• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil uji hipotesis 2 dapat dilihat pada tabel 4.20, variabel keadilan pajak mempunyai tingkat signifikansi 0,038. Hal ini berarti menerima H2 sehingga dapat dikatakan bahwa keadilan pajak berpengaruh negatif signifikan terhadap tax evasion karena tingkat signifikansi yang dimiliki

97 variabel keadilan pajak lebih kecil dari 0,05 dan menunjukkan koefisien yang negatif.

Keadilan merupakan salah satu syarat pemungutan pajak agar dalam pelaksanaan pemungutannya tidak menimbulkan hambatan ataupun perlawanan (Mardiasmo, 2011). Setidaknya ada tiga aspek keadilan yang perlu diperhatikan dalam penerapan pajak, yaitu: pertama, keadilan dalam penyusunan Undang - Undang Pajak. Penyusunan Undang-Undang merupakan salah satu penentu dalam mewujudkan keadilan perpajakan, karena dengan melihat proses dan hasil akhir pembuatan Undang-Undang Pajak yang kemudian diberlakukan masyarakat akan dapat melihat apakah pemerintah juga mengakomodasi kepentingan WP dalam penetapan peraturan perpajakan, seperti ketentuan tentang siapa yang menjadi objek pajak, apa yang menjadi objek pajak, bagaimana cara pembayaran pajak, tindakan yang dapat diberlakukan oleh fiskus kepada WP, sanksi yang mungkin dikenakan kepada WP yang tidak melaksanakan kewajibannya secara tidak benar, hak WP, perlindungan WP dari tindakan fiskus yang dianggapnya tidak sesuai dengan ketentuan, dan hal lainnya. Kedua, keadilan dalam penerapan ketentuan perpajakan. Salah satu bentuk keadilan dalam hal ini adalah terjadinya keseimbangan antara pelaksanaan kewajiban perpajakan dan hak perpajakan dari WP. Ketiga, keadilan dalam penggunaan uang pajak yang berkaitan dengan harapan sampai dimana manfaat dari pemungutan

98 pajak tersebut dipergunakan untuk kepentingan masyarakat banyak (Siahaan, 2010).

Hidayati (2016) dalam penelitiannya membuktikan bahwa keadilan sistem perpajakan merupakan salah satu determinan dari ketidakpatuhan Wajib Pajak. Keadilan mempengaruhi niat untuk berperilaku tidak patuh. Artinya, semakin tinggi keadilan yang dirasakan oleh Wajib Pajak maka akan meningkatkan kesukarelaan untuk membayar pajak. Oleh karena itu, keinginan untuk berperilaku tidak patuh akan semakin kecil.

Semakin tinggi keadilan pajak menurut persepsi responden, maka kecenderungan Wajib Pajak melakukan tindakan penggelapan pajak (tax evasion) akan semakin rendah. Artinya, bila Wajib Pajak merasa bahwa berada dalam keadaan yang tidak adil, ia cenderung untuk melakukan tindakan penggelapan pajak. Sebaliknya, jika Wajib Pajak merasa bahwa keadilan dalam perpajakan sudah diterapkan, maka ia akan cenderung untuk patuh atau menghindari tindakan penggelapan pajak.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Permatasari dan Laksito (2013) dan Syahrina dan Pratomo (2014) yang menyatakan bahwa keadilan pajak memiliki pengaruh negatif signifkan terhadap tax evasion. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Friskianti dan Handayani (2014), Ardyaksa dan Kiswanto (2014), serta Wahyuningsih (2015) yang menyatakan bahwa keadilan pajak tidak berpengaruh terhadap tax evasion.

99 Hipotesis 3: Pengaruh Ketepatan Pengalokasian Pajak terhadap Tax

Evasion

Hasil uji hipotesis 3 dapat dilihat pada tabel 4.20, variabel ketepatan pengalokasian pajak mempunyai tingkat signifikansi 0,870. Hal ini berarti menolak H3 sehingga dapat dikatakan bahwa ketepatan pengalokasian pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap tax evasion karena tingkat signifikansi yang dimiliki variabel ketepatan pengalokasian pajak lebih besar dari 0,05.

Melalui pajak yang kita bayar, tersedia anggaran di APBN yang dapat digunakan untuk mendanai berbagai pembangunan fisik seperti gedung sekolah, rumah sakit atau puskesmas, jalan raya, jembatan, dermaga, pengairan/irigasi, alat-alat keamanan maupun pertahanan, gaji pegawai negeri, dan lainnya. Demikian juga dalam menangani dan menanggulangi korban bencana alam (gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan lainnya) (Pandiangan, 2007). Dengan kata lain, pajak yang dibayarkan akan dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk fasilitas umum yang diberikan pemerintah (Sari dan Dwinuri, 2099).

Teori pembelajaran sosial Bandura (1977) dalam Jatmiko (2006) menjelaskan perilaku Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak. Wajib Pajak akan taat membayar pajak tepat waktu jika dalam pengamatan dan pengalamannya hasil dari pajak itu telah berkontribusi nyata pada pembangunan umum. Maka apabila pemerintah

100 telah tepat dalam mengalokasian pengeluarannya melalui pengamatan dan pengalaman Wajib Pajak, tingkat tax evasion akan semakin rendah. Syahrina dan Pratomo (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ketepatan pengalokasian pajak oleh pemerintah berpengaruh secara negatif signifikan terhadap tax evasion. Wajib Pajak menganggap bahwa pajak yang telah dipungut oleh pemerintah belum dialokasikan dengan tepat untuk fasilitas umum dan kesejahteraan masyarakat luas. Hal tersebut menyebabkan kemungkinan penggelapan pajak yang akan mereka lakukan menjadi tinggi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ketepatan pengalokasian pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap tax evasion. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketepatan pengalokasian pajak bukan merupakan faktor yang membuat Wajib Pajak akan melakukan atau menghindari tax evasion dalam penelitian ini. Hal tersebut mungkin dapat disebabkan oleh banyaknya Wajib Pajak yang kurang memiliki pengetahuan tentang alokasi dana pajak yang selama ini mereka bayar kepada Negara. Pandiangan (2007) menjelaskan bahwa setiap pembayaran pajak yang dilakukan masyarakat pada dasarnya tidak mendapatkan kontraprestasi secara langsung kepada pembayarnya secara individual. Oleh karena itu, masyarakat mungkin belum menyadari sepenuhnya bahwa berbagai fasilitas umum yang diberikan pemerintah seperti jalan raya, jembatan, rumah sakit, gedung sekolah, alat-alat keamanan maupun pertahanan, dan lainnya didanai oleh pajak yang mereka keluarkan.

101 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih (2015) yang menyatakan bahwa ketepatan pengalokasian pengeluaran pemerintah tidak berpengaruh terhadap tax evasion. Akan tetapi tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayu dan Hastuti (2009), Permatasari dan Laksito (2013), Syahrina dan Pratomo (2014), serta Ardyaksa dan Kiswanto (2014) yang menyatakan bahwa ketepatan pengalokasian pajak berpengaruh terhadap tax evasion. Hipotesis 4: Pengaruh Teknologi Sistem Perpajakan terhadap Tax

Evasion

Hasil uji hipotesis 4 dapat dilihat pada tabel 4.20, variabel teknologi sistem perpajakan mempunyai tingkat signifikansi 0,881. Hal ini berarti menolak H4 sehingga dapat dikatakan bahwa teknologi sistem perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap tax evasion karena tingkat signifikansinya lebih besar dari 0,05.

Dirjen Pajak telah melakukan beberapa reformasi perpajakan dan modernisasi administrasi perpajakan berlandaskan case management. Salah satunya adalah dengan penerapan teknologi informasi terkini dalam pelayanan perpajakan, yaitu e-system yang meliputi e-Registration, e-SPT, e-Filling, dan e-Payment (Pandiangan, 2007). Silaen et al (2015) menjelaskan bahwa dengan adanya teknologi dan informasi di bidang perpajakan, waktu yang dibutuhkan seorang Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban pajaknya semakin efektif dan efisien. Ketika Wajib Pajak semakin dipermudah dengan fasilitas yang diberikan,

102 diharapkan Wajib Pajak dapat memenuhi kewajibannya dan dapat menghindari tindakan penggelapan pajak.

Permatasari dan Laksito (2013) dalam penelitiannya membuktikan bahwa teknologi dan informasi merupakan faktor yang dapat meminimalisasi tax evasion secara signifikan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi penggunaan teknologi dan informasi perpajakan maka semakin rendah tax evasion yang dilakukan. Syahrina dan Pratomo (2014) menemukan bahwa sistem teknologi perpajakan yang disediakan untuk mempermudah Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya yang diharapkan oleh Dirjen Pajak akan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dan mengurangi tingkat penggelapan pajak kenyataannya tidak digunakan oleh Wajib Pajak sehingga keberadaan fasilitas teknologi perpajakan tidak berpengaruh terhadap penggelapan pajak yang banyak terjadi saat ini.

Hasil penelitian dimana teknologi sistem perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap tax evasion ini menunjukkan bahwa walaupun semakin modern sistem teknologi perpajakan yang disediakan oleh Ditjen Pajak untuk mempermudah Wajib Pajak dalam melakukan kewajiban perpajakannya, belum tentu akan membuat Wajib Pajak patuh dan mengurangi tindakan penggelapan pajak atau tax evasion. Hal ini.mungkin dapat disebabkan oleh penggunaan teknologi yang belum dimaksimalkan oleh responden atau Wajib Pajak itu sendiri dimana

103 masih banyak Wajib Pajak yang melakukan kegiatan perpajakannya secara manual.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayu dan Hastuti (2009) dan Syahrina dan Pratomo (2014) yang menyatakan bahwa teknologi sistem perpajakan tidak berpengaruh terhadap tax evasion. Namun tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Permatasari dan Laksito (2013), Ardyaksa dan Kiswanto (2014), serta Friskianti dan Handayani (2014) yang menyatakan bahwa teknologi sistem perpajakan berpengaruh terhadap tax evasion.

Dokumen terkait