• Tidak ada hasil yang ditemukan

Grafik Perkembangan Neraca Perdagangan Nonmigas Indonesia 1969-2010

Dalam dokumen PERJANJIAN PERDAGANGAN BEBAS DALAM ERA L (Halaman 126-131)

Sumber : Biro Pusat Statistik, 2010

Grafik Perkembangan Neraca Perdagangan Nonmigas Indonesia 1969-2010

Sumber : Biro Pusat Statistik, 2010

Bila dilihat Grafik Perkembangan Neraca Perdagangan Migas dan Non Migas Indonesia 1990-2010 dapat dilihat bahwa perkembangan total nilai neraca perdagangan Indonesia melejit setelah 1998, meskipun pada 1997 jatuh, namun kinerja ekspor kemudian mampu bergerak bangkit dan mampu mengungguli kinerja impor. Hal ini berarti setelah 1998, Indonesia mulai menikmati surplus neraca perdagangan, walaupun jatuh bangun dalam melawan arus import.

Persaingan bisnis di era perdagangan bebas menunjukkan perkembangan yang pesat sehingga seolah tidak ada batas antarnegara. Indonesia harus berkompetisi dengan negara lain di bidang perdagangan, baik negara maju maupun negara berkembang. Perdagangan bebas membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk menjual produknya ke luar negeri dan sebaliknya memberi pilihan produk yang lebih banyak kepada masyarakat. Penganjur perdagangan bebas berargumen bahwa liberalisasi menguntungkan semua negara dan keseluruhan ekonomi di dunia. Setiap negara dapat berkonsentrasi untuk memproduksi barang tertentu dengan seefisien mungkin untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dunia. Peran pemerintah diharapkan sangat sedikit dalam perdagangan bebas dan seakan-akan ‘diharamkan’. Namun demikian, perdagangan bebas antar- negara yang tidak terkontrol oleh peran pemerintah dan negara dapat berakibat pada keadaan dimana pengusaha dalam negeri terutama sektor usaha kecil dan menengah semakin terpuruk karena berkompetisi dengan pengusaha dari negara maju. Untuk itu tetap diperlukan peran pemerintah dan kalangan dunia usaha untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, agar semua pelaku usaha dapat tetap bertahan dan bersaing satu sama lain secara sehat. Sistim perdagangan bebas meminta setiap negara membuka akses yang adil dan tidak diskriminatif terhadap satu sama lain. Akses terbuka ini menjadi tertutup jika terjadi ketimpangan teknologi dan informasi perdagangan sehingga dunia usaha negara berkembang seperti Indonesia menjadi dirugikan.187

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk dan daya beli yang terus meningkat sehingga menghasilkan potensi pasar yang sangat besar dan menarik minat pelaku usaha di luar negeri untuk masuk dan mengembangkan pasar. Banyak perusahaan baru bermunculan dan para investor asing mulai menanamkan modalnya dan meramaikan kompetisi bisnis di Indonesia. Pengusaha dalam negeri bersaing dengan rekannya dari negara lain. Demikian pula, dalam berbisnis di luar negeri pengusaha Indonesia dapat ikut serta

      

187

mengambil bagian. Kalau di dalam negeri pengusaha Indonesia sukar bersaing dengan pengusaha asing, maka dalam perdagangan dengan negara lain akan lebih berat untuk pengusaha Indonesia.

Untuk dapat bersaing pada tingkat perdagangan dunia, maka dunia usaha dalam negeri khususnya di Indonesia harus tumbuh kuat. Untuk cepat tumbuh kuat tentu salah satunya diperlukan kebijakan pemerintah yang menguntungkan pengusaha dalam negeri. Meskipun perdagangan bebas berarti tidak ada batas negara, kebijakan yang menguntungkan masih dapat diciptakan dengan syarat tidak melawan hukum perdagangan bebas dunia. Kebijakan yang menguntungkan pengusaha dalam negeri dilakukan oleh negara maju sebagaimana sikap negara industri maju yang secara tidak langsung melakukan proteksi terhadap industri dalam negerinya melalui berbagai isu seperti isu lingkungan hidup, ketenagakerjaan dan lain-lain. Menghadapi perdagangan bebas dunia, maka kalangan dunia usaha juga perlu untuk mengambil sikap dalam menjaga keseimbangan dunia usaha dalam negeri dan luar negeri.

Sumber : Shofwan Al Banna Choiruzzad188

Liberalisasi perdagangan sudah merupakan fenomena dunia yang nyaris tidak dapat dihindari oleh semua negara sebagai anggota masyarakat internasional. Fenomena ini ditengarai oleh terbentuknya blok-blok perdagangan bebas. Blok perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dapat di-bentuk secara bilateral, misalnya antara Amerika Serikat dengan Singapura, Amerika Serikat dengan Chile; Jepang dengan Singapura; maupun regional seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), North America Free Trade Area (NAFTA) dan Uni Eropa, dan multilateral seperti WTO. Negosiasi FTA yang menyangkut Indonesia sebagai bagian dari ASEAN diantaranya sudah dilakukan dengan Amerika Serikat, Jepang, China, CER, Korea Selatan dan India. Antara ASEAN dan negara mitra dagang sudah terdapat saling pengertian bahwa kesepakatan FTA antara ASEAN dengan negara mitra dagang, akan

      

188

Shofwan Al Banna Choiruzzad, Sedia Payung Sebelum Hujan:Perdagangan Bebas, Dampak bagi Para Pekerja, dan Bagaimana Menghadapinya, hlm 76.

ditindaklanjuti dengan kesepakatan FTA antara negara anggota ASEAN secara individu dengan negara mitra dagang secara individu. Berangkat dari pengertian ini Indonesia telah memiliki rencana untuk melakukan penjajagan FTA bilateral dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, Pakistan, Bangladesh dan India. Perundingan lebih dulu akan dilakukan adalah antara Indonesia dengan Jepang, karena kedua kepala pemerintahan sudah menyatakan secara resmi bersama mengenai pentingnya EPA bagi pengembangan ekonomi kedua negara pada saat pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi di APEC Summit Meeting, Chile bulan November 2004.189

PETA REGION ASEAN-CHINA FREE TRADE AGREEMENT (FTA)

Gambar : Peta Asean dengan China

      

189

Beberapa FTA bilateral yang dipertimbangkan oleh Indonesia tersebut adalah sebagai reaksi dari ajakan pihak lain untuk itu. Dapat dikatakan bahwa bagi Indonesia terdapat dua kelompok negara dengan mana Indonesia mempertimbangkan suatu FTA bilateral. Kelompok pertama adalah negara yang bukan mitra dagang utama seperti Iran, Pakistan, dan Bangladesh. Kelompok kedua adalah negara mitra dagang utama seperti Jepang dan AS. Apabila disiapkan dengan baik Indonesia akan mendapat banyak manfaat dari FTA dengan negara-negara ini, meskipun besarnya dan jenis manfaat itu tergantung pada sudut pandang. Apabila reformasi ekonomi dalam negeri dianggap penting untuk terus di-laksanakan, maka FTA bilateral merupa-kan satu instrumen yang efektif untuk membangun kapasitas yang menjadi bagian pokok dari strategi ini.

Dalam dokumen PERJANJIAN PERDAGANGAN BEBAS DALAM ERA L (Halaman 126-131)