hutan yang digunakan untuk kepentingan bangunan di luar bidang kehutanan seperti perkebunan, peternakan, perkebunan dan lainnya.

4. Hutan produksi terbatas merupakan hutan yang dialokasikan untuk produksi kayu dengan intensitas rendah.

5. Hutan produksi merupakan hutan yang hasil nya bisa dipakai atau diambil dalam bentuk kayu dan non kayu.

6. Areal penggunaan lain merupakan areal yang bukan kawasan hutan. Pada geosite di Geopark Silokek berada pada status lahan hutan lindung dan hutan produksi.

IV.5. Analisis Tata Ruang Geosite

Dari kedua peta yang sudah diolah kemudian diinput ke dalam tabel terdapat beberapa geosite yang masuk sebagai kawasan hutan lindung, hutan produksi, dan sempadan sungai. Rekapitulasi Fungsi Lahan dan Geosite dapat dilihat pada (tabel 1) berikut:

Tabel 1. Analisis Tata Ruang Geosite

Nama

Cigak Sijunjung Silokek PCkl

Batugampin

Basurek Sijunjung Silokek PCkl

Batugampin

13

Air Terjun

Palukahan Sijunjung Durian

Gadang g Granit

Pasir Putih Sijunjung Silokek PC kl

Batugampin

Sangkiamo Sijunjung Silokek g Granit

101° 1' Andam Dewi, Pasir Putih, Panorama Bukik Mandiangin, dan Ngalau Talago (Tabel 1) di rekomendasikan untuk rencana pembangunan, yaitu:

1. Tidak dibolehkan untuk membangun bangunan permanen kecuali untuk kebutuhan penelitian pada kawasan geosite tersebut.

2. Tidak dilakukan produksi hasil hutan berupa kayu atau non kayu karena sudah ada hukum yang berlaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Geosite yang masuk pada kawasan Hutan produksi seperti Ngalau Solok Ambah, Air

14 Terjun Batang Taye, Air Terjun Palukahan, dan Ngalau Basurek. Rekomendasikan untuk rencana pembangunan, yaitu:

1. dapat dilakukan pengambilan hasil hutan asalkan tidak berada dekat dengan titik geosite dikarenakan dapat mengganggu kelestarian dan keberadaan geosite tersebut.

Dalam Geopark Silokek ditemukan beberapa titik geosite yang berpotensi terjadi bencana geologi diantaranya yaitu longsor dan banjir. Geosite Ngalau Cigak, Ngalau Basurek, Pulau Andam Dewi, Ngalau Talago, dan Ngalau Solok Ambah (Tabel 1) dimana pada geosite yang berada pada kawasan yang berpotensi longsor, dilihat dari karakteristik litologi yang secara umum tersusun atas batugamping, karena Batugamping merupakan batuan yang bersifat reaktif terhadap air terutama pada air hujan yang mengandung karbon trioksida (CO3) yang terkontaminasi oleh udara maupun hasil pembusukan zat organik yang terdapat pada permukaan tanah.

Batugamping yang dilalui oleh air permukaan semakin lama mengalami proses pelarutan karena adanya reaksi kimia. Batugamping yang terkena air permukaan akan berubah warna menjadi kehitaman. Jika terjadi secara terus menerus maka batuan tersebut akan terdapat rongga-rongga dimana pada bawah batuan akan semakin terkikis dan nantinya tidak akan mampu untuk menahan sehingga terjadilah longsoran batugamping. Maka direkomendasikan daerah tersebut, yaitu:

1. Dapat dibuat peringatan tidak boleh berlama-lama di daerah geosite tersebut sebab daerah tersebut berpotensi longsor.

Pada geosite Ngalau Cigak, Ngalau Basurek, Pulau Andam Dewi, Pasir Putih berada pada status lahan sempadan sungai yang memiliki potensi banjir, karena daerah tersebut masuk kedalam area buffer. Pada kawasan daerah yang berpotensi banjir dapat direkomendasikan, yaitu:

1. Membangun bangunan seperti tanggul agar luapan air dari sungai tidak membanjiri daerah geosite tersebut.

15 Gambar 6. Kemiringan Lereng Kawasan Geopark Silokek

16 Gambar 7. Peta Tata Guna Lahan Kawasan Geopark Silokek

17 IV.6. Analisis Kebijakan

Menurut PERDA Kabupaten Sijunjung nomor 5 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sijunjung Tahun 2011 – 2031, pada BAB 4 tentang tujuan, kebijakan, strategis penataan ruang, pada pasal 4 tentang tujuan strategis ruang wilayah, Penataan Ruang Kabupaten bertujuan untuk mewujudkan ruang Kabupaten Sijunjung berbasis pertanian dengan didukung oleh pertambangan, agroindustri dan pariwisata yang berwawasan lingkungan dalam rangka pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Pada pasal 5 tentang kebijakan strategis ruang wilayah pada ayat 1 untuk mewujudkan tujuan penataan ruang kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditetapkan kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Sijunjung. Pada ayat 2 kebijakan penataan ruang Kabupaten Sijunjung sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. peningkatan pemanfaatan potensi sumberdaya alam melalui pengelolaan dan pengolahan produk pertanian , perikanan, pariwisata dan pertambangan.

b. pemanfaatan kawasan hutan dan implementasi pembangunan yang berwawasan lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat.

c. peningkatan pembangunan infrastruktur yang menunjang perekonomian wilayah dengan memperhatikan pemerataan pembangunan.

IV.6.1. Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Geopark

Status Geopark Silokek adalah Geopark Nasional yang ditetapkan sejak tahun 2018.

Latar Belakang pembangunan Geopark Silokek Kabupaten Sijunjung merupakan wilayah yang dilalui oleh gugusan Bukit Barisan, sehingga terdapat objek wisata alam yang dapat dikembangkan potensinya. Selain memiliki potensi obyek wisata alam, Kabupaten Sijunjung juga memiliki potensi wisata sejarah dan budaya. Potensi wisata dimaksud tersebar di setiap kecamatan-kecamatan, sehingga mengalami kesulitan untuk dikembangkan secara terstruktur. Oleh sebab itu, potensi obyek wisata alam yang menjadi fokus pengembangan di masa mendatang adalah kawasan Silokek yang merupakan ikon Geopark Ranah Minang Silokek. Berikut merupakan rekomendasi pembangunan dari beberapa kebijakan, yaitu:

18 1. PERPRES No. 9 Tahun 2019 Tentang Taman Bumi (Geopark)

Rekomendasi pembangunan menurut PERPRES Nomor 9 tahun 2029 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark) yaitu:

a. Pada pasal 8 ayat 2 huruf D penentuan batas atau deliniasi kawasan.

b. Pada pasal 15 Ayat 1 huruf C Pembangunan sistem pengawasan dan pengamanan Situs Geologi (geosite).

2. RTRW

Pada PERDA Kabupaten Sijunjung Nomor 5 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sijunjung tahun 2011 – 2031, pada Pasal 5 tentang Kebijakan Penataan Ruang Wilayah berbunyi:

a. Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ditetapkan kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Sijunjung.

A. Kebijakan penataan ruang Kabupaten Sijunjung sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. Peningkatan pemanfaatan potensi sumberdaya alam melalui pengelolaan dan pengolahan produk pertanian , perikanan, pariwisata dan pertambangan.

b. Pemanfaatan kawasan hutan dan implementasi pembangunan yang berwawasan lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat; dan

c. Peningkatan pembangunan infrastruktur yang menunjang perekonomian wilayah dengan memperhatikan pemerataan pembangunan.

Sebagai tindak lanjut kebijakan pembangunan geopark direkomendasikan:

a. Peningkatan aksesibilitas pada kawasan-kawasan pariwisata yang potensial dalam satu kesatuan sistem perjalanan wisata.

3. Masterplan Geopark Silokek

Pada penyusunan Masterplan Geopark Silokek tahun 2019 ini berperan penting

19 dalam pengembangan dan penataan kawasan geopark silokek, pada masterplan Geopark Silokek terdapat data yang belum spesifik dalam penjelasannya, dan sebagai tindak lanjut pembuatan masterplan geopark di rekomendasikan yaitu:

a. Penentuan batas atau deliniasi kawasan Geopark Silokek yang lebih spesifik.

b. Perlunya inventarisasi yang lebih lengkap terhadap setiap geosite yang berada di Geopark Silokek.

IV.6.2. Rekomendasi Kebijakan Pembangunan di Kawasan Lindung

Kawasan Geopark Silokek merupakan hutan produksi, hutan lindung dan kawasan pertambangan emas ilegal. Kawasan pertambangan ini memiliki potensi bahan tambang bahan galian logam yaitu berupa batu indikasi mineral emas. Dengan melihat adanya potensi bahan galian ini tidak menutup kemungkinan adanya kegiatan eksplorasi baik yang dilakukan oleh pihak swasta secara resmi memiliki izin usaha pertambangan (IUP) maupun oleh masyarakat lokal yang tidak memiliki izin (PETI).

Penebangan hutan pada lahan produksi yang tidak terkendali akan menjadi ancaman pada degradasi hutan sehingga mengakibatkan longsor pada musim hujan. Sebagai tindak lanjut kebijakan pembangunan kawasan lindung di rekomendasikan :

1. Perlunya sosialisasi kepada masyarakat atau tindak tegas dari pengelola kawasan geopark untuk memberi sanksi karena sudah tertulis pada undang-undang tentang penambangan ilegal. Penambang ilegal akan dijerat dengan Pasal 17 Ayat 1 Undang-Undang No 11 Tahun 2021 tentang Cipta Kerja atau Pasal 12 Undang-Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

2. Perlunya sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat sekitar dan membuat jalur evakuasi pada kawasan rawan bencana.

3. Perlunya penetapan KBAK (Kawasan Bentang Alam Karst), Kawasan Bentang Alam Karst merupakan kawasan lindung geologi sebagai bagian dari kawasan lindung nasional, menjadi dasar bagi gubernur dan bupati/walikota sesuai

20 dengan kewenangannya untuk menyusun rencana tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. Dengan adanya penetapan KBAK, menjadi ada kepastian hukum dalam perlindungan dan pemanfaatan karst, karena menjadi jelas mana batugamping (karst) yang harus dilindungi melalui KBAK dan mana karst yang dapat dimanfaatkan.

IV.6.3. Rekomendasi Kebijakan Pembangunan di Kawasan Budidaya

Menurut Perda nomor 5 tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sijunjung pada pasal 35 Rencana pengembangan kawasan budidaya terdiri atas:

kawasan hutan produksi, kawasan hutan rakyat, kawasan pertanian, kawasan perikanan, kawasan pertambangan, kawasan industri, kawasan pariwisata, kawasan permukiman, kawasan peruntukan lainnya.

Sebagai tindak lanjut kebijakan pembangunan kawasan budidaya di rekomendasikan:

1. Penambahan Bentuk pelarangan yang dilakukan pada kawasan hutan produksi pada pasal 89 ayat 2 antara lain pengambilan hasil hutan di dekat kawasan geosite, karena akan merusak keasrian geosite tersebut.

21 BAB V KESIMPULAN

V.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi dan pekerjaan di lapangan yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Kawasan Geopark Silokek berada pada kawasan suaka alam, hutan lindung, hutan konversi, hutan produksi terbatas, hutan produksi, dan areal penggunaan lain.

2. Geosite dalam kawasan hutan lindung tidak semestinya dibangun bangunan permanen kecuali untuk kebutuhan penelitian pada kawasan geosite, dan juga semestinya tidak dilakukan produksi hasil hutan berupa kayu atau non kayu karena sudah ada hukum yang berlaku. Geosite dalam kawasan hutan produksi dapat dilakukan pengambilan hasil hutan asalkan tidak berada dekat dengan titik geosite dikarenakan dapat mengganggu kelestarian dan keberadaan geosite tersebut. Geosite pada kawasan yang berpotensi longsor direkomendasikan daerah tersebut bisa dibuat peringatan tidak boleh berlama-lama di daerah geosite tersebut sebab daerah tersebut berpotensi longsor. Pada kawasan yang berpotensi banjir dapat direkomendasikan membangun bangunan seperti tanggul agar luapan air dari sungai tidak membanjiri daerah geosite tersebut.

22 DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pekerjaan Umum. 2006. UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sijunjung. 2017. Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

Ismayanti.2010.pengantar pariwisata.grasindo. jakarta : PT Gramedia Widisarana Indonesia.

Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat. 2019. Masterplan Geopark Silokek Muaro Sijunjung, Pemerintah Kabupaten Sijunjung.

Oktariadi, Oki (2016). Materi Presentasi: Geopark dan Penataan Ruang. Jakarta: Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.

Pemerintahan Kabupaten Sijunjung. (2018). “Geopark Silokek - Sijunjung Sumatera Barat : Dokumen Pengusulan Menjadi Geopark Nasional dan Keanggotaan pada Jaringan Geopark Nasional Indonesia (Dossier Silokek).

Peraturan Daerah Kabupaten Sijunjung Nomor 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sijunjung Tahun 2011 – 2031.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark).

Silitonga, P.H., dan Kastowo, 1995, Peta Geologi Lembar Solok, Sumatera, Edisi 2:

Direktorat Geologi, Bandung.

Van Zuidam, et al 1983. Guide to Geomorphologic aerial photographic interpretation and mapping.

Zuidam, R.A. van, 1985. Aerial Photo - Interpretation in Terrain Analysis and Geomorphologic Mapping. ITC, Smits Publ., Enschede, The Netherlands.

23 LAMPIRAN

Pertemuan pertama dengan Badan Pengelola Geopark (25 Agustus 2021)

Bertemu dengan pengurus kantor Wali Nagari (26 Agustus 2021)

Kegiatan Lapangan di Ngalau Basurek (30 Agustus 2021)

24 Kegiatan Lapangan di Air Terjun Sangkiamo (6 September 2021)

Berkunjung ke kampung adat (8 September 2021)

Pemberian sertifikat di kantor GIC (27 September 2021)

25 Pemberian sertifikat di kantor Wali Nagari (27 September 2021)

Kegiatan memperingati hari Pariwisata Internasional (25 dan 26 September 2021)

Dokumen terkait