• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Penyakit Menular Seksual

2.4.1 Gonorea

Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Sebutan lain penyakit ini adalah kencing nanah. Penyakit ini menyerang organ seks dan organ kemih. Selain itu, akan menyerang selaput lendir mulut kelamin, mata, anus, dan beberapa organ tubuh lainnya. Bakteri yang membawa penyakit ini dinamakan gonococcus.

Kencing nanah atau gonore (bahasa Inggris: gonorrhea atau gonorrhoea) adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan gangguan reproduksi.

Pada perempuan, berjangkitnya penyakit ini akan terlihat setelah 5–20 hari melakukan hubungan seksual. Tanda–tandanya tidak dapat terlihat, bahkan perempuan tersebut tidak menyadari jika dirinya telah terjangkiti. Tiba–tiba dia akan merasakan sakit di bawah bagian perut disertai demam. Kemudian dari vagina keluar nanah. Jika penyakit ini belum sempat diobati dan dia mengalami kehamilan, bayi yang ada dalam kandungannya dapat terancam kebutaan karena gonorea ini bisa menjalar dan menyerang selaput lendir mata bayi. Selain itu penyakit ini juga dapat menyebabkan kemandulan.

Pada laki – laki, penyakit ini dapat terlihat setelah 3–7 hari melakukan hubungan seksual. Gejala yang terlihat sebagai berikut :

a. Mengeluarkan nanah dan merasa sakit ketika kencing b. Ujung kepala penis terlihat merah karena meradang 2.4.2 Sifilis

Sifilis dikenal juga dengan sebutan “raja singa”. Penyakit ini sangat berbahaya. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual atau penggunaan barang-barang dari seseorang yang tertular (seperti baju, handuk, dan jarum suntik).

Penyebab timbulnya penyakit ini adalah adanya kuman Treponema pallidum. Kuman ini menyerang organ-organ penting tubuh lainnya, seperti selaput lendir, anus, bibir, lidah dan mulut.

A. Tingkat I

a) Penularannya sudah terdeteksi sekitar 10-90 hari setelah melakukan hubungan seksual

b) Gejala yang terlihat adalah adanya luka kecil bernanah disertai rasa sakit yang amat sangat, selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar getah bening yang mengeras di sekitar luka, seperti di lipatan paha.

B. Tingkat II

a) Terjadi sekitar 40 hari setelah masuk pada tingkat I

b) Gejala yang terlihat adalah adanya luka-luka kecil berwarna merah di sekitar permukaan kulit, dari kulit kepala hingga telapak tangan dan kaki.

Luka-luka ini timbul karena kuman telah menyebar melalui peredaran darah

c) Gejala lainnya adalah keluhan sakit tenggorokan, pusing, lesu, nyeri otot, terjadi kerontokan rambut, dan kulit kepala terasa gatal.

C. Tingkat III

a) Terjadi setelah 10-15 tahun kemudian

b) Gejalanya antara lain ditemukannya benjolan pada bagian tubuh yang terserang, pada akhirnya benjolan tersebut melunak dan pecah sehingga mengeluarkan cairan. Bagian tubuh yang terserang akan mengalami kerusakan. Jika kuman mulai menyerang otak, orang yang terserang akan mengalami gangguan kejiwaan atau gila. Jika yang diserang bagian sumsum tulang belakang atau hati, niscaya orang tersebut akan mengalami kelumpuhan, kemunduran kerja jantung, dan kerusakan jaringan susunan syaraf, serta masih banyak lagi kerusakan-kerusakan lainnya. Begitu seterusnya, karena kuman-kuman tadi dapat menyerang bagian tubuh manapun tanpa memandang siapapun orangnya. Risiko yang paling fatal adalah penyakit ini bisa mengakibatkan kematian.

c) Perempuan yang hamil bisa saja terserang penyakit ini, sehingga bayi yang akan lahir mengalami kelumpuhan fisik dan mental, itupun jika mereka dapat bertahan hidup. Biasanya, bayi-bayi ini akan meninggal dalam kandungan jika kuman menyerang uterus. Kalaupun bisa lahir, bayi-bayi ini akan meninggal 1 minggu setelah kelahirannya.

2.4.3 Herpes

Virus herpes terbagi atas 2 macam, yaitu herpes 1 dan herpes 2. Perbedaan diantara keduanya adalah ke bagian mana virus tersebut menyerang. Herpes 1 menyerang dan menginfeksi bagian mulut dan bibir, sedangkan herpes 2 atau disebut genital herpes menyerang dan menginfeksi bagian organ seksual (penis dan vagina).

Virus ini mengakibatkan munculnya luka-luka di permukaan kulit. Karenanya, gejala yang terlihat pada penderita adalah adanya lepuhan pada kulit penis atau vagina yang jika pecah mengeluarkan cairan bening dan terasa pedih. Setelah itu, luka ini ini secara perlahan-lahan akan meninggalkan bekas luka. Jika tidak digaruk dan seiring dengan berjalannya waktu, luka ini dapat sembuh dalam waktu 5-10 hari dari kemunculannya.

Penularannya dimulai ketika luka-luka sudah terlihat. Luka-luka itu sendiri mungkin terjadi selama 1-2 hari sebelum kelihatan, mungkin juga terjadi saat penderita mulai merasakan pedih pada bagian yang akan terserang. Herpes cepat sekali penularannya, yaitu melalui hubungan langsung antara bagian tubuh penderita yang terkena infeksi dengan selaput lendir, termasuk kulit yang terluka, pada bagian tubuh orang lain. Tentu saja penularan lainnya yang banyak terjadi adalah melalui hubungan seksual. Herpes dapat juga ditularkan selama masa kehamilan dan kelahiran. Mengingat risiko yang mungkin terjadi pada bayi dalam kandungan, para dokter selalu menganjurkan operasi caesar terhadap penderita herpes.

2.4.4 Klamidia

Gejala yang yang banyak dijumpai pada penderita penyakit ini adalah keluarnya cairan dari vagina yang berwarna kuning, disertai rasa panas seperti terbakar ketika kencing. Karena organisme dapat menetap selama bertahun-tahun dalam tubuh seseorang, ia juga akan merusak organ reproduksi penderita dengan atau tanpa merasakan gejala apapun.

Sesuai dengan laporan dari Institute Kinsey pada tahun 2010, kini penyakit ini menjadi infeksi bakteri yang paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual di Amerika (Dianawati, 2009). Masih menurut laporan tersebut, diperkirakan paling sedikit ada 4 juta kasus setiap tahunnya yang melibatkan orang Amerika.

2.4.5 Chancroid

Chancroid adalah sejenis bakteri yang menyerang kulit kelamin dan menyebabkan luka kecil bernanah. Jika luka ini pecah, bakteri akan menjalar ke daerah pubis dan kelamin. Luka ini menyerang melalui 2 cara, sebagai berikut :

a. Cara 1

Luka ini akan berlubang di dalam kulit. Pada laki-laki, menyerang melalui penis menuju ke saluran kencing, selanjutnya air kencing tidak akan dapat terkendali.

b. Cara 2

Luka akan menyebar ke permukaan kulit menutupi bagian perut, pinngang, dan paha.

2.4.6 Granuloma Inguinale

Penyakit ini sama dengan chancroid, yaitu disebabkan oleh bakteri. Bagian yang terserang biasanya permukaan kulit penis, bibir vagina, klitoris, dan anus, akan berubah membentuk jaringan berisi cairan yang mengeluarkan bau tak sedap.

Selanjutnya akan terjadi pembesaran yang bersifat permanen atau terlihat sesekali pada penis, klitoris dan kantung pelir. Kemudian, jika penderita mempunyai daya tahan, sebagian bawah tubuhnya mengalami pembengkakan. Penderita bisa kehilangan berat badan, kemudian meninggal dunia.

Penyakit ini tidak memperlihatkan gejala-gejala awal, sehingga penderita tidak mengetahui bahwa dirinya telah tertular. Hal ini mengakibatkan si penderita menunda pengobatannya. Memasuki masa 3 bulan, barulah terlihat adanya infeksi yang sangat berbahaya dan dapat ditularkan kepada orang lain.

2.4.7 AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju

perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh.

Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.

2.4.8 Trichomonas Infection

Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang menyerang vagina perempuan dan menyebabkan terjadinya infeksi dengan mengeluarkan cairan busa disertai dengan rasa gatal dan panas pada vagina tersebut. Penyakit ini jelas disebabkan

adanya hubungan seksual. Biasanya penyakit ini bersifat menipu, artinya sebagian perempuan tidak merasakan gejala-gejala adanya penyakit yang menyerang dirinya tersebut, bahkan tidak mengetahuinya sama sekali.

2.4.9 Veneral Warts

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang alat kelamin seseorang.

Pada laki-laki, virus ini menyerang kepala penis. Pada perempuan, virus ini biasanya menyerang bibir vagina dan daerah sekitar anus (perineum). Virus-virus ini menyerupai kutil, cara pengobatannya harus ke dokter. Tindakan selanjutnya yang biasa dilakukan adalah dengan mengangkatnya melalui pembedahan atau menggunakan laser.

Hadi (2008), menyampaikan bahwa adapun faktor–faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, meliputi :

1. Faktor Internal

Faktor internal yang mempengaruhi perilaku seksual pada remaja ialah meliputi pengaruh yang berasal dari dalam diri sendiri kemudian bagaimana seseorang mengekspresikan perasaan, keinginan, dan pendapat mengenai berbagai macam masalah. Selain itu, menentukan pilihan ataupun mengambil keputusan bukan merupakan hal yang mudah. Dalam memutuskan sesuatu, seseorang harus memiliki dasar, pertimbangan, serta prinsip yang matang.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku seksual remaja contohnya ialah kemampuan orang tua mendidik seorang anak akan mempengaruhi pemahaman anak tersebut mengenai suatu hal, terutama masalah seks. Kemudian peranan agama dalam hal ini juga sangat penting, yaitu dapat memberikan pengajaran mengenai mana yang baik dan mana yang buruk. Pemahaman terhadap apa yang diajarkan agama akan mempengaruhi perilaku remaja.

Remaja memiliki kecenderungan menghabiskan waktu bersama teman sebayanya sehingga tingkah laku dan nilai–nilai yang mereka pegang banyak dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan. Faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi perilaku seksual remaja ialah teknologi informasi yang semakin berkembang memudahkan remaja untuk mengakses informasi (khususnya mengenai seksual) setiap saat.

Sarwono (2007) berpendapat bahwa perilaku seksual remaja dipengaruhi oleh hal- hal sebagai berikut :

a) Perubahan–perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja.

Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu.

b) Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang–undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama

semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain–lain)

c) Norma–norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal–hal tersebut.

d) Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (cth: VCD, buku stensilan, Photo, majalah, internet, dan lain–lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya

e) Orangtuanya sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.

f) Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

Penelitian tentang perilaku seksual juga pernah dilaksanakan di luar negeri oleh Sprecher, McKinney, Walsh, dan Anderson pada tahun 2010. Penelitian tersebut

kemudian mengkategorikan perilaku seks menjadi petting (saling menggesek-gesekkan alat kelamin), sexual intercourse (hubungan seksual), dan oral-genital sex (seks oral-genital). Dari penelitian itu juga didapatkan bahwa petting merupakan perilaku seksual yang paling banyak dapat diterima oleh subjek, kemudian hubungan seksual dan seks oral.

2.5 Alasan Remaja Melakukan Hubungan Seksual Pranikah

Menurut para ahli, alasan seorang remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah ini terbagi dalam beberapa faktor, yaitu :1. Tekanan yang datang dari teman pergaulannya; 2. Adanya tekanan dari pacarnya; 3. Adanya kebutuhan badaniah; 4.

Rasa penasaran; 5. Pelampiasan Diri (Dianawati, 2009).

Dianawati (2009) selanjutnya menyatakan alasan seorang remaja melakukan hubungan seksual sebelum menikah adalah 1. Membuktikan bahwa mereka saling mencintai; 2. Takut hubungan akan berakhir; 3. Rasa ingin tahu tentang seks; 4.

Kepercayaan bahwa setiap orang atau banyak orang melakukan hubungan seksual; 5.

Hubungan seksual itu menyenangkan; 6. Sama-sama suka (dengan pacar atau pekerja seks komersial);7. Pacar mengatakan bahwa hal itu tidak akan apa-apa.

Berdasarkan alasan yang sudah diuraikan di atas Dianawati (2009) menyimpulkan secara umum bahwa alasan mengapa individu mau menuruti keinginan pacarnya untuk berhubungan seksual, antara lain sebagai bukti cinta dan sangat mencintai pacar, agar menjadi miliknya sepenuhnya, dorongan seks, ingin mencoba, takut mengecewakan, terbuai rayuan pacar, butuh kasih sayang,

terpengaruh budaya atau gaya hidup bebas, terlanjur sayang dengan pacar, dan tidak sadar sepenuhnya. Bersenggama atau melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya, lanjut Dianawati (2009) tidak selalu diawali dengan permintaan lisan tetapi dengan stimulasi atau rangsangan langsung yang merupakan bagian dari perilaku seksual terhadap pasangan. Pasangan yang awalnya menolak pada akhirnya bersedia dan menjadi mau melakukannya karena berada dalam keadaan terangsang. Pada masa pacaran terdapat berbagai perilaku yang ditampilkan oleh para remaja untuk menunjukkan rasa cinta masing-masing, baik dalam tingkah laku yang sangat banyak berkorban dalam hal apapun untuk memenuhi keinginan pasangan mereka dalam perkataan maupun tindakan, termasuk di dalamnya melakukan aktivitas seksual.

Dorongan biologis untuk melakukan hubungan seksual merupakan insting alamiah dari berfungsinya organ sistem reproduksi dan kerja hormon. Remaja yang sedang dalam tahap perkembangan, pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang saling terkait, berkesinambungan dan berlangsung secara bertahap;

dimana perubahan-perubahan di dalam diri remaja akan diintegrasikan sedemikian rupa, sehingga remaja tersebut dapat berespons dengan baik dalam menghadapi rangsangan-rangsangan dari luar dirinya. Yang paling menonjol dalam tumbuh kembang remaja adalah perubahan fisik, alat reproduksi, kognitif, dan psikososial.

Pematangan fungsi seksual pada wanita ditandai dengan datangnya menstruasi, penimbunan lemak yang membuat buah dada membesar dan sebagainya.

Kondisi remaja akibat perkembangan seksual tersebut telah mendorong remaja untuk saling suka dan cinta dengan lawan jenisnya. Karena itu akan menjadi masalah bagi

remaja bila faktor lingkungan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) kurang mau memahami dan mengerti keadaan seksual yang dihadapi remaja, ia akan menjadi manusia yang bersikap tertutup terhadap masalah seksual dan kemungkinan akan melakukan tindakan penyimpangan seksual.

Perubahan fisik dan psikologis remaja disebabkan oleh adanya perubahan hormonal. Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang dikontrol oleh susunan saraf pusat, khususnya di hipotalamus. Beberapa jenis hormon pertumbuhan (growth hormone), hormon gonadotropik, estrogen, progesteron, serta testosterone. Oleh karena itu dalam hubungan seks bukan hanya alat kelamin dan daerah erogen (mudah terangsang), yang ikut berperan tetapi juga psikologis dan emosi. Hubungan seksual yang dianggap normal adalah hubungan hetereksual dikaitkan dengan norma, agama, kebudayaan, dan pengetahuan manusia yang harmonis dibarengi dengan rasa cinta.

2.6 Cara-cara yang Biasa Dilakukan Remaja dalam Menyalurkan Dorongan Seksual Pranikah

Cara-cara yang biasa dilakukan remaja dalam menyalurkan dorongan seksual pranikah yaitu : bergaul dengan lawan jenis, berdandan agar menarik perhatian lawan jenis, berkhayal atau berfantasi tentang seksual, mengobrol tentang seks, menonton film pornografi, melakukan hubungan seks non penitrasi (berpegangan tangan, berpelukan, berciuman pipi/bibir), cara-cara tersebut ada yang sehat dan ada juga yang menimbulkan berbagai resiko secara fisik, psikologis dan sosial (Astuti, 2009).

2.7 Pacaran

Pacaran atau dating adalah interaksi heteroseksual yang didasari rasa cinta, kasih dan sayang serta saling memberi dan melengkapi pasangannya. Budaya pacaran sudah menjadi kecenderungan pergaulan remaja yang juga mendominasi perilaku seksual remaja saat ini. Pacaran dianggap sebagai jati diri pergaulan dan identitas kedewasaan, meskipun pada kenyataannya banyak aktivitas yang menjurus pada perilaku seks tidak aman. Pacaran biasanya terjadi di awal pubertas. Perubahan hormon dan fisik membuat seseorang mulai tertarik pada lawan jenis. Proses sayang –sayangan dua manusia lawan jenis tersebut merupakan proses mengenal dan memahami lawan jenisnya dan belajar membina hubungan dengan lawan jenis sebagai persiapan sebelum menikah untuk menghindari ketidakcocokan dan permasalahan pada saat sudah menikah. Masing–masing pasangan berusaha mengenal kebiasaan, karakter atau sifat, serta reaksi–reaksi terhadap berbagai masalah maupun peristiwa (Narendra, 2008).

Pacaran merupakan kenangan yang sangat mengesankan bagi remaja pada kehidupannya yang mendatang. Dalam masyarakat kita, pacaran memberikan kesempatan bagi remaja untuk meningkatkan kemampuan sosial dan interpersonal mereka. Pacaran juga mempersiapkan remaja untuk memilih pasangan hidup. Pada beberapa remaja pacaran juga dimanfaatkan untuk melakukan percobaan aktivitas seksual. Pacaran merupakan kelanjutan dari perkenalan dan diteruskan dengan hubungan individu terhadap lawan jenis. Jadi di dalam pacaran ini laki-laki dan wanita saling menjajaki seberapa cocok atau tidaknya mereka berdua, termasuk latar

belakang watak, sifat, pendidikan, dan lain-lainnya. Pacaran ini melebihi hubungan sekadar teman, atau teman dekat, namun ini adalah teman paling dekat

(Saumiman, 2005).

Pacaran juga seringkali dianggap sebagai pintu masuk hubungan yang lebih dalam lagi, yaitu melakukan berbagai aktivitas perilaku seksual seperti touching, kissing, necking, petting hingga sexual intercourse sebagai wujud kedekatan antara dua orang yang sedang jatuh cinta. Susan Sprecher dan Kathlen McKiney dalam buku Sexuality (2010) menjelaskan tahap-tahap dalam pacaran :

1. First Seeing (Pandangan Pertama)

Sebelum terjadinya suatu hubungan di antara dua orang, pada awalnya masing-masing saling menyadari keberadaannya. Kesadaran ini mungkin terjadi beberapa detik, hari, minggu maupun bulan sebelum interaksi secara tatap muka pada pertama kali. Dua orang mungkin saling menyadari dalam waktu yang bersamaan, tetapi dapat juga hanya satu pihak yang menyadari.

Murstein (2010), menyatakan situasi dimana kesadaran pertama kali terjadi mungkin dapat mempengaruhi bagaimana keberlanjutan suatu hubungan ke tahap first meeting dengan cepat dan mudah, membedakan antara tempat terbuka dan tertutup sebagai kondisi dimana suatu hubungan dimulai. Tempat yang tertutup ditandai dengan kehadiran sedikit orang dimana semuanya memiliki kemungkinan untuk berinteraksi.

Pada tempat yang tertutup, kesadaran dan interaksi di antara anggota terjamin, dan terjadi secara spontan. Sebaliknya, tempat terbuka berisi banyak orang. Sebagai

contoh adalah tempat umum seperti mall, bar. Kesadaran pertama bisa saja terjadi pada tempat terbuka, tetapi pertemuan dengan bertatap muka mungkin tidak terjadi sampai beberapa waktu kemudian. Hal tersebut dikarenakan tempat yang terbuka tidak memiliki interaksi yang terstruktur di antara semua anggota, dimana orang perlu untuk merencanakan bagaimana mereka akan bertemu seseorang yang mereka perhatikan.

1. First Meeting (Pertemuan Pertama)

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian Berger tentang awal suatu hubungan, orang menggunakan tiga cara untuk bertemu orang lain dalam tempat yang terbuka. Cara pertama adalah memperkenalkan diri mereka, yang diawali dengan observasi, saling berpandangan atau memperhatikan apa adanya. Cara kedua adalah dengan memberikan isyarat non verbal, dan menunggu orang lain untuk memperkenalkan diri.

2. First Dating (Kencan Pertama)

Banyak hal yang dapat menghalangi kencan pertama, seperti malu, cemas akan penolakan, dan norma peran seks tradisional yang menyatakan bahwa perempuan tidak layak untuk memulai suatu hubungan. Tetapi untuk sebagian orang, keinginan yang kuat untuk memulai suatu hubungan dapat mengatasi penghalang yang mereka hadapi. Baik laki-laki maupun perempuan berperan dalam terjadinya kencan pertama, walaupun dalam cara yang berbeda. Namun laki-laki tetap mendominasi sampai pada kencan pertama.

Di bawah ini merupakan salah satu hasil penelitian kualitatif di salah satu Youth Center Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia

“Pacaran tidak harus selalu berakhir dengan pernikahan, karena sekedar mencari kecocokan atau ketidakcocokan. Tetapi pacaran itu seharusnya lepas dari yang namanya hubungan seksual., jadi sebatas membicarakan masalah, tukar pikiran, jalan bareng, lalu pegangan tangan, membelai rambut. Kalau untuk cium bibir di Indonesia saat ini masih dianggap belum layak, entah besok–besok. Tetapi untuk hubungan seksual aku tetap tidak setuju. Jika sudah yakin menikah maka hubungan seksual justru tidak perlu dilakukan”.

Informan dalam penelitian tersebut ialah sebanyak 30 orang, dimana semua

Informan dalam penelitian tersebut ialah sebanyak 30 orang, dimana semua

Dokumen terkait