LANDASAN TEORI A. Pengertian Zakat Fitrah dan Dasar Hukumnya
C. Golongan yang berhak menerima Zakat fitrah
Orang-orang yang berhak menerima zakat terbagi atas delapan golongan, sebagaimana yang diterangkan di dalam al-Quran:
Artinya: “ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q.S at-Taubah: 60).
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa orang-orang yang berhak
menerima zakat ada delapan golongan sebagai berikut:
a. Fakir miskin
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat at-Taubah, yang pertama dan kedua yang menjadi sasaran zakat adalah fakir dan miskin.
Mereka itulah yang pertama diberi saham harta zakat oleh Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa sasaran pertama zakat ialah hendak menghapus kemiskinan dan kemelaratan dalam masyarakat Islam. Dalam mendefinisikan fakir dan miskin, ada beberapa pendapat ulama yaitu:
1) Pendapat Abu Hanifah mereka ada,akan tetapi untuk memenuhi kebutannya tidak mencukupi, maka golongan ini boleh diberi zakat fitrah.
Jadi golongan mustahiq zakat dalam arti fakir dan miskin menurut mereka adalah:
a) Yang tidak punya apa-apa
b) Yang mempunyai rumah, barang atau perabot yang tidak berlebihan.
c) Yang memiliki mata uang kurang dari senisab.
d) Yang memiliki kurang dan senisab selain mata uang. seperti empat ekor unta atau tiga puluh sembilan ekor kambing yang nilainya tak sampai dua ratus
55 Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), hal. 625
dirham. mempunyai mata pencarian yang halal atau ia mempunyai harta dan mata pencarian yang halal yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya.
Sedangkan miskin adalah orang yang mampu mendapatkan harta atau mata pencarian yang halal yang dapat memenuhi separuh dari kebutuhan hidupnya secara umum”
3) Pendapat Imam Malik
كلمي لا نم وه نيكسملاو ,ماعلا ةيافك نم لاملا نم كلمي نم وه ريقفلا لاصأ أيش
57
Artinya: “Fakir adalah orang yang mempunyai harta kurang memenuhi kebutuhannya secara umum, miskin adalah orang yang tidak memiliki sesuatu apapun” bisa memperoleh sebagian dari kebutuhannya atau lebih banyak”
Dari pendapat ulama di atas terlihat bahwa Imam Syafi’i dan Imam Hambali menyatakan bahwa fakir lebih kekurangan daripada miskin. Sebaliknya golongan Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa miskin lebih kekurangan daripada fakir.
Dalam masalah ini penulis lebih cenderung kepada pendapat Syafi’i dan
56 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 620
57 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 620
58 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 622
Hambali yang menyatakan bahwa golongan fakir lebih kekurangan daripada golongan miskin, karena orang fakir tidak mempunyai mata pencarian sama sekali, sedangkan miskin mereka mempunyai mata pencarian namun tidak mencukupi.
Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa yang berhak mendapat zakat atas nama fakir miskin adalah salah satu dan tiga golongan yaitu:
1) Mereka yang tidak punya harta dan usaha sama sekali.
2) Mereka yang punya harta atau usaha tapi tidak mencukupi dirinya dan keluarganya, yaitu penghasilannya tidak memenuhi separuh atau kurang dan kebutuhan.
3) Mereka yang punya harta atau usaha yang hanya dapat mencukupi separuh atau lebih kebutuhan untuk diri dan tanggungannya, tapi tidak buat seluruh kebutuhan.59
b. Amil
Mustahik ketiga yang menjadi sasaran zakat setelah fakir miskin adalah amil zakat. yang dimaksud Amil zakat adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat yang bertugas untuk mengumpulkan dan mengelola zakat, amil zakat ditunjuk dan diangkat oleh penguasa atau pemerintah setempat.60
Amil zakat yang dimaksud disin yaitu mreka yang bertugas mengumpulkan, mengelola dan mendistribusikan kepada yang berhak
59 Yusuf al-Qardhawi, Fiqh Zakat, …, hal. 514
60 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal.546
untuk menerima zakat.
Perhatian al-Qur'an dengan nashnya terhadap kelompok ini menunjukkan bahwa zakat dalam Islam bukanlah suatu tugas yang hanya diberikan kepada seseorang, tetapi juga tugas negara. Negara wajib mengatur dan mengangkat orang-orang yang bekerja dalam urusan zakat yang terdiri dan pengumpul, penyimpan, penulis, penghitung dan sebagainya.61
Tugas amil adalah sebagai berikut:
1) Pergi mengumpulkan atau memungut zakat dari orang-orang yang telah memenuhi syarat untuk membayar zakat.
2) Menerima zakat yang telah diberikan.
3) Membagi atau menyampaikan kepada yang berhak menerimanya.
4) Memeliharanya atau menjaganya.
Amil zakat memegang peranan sebagai pengelola zakat, sehingga dengan itu diharapkan adanya penyaluran zakat secara merata kepada yang berhak menerimanya, baik yang tinggal di perkotaan maupun yang tinggal di pedesaan terpencil. Jika zakat dikelola oleh para masing- masing wajib zakat, dikhawatirkan adanya penumpukkan zakat kepada satu pihak saja.
Oleh karena begitu besarnya fungsi amil maka wajar jika amil berhak menerima zakat.62
Syarat seseorang dapat diangkat menjadi amil zakat adalah sebagai berikut:
61 Yusuf al-Qardhawi,Hukum Zakat, …, hal. 545
62 Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, …, hal. 624
1) Hendaklah ia seorang muslim
Zakat itu urusan kaum muslimin, maka Islam menjadi syarat bagi segala urusan mereka. Ibnu Qudamah berkata: Setiap pekerjaan yang memerlukan amanah (kejujuran) hendaknya disyaratkan Islam bagi pelakunya seperti menjadi saksi. Karena itu urusan kaum muslimin maka pengurusannya tidak dapat diberikan kepada orang kafir.
2) Hendaklah dia seorang mukallaf
Yaitu orang dewasa yang sehat akal fikirannya.
3) Petugas zakat itu hendaklah orang jujur
Amil diamanahi harta kaum muslimin.oleh karena itu tidak boleh petugas zakat itu orang fasik lagi tidak dapat dipercaya, karena ia akan berbuat sewenang-wenang terhadap hak fakir miskin dengan mengikuti keinginan hawa nafsunya atau untuk mencari keuntungan.
4) Memahami hukum-hukum zakat
Para ulama mensyaratkan petugas zakat itu paham terhadap hukum zakat, apabila ia diserahi urusan umum. Sebab bila ia tidak mengetahui hukum tidak mungkin mampu melaksanakan pekerjaannya, dan akan lebih banyak berbuat kesalahan.
5) Kemampuan untuk melaksanakan tugasnya
Petugas zakat hendaklah memenuhi syarat untuk dapat melaksanakan tugasnya, dan sanggup memikul tugas itu. Kejujuran
saja belum mencukupi bila tidak disertai kekuatan dan kemampuan untuk bekerja.63
c. Muallaf
Muallaf adalah mereka yang diharapkan kecenderungan hatinya atau keyakinannya dapat bertambah terhadap Islam, atau terhalangnya niat jahat mereka atas kaum Muslimin, atau harapan akan adanya kemanfaatan mereka dalam membela dan menolong kaum muslimin dan musuh.
Dengan menempatkan golongan ini sebagai sasaran zakat, maka sangat jelas, sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa zakat dalam pandangan Islam bukan sekedar perbuatan baik yang bersifat kemanusiaan saja dan bukan sekedar ibadah yang dilakukan secara pribadi, tetapi juga merupakan tugas penguasa atau mereka yang berwenang untuk mengurus zakat, terutama permasalahan sasaran zakat untuk golongan muallaf ini, yang menurut kebiasaan tidak mungkin dapat dilakukan secara perorangan. Penguasa atau mereka yang mempunyai kedudukan itulah yang mempunyai kesanggupan untuk menetapkan ada tidaknya kebutuhan terhadap kelompok muallaf ini dan penentuan kriteria serta pemberian kepada mereka sesuai dengan kemaslahatan Islam dan kebutuhan kaum Muslimin.64
Para fuqaha membagi mereka atas golongan muslim dan kafir, dari golongan muslim ada 4 macam yaitu:
63 Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat,....hal 55
64 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 552
1) Golongan yang diharapkan keislaman kelompok serta keluarganya.
2) Para pemuka muslimin yang beriman lemah tetapi ditaati oleh anak buahnya, dengan memberikan zakat diharapkan akan bertambah ketetapan hati dan kekuatan iman mereka.
3) Kelompok muslimin yang berada di benteng-benteng danperbatasan dengan negara musuh mereka memperoleh bagian dengan mengharapkan perjuangan mereka untuk mempertahankan kaum muslimin yang berada di garis belakang.
4) Segolongan kaum muslimin yang diperlukan untuk memungut pajak dan zakat, menariknya dan golongan orang-orang yang enggan menyerahkannya kecuali dengan pengaruh dan wibawa mereka.
Dengan demikian dapat dipahami bahwasanya seorang muallaf yang muslim mendapatkan zakat supaya mereka tetap teguh pendirian terhadap agama Islam.
Dapat penulis simpulkan bahwasanya seorang yang muallaf itu orang yang masih lemah keyakinannya terhadap islam, dengan adanya pemberian zakat untuk mereka diharapkan akan bertambah ketetapan hati dan kekuatan iman mereka. s
Mengenai orang-orang kafir mereka ada dua golongan yaitu:
1) Dengan diberikan zakat, diharapkan agar mereka beriman seperti Syahwan Ibn Umayah yang telah diberi keamanan oleh nabi Muhammad SAW sewaktu penaklukan Mekkah, dan diberi tangguhan selama empat bulan agar ia dapat berfikir dan
menentukan pilihan yang terbaik buat dirinya.
2) Orang yang dikhawatirkan akan berbuat bencana, sehingga dengan diberi zakat hal itu dapat dihindarkan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa yang di katakan muallaf ada dua kemungkinan, pertama golongan muslim dengan diberi zakat diharapkan akan mantap hati dan keyakinannya terhadap Islam, kedua orang kafir yang dibujuk hatinya supaya dia mencintai Islam sehingga diharapkan mereka dapat memeluk agama Islam.65
Mengenai muallaf ini ada yang berpendapat bagian muallaf ini sudah tidak ada lagi dengan dua alasan yaitu:
1) Adanya nasakh hukum. Nasakh dalam hal ini adalah ijma’ sahabat bahwa pada masa sahabat tidak ada mengeluarkan zakat fitrah untuk muallaf
2) Bahwa tetapnya hukum ta‘lif (pembujukan) yang berarti adanya kebutuhan pada golongan muallaf Akan tetapi dengan tersebar luasnya Islam, hilanglah kebutuhan itu. Pemberian yang dilakukan dulunya adalah untuk memperkuat kedudukan Islam sedangkan Allah SWT telah memperkuat kedudukan Islam itu sendiri sehingga tidak membutuhkan mereka lagi.66
Pendapat di atas dibantah dengan beberapa alasan:
1) Membatalkan adanya nasakh, karena nasakh berarti membatalkan hukum yang disyariatkan Allah SWT, karena yang berhak
65 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 563
66 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 571
membatalkan hukum tersebut tiada lain adalah Allah SWT melalui wahyu yang di sampaikan kepada Rasul-Nya, oleh karena itu tidak ada nasakh kecuali pada zaman Rasulullah SAW.
2) Adapun pendapat mereka yang menyatakan bahwa kebutuhan untuk melunakkan hati terhadap Islam terhenti dengan sebab tersebar dan tegaknya Islam di atas agama lain, maka sebenarnya pendapat ini tidak benar dengan tiga alasan sebagai berikut:
a) Bahwa alasan memberi zakat pada golongan muallaf, bukan menolongnya untuk kepentingan kita, sehingga akan hilang bagiannya apabila Islam telah kuat dan tersebar, akan tetapi agar ia cenderung dan cinta terhadap Islam, sehingga selamat dari api nereka.
b) Pernyataan lenyapnya bagian muallaf didasarkan pada suatu kelompok yang menyatakan, bahwa menarik hati tidaklah ada, kecuali ketika Islam dan umatnya masih lemah, sementara kelompok lain mensyaratkan bahwa muallaf itu haruslah orang fakir yang membutuhkan. Semua ini merupakan syarat terhadap nash yang mutlak tanpa alasan, serta bertentangan dengan hikmah syara’. Padahal pada masa sekarang ini, kita melihat negara-negara kuat menarik negara-negara kecil dan koloni tertentu.67
Imam At-Tabari mengeluarkan pernyataan menyangkut masalah ini. Ia
67 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 562
berkata” sesungguhnya Allah SWT itu telah menempatkan zakat itu pada dua tujuan. Pertama menutupi kebutuhan kaum muslimin, kedua sebagai sarana untuk memperkuat Islam”68
Dalam rangka memenuhi tujuan memperkuat Islam, maka zakat itu diberikan kepada muallaf dengan tujuan untuk kemaslahatan bagi dirinya, menambah kekuatan dan keyakinannya pada Islam. Nabi pernah memberikan zakat pada golongan muallaf setelah Allah SWT memberikan kemenangan padanya, dan setelah Islam serta pemeluknya berada dalam posisi yang kuat. Oleh karena itu tidak ada alasan apapun bagi seseorang untuk menyatakan bahwa saat ini tidaklah dibutuhkan lagi menarik hati terhadap Islam, karena Islam sudah banyak pemeluknya, karena Nabi sendiri telah melakukan itu dalam keadaan Islam sudah tersebar.
c) Keadaan kini sudah berubah, dunia sudah berputar dimana kaum muslimin tidak lagi memimpin dunia, bahkan Islam kini dipandang aneh, sebagaimana ia datang pada permulaannya.
Umat Islam diperebutkan oleh umat-umat lain, seperti memperebutkan makanan yang ada di meja makan. Di dalam hati kaum muslimin ditimpakan perasaan lemah dan takut, dan apabila keadaan lemah ini merupakan alasan diperbolehkannya menarik hati dan diperbolehkannya memberi zakat pada golongan muallaf, maka sebenarnya kondisinya sudah terjadi, dengan demikian maka boleh memberi zakat kepada golongan
68 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 579
muallaf.69
Apabila bolehnya para muallaf diberi zakat masih tetap berlaku, maka bagaimana sekarang, dan kepada siapa harus diserahkan bagian tersebut?Sebenarnya jawaban terhadap masalah ini sudah jelas, karena tujuan sebenarnya zakat diberikan kepada muallaf adalah untuk merangsang adanya kecenderungan dan memantapkan hati orang terhadap Islam.
Dalam buku Fiqh Zakat karangan Yusuf Qardhawi, Rasyid Ridha berpendapat yang paling utama untuk ditarik (diberi bagian muallaf) pada zaman kita sekarang adalah kaum muslimin yang digoda oleh kaum kafir agar masuk dalam kekuasaannya atau masuk agamanya. Kita pun melihat adanya penjajah yang memperbudak kaum muslimin, dan berusaha memurtadkan mereka. Mereka pun mengkhususkan diri mengeluarkan sebagian harta negara untuk golongan muslimin yang muallaf ini dan ada pula di antara mereka yang menarik umat Islam untuk menjadi Nasrani atau keluar dan Islam, diantara mereka ada juga yang berusaha untuk menarik kaum muslimin agar masuk ke dalam kekuasaannya, atau harapan untuk menghancurkan pemerintahan dan persatuan Islam.70
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa tidak ada nash yang menghapus bagian golongan muallaf ini, untuk zaman sekarang bagian muallaf diserahkan kepada kaum muslimin yang digoda hatinya oleh kaum kafir sehingga melemahkan keyakinan terhadap Islam,
69 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 580
70 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 587
sehingga dengan diberikan zakat diharapkan untuk menambah berfirman: ”dalam memerdekakan budak,” ini berarti zakat harus dipergunakan untuk membebaskan budak dan membebaskan segala bentuk perbudakan.71
Cara membebaskan bisa dilakukan dengan dua hal:
1) Menolong hamba mukhattab, yaitu budak yang telah ada perjanjian dan kesepakatan dengan tuannya, bila ia mempunyai harta sejumlah yang disepakati, maka bebaslah ia.
Allah SWT telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk memberikan kesempatan pada hamba-hamba-Nya untuk memerdekakan diri, bila ia menghendaki. Sebagaimana Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk memberikan pertolongan kepada mereka dalam memenuhi segala tuntutan yang diperlukan.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah an-Nuur ayat 33:
71 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 583
perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah SWT yang dikaruniakan-Nya kepadamu …” (QS. an-Nuur: 33)
Mayoritas ulama menambahkan bahwa budak mukhattab yang berhak untuk mendapatkan pertolongan adalah yang tidak mampu menyelesaikan sebagian kewajibannya (tanggungan) terhadap majikan atau pemilik. Kemudian Allah SWT menetapkan bagian buat mereka dan harta zakat, untuk membantu mereka dalam membebaskan diri dan memenuhi segala yang dibutuhkan mereka.72
2) Seseorang dengan harta zakat yang dimiliki, atau seseorang bersama temannya membeli seorang budak kemudian membebaskannya. Atau penguasa membeli seorang budak dan harta zakat yang diambilnya.
Pada zaman sekarang tidak ada lagi ditemukan yang namanya budak, kalau sekarang dikenal yang namanya pembantu rumah tangga, itu sangat berbeda dengan apa yang dikatakan dengan budak. Budak merupakan harta yang dimiliki tuannya,
72 Abu Malik Kamal Bin As- Sayyid Salim, Sahahih Fikih Sunnah, (Jakarta: Pustaka Azzam 2007) hal 111
sehingga tuannya bisa bertindak apa saja terhadap budak ini karena dia dianggap harta yang dimiliki tuannya. Sedangkan pembantu yang dikenal sekarang, mereka bekerja dengan mendapat upah dari tuannya, dan tuannya tidak boleh sewenang- wenang terhadap pembantu, karena adanya undang-undang hak asasi manusia yang melindungi pembantu tersebut, sehingga ketika dia mendapat perlakuan yang tidak baik, maka tuannya tadi dapat dijerat hukuman.
Oleh karena itu pada zaman sekarang karena perbudakan tidak adalagi, maka bagian zakat untuk Riqab ini bisa digunakan untuk membebaskan tawanan muslim, karena peperangan itu tidak akan pernah berhenti, pertentangan antara hak dan bathil akan terus berlangsung. Menurut Rasyid Ridha bahwa bagian riqab boleh dipergunakan untuk membantu sesuatu bangsa yang ingin melepaskan dirinya dari penjajahan, apabila tidak ada sasaran membebaskan perorangan.73
Syekh Mahmud Syaltut memberikan pendapat bahwa apabila perbudakan perorangan sudah tidak ada lagi, tetapi ada jenis perbudakan lain yang lebih berbahaya bagi kemanusiaan yaitu perbudakan bangsa, baik dalam cara berfikir, ekonomi kekuasaan maupun kedaulatannya. Perbudakan perorangan lenyap dengan sebab matinya orang itu, sedangkan negaranya tetap merdeka.
73 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 592
Akan tetapi perbudakan terhadap suatu bangsa, akan melahirkan generasi yang keadaannya seperti nenek moyangnya, yaitu tetap berada dalam perbudakan yang umum dan kekal, merusak umat dengan kekuatan yang penuh kezaliman. Ini menunjukkan bahwa betapa luasnya arti dari perbudakan yang meliputi perbudakan perorangan dan perbudakan bangsa.74
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa bagian riqab pada zaman sekarang ini untuk membebaskan tawanan muslim, dan untuk bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya.
e. Gharim (orang yang mempunyai hutang)
Orang yang mempunyai utang karena suatu kepentingan selain untuk perbuatan maksiat dan ia tidak mampu untuk membayarnya atau untuk melunasinya, maka ia berhak menerima zakat.
Menurut Yunan Nasution orang yang berhutang itu ada dua macam yaitu:
1) Orang yang berhutang untuk kepentingan sendiri, sehingga ia jatuh miskin dan tidak mampu lagi membayar hutang itu, dengan ketentuan bahwa hutang yang ia perbuat itu bukanlah untuk kepentingan maksiat. Akan tetapi apabila ia berhutang untuk melakukan maksiat seperti minuman keras, perzinaan atau pekerjaan yang diharamkan oleh Allah SWT, maka ia dilarang untuk menerima zakat. Orang yang berlebih-lebihan dalam memberi nafkah pada dirinya dan keluarganya walaupun untuk menikmati
74 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 593
sesuatu yang diperbolehkan, terhadap itu sampai mereka berhutang, itu diharamkan bagi setiap muslim. Sebagaimana firman Allah SWT:
َ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. al-A’raaf: 31)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa berhutang untuk berlebih-lebihan atau untuk melakukan perbuatan yang maksiat, itu diharamkan oleh Allah SWT, karena itu sama saja dengan menolong orang untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT.75
2) Berhutang untuk kepentingan umum atau kepentingan-kepentingan bersama, seperti berhutang untuk mendirikan masjid dan kepentingan-kepentingan yang urgen buat keperluan bersama.Boleh dibayarkan zakat kepadanya untuk pembayaran hutang itu walaupun dia seorang yang kaya.Islam telah menutup utang orang yang berutang dengan zakat, ini berarti telah menempatkan dua tujuan yang utama di antaranya:
1) Berhubungan dengan orang yang berhutang, dimana hutang telah memberatkan kepadanya. Dengan sebab hutang ia dihinggapi kebingungan di waktu malam, kehinaan di waktu siang, dan dengan sebab itu pula ia dihadapkan untuk senantiasa dicari,
75 Yusuf al-Qardhawi,Hukum Zakat,...hal.592
dihukum, ditahan dan lain sebagainya. Islam menutupi hutangnya dan mencukupkan apa yang diperlukannya.
2) Berhubungan dengan orang yang merentangkan sesuatu hutang kepada orang lain, dan menolongnya demi kemaslahatannya. Maka ketika Islam menolong orang untuk membayar hutangnya, ia pun merangsang anggota masyarakat untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan, melakukan pertolongan dan melakukan pinjam meminjam dengan cara yang baik.
f. Fii Sabilillah
Menurut Hasby Ash-Shidieqy sabil adalah jalan, sabillah adalah jalan baik berupa kepercayaan maupun amal yang menyampaikan kepada keridhaan Allah SWT.Sedangkan menurut Sayyid Sabiq sabillah adalah jalan yang dapat membawa kepada keridhaan Allah SWT berupa ilmu pengetahuan maupun amal perbuatan.76
Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa fii sabillah itu tidak hanya dapat diartikan berpegang di jalan Allah SWT, tetapi diartikan lebih luas yaitu segala jihad atau perjuangan untuk menegakkan syiar Islam.
Rasyid Ridha berpendapat pada zaman sekarang fii sabillah lebih tepat digunakan untuk orang yang mencari ilmu dan kemuliaan,dan mendakwahkan hukum Islam serta membelanya, baik dengan tulisan
76 Yusuf al-Qardhawi, Hukum Zakat, …, hal. 593
maupun lisan.77
Hakekat dari jihad pada zaman sekarang adalah perbuatan yang menjadikan Islam sebagai sumber dan dasar, dijadikan tujuan dan arah, dijadikan pedoman dan penuntun, sehingga dengan itu kegiatan tersebut berhak untuk disandarkan kepada Allah dan dianggap ijtihad fii sabilillah. Seperti mendirikan pusat kegiatan Islam, menolong da’i yang menyeru pada ajaran Islam, menuntut ilmu semua itu termasuk ke dalam jihad fii sabilillah.
g. Ibnu Sabil
Dinamakan demikian dikonotasikan dengan jalan (sabil) atau orang yang tengah berada dijalan, yaitu orang yang tidak berada dinegerinya dan tidak menempati rumahnya. mereka diberi bagian zakat yang dapat membantunya mencapai maksud, jika tidak hal ini mereka mensyaratkan bahwa perjalanan tersebut tidak untuk kemaksiatan.78 Hal
Dinamakan demikian dikonotasikan dengan jalan (sabil) atau orang yang tengah berada dijalan, yaitu orang yang tidak berada dinegerinya dan tidak menempati rumahnya. mereka diberi bagian zakat yang dapat membantunya mencapai maksud, jika tidak hal ini mereka mensyaratkan bahwa perjalanan tersebut tidak untuk kemaksiatan.78 Hal