• Tidak ada hasil yang ditemukan

Globalitas dan Lokalitas bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan tetapi mereka saling melengkapi

Dalam dokumen PETA METODE DESAIN. Agustinus Sutanto (Halaman 188-193)

BAHAN DAN SISTEM BANGUNAN REPRESENTASI DATA GAMBAR

5. Globalitas dan Lokalitas bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan tetapi mereka saling melengkapi

Lokalitas dapat dianggap sebagai kondisi yang dapat `menahan` laju globalisasi, tetapi posisi lokalitas yang menghadapi gempuran harus dapat muncul sebagai identitas yang menjaga keseimbangan kondisi yang saling berhadapan.

Kedua kondisi ini bergerak secara serentak. Proses globalisasi yang membingkai hampir seluruh dunia ini melalui produk kapitalnya telah menembus batas geografi fisik dan nir fisik dan tentunya telah merambah, memasuki serta merebut ruang publik, karenanya diperlukan Keseimbangan, dimana yang global men-print mesin-mesin kapitalis sedang yang lokal mem- print komunitas.

Dari lima poin penting ini, posisi lokalitas memiliki kompleksitas tinggi karena berhubungan dengan berbagai kondisi seperti menelaah sejarah dalam konteks waktu, atmosfir sebuah tempat, membuka diri terhadap teknologi, pengguna sebagai agen keruangan dan menyiasati globalitas sebagai bagian perkembangan.

182 Sebagai contoh, Villa Mairea karya Alvar Aalto ini, mencoba membangun lokalitas dalam tampilan keseluruhan konfigurasi keruangannya. Perpaduan antara material lokal dan modern, pedesaan dan elegan, regional dan universal pada waktu yang bersamaan. Penggunaan bahan material lokal dan modern dimaksimalkan sebagai surface bangunan untuk memberikan kesan elegan. Bangunan ini secara menyeluruh terpadu dari berbagai kejutan dan `keganjilan`, keseluruhan tampil tegas untuk membangun atmosfer `kelokalan` yang konsisten.

Ilustrasi :Villa Mairea karya Alvar Aalto

Contoh lainnya adalah Jean-Marie Tjibaou Cultural Center karya Renzo Piano yang menekankan pengaruh tempat, lokasi dan lingkungan sebagai penentu desain dan kinerja. Konsistensi bentuk adalah menegosiasikan perpaduan metode konstruksi tradisional dan profil dematerialisasi meruncing yang indah memainkan tekstur pohon-pohon di sekitarnya. Mengambil inspirasi dari ikatan mendalam orang Kanak dengan alam, proyek berusaha untuk memenuhi dua tujuan utama: satu adalah untuk mewakili bakat Kanak untuk membangun, dan yang lainnya adalah penggunaan bahan-bahan modern seperti kaca, aluminium, baja dan teknologi cahaya modern. bersama dengan kayu dan batu yang lebih tradisional.

Ilustrasi : Jean-Marie Tjibaou Cultural Center by Renzo Piano (1998)

183 Dibawah ini, adalah beberapa karya dari Eko Prawoto dimana penulis tidak membahas karya tersebut satu persatu tetapi mengambil hal-hal penting dari apa yang dilakukan oleh arsitek Eko Prawoto terutama mengacu (dengan tambahan beberapa pemikiran penulis) pada buku Arsitektur Untuk Kemanusiaan – Teropong Visual Culture atas Karya-Karya Eko Prawoto. Buku ini adalah sebuah buku yang berisi perjalanan intelektual seorang mastro arsitek Indonesia – Eko Prawoto. Sang pengarang, Galing Widjil Pangarsa, yang juga teman kuliahnya di UGM, telah menuturkan penelaahan yang dalam dari berbagai segi mulai dari pemikiran yang sangat sederhana sampai kajian yang perlu telaah filosofis dan penguasaan teoritikal yang mendalam terhadap karya Eko Prawoto. Buku ini, adalah sebuah buku tentang apresiasi Eko Prawoto, terhadap apa yang pernah diungkapkan oleh Oscar Niemeyer bahwa tugas terberat arsitektur adalah membuat kebaikan.

Rumah Eko Prawoto :

Sumber Foto : http://antariksagallery.blogspot.com/2017/05/rumah-kediaman-arsitek-eko- prawoto.html

184 Prof. Josef Prijotomo dalam pengantarnya Buku Arsitektur Untuk Kemanusiaan – Teropong Visual Culture atas Karya-Karya Eko Prawoto, memulai dengan membentangkan perbedaan belahan bumi, antara yang empat musim dan dua musim. ‘Dunia’ empat musim itu adalah arsitektur Barat dan ‘dunia’ dua musim itu adalah arsitektur Nusantara. Yang empat musim itu perlindungan dan yang dua musim itu adalah perteduhan – dua yang manunggal. Bagi Josef, Eko Prawoto telah mampu menempatkan arsitektur perlindungan dan perteduhan dalam daya yang kritis dengan membangun: “bagaimana berpikir dan membuat.”

Galih Widjil Pangarsa, pengarang buku ini, mencoba menempatkan metoda visual culture sebagai cara bagaimana Eko Prawoto membahasakan arsitekturnya. Metode Visual Culture yang dilakukan oleh Eko Prawoto, adalah sebuah metoda untuk melihat – memahami (`seeing`) serta merencana – merancang – menggambarkan – menyajikan (`making – showing`) kembali. Melihat – memahami (`seeing`) apa? Melihat – memahami kehidupan keseharian dari sebuah kondisi keruangan dari formasi sosial masyarakat lokal – Nusantara. Merencana – merancang – menggambarkan – menyajikan (`making showing`) apa? Menguasai arti keseharian dari formasi sosial masyarakat lokal dan meruangkannya dalam arsitektur. Di sinilah lokalitas versi Eko Prawoto dibangun dan dicuatkan – lokalitas yang berdasarkan keseharian.

Proses rekonstruksi rumah warga pasca gempa (2006) di Desa Ngibikan, Bantul, Yogyakarta

Eko Prawoto yang menamakan arsitekturnya sebagai “arsitektur kampungan” telah membentangkan sebuah diskursus yang ketat untuk memahami realitas kampung sebagai ide membahasakan sebuah objek yang kita namakan arsitektur. Eko Prawoto menggambarkan bahwa: “Bagi saya kampung itu terhormat, karena kampung sangat inspiratif. Saya sering keliling kampung untuk melihat ide-ide. Bagaimana arsitektur (kampung adalah arsitektur) yang sangat dekat dengan kehidupan, bisa menjawab persoalan. Di situ ada kehangatan, kreativitas, kejujuran, dan (tentu) tentang manusia.” Kelihatannya Eko Prawoto percaya bahwa kampung memiliki bahasanya tersendiri – marginal `aesthetic architectural language` – bahasa arsitektur pinggiran. Justru bahasa ini adalah bahasa yang tidak dimiliki tempat-tempat lainnya – kampung adalah genius loci nya kita semua.

Arsitektur Eko Prawoto – yang lokal itu berbeda dengan arsitekturnya Frank Gehry – Zaha Hadid ataupun Peter Eisenman. Nafas dan bahasanya unik karena ide-ide ruangnya dilahirkan atas realitas keseharian. Eko Prawoto adalah Lefebvre-nya arsitektur Indonesia. Eko yang sangat ‘sosialis’ dan ‘against the trend’

mengungkapkan: “... yang terpenting bukanlah debat aspek keruangan ‘lokal-global’, bukan pula debat aspek temporal ‘tradisional-modern’. Tetapi bagaimana menjadikan arsitektur sebagai wujud upaya bersama untuk keluar dari jebakan pengkerdilan dan penghancuran benih sifat kemanusiaan.” Eko telah menempatkan fitrah kemanusiaan sebagai hal yang paling hakiki dalam membahasakan arsitekturnya.

185 Bagaimana kita membahasakan arsitektur yang lokal? Pendapat Eko Peawoto sangat jelas bahwa ada beberapa aspek penting: Pertama, arsitektur bukanlah suatu entitas yang lepas dan mandiri, keberadaannya haruslah menjadi satu kesatuan integral dengan sekitarnya baik secara sosial, spatial, maupun lingkungan.

Kedua, berarsitektur adalah membuat desain terbuka atau ‘open ending’, dan itu merupakan perwujudan nilai-nilai dan sikap menghargai ekspresi identitas budaya sebagai cerminan nilai-nilai transeden. Eko mengajak kita untuk bersifat bahwa kearifan lokal sebetulnya hendak mengajarkan tentang bagaimana

‘membaca’ potensi alam dan ‘menuliskannya’ kembali sebagai tradisi gubahan arsitektur.

Rumah Butet Kartaredjasa di Jogjakarta

Bila para star architects seperti Frank Gehry, Zaha Hadid, Peter Eisenman, dkk., yang lebih menempatkan hasil yang progresif dalam berkreatifitas, maka bagi Eko Prawoto “kreativitas adalah perjalanan panjang pencarian, kreativitas dalam desain adalah wujud ‘pencarian’, hasilnya selalu relatif terhadap persoalan desain... Posisi proses sederajat dengan hasil. Belajar arsitektur mesti berimbang antara mempelajari hasilnya dan mempelajari prosesnya.” Eko Prawoto berpendapat bahwa proses mempelajari keseharian – mem-visual-culture-kan sebuah keseharian adalah ide untuk menghasilkan arsitektur, yang harus berjalan:

terkadang linear – bolak balik atau loncat meloncat bahkan ‘fraktal’ untuk menjadi part and whole relationship dari proses dan akhir.

Eko Prawoto mengungkapkan bahwa “merancang arsitektur adalah keterpaduan aktivitas intelektual dan spiritual sekaligus.” Yang intelektual itu programming dan yang spiritual itu adalah intuisi. Desain itu seperti manusia, lahiriah dan batiniah, intelektual dan spiritual. Kedua perpaduan ini mirip `yin` dan `yang` serta pada akhirnya harus dapat mencapai keseimbangan bagi kehidupan manusia. Eko Prawoto di sini melihat bahwa arsitektur itu adalah sebuah keseimbangan tentang bagaimana kita menempatkan programming dan intuisi berjalan seiring – bahasa arsitektur adalah tentang ‘keseimbangan’ keduanya, yang terbentang bagi kegunaan umat manusia.

Melihat apa yang dikonsepkan dan dibangun oleh rekan Eko Prawoto, sangat kuat dan jelas sekali bahwa bangunan bukan sekadar bangunan – building is not building. Ada tiga kekuatan yang tertampilkan dalam karyanya: (1) bangunan adalah benar sebuah ‘dwelling’ / cara berhuni. (2) Dwelling / cara berhuni telah diangkat sebagai manifestasi ‘ada’nya manusia di bumi. (3) Bangunan sebagai ‘dwelling’ tidak hanya terpaku sebagai bangunan yang tumbuh sebagai komposisi geometris, bangunan tumbuh sebagai konsekuensi logis terhadap kondisi sosial dan lingkungan di mana bangunan itu menjadi ‘ada’.

186 Melalui rangkaian diskusi tentang lokalitas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa lokalitas adalah sebuah cara berpikir dan bertindak yang mengedepankan aspek-aspek sejarah, tempat, teknologi, pengguna, dialog globalitas, identitas, tektonik-material, formasi sosial, dwelling serta fenomena. (as)

Diagram cara berpikir dari Lokalitas SEJARAH

TEMPAT

TEKNOLOGI

PENGGUNA

GLOBALITAS

IDENTITAS

Dalam dokumen PETA METODE DESAIN. Agustinus Sutanto (Halaman 188-193)