BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Good Corporate Governance
1. Pengertian Good Corporate Governance
Good corporate governance di Indonesia mulai ramai dikenal pada tahun 1997, saat krisis ekonomi menerpa Indonesia yang membuat istilah GCG kian popular hingga saat ini dan ditempatkan diposisi terhormat dikarenakan GCG menjadi salah satu kunci sukses perusahaan untuk
tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus
memenangkan sebuah persaingan bisnis global dan juga karena krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena kegagalan penerapan dari GCG.
Sebagai sebuah konsep, GCG ternyata tak memiliki defenisi tunggal bahkan disejumlah Negara juga memiliki defenisi tersendiri tentang GCG walaupun agak mirip namun terdapat sedikit perbedaan istilah. Defenisi GCG menurut Bank Dunia yang dikutip oleh Iman dan Amin (2002;4) adalah kumpulan aturan, hukum, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, mampu menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan untuk para pemegang saham ataupun masyarakat
sekitar secara menyeluruh. Effendi (2009) pada bukunya “The Power of Good Corporate Governance” mengatakan bahwa pengertian GCG adalah suatu sistem pengendalian internal (internal control) suatu perusahaan yang memiliki tujuan untuk mengelola risiko yang signifikan dalam rangka memenuhi tujuan bisnis, dan itu dilakukan dengan cara pengamanan asset dan peningkatan nilai investasi para pemegang saham dalam jangka waktu yang panjang. Lalu good corporate governance selanjutnya menurut Soekrisno Agoes (2006) menyatakan bahwa tata kelola perusahaan (GCG) merupakan suatu sistem yang mengatur hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, jajaran direksi, dan stakeholders lainnya. Dengan kata lain, GCG ini dilakukan dengan proses yang transparan dalam rangka untuk menentukan tujuan, pencapaian, serta penilaian kinerja suatu perusahaan.
Menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP-117/M-MBU/2002, GoodCorporate Governance adalah suatu proses dari struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memerhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan suatu sistem yang mengatur, mengelola, dan mengawasi proses pengendalian usaha yang berjalan secara berkesinambungan untuk meningkatkan nilai perusahaan, dan juga sebagai bentuk perhatian kepada stakeholder, karyawan, kredittor dan masyarakat sekitar.
2. Tujuan dan Manfaat Good Corporate Governance
Good corporate governance mempunyai target utama yaitu memperbaiki kinerja perusahaan dengan pemantauan kinerja manajemen dalam pada perusahaan, selain itu juga dengan kemampuan akuntabilitas manajemen kepadastakeholder dan pemakai kepentingan lainnya berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan. Menurut Wardani (2008) penggunaan dari prinsip good corporate governance yang utuh, memiliki tujuan kepada perusahaan yaitu :
a) Kemudahan akses kepada investasi domestik atau asing; b) Mendapatkan cost of capital yang terjangkau;
c) Membuatketentuan yang baik lagi untuk memajukan kinerja ekonomi perusahaan;
d) Menumbuhkan kepercayaan atau keyakinan dari stakeholders kepada perusahaan;
e) Memberikan kepastian hokum kepada direksi dan komisaris.
Sedangkan menurut FCGI tujuan goodcorporate governance adalah akan membuat nilai tambah kepada seluruh pihak yang memiliki kepentingan. Good corporate governance bertujuanuntuk :
a) Mengontrol hubungan-hubungan antara pemegang saham, dewan direksi, dandewan komisaris.
b) Menangkal dari kesalahan-kesalahan yang berarti dalam strategi korporasi. Korporasi merupakan mekanisme yang disusun agar berbagai pihak mampu memberikan kontribusi berupa modal, keahlian (expertise), dan juga tenaga, demi manfaat bersama.
c) Memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi bisa diperbaiki segera. Industri pasar modal telah berkembang. Secara teori, penerapangood corporate governance mampu meningkatkan nilai (valuation) perusahaan yaitu dengan meningkatkan kinerja keuangan mereka, meminimalkan risiko yang mungkin dibuat oleh dewan dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan dirinya sendiri, dan umumnya goodcorporate governance dapat meningkatkan kepercayaan dari investor.
Sedangkan manfaat dari good corporate governance adalah sebagai berikut:
a) Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses
pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan dengan lebih baik, serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
b) Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga mampu meningkatkan Corparate Value.
c) Mengurangi agency cost, yaitu biaya yang harus ditanggung pemegang saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen.
d) Meningkatkan nilai saham perusahaan sehingga dapat meningkatkan citra perusahaan kepada public lebih luas dalam jangka panjang.
e) Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
3. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Prinsip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir ataupun bertindak.Prinsip-prinsip good corporate governance dalam praktik corporate governance berbeda pada tiap Negara dan perusahaan karena berkaitan dengan sistem ekonomi, hukum, struktur,
kepemilikan, sosial, dan budaya.Perbedaan praktik tersebut
menggambarkan perbendaan dalam kekuatan suatu kontrak, sikap politik pemilik saham dan hutang. Dengan begitu beberapa aturan, pedoman atau prinsip yang dipakai dalam pelaksanaan good corporate governance juga akan berbeda. Konsentrasi kepemilikan, ukuran perusahaan, serta jenis perusahaan akan mempengaruhi kualitas implementasi good corporate governance perusahaan. Selain itu, pelaksanaan prinsip-prinsip dasar darigood corporate governance harus mempertimbangkan karakter setiap perusahaan seperti besarnya modal, pengaruh dari kegiatannya terhadap masyarakat dan lainnya.
a) Transparancy (Transparansi)
Transparansi merupakan pengungkapan suatu informasi yang terbuka, tepat waktu, serta jelas serta dapat dibandingkan dengan keadaan yang
menyangkut tentang keuangan, pengelolaan perusahaan dan
kepemilikan perusahaan. Untuk menjaga objektivitas dalam
menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang materiil dan relevan dengan cara yang mudah diakses serta dipahami oleh pemakai kepentingan.
b) Accountability (Akuntabilitas)
Akuntabilitas menekankan pada pentingnya penciptaan system pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian kekuasaan antara komisaris, direksi, dengan pemegang saham yang meliputi monitoring, evaluasi, dan juga pengendalian terhadap manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen sudah bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan pihak berkepentingan lainnya. c) Responsibility (Pertanggunjawaban)
Responsibility (Responsbilitas) merupakan tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen serta pertanggungjawaban kepada perusahaan dan pemegang saham. Prinsip ini mewujudkan dengan kesadaran bahwa tanggungjawab adalah konsekuensi logis dari adanya wewenang, menyadari akan adanya tanggung jawab sosial,
menghindari penyalahgunaan wewenang kekuasaan, menjadi
profesional dan menjunjung etika dan memelihara bisnis yang kuat. d) Independensi (independen)
Untuk melancarkan asas goodcorporate governance, maka perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Diperlukan independensi untuk menghindari adanya potensi konflik kepentingan yang mungkin timbul oleh para pemegang saham mayoritas.Mekanisme tersebut menuntut adanya rentang kekuasaan antara komposisi komite dalam komisaris, dengan pihak luar seperti auditor. Keputusan yang dibuat dan proses yang terjadi harus obyektif tidak dipengaruhi oleh kekuatan pihak lainnya.
e) Fairness (Keadilan)
Prinsip keadilan (fairness) adalahprinsip perlakuan yang adil kepada seluruh pemegang saham. Keadilan disini diartikan sebagai perlakuan yang sama kepada para pemegang saham, terutama terhadap pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing dari kecurangan, serta kesalahan perilaku insider. Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan senantiasa harus memperhatikan kepentingan pemegang saham dan kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan juga kesetaraan.
Untuk menjalankan semua prinsip goodcorporate governance diatas, ada baiknyadibarengimenggunakan kode etik perusahaan.Disamping itu,arahan yang sangat penting untukgoodcorporate governancedalam penerapan konsep tersebut, maka dengan hal tersebut, visi dan misi perusahaan mampu tercapai.Pedoman good corporate governance merupakan sebuah pedoman yang dibuat oleh komite nasional goodcorporate governance yang mempunyai fungsi sebagai acuan kepada
para pelaku usaha untuk menjalankan perusahaannya dengan
menerapkan sistem good corporate governance secara konsisten dan konsekuen.Hal ini penting karena dengan adanya penerapan sistem goodcorporate governance di dalam suatu perusahaan, maka ini dapat dijadikan tolak ukur pada perusahaan apakah kinerja perusahaan tersebut baik atau sebaliknya.
Melalui pemenuhan kepentingan yang seimbang, benturan
kepentingan yang terjadi di dalam perusahaan bisa diarahkan dan dikontrol sedemikian rupa, sehingga tidak mengakibatkan timbulnya kerugian bagi
suatu perusahaan.Ada banyak macam korelasi antara implementasi prinsip-prinsip goodcorporate governance di dalam suatu perusahaan dengan kepentingan para pemegang saham, kreditor, manajemen perusahaan, karyawan perusahaan, dan tentunya para anggota masyarakat, merupakan indikator tercapainya keseimbangan kepentingan.
4. Implementasi Good Corporate Governance
Dengan pengaruh positif diterapkannya konsep good corporate governance membuat konsep tersebut dengan cepat mampu di terima oleh kalangan bisnis ataupun masyarakat luas.Daniri (2004) dalam Nugraha (2009) menarik kesimpulan bahwa pertama, untuk mempercepat implementasi good corporate governance dibutuhkan suatu perubahan paradigma dari hanya sekedar pemenuhan peraturan menjadi kebutuhan
yang tidak bisa ditawar lagi.Kedua, implementasi good
corporategovernance adalah tanggung jawab dari semua stakeholder, tidak terkecuali pemerintah.Ketiga, implementasi good corporate governance dan goodpublic governance harus dilaksanakan secara paralel.
Penerapan prinsip goodcorporate governance merupakan upaya menghasilkan kinerja perusahaan yang efektif dan efisien, melalui harmonisasi manajemen perusahaan.Dibutuhkan peran yang penuh komitmen dan independen dari dewan direksi dan dewan komisaris dalam menjalankan kegiatan perusahaan, sehingga mampu menghasilkan kinerja perusahaan yang baik.
5. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governancepada
perusahaan perbankan
Industri perbankan merupakan suatu badan usaha yang bergerak pada bidang keuangan, yang mana kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan kemudian menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lain untuk meningkatkan tarif hidup rakyat banyak. Oleh karena itu industri perbankan ini
memerlukan adanya prinsip-prinsip dalam menjalankan kegiatan
operasinya, khususnya pada kinerja keuangannya agar kegiatan operasinya berjalan sesuai dengan tujuan industri perbankan.Dan prinsip yang paling cocok untuk diterapkan dalam pencapaian tujuan kinerja keuangan tersebut yaitu prinsip good corporategovernance (Surya dan Yustiavandana (2006) dalam Hardikasari (2011).
Pada umumnya penerapan prinsip-prinsip gcg di perusahaan perbankan tidak jauh berbeda dengan perusahaan yang lainnya.Good corporate governance dalam lembaga keuangan, khususnya perusahaan perbankan memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengangood corporategovernace di lembaga keuangan non perbankan. Dalam banyak perilaku manajer dan pemilik bank adalah faktor utama yang membutuhkan perhatian dalam penerapan good corporate governance.
Beberapa peraturan yang telah dikeluarkan berkaitan dengan penerapan prinsip good corporate governance antara lain adalah peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 yang disempurnakan pada peraturan Bank Indonesia No.8/14/PBI/2006 tentang “Pelaksanaan GoodCorporate Governance bagi Bank Umum”, yang menunjukkan keseriusan Bank
Indonesia untuk meminta pengurus perbankan agar patuh untuk menerapkan manajemen risiko guna melindungi kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholder).Banyaknya ketentuan yang mengatur sektor perbankan untuk melindungi kepentingan masyarakat menjadikan sektor perbankan sebagai sektor ”highly regulated”. Selain itu terdapat juga Peraturan Bank Indonesia No. 2/27/PBI/2000 tentang Bank Umum, yang dalamnya diatur tentang kriteria yang wajib dipenuhi oleh calon anggota Direksi dan Komisaris Bank Umum, selain itu juga diatur tentang batasan transaksi yang diperoleh atau dilarang dilakukan oleh pengurus bank. Tujuan dari peraturan tersebut yaitu untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan operasional bank yang dilakukan oleh Dewan Komisaris, Direksi, maupun pemegang saham.Peraturan lainnya adalah Peraturan Bank Indonesia No.5/21/DPNP yang berisi tentang kebutuhan peningkatan good corporate governance.Dalam peraturan tersebut diatur tentang kewajiban suatu perbankan untuk menetapkan wewenang dan tanggung jawab yang jelas kepada setiap jenjang jabatan yang terkait dengan penerapan manajemen risiko juga tentang kewenangan serta tanggung jawab Direksi dan Komisaris yang harus dilakukan terkait penerapan manajemen risiko tersebut.
6. Mekanisme Good Corporate Governance
Mekanisme adalahcara kerja sesuatu yang tersistem untuk
mempengaruhi persyaratan tertentu. Mekanisme goodcorporate
governanceadalah suatu prosedur dengan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan bersama pihak yang melakukan control atau pengawasan terhadap keputusan. Penelitian mengenai goodcorporate
governance menghasilkan berbagai mekanisme yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa tindakan manajemen selaras dengan kepentingan stakeholder.Mekanisme Corporate Governance disebut 2 kelompok (Herawaty, 2007):
a) Mekanisme Internal (Internal Mechanisme) merupakancara untuk mengendalikan perusahaan dengan menggunakan struktur dan proses internal, seperti komposisi dewan direksi atau komisaris, kepemilikan manajerial serta kompensasi eksekutif.
b) Mekanisme eksternal (External mechanisme) merupakancara untuk mempengaruhi perusahaan selain dengan menggunakan mekanisme internal seperti pengendalian oleh pasar dan level debt financing, peraturan hukum, investor, ataupun akuntan publik.
7. Dewan komisaris
Dewan komisaris sebagai faktor inti dalam good corporate governance karena hukum perseroan menempatkan tanggung jawab legal atas urusan suatu perusahaan kepada dewan komisaris.Dewan komisaris perusahaan adalah suatu komite khusus dalam perusahaan, yang bertanggung jawab untuk meneliti semua hal yang berkaitan dengan akuntansi, pengaturan, keuangan, serta pengelolaan perusahaan (Tugiman, 2004:93).Ukuran (jumlah) dewan komisaris pada sebuah perusahaan pada periode t, termasuk komisaris independen (Wardhani, 2006).
8. Dewan Komisaris Independen
Dewan Komisaris Independen merupakan anggota dewan komisaris yang tidak mempunyai hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham ataupun hubungan keluarga dengan pemegang saham pengendali,
anggota dewankomisaris ataupun anggota direksi (Peraturan Bank Indonesia nomor11/33/PBI/2009).Dewan komisaris independen, diukur dengan persentase komisaris independen terhadap jumlah keseluruhan anggota dewan komisaris (Lastanti dalam Purwanigtyas, 2011).
9. Dewan direksi
Dewan direksi menurut (Zarkasyi, 2008:99), yaitu sekelompok individu yang dipilih untuk bertindak sebagai perwakilan untuk para pemegang saham dengan tujuan membangun aturan yang terkait dengan manajemen
perusahaan dan membuat keputusan-keputusan penting
perusahaan.Ukuran dewan direksi, diukur dengan jumlah anggota dewan direksi yang ada pada perusahaan (Suranta dan Machfoedz, dalam Purwaningtyas, 2011).
10. Komite Audit
Komite Audit merupakan sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan tertentu dan untuk melakukan tugas-tugas khusus atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan klien yang bertanggungjawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan independensinya dari manajemen (Firmsstat, 2009). Komite audit diukur dengan jumlah anggota komite audit yang ada pada perbankan (Sam’ani, 2008).
11. Kepemilikan institusional
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian dan institusi lainnya pada akhir tahun (Tarjo, 2008). Dalam penelitian ini variabel institutional ownership diperoleh dari jumlah
persentase hak suara yang dimiliki oleh institutional ownership (S. Beiner et al., dalam Wulandari, 2006).
12. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah sebuah nilai yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan. Ukuran perusahaan bisa diartikan sebagai nilai yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan yang bisa diukur dengan menggunakan logaritma dari total aset yang dimiliki oleh perusahaan yang tercantum padalaporan keuangan perusahaan di akhir periode ( Puspitasari dan Made 2014:41)