II. PENDEKATAN TEORITIS
2.4 Gerakan dan Perlawanan Petani
yang menciptakan ketimpangan distribusi kekuasaan, kemakmuran dan kesempatan di tengah-tengah masyarakat” (Du Toit dalam Mosse 2007). Tanpa membongkar struktur ketimpangan-ketimpangan politik, ekonomi sosial, budaya yang menyelimutinya, sulit menangkap akar persoalan kemiskinan yang terjadi.
Sebab, pada umumnya, menurut Shohibuddin dan Soetarto (2009) kemiskinan oleh para perencana pembangunan dan pengambil kebijakan lebih sering dilihat sebagai sebuah “kondisi”, ketimbang sebuah “konsekuensi”. Sebagai kondisi, maka parameter yang digunakan untuk melihat kemiskinan adalah ukuran-ukuran yang statis, seperti kondisi tempat tinggal, jenis dan jumlah asupan gizi, tingkat pendapatan, tingkat kepemilikan aset, dan sebagainya. Kemiskinan merupakan “atribut negatif” dari ukuran-ukuran ini dalam suatu gradasi. Apa yang tidak tertangkap dari konstruksi semacam itu adalah bahwa kondisi kemiskinan, baik pada tingkat rumah tangga ataupun komunitas, memiliki sejarah dan dinamika yang berbeda-beda. Status dan kondisi kemiskinan boleh saja serupa pada, misalnya, berbagai komunitas adat terpencil. Akan tetapi, tanpa memahami berbagai proses yang membentuk kemiskinan dan ketimpangan, dan mekanisme-mekanisme sosial yang membuatnya terus bertahan dan berlanjut (bahkan dicipta kembali), maka penetapan level-level kesejahteraan maupun introduksi program-program pengentasan kemiskinan konvensional, tidak bakal dapat menjawab problem kemiskinan pada akar permasalahannya. (Mosse 2007).
2.4 Gerakan dan Perlawanan Petani
Sebelum mendefinisikan perlawanan dan gerakan, ada baiknya untuk mengupas sedikit tentang siapa yang di sebut dengan petani. Dan sebenarnya, perdebatan tentang petani sudah berlangsung lama baik dalam lingkup internasional maupun dalam negeri sendiri.34 Tentu saja terdapat ragam definisi
34
Dalam kajian di luar negeri, perdebatan mengenai definisi tentang petani sudah berlangsung lama (dekade pertengahan tahun 20-an). Ini dapat dilihat bagaimana pro dan kontranya para ilmuwan mengenai teori Chayanov yang terkenal dengan “The Theory of Peasant Economy”. Dalam kajian dalam negeri dapat dilihat semenjak awal berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan kajianilmiah tentang pemberontakan petani ini menjadi perbincangan pda tahun 1980-an, misalnya karya Sartono Kartodirjo tentang Pemberontakan Petani Banten tahun 1888. Dan memuncak perdebatan tentangnya pada saat kaum tani memiliki organisasi besar nasional, yaitu Barisan tani Indonesia (BTI) yang kemudian ‘berafiliasi’ pada Partai Komunis Indonesia, mesipun pada mulanya adalah organisasi yang terpisah dari PKI.
31
tentang kelompok yang disebut petani itu, sejak Wolf, Scott, Popkins, Shanin, Peige, Ellis, Wood dan seterusnya. Namun setidaknya jika hendak disajikan sebagian untuk menjadi rujukan dalam makalah ini, khususnya dalam rangka mencari letak relevansinya petani di Indonesia, penulis mengambil definisi dari dua tokoh; Amri Marzali (Antropolog) dan Sajogyo (Sosiolog), meskipun keduanya juga tidak imun dari rujukan tokoh-tokoh di atas.
Dalam pandangan Marzali35, terdapat tiga pendekatan untuk mendefinisikan petani yang coba dirangkumnya dari beberapa literatur, yakni:
pertama, petani adalah mereka -penduduk- yang mendiami pedesaan secara
umum, tidak peduli apapun pekerjaan mereka. Ilmuwan yang menganut pendekatan ini adalah Gillian Hart (1986), Robert Hefner (1990) dan Paul Alexander dan kawan-kawan (1991). Kedua, petani adalah penduduk pedesaan yang hanya bekerja di sektor pertanian sehingga penduduk desa yang tidak bekerja di sektor pertanian tidak dapat dikatakan sebagai petani36, dan ketiga, petani adalah mereka yang memiliki lahan pertanian, yang menggarap sendiri lahan tersebut dalam rangka menghasilkan produk dan produk itu digunakan untuk memenuhi keperluan hidupnya, bukan untuk di jual. Ilmuwan yang menganut pendekatan ini adalah Eric Wolf 37 dan Frank Ellis.
Ringkasnya, dari ketiga pendekatan di atas, Marzani mencoba merumuskan petani dalam proses perkembangan tingkat sosio-kultural masyarakat manusia dan sistem ekonominya. Menurut proses perkembangannya, petani terdiri dari tiga, yaitu: pertama, secara umum masyarakat petani berada di antara masyarakat primitif dan masyarakat modern, kedua, masyarakat petani adalah masyarakat yang hidup menetap dalam komunitas-komunitas pedesaan, dan
ketiga, dari sudut perkembangan mode of production, termasuk mata pencaharian
hidup dan tekno-logi peralatan, masyarakat petani berada pada tahap transisi antara petani primitif dan petani farmer.
35
. Amri Marzali dalam tulisan yang berjudul “Konsep Peisandan Kajian Masyarakat Pedesaan di Indonesia” diterbitkan oleh Journal Antropologi No. 54.
36
. Pendekatan kedua ini banyak dianut oleh para peneliti di Indonesia dan Malaysia, seperti: James C. Scott (1976) dan Wan Hashim (1984).
.37 Seorang ilmuwan yang berdisiplin ilmu antropologi. Bukunya yang terkenal berjudul “Petani: Suatu Tinjauan Antropologi” yang diterbitkan oleh CV. Rajawali, Jakarta.
32
Selain itu, berangkat dari dua sudut pandang yang berbeda berdasarkan sistem ekonominya. Marzali membagi dua pandangan ilmuwan yang berbeda satu sama lain acuannya. Pertama, berangkat dari pendapat Firth, Marzali mengatakan bahwa petani mengacu pada suatu sistem ekonomi yang khas yang memfokuskan pada sistem ekonomi petani, yaitu sistem ekonomi dengan teknologi dan keterampilan sederhana, sistem pembagian kerja yang sederhana, hubungan dengan pasar yang sangat terbatas, alat produksi dikuasai dan diorganisasikan secara non-kapitalsitik, skala produksi kecil, hubungan produksi lebih bersifat personal dan keagamaan lebih diutamakan dari pada aspek materi, dan seterusnya.38 Untuk para aktor-aktornya, petani yang dimaksudkan oleh Firth adalah seluruh masyarakat pedesaan di negara-negara sedang berkembang beserta sistem eknominya.39
Kedua, berangkat dari pendapat Wolf dan Ellis, Marzali mengatakan
bahwa petani setidaknya mengacu pada jenis mata pencaharian hidup yang khas. Wolf 40 berpendapat bahwa yang disebut petani adalah mereka yang masuk pada golongan petani pemilik-penggarap. Pendapat ini kemudian disempurnakan oleh Ellis yang berpendapat bahwa petani adalah rumah tangga petani yang hidup dari tanah milik sendiri dan dikerjakan sendiri, terkait kepada pasar secara partial, dan pasar tersebut tidak sempurna.
Sementara itu, Sajogyo berdasarkan studi empirik yang ia lakukan (Survei Agro Ekonomi/SAE), definisi petani cenderung kepada pendapat yang dikemukan oleh ilmuwan Antropologi, Ekonomi Moral (Scott), Marx dan Weber dengan beberapa unsur-unsurnya. Unsur-unsur tersebut, yaitu: pertama, petani adalah komunitas yang mempunyai pola budaya spesifik (antropologi), kedua, petani merujuk ke sifat ketergantungan sosial tinggi yang mencirikan komunitas petani,
ketiga, petani cenderung dekat dengan garis subsistensi (dahulukan selamat),
keamanan (security) dan kesejahteraan (welfare), keempat, petani adalah mereka– petani–yang menguasai dan memiliki tanah.41 Dari SAE yang dilakukan oleh
38
. Firth dalam Amri Marzali dalam tulisan yang berjudul “Konsep Peisandan Kajian Masyarakat Pedesaan di Indonesia” diterbitkan oleh Journal Antropologi No. 54.
39 Ibid.
40 Ibid.
41
MT Felix Sitorus et. al.(Penyunting), Menuju Keadilan Agraria: 70 Tahun Gunawan Wiradi, (Yayasan Akatiga: Bandung, Cetakan Pertama, 2002). hlm. 36.
33
Sajogyo dan beberapa pengertian petani di atas, Sajogyo membagi tiga lapisan sosial masyarakat petani di pedesaan Jawa, yaitu: petani kaya/pengusaha petani (kepemilkan lahan seluas 0,5-1 Ha dan di atas 1 Ha), petan gurem (kepemilikan lahan di bawah 0,5 Ha) dan buruh tani (tidak memiliki lahan sama sekali). Sedangkan dalam kajian Studi Dinamika Pedesaan (SDP), petani didefinisikan pada dua fokus, pertama, petani adalah pengusaha-pengolah tanah, dan kedua, petani adalah mereka-petani-yang menguasai/memiliki tanah.
Dari segi aktifitas, petani adalah orang yang terlibat langsung dalam proses cocok tanam dan membuat keputusan otonom tentang proses cocok tanam. Dalam formasi sosial dewasa ini yakni negara, pasar, dan masyarakat sipil, kelompok terakhirlah yang paling tidak memiliki kekuasaan. Diantara jumlah penduduk Indonesia yang paling banyak mengisi formasi sosial terutama kelompok masyarakat sipil dan yang paling tidak memiliki kekuasaan adalah kaum petani.
Sedangkan gerakan radikalisasi petani merupakan gambaran gerakan tindakan yang dilakukan oleh dan dengan cara-cara khas kaum petani. Tindakan perlawanan dan kekerasan dapat dilakukan karena beberapa asumsi antara lain, perasaan kecewa yang terakumulasi karena system yang dianggap tidak memberikan nilai keadilan. Dari ketidakadilan tersebut memunculkan kesenjangan sosial dan terakumulasi menjadi sebuah momen anarkis para pelaku kerusuhan, pendudukan, dan penguasaan. Model gerakan radikalisasi yang ditampilkan petani adalah model gerakan Perlawanan Nekad (meminjam istilah Anton Lucas), walaupun perlawanan mereka tergolong pasif namun seringkali juga menampilkan dengan model gerakan fisik dengan melakukan upaya-upaya menentang, pendudukan perusahaan, pengumpulan massa dengan jumlah ribuan orang.
Sejak peralihan zaman dari orde lama menuju orde baru dan reformasi, kaum petani merupakan sebuah kekuatan besar yang ngambang sehingga sangat sarat potensi sebagai komoditi politik. Pangan sebagai produksi petani merupakan komoditi politik dari rejim ke rejim pemerintahan di Indonesia. Dengan adanya kebijakan pemerintah yang jarang memihak petani, maka kondisi ini akan menciptakan potensi-potensi radikalisasi petani yang memungkinkan mengarah pada terjadinya revolusi oleh kaum petani. Dan kondisi-kondisi tersebut sangat
34
dipengaruhi oleh kesenjangan dan ketidakadilan kebijakan yang dilakukan oleh rejim penguasa yang ada. Banyak kasus-kasus yang tidak pula terselesaikan menyangkut eksisistensi diri sebuah komunitas, tentu saja dalam hal ini sangat merugikan petani. Dan fenomena-fenomena demikian menyulut, terkumpul dalam diri dan menjadi pilar-pilar perlawanan menjadi potensi radikalisasi petani menuju lahirnya revolusi kaum petani.
Kehadiran petani sebagai suatu komunitas mempunyai ciri-ciri dinamika yang tidak dapat disamakan dengan komunitas lainnya dalam masyarakat. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, dinamika petani sangat terkait dengan sistem ekonomi, sosial, budaya dan politik yang mereka anut dan sudah mejadi kepercayaan yang melekat. Sistem ekonomi petani secara khusus didefinisikan oleh Wolf dan Ellis yang mengatakan bahwa petani (peasant) memiliki arti yang khas yaitu petani subsis-tensi yang hidup dari usaha pengelolahan tanah milik sendiri.42 Petani dengan sosial-kutural, menurut Marzali, terdiri dari: (1) secara umum masyarakat
peasant berada di antara masyarakat primitif dan masyarakat modern; (2) peasant
adalah masyarakat yang hidup menetap dalam kominitas-komunitas pedesaan; dan
(3)peasant berada pada tahapan transisi antara petani primitif dan farmer.43
Sementara itu, dari dimensi politik penjelasan Kuntowijoyo dapat menjadi acuan yang baik. Kuntowijoyo mengatakan bahwa terdapat dua tesis untuk memahami keterlibatan politik dari petani, pertama, tesis yang menekankan adanya polarisasi masyarakat pedesaan yang susunan kelasnya terdiri atas tuan tanah dan petani penggarap, yang keduanya berada dalam kedudukan kesenjangan, dan kedua, tesis yang menekankan ketegangan kultural, yaitu antara mereka yang kuat agama (santri) dan yang tidak taat beragama (abangan).44
Pendapat Kuntowijoyo di atas, diperkuat dengan penelitian sejarah yang dilakukan oleh Kartodirdjo mengenai pemberontakan petani Banten. Menurutnya, pemberontakan petani Banten tidak hanya berkisar pada persoalan konflik ekonomi dari stratifikasi sosial tertentu, akan tetapi lebih dari itu, pemberontakan yang terjadi tidak lain merupakan suatu konflik sosial–budaya yang kemudian
42
. Wolf dan Ellis dalam Marzali, A., Konsep Peisan dan Kajian Masyarakat Pedesaan di Indonesia, Journal Antropologi No. 54, 1993.
43
. Marzali, Ibid, 1993.
44
35
berimbas kepada konflik politik/kekuasaan, yang akhirnya melahirkan sebuah pertarungan sosial antara stratifikasi sosial yang ada di masyarakat Banten saat itu.45
Untuk itu, fenomena konflik atau pemberontakan di atas, dari sudut pandang agraria, menurut Sitorus (2002) tidak dapat dipisahkan dengan struktur agraria, yang mana antara subyek atau pelaku (baca: petani) tidak dapat dipisahkan dengan obyek atau sumber-sumber agrariaya. Subyek agraria dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: (1) komunitas (sebagai satu kesatuan dari unit-unit rumah tangga); (2) pemerintah (sebagai representasi negara); dan (3) swasta
(private sector). Ketiga kategori sosial tersebut adalah pemanfaat sumber-sumber
agraria, yang memiliki ikatan dengan sumber-sumber agraria tersebut melalui institusi penguasaan/pemilikan (tenure institutions). Hubungan pemanfaatan tersebut menunjuk pada dimensi teknis, atau lebih spesifik dimensi kerja, dalam hubungan-hubungan agraria. Sekaligus dimensi kerja itu menunjuk pada artikulasi kepentingan-kepentingan sosial eko-nomi masing-masing subyeknya berkenaan dengan penguasaan/pemilikan dan pemanfaatan sumber agraria tersebut.46
Dalam ranah teoritik khazanah perlawanan petani dalam ruang lingkup gerakan sosial pedesaan dapat dikategorikan secara garis besar menjadi dua;
Pertama gerakan sosial pedesaan lama yang berbasis teori klasik petani. Kedua,
dapat dikategorikan sebagai kelompok teori Gerakan Sosial Pedesaan Baru (GSPB) dengan ciri-ciri tertentu. Untuk kategori gerakan social pedesaan lama sebagiman dirumuskan oleh beberapa teoritikus klasik (Shohibuddin, 2009) di antaranya; (1) Scott (1976/1979) menjelaskan ciri-ciri khusus Ekonomi Moral yaitu: Tatanan sosial yang didasari oleh tertib moral subsistensi yang memberikan jaminan keamanan subsistensi minimum. Dan Risk aversion sebagai karakter pokok masyarakat tradisional. Sehingga ciri Pemberontakan Petaninya adalah: a) Tatanan kolonialisme melahirkan: eksploitasi, diferensiasi sosial, dislokasi agraraia dan kemerosotan moral. b) Pemberontakan petani: respon niscaya untuk
45
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten: Kondisi, Jalan Peristiwa, dan Kelanjutannya. Sebuah Studi Kasus Mengenai Gerakan Sosial di Indonesia, Pustaka Jaya, Jakarta, 1984.
46
36
mengembalikan tatanan moral yang diporak-porandakan oleh penetrasi kapitalisme. (2) Popkin (1979) petani Rasional: a) Masyarakat tradisional yang ditandai solidaritas moral adalah ilusi.
Masyarakat pra-kapitalis tak kurang eksploitatif ketimbang kolonialisme. b) Para petani memiliki rasionalistas untuk memberikan tanggapan yang berbeda-beda atas kapitalisme yang menyediakan berbagai kesempatan yang berberbeda-beda-berbeda-beda. Perlawanan petani bukan bersifat restorative, tetapi: a) Petani melakukan perlawanan dalam upaya mencari jalan untuk mejinakan kapitalisme, lalu bekerja di dalam kapitalisme yang telah dijinakkan itu. b) Dalam upaya ini, para pemimpin gerakan dan elit sosial bertindak sebagai entrepreneur politik. (3) Paige (1975) Kepentingan kelas: a) Petani berada pada situasi nyata di dalam suatu proses produksi, misalnya organisasi dan struktur kerja, ekologi produksi dan lainnya. b) Inilah yang mendasari kepentingan kelas yang berbeda-beda yang tidak ada kaitannya dengan rasionalitas atau moralitas tindakan mereka. Ciri Ekonomi Moral masih melekat yang menimbulkan: a) Pemberontakan agraria dan bentuk-bentuk ekspresi perlawanan petani akan terjadi manakala: (i) suatu kelas penguasa tanah berkuasa melulu atas dasar penguasaan tanahnya, (ii) para petani dihambat kemungkinan mobilitas vertikal, (iii) kondisi kerja dan karakter pedesaan petani memungkinkan pembentukan solidaritas. b) Perlawanan petani itu, tergantung pada tipe struktur kelas agraria yang melingkupi, bisa mengambil bentukrebellion,labour reform movement, dan commodity reform movement.
Sedangkan kategori kedua, yang dapat dikategorikan sebagai kelompok teori Gerakan Sosial Pedesaan Baru umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut; (1) Webster (2004): a) Aksi kolektif pedesaan tidak lagi dapat disempitkan sekedar sebagai perjuangan-perjuangan petani. b) Garis batas spasial dari petani yang pernah ada telah diporak-porandakan oleh migrasi musiman; mobilitas petani generasi muda; diversifikasi dan komodifikasi produksi agraria; munculnya pola-pola konsumsi baru dengan berbagai implikasi budaya, sosial dan ekonomi yang menyertainya; dan tentunya, akses kepada bentuk-bentuk baru transmisi budaya dengan telivisi, radio, dan kadangkala juga, yang lebih mutakhir adalah internet. (2) Petras (1997): Suatu generasi baru pimpinan petani yang terdidik muncul dan berkembang lebih setahun belakangan ini dengan kemampuan
37
organisasi yang handal. Pemahaman yang canggih perihal politik internasional dan nasional serta komitmen untuk menciptakan sejumlah kader yang tangguh secara politik.”
(3) Fauzi (2005) ciri-ciri gerakan sosial pedesaan baru: a) Basis sosial gerakan adalah campuran antara unsur desa-kota, baik dalam arti fisik maupun dalam berbagai urat nadi, organ dan kegiatan gerakan; b) Kepemimpinan diisi oleh orang-orang dengan kemampuan intelektual yang mencengangkan, yang mampu menganalisa kombinasi hubungan yang relatif kompleks dari gejala lokal ke global, mikro ke makro, dan sebaliknya; c) Taktik-taktik utamanya sangat beragam dan mengisi banyak arena pertarungan; d) Posisi strategisnya umumnya “otonom” dari partai politik dan negara, tetapi memiliki kombinasi hubungan yang khas dengan ragam kekuatan gerakan sosial di sektor lain; e) Ideologinya tidak hanya menjawab diskriminasi kelas sosial, tetapi juga untuk menghadapi perkara identitas (ras/etnis/kebudayaan), ekologi dan jender; f) Daya jelajahnya kosmopolitan, yang utamanya ditandai oleh pembangunan solidaritas dan aksi global.
Dilihat dari konteks yang melahirkan dan menghadirkan perlawanan petani dari dua tradisi teori gerakan sosial pedesaan di atas menurut Fauzi (2008) dapat dibedakan menjadi dua kategori, pertama; bagi kelompok peneliti gerakan agraria seperti Peige (1975), Scott (1976), Popkins (1979) mencari konteksnya pada makro struktural yang mendorong pembentukan gerakan petani. Dengan caranya sendiri-sendiri mereka menekankan ekspansi kapitalisme barat yang imperalistik (imperialistic western capitalism) dan merosotnya hubungan
patron-client sebagai promotor pokok gerakan tani. Golongan kedua, merujuk pada
Moore (1966) dan dikembangkan lebih jauh oleh Wood (2003), menjelaskan bahwa konteks tersebut mesti dilihat dengan cara membedah lebih dulu bagaimana “proses modernisasi itu sendiri”, derajat dan bentuk yang khas dari komersialisasi dapat mempertinggi atau membuka kemungkinan terjadinya pemberontakan petani melawan kelas-kelas di atasnya. Dengan kata lain perbedaan dua golongan ini terletak pada perbedaan analisis tentang konteks
38
kemasyarakatan itu dan cara bagaimana perubahan kemasyarakatan itu dihadirkan.47