• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Gravity Model

Gravity Model menurut Lineman (Lapipi 2005) adalah model yang digunakan untuk menganalisis efek integrasi ekonomi terhadap perdagangan dan merupakan satu alat analisis yang dapat digunakan untuk mengestimasi berapa besarnya nilai barang yang keluar dan masuk di suatu wilayah. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Tinberger (1962) dan Poyhonen (1963) yang menganalisis arus perdagangan di negara-negara Eropa dan terakhir diperkenalkan oleh Anderson (1979) yang menurunkan persamaan gravitasi dengan menggunakan asumsi diferensiasi produk dengan preferensi Cobb- Douglas dan CES (Constant Elasticity Substitution). Selanjutnya oleh Bergstrand (1985) melalui beberapa riset melengkapi model gravitasi dengan kerangka model Heckscher-Ohlin (H-O) dengan menggunakan asumsi kompetisi monopolistic yang menekankan adanya diferensiasi produk pada negara. Gravity Model dilandasi oleh teori Heckscher-Ohlin maupun teori imperfect substitution yang dibuktikan oleh Derdorff (1998).

Model gravitasi mulai menjadi perhatian sebagai alat analisis interaksi sosial dan ekonomi setelah adanya hasil penelitian Carey dan Ravenstein pada abad ke-19. Carey dan Ravenstein melakukan penelitian tentang asal tempat

tinggal migran yang datang dari berbagai kota besar di Amerika. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jumlah migran yang masuk ke suatu kota dipengaruhi oleh besarnya jumlah penduduk kota yang didatangi, besarnya jumlah penduduk tempat asal migran, dan jarak antar kota yang dituju. Model gravitasi ada dua jenis yaitu model gravitasi dengan pembatas tunggal (single constrained gravity model) dimana variabel yang menjadi faktor pembatas yang didistribusikan ditentukan jumlahnya sedangkan daerah tujuan tidak ditentukan batas daya tampungnya dan model gravitasi dengan pembatas ganda (double constrained gravity model) dimana variabel yang menjadi faktor pembatas yang didistribusikan dan daerah tujuan ditentukan juga (Tarigan, 2005).

Model ini disebut juga gravity model karena menggunakan suatu perumusan yang sama dengan model gravitasi Newton, dimana interaksi antara dua objek adalah sebanding dengan massanya dan berbanding terbalik dengan jarak masing-masing. Tiga penjelasan gravity model menurut Learner yaitu pertama, berdasarkan fisika. Kedua, mengidentifikasi persamaan sebagai reduced-form dengan variabel eksogen sisi demand (pendapatan dan populasi negara pengimpor) dan variabel sisi supply (pendapatan dan populasi negara pengekspor). Di sisi lain pihak karekteristik negara pengimpor dan pengekspor mengidentifikasi ukuran dari masing-masing negara, dengan semua aliran sebagai fungsi ukuran negara pada kedua sisi. Interpretasi ketiga didasarkan pada model probabilitas.

Model gravitasi memiliki keunggulan dibanding model perdagangan internasioanal lainnya karena menyajikan model yang lebih empiris dibanding

model lainnya yang secara teoritis seperti model Ricardian. Pada model ini negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang mereka paling baik produksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari buruh dan modal dalam negara. Model gravitasi menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris dari pola perdagangan dibanding model yang lebih teoritis diatas. Model gravitasi, pada bentuk dasarnya, menerka perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya. Model ini meniru hukum gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran fisik diantara dua benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh analisa ekonometri. Faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan perdagangan juga dimasukkan dalam versi lebih besar dari model ini.

Pada gravity model aliran perdagangan bilateral ditentukan oleh tiga kelompok variabel yaitu (Tarigan, 2005) :

1. Variabel-variabel yang mewakili total permintaan potensial negara pengimpor.

2. Variabel-variabel indikator total penawaran potensial negara pengekspor.

3. Variabel-variabel pendukung atau penghambat aliran perdagangan antar negara pengekspor dan negara pengimpor.

Dalam bentuknya yang paling umum, konsep gravitasi dapat dirumuskan sebagai berikut :

Iij = k (2.1)

dimana :

Iij = Taksiran tingkat interaksi antara wilayah idengan j,

Ai, Aj = Besarnya daya tarik wilayah i dan j, dij = Ukuran jarak antar wilayah i dan j, k = Konstanta,

a, b, c = Parameter dugaan.

Interaksi antara i dan j (Iij) menginterpretasikan nilai dari aliran perdagangan suatu komoditas dari wilayah i ke wilayah j yang meliputi arus perdagangan keseluruhan wilayah dalam satu negara tersebut. Di tingkat negara, penerapannya hingga pada perdagangan antar negara seperti antar negara anggota WTO, ASEAN, APEC, EROPA UNION yang pada umumnya variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur daya tarik wilayah (A) adalah jumlah penduduk, Produk Domestik Bruto (PDB), nilai tukar, harga komoditas yang diperdagangkan dan variabel jarak (dij) yang dapat diukur melalui pendekatan biaya transportasi.

Lineman (Lapipi, 2005) memperlihatkan standar gravity model dalam bentuk logaritma adalah sebagai berikut :

Log Xij = β0 + β1logYi + β3logYj + β4logNj + β5logDij + β6logPij + uij (2.2)

dimana :

Xij : Komoditi aliran perdagangan bilateral dari negara i ke negara j,

Yi, Yj : GDP negara i dan j, Ni, Nj : Populasi negara i dan j, Dij : Jarak antara negara i dan j, Pij : Dummy,

uij : standar error.

Model di atas menggambar pola normal atau sistematik dari perdagangan dunia yang digambarkan oleh determinan natural dari volume perdagangan seperti Yi, Yj, Ni, Nj , Dij sedangkan variabel dummy integrasi ekonomi diperkenalkan untuk menjelaskan deviasi dari pola perdagangan ini dari faktor prefensial perdagangan. Variabel jarak bilateral dipakai untuk setiap aliran perdagangan bilateral.

2.4. Gross Domestic Product, Populasi, Jarak, Nilai Tukar, Ekspor 2.4.1. Gross Domestic Product

Gross Domestic Product (GDP) adalah ukuran kapasitas untuk memproduksi komoditi ekspor negara tersebut. GDP merupakan pendapatan total nasional pada output barang dan jasa. Lipsey menyatakan bahwa GDP merupakan nilai dari total produksi barang dan jasa suatu negra yang dinyatakan sebagai produksi nasioanal dan nilai total produksi tersebut juga menjadi pendapatan total negara yang bersangkutan atau dengan kata lain produk nasional sama dengan pendapatan nasional. Produk atau pendapatan nasional ini juga dapat diukur dalam bentuk pendapatan nasional bruto PNB atau PDB. GDP sering dianggap sebgai cerminan kinerja ekonomi dan sbg perekonomian total dari setiap orang di dalam perekonomian (Mankiw, 2000). GDP menunjukkan besarnya kemampuan

perekonomian suatu negara dimana semakin besar GDP yang dihasilkan oleh suatu negraa semakin besar pula kemampuan negara tersebut untuk melakukan perdagangan. Bagi negara importir, semakin besar GDP maka akan meningkatkan impor komoditi negara tersebut. Peningkatan GDP merupakan peningkatan pendapatan masyarakatnya. Peningkatana pendapatan akan meningkatkan permintaan terhadap suatu komoditi yang pada akhirnya akan meningkatkan impor komoditi tersebut. Sehingga besarnya GDP yang dimiliki negara importir akan mempengaruhi besarnya volume perdagangan. GDP mewakili ukuran ekoinomi negara eksportir dan importir. Ukuran negara eksportir akan menentukan jumlah produksi komoditi ekspor (product capacity) dan ukuran negara importir menentukan jumlah produksi komoditi ekspor yang dapat dijual oleh negara eksportir (absortive capacity). Ukuran ekonomi adalah kemampuan potensial negara untuk melakukan perdaganagna luar negeri yaitu kemampuan kedua negra unutuk menjual atau membeli komoditi ekspor.semakin besar ukuran ekonomi negara eksportir maka semakin besar pula kemampuan untuk melakukan produksi komoditi ekspor. Begitu pula negara importir, semakin besar ukuran ekonomi negara importir maka semakin besar pula kemampuan untuk melakukan impor.

2.4.2. Populasi

Pada negara eksportir peningkatan populasi pada sisi permintaan akan meningkatkan permintaan domestik maka terjadi penurunan penawaran ekspor dari negara tersebut. Apabila pertambahan populassi negara eksportir terjadi pada sisi penawaran maka hal ini berdampak pada pertambahan tenaga kerja untuk

produksi komoditas ekspor negara tersebut. Kenaikan populasi sisi penawaran akan meningkatkan penawaran ekspor negara eksportir.

Pertambahan populasi pada negara importir dapat berada pada sisi penawaran maupun permintaan. Pada sisi penawaran pertambahan populasi akan meningkatkan produksi dalam negeri dalam hal kuantitas maupun diversifikasi produk negara importir. Kondisi ini akan mengakibatkan penurunan permintaan komoditi ekspor oleh negara importir. Pertambahan populasi pada sisi permintaan akan meningkatkan permintaan komoditi ekspor dari negara importir maka jumlah komoditi yang diperdagangkan antar kedua negara semakin besar.

Populasi besar memungkinkan skala ekonomi yang dapat meningkatkan produksi komoditi ekspor sehingga diharapkan populasi dapat berpengaruh positif.

2.4.3. Jarak

Jarak adalah indikasi dari biaya transportasi yang dihadapi oleh suatu negara dalam melakukan ekspor. Biaya transportasi adalah suatu faktor penghambat perdaganagan internasional. Jarak meningkatkan biaya transaksi pertukaran barang dan jasa internasional. Semakin jauh terpisah suatu negara dengan yang lain semakin besar pula biaya trasnportasi pada perdagangan di antara keduanya. Dengan adanya biaya trasnportasi, keuntungan yang diterima oleh suatu negara dari perdagangan internasional semakin kecil. Maka perlu mempertimbangkan jarak kedua negara sebagai determinan penting untuk pola perdagangan geografis.

2.4.4. Nilai Tukar

Nilai tukar adalah suatu harga relatif dari barang-barang yang diperdagangkan oleh dua negara yang biasa disebut terms of trade. Nilai tukar kedua negara dihitung dari nilai tukar nominal dan harga di kedua negara. Jika nilai tukar tinggi maka harga barang luar negeri relatif murah dan barang domestik mahal. Jika nilai tukar riil rendah maka sebaliknya harga barang-barang domestik relatif lebih murah sedangkan harga barang-barang-barang-barang luar negeri mahal (Mankiw, 2000).

2.4.5. Ekspor

Ekspor adalah aliran perdagangan suatu komoditi dari dalam negeri ke luar negeri. Ekspor dapat juga diartikan suatu toatal penjualan barang yang dapat dihasilkan oleh suatu negara kemudian diperdagangkan kepada negara lain dengan tujuan mendapatkan devisa. Keuntungan ekspor yaitu mampu meningkatkan laba perusahaan dan devisa negara, membuka pasar baru di luar negeri, memanfaatkan kelebihan kapasitas dalam negeri dan membiasakan diri dalam pasar internasional serta meningkatkan lapangan kerja (Salvatore, 1997).

Dokumen terkait