GOTONG ROYONG SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN BUDAYA: KASUS PEREHABAN MUSHOLLA MASYARAKAT DUSUN KLAYU
E. Gotong Royong Sebagai Wahana Pendidikan Budaya
Banyak definisi yang berkenaan dengan budaya karena kebudayaan meliputi semua aspek kehidupan manusia. Namun demikian, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu proses belajar. Artinya, kebudayaan tidak datang dengan sendirinya tetapi harus dipelajari sejak manusia masih berusia dini. Bahkan, sejak manusia masih berupa janin. Hal itu, tercermin dari adanya pantangan-pantangan ketika seseorang berbadan dua (hamil) dan upacara kehamilan (nujuh bulan) yang penuh dengan simbol-simbol yang bermakna. Semua itu, dimaksudkan agar sang jabang bayi kelak memiliki watak dan kepribadian yang sesuai dengan masyarakatnya. Untuk itu, pendidikan budaya menjadi sesuatu yang vital
dalam melestarikan suatu budaya.
Pendidikan budaya adalah suatu konsep yang dapat diterjemahkan sebagai pewarisan budaya (cultural transmission), atau enkulturasi (pembudayaan). Konsep ini dapat disejajarkan dengan pendapat tentang pewarisan biologis (bio-logical transmission). Pewarisan budaya ini disebut sebagai “pewarisan tegak” karena melibatkan penurunan ciri-ciri budaya orang tua ke anak-cucu. Walaupun pewarisan tegak merupakan satu-satunya bentuk pewarisan biologis, pewarisan budaya memiliki dua bentuk, yaitu mendatar dan miring. Dalam pewarisan tegak, orang tua mewariskan nilai, keterampilan, keyakinan, motif budaya, dan sebagainya kepada anak-cucu. Dalam pewarisan budaya mendatar, seseorang belajar dari sesamanya. Sedangkan pewarisan miring, seseorang belajar dari orang dewasa dan lembaga-lembaga, termasuk dalam pendidikan formal.11
Konsep di atas bermakna bahwa keluarga, baik keluarga inti (nuclear family) maupun keluarga luas (extended family) sangat berperan dalam melestarikan suatu kebudayaan. Bahkan, bukan hanya keluarga tetapi juga masyarakat dan lembaga pendidikan fomal (sekolah). Ketika anak masih berusia dini, lingkungan keluarga merupakan wahana pembelajaran budaya. Dari kedua orang tuanya, ia akan belajar dan atau diajari budaya yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakatnya. Lalu, setelah bersekolah, ia akan memperoleh pengetahuan budaya dari pada gurunya (melalui berbagai mata pelajaran dan atau kurikulum muatan lokal). Selain itu, lingkungan yang tidak kalah pentingnya adalah lingkungan masyarakat. Melalui masyarakat, seorang anak dapat meniru budaya dan atau tradisi yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakatnya.
Fungsi budaya dalam suatu masyarakat adalah sebagai pedoman dalam menanggapi lingkungannya (alam, sosial, dan budaya).12
Mengingat fungsinya yang demikian vital, maka setiap masyarakat, termasuk masyarakat Dusun Klayu, memilikinya dan berusaha untuk melestarikannya (melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan). Dalam rangka pelestarian itulah pendidikan budaya menjadi penting. Pendidikan budaya pada dasarnya adalah suatu kegiatan penanaman nilai-nilai yang dijadikan acuan dalam bersikap dan bertingkah laku bagi suatu masyarakat. Penanaman nilai-nilai itu dapat dilakukan oleh keluarga (melalui kedua orang tuanya) sekolah (melalui para guru), dan masyarakat (melalui warganya). Ini artinya, bahwa penanaman nilai-nilai tidak hanya di lingkungan keluarga dan sekolah, tetapi juga masyarakat.
Satu tradisi yang ada di kalangan masyarakat Dusun Klayu adalah gotong royong, baik gotong royong yang menyangkut kepentingan individual (perorangan) maupun kepentingan bersama. Gotong royong perehaban dan peningkatan fungsi musholla menjadi sebuah masjid yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Klayu termasuk dalam kategori gotong royong yang menyangkut kepentingan bersama.
Gotong royong, sebagaimana telah disinggung pada bagian depan, adalah nilai-budaya. Sebagai suatu sistem nilai, ia bersifat abstrak. Oleh karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak dapat dilihat (diamati), difoto, dan diraba. Gotong royong baru dapat diamati manakala telah berwujud aktivitas (sistem sosial). Di sini dapat dilihat bagaimana masyarakat Dusun Klayu bekerja bersama-sama dalam mewujudkan kepentingan bersama, yaitu merehab musholla dan sekaligus meningkatkan fungsinya menjadi sebuah masjid yang bernama “Al-Fajar”. Mereka bekerja sesuai kemampuan dan atau keahliannya. Jadi, ada yang membuat dan mengelas kerangka atap yang terbuat dari baja; ada yang mengecor tiang-tiang penjangga; ada yang memasang usuk dan reng; dan ada yang membongkar dan memasang genteng. Pekerjaan-pekerjaan tersebut karena 11 John W Berry, dkk. Psikologi Lintas-Budaya: Riset dan Aplikasi. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999).
12 Parsudi Suparlan, Orang Sakai di Propinsi Riau. (Pekanbaru: Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Riau, 1995).
memerlukan keahlian khusus (pengalaman), maka dikerjakan oleh para tukang (tukang las, tukang batu, dan tukang kayu). Sementara, orang-orang yang tidak memiliki keahlian khusus melakukan pekerjaan seperti: memindahkan, menyusun, dan mengecat genteng, serta membersihkan lingkungan.
Gotong royong, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, jika dicermati secara seksama, tidak hanya mengandung nilai: kebergantungan dengan sesamanya, kebersamaan, musyawarah, t etapi juga kerjasama. Nilai-nilai tersebut sangat mendukung kehidupan bersama dalam suatu masyarakat, dan karenanya gotong royong perlu dilestarikan. Sebab, sebagaimana telah disinggung juga bahwa makna gotong royong bagi masyarakat Dusun Klayu tidak hanya semata-mata pengerahan tenaga untuk suatu kegiatan, baik yang menyangkut kepentingan perorangan maupun bersama, tetapi juga sebagai wahana keguyub-rukunan kehidupan bersama dalam suatu wilayah (dusun). Mengingat kandungan nilainya dan maknanya sangat berarti dalam kehidupan bersama, maka pelaksanaan gotong royong dalam mewujudkan kepentingan bersama tersebut, secara tidak langsung, merupakan wahana dalam pendidikan budaya (penanaman nilai-nilai).
F. Penutup
Klayu adalah sebuah dusun yang secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Masyarakatnya hampir seluruhnya beragana Islam, dan sebagian besar bekerja sebagai petani. Di sana ada sebuah paguyuban yang bernama “Akur Sentosa”. Melalui paguyuban tersebut permasalahan-permasalahan yang menyangkut kehidupan bersama, baik keamanan, ketenteraman, maupun kesejahteraan dipecahkan dengan cara musyawarah.
Sebagaimana masyarakat dusun lainnya yang ada di Desa Timbulharjo, masyarakat Dusun Klayu juga memiliki tradisi dari para leluhurnya. Satu tradisi yang sampai saat ini masih tetap diuri-uri (dilakukan) adalah gotong gotong. Hal itu tercermin dari perehaban dan sekaligus
peningkatan fungsi musholla menjadi sebuah masjid (Al-Fajar).
Aktivitas gotong royong dalam perehaban dan peningkatan mushola menjadi sebuah masjid tersebut, jika dicermati secara seksama, di dalamnya terkandung nilai-nilai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan bersama dalam suatu wilayah (Dusun Klayu). Nilai-nilai itu adalah kebergantungan dengan sesamanya, kebersamaan, musyawarah, kerjasama, dan keterbukaan. Mengingat bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam gotong royong tersebut sangat bermanfaat dalam kehidupan bersama, maka nilai-nilai tersebut perlu dit anamkan kepada masyarakat, khususnya generasi mudanya, sehingga tetap lestari. Salah satu caranya adalah dengan mempergelarkan suatu kegiatan yang dilakukan secara gotong royong. Sebab, dengan digelarnya gotong royong, masyarakat, khususnya generasi mudanya, mengetahui bahwa gotong royong tidak hanya sekedar kerjasama atau kerja bakti, tetapi lebih dari itu karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang dilatarbelakangi oleh nilai budaya yang berkenaan dengan hakekat hubungan antarmanusia yang mengandung empat konsep, yaitu: (1) Manusia tidak hidup sendiri tet api dikelilingi oleh komunit asnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. Dalam sistem makrokosmos ia merasa dirinya hanya sebagai unsur kecil yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang maha besar; (2) Dengan demikian, dalam segala aspek kehidupannya manusia pada hakekatnya bergantung dengan sesamanya; (3) Oleh karena itu, ia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama rata-sama rasa; dan (4) Selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat conform, berbuat sama dan hidup bersama dengan sesamanya dalam komunitas, terdorong oleh jiwa sama tinggi-sama rendah. Dengan demikian, gotong royong sebagai salah satu tradisi yang ada di kalangan masyarakat Dusun Klayu dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan budaya yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat yang bersangkutan.
Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra, Heddy Sri, 2009, “Gotong-royong” Makalah dalam Diskusi Pembuatan Proposal Gotong-royong.
Berry, John W, dkk. 1999. Psikologi Lintas-Budaya: Riset dan Aplikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Galba, Sindu, 2009, Modal Sosial: Tradisi Gotong-royong pada Masyarakat Samin di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Penerbitan “Prapanca” Yogyakarta. Koentjaraningrat, 1985, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.Jakarta: Gramedia.
Laksono, PM. 2009, Spektrum Budaya (Kita). Yogyakarta: Pusat Studi Asia-Pasifik UGM dan Ford Foundation.
Melalatoa, Junus, 1985, Peta Sukubangsa di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rudito, Bambang, 2009, “Proposal Sistem Gotong Royong” Makalah dalam Diskusi Pembuatan Proposal Gotong-royong
Suparlan, Parsudi, 1995. Orang Sakai di Propinsi Riau. Pekanbaru: Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Riau.