BAB II : LANDASAN TEORITIS
M. Good Corporate Governance Pada Usaha Milik Negara
Menurut Labesi (2013, p. 1277-1278) Penerapan praktik good corporate governance (GCG) pada BUMN diatur dalam Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli 2002.
Disebutkan bahwa BUMN menerapkan corporate governance untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan, guna mewujudkan nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. BUMN wajib menerapkan GCG secara konsisten dan atau menjadikan GCG sebagai landasan operasionalnya. Dalam SK Menteri BUMN tersebut juga memuat mengenai tujuan dari penerapan GCG dalam lingkungan Badan Usaha Milik Negara.
Berikut adalah tujuan penerapan good corporate governance pada BUMN :
1. Memaksimalkan nilai BUMN.
2. Mendorong pengelolaan BUMN.
3. Mendorong agar keputusan yang dibuat dilandasi nilai moral tinggi, kepatuhan terhadap perundangundangan, kesadaran akan tanggungjawab sosial BUMN terhadap stakeholder dan lingkungan sekitar.
4. Meningkatkan kontribusi BUMN dan perekonomian Nasional.
5. Meningkatkan iklim investasi Nasional.
6. Menyukseskan program privatisasi N. Pengertian Bank
Ismail (2014, p. 12) menyatakan Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Semua sector usaha baik sector industri, perdagangan, pertanian, perkebunan, jasa, perumahan, dan lainnya sangat membutuhkan bank sebagai mitra dalam mengembangkan usahanya. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Bank merupakan lembaga keuangan yang fungsi utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat, menyalurkan dana kepada masyarakat, dan juga memberikan pelayanan dalam bentuk jasa-jasa perbankan.
Berikut penjelasan Ismail (2014, p. 12-14) mengenai fungsi utama bank:
1. Penghimpunan Dana
Bank menghimpun data dari masyarakat dalam bentuk simpanan.
Masyarakat mempercai bank sebagai tempat yang aman untuk menyimpan uang. Bank akan membayar sejumlah tertentu atas penghimpunan dana masyarakat yang besarnya tergantung pada jenis simpanan. Jenis simpanan masyarakat antara lain: simpanan giro, tabungan, dan deposito. Masing-masing jenis simpanan ini memiliki karakteristik yang berbeda. Giro dan tabungan merupakan simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat. Deposito merupakan jenis simpanan berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan antara bank dan nasabah penyimpanan. Dalam perkembangannya penghimpun dana tidak hanya menawarkan produk giro, tabungan, dan deposito, akan tetapi produk penghimpun dana lainya, misalnya surat berharga, pasar uang antar bank, dan obligasi.
Penghimpun dana pihak ketiga dalam bentuk simpanan merupakan sumber dana bank yang terbesar. Sesuai dengan fungsi bank sebagai lembaga intermediasi, bank dapat menghimpun dana secara langsung dari masyarakat. Masyarakat dapat menempatkan dananya kapanpun dan juga dapat menarik dananya kapan pun, sesuai dengan jenis simpanan yang dimilikinya.
2. Penyaluran Dana
Fungsi bank yang kedua adalah penyaluran dana kepada masyarakat yang membutuhkan dana. Penyaluran dana yang dilakukan
oleh bank sebagian besar dalam bentuk kredit atau pinjaman. Atas kredit tau pinjaman yang diberikan oleh bank kepada debitur (peminjam), bank akan memperoleh balsa jasa berupa bunga untuk Bnak Konvensional dan bagi hasil dan balas jasa lain bagi Bank Syariah. Penyaluran dana kepada pihak yang membutuhkan juga mengalami perkembangan yang cukup pesat antara lain: bank dapat menyalurkan dananya dengan membeli sertifikat Bank Indonesia, menyalurkan dana melalui pasar uang antar bank, surat-surat berharga, obligasi, dan lain-laon. Bank menyalurkan dananya dalam aktiva produktif, yaitu aktiva yang dapat menghasilkan keuntungan.
3. Pelayanan Jasa
Pelayanan jasa bank merupakan aktivitas pendukung yang dapat diberikan oleh bank. Pelayanan jasa bank dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu jasa bank dalam negeri dan jasa bank luar negeri. Jasa bank dalam negeri adalah jenis pelayanan jasa yang diberikan oleh bank terkait dengan transaksi-transaksi antar bank dalam negeri. Beberapa contoh jasa bank dalam negeri misalnya, jasa pengiriman uang (transfer), pemindah bukuan, kliring, save deposit box, penagihan warkat kliring, surat-surat berharga, dan lain-lain. Jasa bank terkait dengan transaksi-transaksi dengan bank koresponden (bank asing yang berlokasi di luar negeri yang memiliki hubungan kerja sama dengan bank yang terdapat di Indonesia). Imbalan atas pelayanman jasa perbankan merupakan pendapat fee dan komisi. Pendapatan fee dan komisi atas jasa pelayanan bank kepada nasabah disebut dengan fee based income. fee based income merupakan pendapatan yang diperoleh bank atas pelayana jasa yang diberikan kepada masyarakat. fee based income merupakan pendapatan operasional lainnya.
O. Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum
Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 /Seojk.03/2017 menyatakan sehubungan dengan berlakunya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 4/POJK.03/2016 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan
Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5840) dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55/POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 286, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5980), perlu untuk mengatur pelaksanaan Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan sebagai berikut:
1. Dalam rangka meningkatkan kinerja Bank, melindungi kepentingan Pemangku Kepentingan, dan meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan serta nilai etika yang berlaku umum pada industri perbankan, Bank wajib melaksanakan kegiatan usaha dengan berpedoman pada prinsip Tata Kelola yang baik sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55/POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum, yang selanjutnya disebut POJK Tata Kelola Bank Umum.
Penerapan Tata Kelola pada industri perbankan harus senantiasa berlandaskan pada 5 (lima) prinsip dasar Tata Kelola yang baik sebagai berikut:
a. Transparansi (transparency) yaitu keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan.
b. Akuntabilitas (accountability) yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban organ Bank sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif.
c. Pertanggungjawaban (responsibility) yaitu kesesuaian pengelolaan Bank dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip pengelolaan Bank yang sehat.
d. Independensi (independency) yaitu pengelolaan Bank secara profesional tanpa pengaruh atau tekanan dari pihak manapun.
e. Kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak Pemangku Kepentingan yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.
2. Dalam rangka memastikan penerapan 5 (lima) prinsip dasar Tata Kelola yang baik sebagaimana dimaksud pada angka 1, Bank harus melakukan penilaian sendiri (self-assessment) secara berkala yang paling sedikit meliputi 11 (sebelas) faktor penilaian penerapan Tata Kelola yaitu:
a. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi
b. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris c. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite
d. Penanganan benturan kepentingan e. Penerapan fungsi kepatuhan f. Penerapan fungsi audit intern g. Penerapan fungsi audit ekstern
h. Penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern i. Penyediaan dana kepada pihak terkait (related party) dan
penyediaan dana besar (large exposure)
j. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan Bank, laporan pelaksanaan tata kelola dan pelaporan internal
k. Rencana strategis Bank.
Selain itu, perlu diperhatikan informasi lain yang terkait penerapan Tata Kelola Bank di luar 11 (sebelas) faktor penilaian penerapan Tata Kelola, seperti permasalahan yang timbul sebagai dampak kebijakan remunerasi pada suatu Bank atau perselisihan intern Bank yang mengganggu operasional atau kelangsungan usaha Bank. Sebagai contoh, penetapan bonus yang didasarkan pada pencapaian target pada akhir tahun dengan penetapan target yang sangat tinggi (ambisius) yang mengakibatkan dilakukan praktik tidak sehat oleh manajemen atau pegawai Bank dalam pencapaian target tersebut.
3. Pengalaman dari krisis keuangan global mendorong perlunya peningkatan efektivitas penerapan manajemen risiko dan Tata Kelola agar Bank mampu mengidentifikasi permasalahan secara lebih dini, melakukan tindak lanjut perbaikan yang tepat dan cepat, serta lebih tahan dalam menghadapi krisis. Sehubungan dengan hal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan menyempurnakan metode penilaian Tingkat Kesehatan Bank yaitu dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk Based Bank Rating/RBBR) baik secara individu maupun secara konsolidasi yang antara lain mencakup penilaian faktor Tata Kelola.
Penilaian faktor Tata Kelola dalam penilaian Tingkat Kesehatan Bank dengan menggunakan pendekatan risiko atau RBBR merupakan pengganti dari penilaian terhadap faktor manajemen dalam penilaian Tingkat Kesehatan Bank berdasarkan CAMELS rating.
4. Berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan yang mengatur mengenai Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dengan menggunakan pendekatan risiko atau RBBR, penilaian terhadap penerapan Tata Kelola yang berlandaskan pada 5 (lima) prinsip dasar Tata Kelola yang baik dikelompokkan dalam suatu governance sistem yang terdiri dari 3 (tiga) aspek governance, yaitu governance structure, governance process, dan governance outcome.
5. Bank menerapkan prinsip Tata Kelola yang Baik dalam setiap kegiatan usaha pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi yang meliputi Direksi dan Dewan Komisaris sampai dengan pegawai tingkat pelaksana.
6. Dalam penerapan Tata Kelola, diperlukan keberadaan Komisaris Independen dan Pihak Independen untuk menghindari benturan kepentingan (conflict of interest) dalam pelaksanaan tugas seluruh tingkatan atau jenjang organisasi Bank, check and balance, serta melindungi kepentingan Pemangku Kepentingan khususnya pemilik dana dan pemegang saham non pengendali. Untuk mendukung independensi dalam pelaksanaan tugas dimaksud, perlu pengaturan
mengenai masa tunggu (cooling off) bagi pihak yang akan menjadi Pihak Independen.
7. Dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas penerapan Tata Kelola, Bank secara berkala melakukan penilaian sendiri (selfassessment) secara komprehensif terhadap kecukupan penerapan Tata Kelola sehingga Bank dapat segera menetapkan rencana tindak (action plan), yang meliputi tindakan korektif (corrective action) yang diperlukan dalam hal masih terdapat kekurangan dalam penerapan Tata Kelola.
8. Dalam rangka penerapan prinsip transparansi (transparency) sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a., Bank menyampaikan laporan pelaksanaan tata kelola dan menginformasikan pada situs web Bank.
(Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 13 /Seojk.03/2017, p. 1-4)
P. Struktur Good Corporate Governance Perbankan
Pedoman good corporate governance (GCG) bagi perbankan harus mengandung lima prinsip dasar yang telah diuraikan pada sub bab sebelumnya. Struktur governance bagi dunia perbankan secara umum mencakup beberapa bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Pemegang Saham, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan bagi pemegang saham, yaitu:
a. Menggunakan haknya sebagai pemegang saham dalam memilih Dewan Komisaris dan Direksi.
b. Mampu memenuhi kebutuhan modal bank sesuai aturan yang berlaku. Jika tidak mampu memenuhinya, pemegang saham bersedia menyetujui banknya menyatu dengan bank lain.
c. Melaksanakan GCG sesuai wewenang dan tanggungjawab.
Pemegang saham dilarang memanfaatkan bank untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompoknya dan tidak mencampuri kegiatan operasional bank.
2. Dewan Komisaris dan Direksi, secara hukum dewan komisaris bertugas untuk melakukan pengawasan, memberikan nasehat, dan masukan kepada direksi dengan memperhatikan semua kepentingan stakeholders sesuai asas kesetaraan. Sesuai dengan ketentuan undangundang yang berlaku direksi bertanggung jawab penuh atas pengelolaan perusahaan serta mewakili perusahaan baik didalam dan luar peradilan. Direksi juga berkewajiban melaksanakanketentuan yang tercantum dalam visi, misi, strategi, dan sasaran usaha bank.
3. Dewan Pengawas Syariah (DPS), bagi bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah harus memiliki DPS. DPS bertugas memberikan pengarahan, konsultasi, evaluasi, dan pengawasan kegiatan operasional bank agar sesuai dengan prinsip Islam.
4. Stakeholders lainnya, stakeholders yang sangat penting bagi bank adalah deposan, penabung, pemegang giro, debitur, dan karyawan.
Dalam hal ini bank harus menjamin pelaksanaan hak dan kewajiban stakeholders sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(Angrum, 2016, p. 60) Q. Penelitian yang Relevan
Angrum Pratiwi (2016, p. 67) dari Jurusan Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Samarinda. Melakukan penelitian tentang Analisis Pengaruh Kualitas Penerapan Good Corporate Governance (GCG) terhadap Kinerja Keuangan pada Bank Umum Syariah di Indonesia (Periode 2010-2015).
Metode penelitiannya adalah penelitian yang bersifat asosiatif yaitu adanya hubungan atau pengaruh variable satu dengan lainnya, penelitian Angrum Pratiwi menggunakan data sekunder dari laporan tahunan dan laporan pelaksanaan good corporate governance bank umum syariah yang telah dipublikasikan secara resmi oleh masing-masing bank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kualitas penerapan GCG sesuai hasil pengamatan memiliki rata-rata nilai komposit sebesar 1.55-2.20 yang masuk kedalam kategori “Baik” atau peringkat kedua. Artinya kualitas
penerapan GCG pada BUS telah sesuai dengan 11 indikator yang telah ditetapkan Bank Indonesia melalui peraturan No. 11/33/PBI/2009 mengenai pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Angrum Pratiwi adalah sama-sama melakukan penelitian tentang Good Corporate Governance pada sebuah Bank namun perbedaannya terletak pada variabel yang digunakan oleh peneliti.
Hakiem H. Hilman, Sherly Yuspitasari, Ikhwan Hamdani (2018, p.
224) dari Universitas Ibn Khaldun Bogor Jawa Barat. Jurusan Ekonomi Islam. Melakukan penelitian tentang Pengaruh Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Pegawai (Studi Kasus Bank Syriah Mandiri Cabang Bogor). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana mengkaji penerapan konsep GCG dan kinerja Bank Syariah Mandiri Cabang Bogor dan bagaimana pengaruhnya GCG terhadap kinerja pegawai perusahaan. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda, berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda didapatkan bahwa penerapan konsep GCG secara bersamasama berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bank Syariah Mandiri Cabang Bogor.
Labesi Thereza Michiko (2013, p. 1274) dari Jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi Universitas Sam Ratulangi Manado. Melakukan penelitian tentang Analisis Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Di PT Bank Sulut Kantor Pusat Manado.
Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) serta penerapan prinsip-prinsipnya dalam kinerja manajemen di PT Bank Sulut (Persero) Tbk. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Adil Tobing, Yandra Arkeman, Bunasor Sanim, R. Nunung Nuryartono (2013, p. 298) dari Institut Pertanian Bogor. Melakukan penelitian tentang Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Tingkat Kesehatan dan Daya Saing di Perbankan Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada perbankan Indonesia terhadap tingkat kesehatan dan daya saingnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan metode-metode statistik tersebut, terdapat hubungan yang signifikan antara implementasi GCG dengan tingkat kesehatan bank, yaitu terhadap variabel profil risiko inheren dan permodalan, serta terhadap daya saing, yaitu terhadap variabel produktifitas, profitabilitas, dan market valuation. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Adil Tobing, Yandra Arkeman, Bunasor Sanim dan R. Nunung Nuryartono adalah sama-sama meneliti tentang penerapan Good Corporate Governance dan perbedaannya terletak pada variabel yang digunakan oleh peneliti.
Penelitian penulis juga berkaitan dengan Good Corporate Governance, yaitu Penerapan Good Corporate Governance pada PT. Bank Mandiri Tbk. Perbedaan yang mendasar dalam penelitian ini yaitu dari segi variable dimana pada penelitian sebelumnya melakukan penelitian yang dilihat dari segi kinerja keuangan Bank, kinerja manajemen dan kesehatan Bank. Sedangkan penulis melakukan penelitian dengan melihat penerapan Good Corporate Governance yang dilakukan oleh Bank yang dilihat dari indikator prinsip GCG, pada penelitian ini penulis juga menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
R. Kerangka Berpikir
Menurut Nicolas (2014, p. 3-4) Prinsip Good Corporate Governance merupakan kaidah, pedoman, ataupun norma yang harus digunakan oleh pemimpin perusahaan dan setiap karyawan dalam melakukan setiap tindakan dan keputusan yang dilakukan dimana segala sesuatunya mendukung kepentingan stakeholders terutama dalam arti sempit adalah dewan komisaris, direksi dan para pemegang saham pada perusahaan tersebut. Prinsip-prinsip tersebut harus digunakan mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun ketentuan pengelolaan perusahaan yang telah ditetapkan pada perusahaan publik.
Terkait GCG, peran TARIF (Transparency, Accountability, Responcibility, Independency, Fairness) dalam penerapannya pada perusahaan menjadi sangat penting dan hal tersebut harus dipenuhi oleh perusahaan.
Istilah GCG ini tidak hanya populer tetapi juga ditempatkan di posisi yang prestisius dan seringkali dijadikan tolok ukur citra perusahan.
Hal itu merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global terutama bagi perusahaan yang telah mampu berkembang sekaligus menjadi terbuka. Penerapan GCG diyakini akan menolong perusahaan dan perekonomian Negara yang sedang tertimpa krisis bangkit menuju ke arah yang lebih sehat, maju, mampu bersaing, dikelola secara dinamis serta professional (www.kompas.com).
Sejak peristiwa-peristiwa yang bisa dibilang hampir menghancurkan stabilitas ekonomi dunia, timbullah kesadaran para cendekiawan untuk terus menerus mengembangkan sistem yang baik dan tepat dalam perusahaan, tidak terkecuali perbankan. Berbagai model dikembangkan meski punya landasan yang sama yaitu membentuk sistem pengaturan dalam perusahaan yang terkontrol dan terarah (Labesi, 2013, p.
1275).
Berdasarkan uraian di atas penelitian ini dapat dirumuskan melalui suatu kerangka pemikiran sebagai berikut:
Gambar 2.2
Bagan Kerangka Berpikir Kualitatif
Keterangan:
Berdasarkan kerangka pikir di atas dapat disimpulkan bahwa jika Bank Mandiri menerapkan Good Corporate Governance dalam menjalankan tata kelolanya maka akan memperkuat komitmet Bank Mandiri untuk terus memberikan kontribusi positif dan nyata dalam mewujudkan tata kelola yang baik untuk masa yang akan datang dengan memperhatikan unsur-unsur yang ada dalam GCG yaitu: fairness, accountability, transparency, Independency dan responsibility.
Good Corporate Governance di Bank Mandiri Tbk
36
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian
Metode dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang berguna dalam menerapkan solusi pada masalah terkini berdasarkan pengalaman pemecahan masalah dimasa lalu. Dimana dilakukan untuk menggambarkan penerapan Good Corporate Governance yang dilihat dari prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada PT. Bank Mandiri Tbk.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Latar Penelitian
Tempat atau latar yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada PT. Bank Mandiri Tbk.
2. Waktu Penelitian
Adapun waktu dalam penelitian yang penulis lakukan dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 3.1
Time Schedule Penelitian
No Kegiatan
Bulan penelitian
Tahun 2018 Tahun 2019
Okt Nov Des Mar Apr Ags Jan Feb 1 Menyiapkan
data-data untuk disusun
2 ACC
Pembimbing Akademik
3 Keluar Surat
Pembimbing
No Kegiatan Bulan penelitian
Tahun 2018 Tahun 2019
Okt Nov Des Mar Apr Ags Jan Feb 4 Proses
Bimbingan Pra Seminar
5 Acc
Pembimbing
6 Seminar Proposal
7 Revisi Pasca Seminar
8 Bimbingan Skripsi
9 Penelitian
10 Analisis Data
11 Munaqasah
12 Revisi Pasca Munaqasah
C. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder yaitu berupa laporan good corporate governance PT. Bank Mandiri Tbk yang penulis dapatkan dari laporan annual report PT. Bank Mandiri Tbk melalui situs resmi www.idx.co.id. Ini merupakan situs resmi Bursa Efek Indonesia, dimana setiap perusahaan yang telah go public harus melaporkan laporan good corporate governance perusahaannya ke Bursa Efek Indonesia dan biasa di akses oleh masyarakat melalui situs resmi yaitu: www.idx.co.id.
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dimana peneliti melihat dari data annual report perusahaan yang telah mengungkapkan good corporate governance pada perusahaannya, dan juga dari tulisan yang peneliti anggap berhubungan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
E. Teknik Analisis Data
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan lebih banyak bersifat uraian dari hasil dokumentasi. Data yang telah diperoleh akan dianalisis secara kualitatif serta diuraikan dalam bentuk deskriptif.
Menurut Umar Husein (2009, p. 174) analisis data merupakan “proses pengurutan data, penyusutan data kedalam pola, kategori dan satuan deskriptif dasar yang melibatkan pertimbangan kata-kata, nada, konteks, dan konsistensi internal”.
Teknik analisis data yang digunakan untuk penerapan Good Corporate Governance penulis melakukan teknik analisis yang dilihat dari prinsip-prinsip dasar Good Corporate Governance. Menurut Sutedi (2012, p. 2-4) Prinsip-prinsip dasar Good Corporate Governance yaitu:
1. Transparency (Transparan)
Konstruk ini diukur melalui indikator yang meliputi:
b. Informasi yang benar c. Akurat
d. Tepat waktu
2. Responsibility (Responsibilitas)
Konstruk ini diukur melalui indikator yang meliputi:
a. Kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku b. Kesejahteraan
c. Keselamatan
d. Kesehatan tenaga kerja
e. Pelaksanaan program tanggung jawab sosial.
3. Indenpendency (Kemandirian)
Konstruk ini diukur melalui indikator yang meliputi:
a. Menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar b. Bebas dari benturan kepentingan
c. Bebas dari segala tekanan dari pihak manapun 4. Accountability
Konstruk ini diukur melalui indikator yang meliputi:
a. Kejelasan fungsi b. Struktur
c. Sistem
d. Pertanggungjawaban yang sistematis 5. Fairness (Keadilan)
Konstruk ini diukur melalui indikator yang meliputi:
a. kewajaran b. Kesejahteraan
40 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Gambaran Objek Penelitian 1. Sejarah PerusahaanPT Bank Mandiri (Persero) Tbk. selanjutnya disebut Bank Mandiri didirikan pada tanggal 2 Oktober 1998 di Negara Republik Indonesia dengan akta notaris Sutjipto, S.H., No. 10, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 75 Tahun 1998 tanggal 1 Oktober 1998.
Akta pendirian dimaksud telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C2-16561.HT.01.01.TH.98 tanggal 2 Oktober 1998, serta diumumkan pada Tambahan No. 6859 dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 97 tanggal 4 Desember 1998. Bank Mandiri didirikan melalui penggabungan usaha PT Bank Bumi Daya (Persero) (“BBD”), PT Bank Dagang Negara (Persero) (“BDN”), PT Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) (“Bank Exim”) dan PT Bank Pembangunan Indonesia (Persero) (“Bapindo”) (selanjutnya secara bersama-sama disebut “Bank Peserta Penggabungan”). Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar Bank Mandiri, ruang lingkup kegiatan Bank Mandiri adalah melakukan usaha di bidang perbankan sesuai dengan
Akta pendirian dimaksud telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C2-16561.HT.01.01.TH.98 tanggal 2 Oktober 1998, serta diumumkan pada Tambahan No. 6859 dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 97 tanggal 4 Desember 1998. Bank Mandiri didirikan melalui penggabungan usaha PT Bank Bumi Daya (Persero) (“BBD”), PT Bank Dagang Negara (Persero) (“BDN”), PT Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) (“Bank Exim”) dan PT Bank Pembangunan Indonesia (Persero) (“Bapindo”) (selanjutnya secara bersama-sama disebut “Bank Peserta Penggabungan”). Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar Bank Mandiri, ruang lingkup kegiatan Bank Mandiri adalah melakukan usaha di bidang perbankan sesuai dengan