• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

2. Gerakan Literasi Sekolah

a. Pengertian Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menurut Kemendikbud (2016:3), merupakan seluruh upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca siswa. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran.

GLS menekankan pada kegiatan literasi yang mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Menurut Wiedarti (2016:7), GLS merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat

merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dan lain-lain), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan Literasi Sekolah diharapkan mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Gerakan Literasi Sekolah adalah suatu kegiatan yang melibatkan warga sekolah untuk meningkatkan kebiasaan membaca siswa di sekolah.

b. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah

Menurut Wiedarti (2016:5), tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah yaitu:

1) Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

2) Tujuan Khusus

b) Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan warga sekolah agar literat.

c) Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

d) Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

c. Tahap – tahapan Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah

Tahapan dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Hamid, 2016:28), adalah sebagai berikut:

1) Tahap ke-1

Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di sekolah dapat menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi siswa. Pada tahap pembiasaan, guru sebagai teladan membaca benar-benar diperlukan.

2) Tahap ke-2

Pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi. Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan.

3) Tahap ke-3

Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran. Dalam tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran).

d. Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah

Menurut Beers (Wiedarti, 2016:12), agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi ada beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah, yaitu:

Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik di seluruh area sekolah. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bacaan lain di sudut baca semua kelas, kantor, dan area lain.

2) Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat

Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran.

3) Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat

Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan tenaga kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.

e. Strategi Umum Gerakan Literasi Sekolah

Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Wiedarti, 2016:30), strategi umum Gerakan Literasi Sekolah adalah sebagai berikut:

1) Menggulirkan dan menggelorakan gerakan literasi di sekolah. 2) Menyiapkan kebijakan pimpinan dari pusat sampai daerah dengan program GLS yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan hingga ke tingkat satuan pendidikan.

3) Meningkatkan kapasitas sekolah untuk mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah, melalui:

a) sarana prasarana/lingkungan sekolah, perpustakaan, dan buku.

b) sumber daya manusia (pengawas, kepala sekolah, guru, pustakawan, komite sekolah).

4) Menyemai gerakan literasi akar rumput.

5) Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya GLS. 6) Memberikan apresiasi atas capaian literasi berupa pemberian

penghargaan literasi (Adiliterasi).

7) Melaksanakan monitoring dan evaluasi untuk peningkatan berkelanjutan bagi GLS.

f. 15 Menit Membaca

Menurut Pilgren (Antoro, 2017:34), pokok yang dihadapi guru agar siswanya gemar membaca tidak terletak pada durasi waktu membaca, melainkan frekuensi kegiatan membaca. Berapapun waktu yang dihabiskan siswa dalam satu kegiatan membaca bukanlah soal. Yang terpenting, siswa melakukan kegiatan membaca secara berulang-ulang dan setiap hari.

Tidak ada jaminan semua siswa punya waktu membaca di luar sekolah. Di rumah, mereka bisa saja sibuk bermain, bekerja membantu orang tua, atau menghabiskan waktu bersama

teman-temannya dengan melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan membaca. Lebih buruk lagi ketika mereka tidak punya teladan membaca di sekitarnya. Maka sekolah, bagaimanapun kondisinya, harus memberi waktu khusus kepada siswa untuk melakukan aktivitas membaca. Ada waktu resmi, yang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran di sekolah, khusus untuk membaca.

Alokasi 15 menit untuk membaca sebagaimana tertera dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, tidak perlu juga dimaknai sebagai durasi ideal untuk membaca. Lima belas menit adalah waktu minimal untuk membaca. Dengan paradigma tersebut, sekolah bebas menambah durasi membaca siswa. Guru di jam pelajaran pertama, misalnya, bisa menambah durasi membaca siswa dengan “memakan” alokasi jam mengajarnya. Kegiatan membaca secara reguler bertujuan untuk menanamkan kebiasaan membaca dalam diri siswa. Sehingga tidak relevan anggapan bahwa membaca cukup dilakukan sekian kali dalam seminggu asal jumlah waktu membacanya panjang. Lebih baik durasi membaca pendek namun sering dan berkala daripada durasi panjang tetapi jarang dilakukan.

Dokumen terkait