B. Rawat Inap
1. Gerakan Rumah Sakit Sayang Ibu Dan Bayi (GRSSIB)
Yaitu rumah sakit publik maupun privat, umum maupun khusus yang telah melaksanakan 10 langkah menuju perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.
Adapun 10 langkah menuju perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna menuju rumah sakit sayang ibu dan bayi meliputi:
a. Ada kebijakan tertulis manajemen yang mendukung pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD), pembelian ASI ekslusif dan indikasi yang tepat untuk pemberian susu pemula serta perawatan metode kanguru (PMK) untuk bayi berat lahir rendah.
b. Menyelenggarakan pelayanan termasuk edukasi dan koseling kesehatan maternal dan neonatal, serta konseling pemberian ASI.
c. Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta penanganan pada bayi baru lahir dingan inisiasi menyusui dini dan kontak kulit ibu dan bayi.
44Sumber Data : Dokumentasi RSUD Kol. Abunjani Bangko, Kab Merangin, pasilitas pelayanan RSUD Kol. Abunjani Bangko, diakses tanggal 09 Maret 2020
d. Menyelengarakan Pelayanan Obstetric Dan Neonatal Emergency Komperehensif (PONEK) selama 24 jam sesuai standar menimal berdasarkan tipe RS masing-masing.
e. Menyelengarakan pelayanan adekuat untuk nipas, rawat gabung, membantu ibu menyusui yang benar dengan cara mengajarkan cara posisi dan perletakan yang benar. Mengajarkan ibu cara memeras ASI bagi bayi yang tidak bisa menyusui lansung pada ibu dan tidak memberikan ASI perah melalui botol serta pelayanan neonatus sakit.
f. Menyelanggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina jejaring rujukan pelayanan ibu dan bayi dengan saran kesehatan yang lain.
g. Menyelanggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh kembang.
h. Menyelanggarakan pelayanan kesehatan keluarga berencana termasuk pencegahan dan penanganan kehamilan yang tidak diinginkan serta kesehatan reproduksi lainnya.
i. Menyelenggarakan audit medik di RS dan audit maternal dan perinatal kabupaten atau kota.
j. Memberdayakan kelompok pendukung ASI dalam menindak lanjut pemberian ASI ekslusif dan PMK.45
Kegiatan Unggulan Rumah Sakit sayang ibu dan bayi (RSSIB), meliputi : a. Melaksanakan Posyandu Binaan Dengan Pukesmas Bangko Barat
yaitu Posyandu Citra Merangin Desa Pulau Rengas.
b. Melaksanakan Posyandu Binaan Dengan Pukesmas Aurduri yaitu Posyandu Teratai Desa Sungai Ulak dan Posyandu SAD di Mentawak.
c. Pemberian sertipikat lulus ASI bagi ibu-ibu yang telah melaksanakan ASI ekslusif selama 6 bulan di setiap posyandu binaan.
d. Melaksanakan TOT (Tranfer Of Knowledge) kepukesmas setiap 3 bulan sekali koordinasi dengan Dinas Kesehatan.
e. Melaksanakan imunisasi dan pengobatan ke pemukiman SAD mentawak dan SAD jalan tran koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial.
f. Perawatan kasus tetanus neonatorum pada bayi SAD diruang perinatologi.
g. Melaksanakan IMD, ASI ekskusif, rawat gabung dan PMK bagi neonatus.
RSUD Kol. Abunjani Bangko mulai melaksanakan program rumah sakit sayang ibu dan bayi (RSSIB) sejak tahun 2007 serta sudah mengikuti perlombaan RSSIB seprovinsi Jambi.
Kegiatan rumah sakit sayang ibu dan bayi (RSSIB) ini sudah beberapa kali meraih penghargaan atau peringkat dalam perlombaan yang diadakan oleh dinas kesehatan setiap tahunnya.
Juara harapan 1 pada tahun 2014;
Juara III pada tahun 2016;
Juara I pada tahun 2017 dan 2018;
Sebagai rumah sakit percontohan RSSIB seprovinsi jambi pada tahun 2019;
Menjadi Narasumber pada pertemuan RSSIB di provinsi.46 2. Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Suku Anak Dalam (SAD)
Suku Anak Dalam (SAD) suatu suku kubu atau “Anak Rimba”
merupakan salah satu suku terasing (sekarang dikenal dengan subutan Kumunitas Adat Terpencil/KAT) yang ada diprovinsi jambi salah satunya di Kabupaten Merangin.
Jumlah SAD pada tahun 2018 yaitu sebanyak 1.174 jiwa dengan wilayah dengan wilayah persebaran di Kabupaten Merangin terbesar di 7 (tujuh) Kecamatan yaitu Kecamatan Bangko (44 jiwa), Kecamatan Bangko Barat (29 jiwa), Kecamatan Pemenang (301 jiwa), Kecamatan Tabir Selatan (324 jiwa), Kecamatan Nalo Tantan (334 jiwa), dan Kecamatan Tabir (36 jiwa).
Dalam hal pelayanan kesehatan, dapat dilihat masih kurangnya keinginan masyarakat SAD untuk beropat kefesilitas kesehatan karena salah satunya berkaitan dengan adat istiadat dari leluhur/nenek moyang mereka lebih percaya kepada benda-benda yang dianggap keramat, dan akses tempat tinggal SAD jauh dari alokasi pelayanan kesehatan dikerenakan kehidupan mereka tidak menetap/berpindah-pindah dari tempat satu ketempat lainnya (nomaden).
a. Kunjungan SAD (suku anak dalam)
Data kunjungan SAD di RS tahun 2017 – 2018, pada tahun 2017 yaitu sebanyak 82 orang (6,9%) dan pada tahun 2018 sebanyak 84 orang (7,1%) dari 1.174 jiwa jumlah penduduk Suku Anak Dalam yang ada di Kabupaten Merangin.
Data SAD yang mendapatkan pelayann kesehtan di RS dengan menggunakan SKTM tahun 2017 – 2018, pada tahun 2017 sebanyak 210 orang (17,8%) dan pada tahun 2018 sebanyak 243 orang (20,6%), dari jumlah kunjungan SAD yang mendapt pelayanan kesehatan di RSUD Kol.
Abunjani Bangko tahun 2017 dan tahun 2018 sebanyak 458 orang (38,5%) menurut data tersebut, data dilihat masih sedikit kesadran masyarakat SAD untuk berobat kefasilitas pelayanan kesehatan.
b. Inovasi peningkatan pelayanan kesehatan bagi Suku Anak Dalam (SAD) Berdasarkan hal tersebut diatas dapat dilihat masih sedikit keinginan masyarakat SAD untuk berobat atau mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit, maka dengan itu terciptalah gagasan inovasi oleh RSUD Kol.
Abunjani Bangko yakni Layanan Kesehatan PrimaSuku Anak Dalam atau disingkat LESEHAN MAS ALAM salah satu untuk mengatasi permesalahan hal tersebut.
Berdasarkan UUD 1945 bab XA Hak Azazi Manusia Pasal 28H Ayat 1 disebutkan setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan NAWA CITA (sembilan
harapan/kengingan) yang tertera pada visi misi Presidendan Wakil Presiden Republik Indonesia yaitu membangun indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam rangka negara kesatuan.47
Maka dari itu RSUD Kol. Abunjani Bangko yang merupakan salah satu pelayanan kesehatan pada masyarakat yang ikut mendukung hal tersebut dengan adanya pembangunan kesehatan yang layak untuk Komunitas Adat Terpencil (KAT)/Suku Anak Dalam (SAD) dalam Pelayanan Kesehatan (tersedianya gedung khusus untuk Suku Anak Dalam, pembinaan posyandu khusus SAD, Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis bagi Suku Anak Dalam ).
Dengan adanya pembangunan serana dan praserana khususteruntuk Masyarakat Suku Anak Dalam di fasilitas kesehatan khususnya di RSUD Kol. Abunjani Bangko menjadi tolak ukur kemajuan dan keinginan masyarakat Suku Anak Dalam untuk berobat ke Rumah Sakit Kol.
Abunjani Bangko. Fasilitas yang RSUD Kol. Abunjani Bangko berikan yaitu Pelayanan Kesehatan 24 jam, ruangan yang tersendiri dengan pelayanan yang sama dengan masyarakat pada umumnya, mobil ambulance, pojo gizi, dll.
Upaya lain yang dilakukan oleh RSUD Kol. Abunjani Bangko selain Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit, juga dilakukan Pelayanan Kesehatan promotif dan preventif melalui posyandu yang dilaksanakan
setiap satu bulan sekali, kuratif melalui pengobatan gratis yang dilakukan pada saat posyandu tersebut, termasuk pelayanan KB, pemeriksaan kehamilan dan Imunisasi (bekerja sama dengan lintas sektor : KB, Dinkes/Pukesmas, Dinsos).48
48Sumber Data : Dokumentasi Profil RSUD Kol. Abunjani Bangko, diakses tanggal 09 Maret 2020
BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Penerapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Kawasan