LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka
2. Groundstroke Forehand
Groundstroke adalah pukulan yang dilakukan seseorang pemain tenis lapangan setelah bola memantul ke lapangannya sendiri. Menurut Jim Brown (2001: 31)” groundstroke merupakan pukulan yang dilakukan baik dengan forehand atau backhand setelah bola memantul di lapangan”.
Groundstroke forehand adalah pukulan yang dilakukan terhadap bola setelah memantul ke lapangannya sendiri dan berada di samping kanan pemain (apabila menggunakan tangan kanan) atau di samping kiri (apabila menggunakan tangan kiri/kidal). Pukulan ini merupakan pukulan terpenting dalam permainan tenis lapangan. Groundstroke forehand merupakan pukulan yang pertama diajarkan pada pemain pemula.
Menurut B.Yudoprasetio,(1981:33) mengatakan bahwa :
kunci keberhasilan atau urutan melakukan groundstroke melalui tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan yang terdiri dari back swing (ayunan kebelakang) dan forward swing (ayunan ke depan), serta follow trough (ayunan lanjutan).
1) Persiapan
Dalam melakukan rally sikap berdiri harus selalu berdiri ditengah arena base line. Raket tergenggam erat mengarah pada net, berat badan harus berada pada ujung kaki, kaki direntangkan selebar kira-kira 30 cm, dan kedua lutut sedikit ditekuk agar cepat bergerak kearah datangnya bola baik ke kiri atau ke kanan. Leher raket juga harus ditunjang oleh jari-jari tangan kanan kiri.
Ini akan mengurangi beban yang ditanggung tangan kanan, dan cara ini juga commit to user
15
memungkinkan tangan kiri untuk memutar bahu ke kiri atau ke kanan pada saat raket ditarik sebagai persiapan untuk melakukan pengambilan pukulan bola dari lawan. Untuk lebih jelasnya tampak gambar 5 berikut.
Gambar 2.7 Sikap Berdiri Siap
Sumber : Barron’s. Tennis Course Techniques and Tactics Vol. 1 (2000:15)
2) Ayunan ke belakang (back swing)
Pada ayunan ke belakang harus dilaksanakan dengan cepat dan baik, yaitu pada saat bola dari lawan melewati net, back swing harus sudah siap, dan mata mengawasi arah bola terus menerus. Pada back swing dimulai, berat badan harus ditanamkan dikaki kanan (belakang), dan bahu kiri disiapkan untuk diarahkan ke jaring. Raket diayunkan kebelakang dan badan harus diputar kekanan. Pada akhir back swing berat badan sudah tertanam di kaki depan dan badan berputar kekiri. Daun raket sudah lebih tinggi dari pada tinggi bola yang akan dipukul. Daun raket tidak boleh diturunkan lebih rendah dari pada pergelangan tangan, dalam usaha memukul bola. Untuk memukul bola rendah, pemain harus membengkokkan lututnya lebih rendah. (B.
Yudoprasetio, 1981:35), lebih jelas gerakan back swing (ayunan kebelakang).
Untuk lebih jelasnya terlihat pada gambar 6 berikut.
commit to user
Gambar 2.8 Pelaksanaan Ayunan ke Belakang Pada Pukulan Forehand Sumber : Barron’s. Tennis Course Techniques and Tactics Vol. 1 (2000:80)
3) Ayunan ke depan (forward swing)
Ketika bola berada kira-kira 60 cm depan pinggang sebelah mulailah mengayunkan raket kedepan, dengan permukaannya tegak lurus dari tanah, putarlah pinggang dan bahu ke kiri, lalu miringkan badan untuk melakukan tembakan sampai mengalihkan berat badan ke kaki kanan depan, pada saat mengayunkan raket pegangan pada raket harus bener-bener kencang.
Seandainya datangnya bola rendah, tekuklah lutut lebih rendah untuk memukulnya dan jangan menjatuhkan kepala raket. Saat terjadi kontak dengan bola usahakan untuk mengikuti bola, yakni mengayunkan raket sehingga senar-senarnya menempel pada bola selama beberapa saat atau sekitar 15-30 cm sebelum mengakhirinya dengan follow-through. Jika terlalu cepat mengkibaskan raket dan tidak mengikuti bergeraknya bola ini hanya akan mencapai ketepatan pukulan yang tidak seharusnya. Menghentakan pergelangan tangan untuk menghasikan topspin adalah salah (Lardner,1996:39). Untuk lebih jelasnya tampak pada gambar 7 berikut.
commit to user
17
Gambar 2.9 Pelaksanaan Ayunan ke Depan Pada Pukulan Forehand Sumber : Barron’s. Tennis Course Techniques and Tactics Vol. 1 (2000:32)
4) Gerak lanjutan (follow trough)
Setelah memukul bola, pinggang harus berputar dan raket terayun kedepan dan berputar dalam suatu gerakan follow trough yang mulus. Berhenti pada suatu titik di hadapan bahu sebelah kiri. Setelah melakukan stroke (pukulan) gerakan yang dilakukan adalah bergerak lagi dengan cepat ke tengah arena dan dilanjutkan posisi siap. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 8 di bawah berikut.
Gambar 2.10 Pelaksanaan Gerak lanjutan Pada Pukulan Forehand Sumber : Barron’s. Tennis Course Techniques and Tactics Vol. 1 (2000:80&84)
commit to user
Secara urut, pelaksanaan pukulan dari mulai sikap berdiri, ayunan ke belakang, ayunan kedepan dan gerak lanjutan dalam pelasanaan melakukan gerakan forehand. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada gambar 9 berikut.
Gambar 2.11 Rangkaian melakukan pukulan forehand
Sumber : Barron’s. Tennis Course Techniques and Tactics Vol. 1 (2000:80-81 )
3. Latihan
a. Pengertian Latihan
Menurut Sudjarwo (1992: 11) “Latihan adalah suatu proses yang sistematis secara berulang–ulang secara ajeg dengan selalu memberikan peningkatan beban latihan”. Suharno HP. (1993: 7) mengemukakan “Latihan adalah suatu proses mempersiapkan organisme atlet secara sistematis untuk mencapai mutu prestasi maksimal dengan memberi beban-beban fisik dan mental yang teratur, terarah, meningkat dan berulang-ulang waktunya”.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, latihan secara sistematis maksudnya berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem tertentu , metodis, dari yang mudah ke yang lebih sukar, latihan teratur, dari yang sederhana ke yang lebih kompleks. Latihan berulang – ulang adalah setiap elemen teknik haruslah diulang sesering mungkin, maksudnya adalah agar gerakan yang semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah dan otomatis pelaksanaannya sehingga semakin menghemat energi. Kian hari kian ditambah bebannya, segera setelah tiba saatnya beban latihan harus ditambah. commit to user
19
Kalau beban tidak pernah ditambah prestasi atau kemampuan juga tidak akan meningkat. Latihan harus direncanakan dengan baik, hal ini meliputi program latihan, sasaran yang hendak dikembangkan yang pada akhirnya akan terjadi peningkatan kemampuan dan prestasi yang lebih baik.
Salah satu tujuan dari latihan adalah pencapaian prestasi yang setinggi mungkin. Upaya mencapai prestasi olahraga banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang memberikan sumbangan bagi pencapaian prestasi dalam olahraga dan masalah pembinaan olahraga yang kompleks ialah penerapan metode latihan yang ilmiah.
Metode latihan merupakan suatu cara yang digunakan oleh pelatih dalam menyajikan materi latihan, agar tujuan latihan dapat tercapai. Berkaitan dengan metode latihan. Metode latihan merupakan cara yang digunakan seorang pembina atau pelatih berfungsi sebagai alat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan bagi atlet yang dilatih. Dalam hal ini seorang pelatih harus menerapkan metode latihan yang efektif. Efektivitas latihan merupakan jalan keberhasilan dalam proses pembiasaan atau sosialisasi siswa atau atlet dan pengembangan sikap serta pengetahuan yang mendukung pencapaian keterampilan yang lebih baik dalam kerangka program pembinaan.
b. Latihan Teknik
Setiap cabang olahraga selalu berisikan teknik-teknik dari cabang olahraga yang bersangkutan. Untuk menguasai teknik dengan baik, diperlukan latihan teknik yang sistematis dan kontinyu. Berikut ini disajikan pengertian-pengertian latihan teknik yang disajikan oleh beberapa ahli, sebagai berikut :
1) Menurut Sudjarwo (1995: 41)
latihan teknik bertujuan untuk pengembangan dan pembentukan sikap dan gerak melalui pengembangan motorik dan system persarafan menuju gerakan otomatis.
2) Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 127) commit to user
latihan teknik adalah latihan yang khusus dimaksudkan untuk membentuk dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan motorik dan neuromuskular.
Berdasarkan pengertian latihan teknik di atas dapat diambil kesimpulan bahwa latihan teknik merupakan latihan yang bertujuan untuk mengembangkan dan menyempurnakan teknik-teknik gerakan pada cabang olahraga. Suatu teknik dalam cabang olahraga dapat dikuasai dengan baik apabila dilakukan secara sistematis dan kontinyu dengan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan yang tepat.
c. Prinsip-Prinsip Latihan
Dalam pelaksanaan latihan, baik atlet maupun pelatih harus memperhatikan prinsip-prinsip latihan. Dengan memperhatikan pprinsip latihan maka diharapkan kemampuan atlet akan meningkat dan mengurangi akibat yang buruk yang terjadi pada fisik maupun teknik atlet. Menurut A.
Hamidsyah Noer (1996; 8-11) prinsip-prinsip latihan dalam olahraga meliputi : “(1) Latihan-latihan yang dilakukan hendaknya diulang ulang, (2) Latihan yang dilakukan harus cukup berat, (3) Latihan yang diberikan harus cukup meningkat, (4) Latihan harus dilakukan secara teratur, dan (5) Kemampuan berprestasi”. Untuk lebih jelasnya, maka prinsip-prinsip latihan diuraikan sebagai berikut :
1) Latihan Harus Diulang-ulang
Mengulang-ulang terhadap bentuk gerakan yang dipelajari adalah sangat penting untuk menguasai teknik suatu cabang olahraga atau meningkatkan kemampuan fisik. Pengulangan gerakan hendaknya dilakukan dengan frekuensi yang sebanyak-banyaknya. Hal ini dimaksudkan untuk mempemahir teknik yang dipelajari menuju otomatisasi gerakan yang efektif dan efisien. Seperti yang dikemukakan oleh Sudjarwo (1995: 44) bahwa, “Latihan teknik yang dilakukan secara berulang-ulang bertujuan untuk mengotomatisasikan gerakan sesuai dengan teknik yang dikehendaki. Pada hakekatnya pengembangan teknik commit to user
21
merupakan bagian dari usaha meningkatkan keterampilan menuju gerakan cermat, efisien, dan efektif”.
2) Latihan yang Diberikan Harus Cukup Berat
Latihan yang diberikan harus cukup berat maksudnya adalah, latihan yang menekankan pada pembebanan latihan yang semakin berat atau prinsip overload. Beban latihan yang diberikan harus cukup berat, yaitu diatas atas ambang rangsang. Jika latihannya terlalu ringan, maka kemampuan tubuh tidak akan meningkat. Dalam hal ini Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 131) mengemukakan bahwa,
“kalau beban latihan terlalu ringan (di bawah ambang rangsang), walaupun latihan sampai lelah, berulang-ulang dan dengan waktu yang lama, peningkatan prestasi tidak akan mungkin tercapai”.
3) Latihan Harus Cukup Meningkat
Pemberian latihan harus dilakukan secara bertahap yang kian hari kian bertambah jumlah bebannya yang akan memberikan efektifitas kemampuan fisik atau teknik. Peningkatan beban latihan hendaknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan atlet serta ditingkatkan bertahap.
Apabiula latihan diberikan secara cepat dengan peningkatan beban yang cepat pula, maka akan mengakibatkan terjadinya lelainan di dalam tubuh serta munculnya gejala-gejala overtraining. Seperti yang dikemukakan oleh Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 131), “kalau bebannya terlalu berat, maka pengembangan pun tidak akan mungkin karena tubuh tidak akan dapat memberikan reaksi terhadap beban latihan yang terlalu berat tersebut. Hal ini juga dapat mengakibatkan cedera atau overtraining”.
4) Latihan Harus Dilakuka secara Teratur
Menurut Yusuf Hadisasmita dan Aip Syarifuddin (1996: 131) bahwa, “sistem faaliah tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan rangsang-rangsang latihan (adaptasi). Adaptasi adalah penyesuaian fungsi dan struktur organisme atlet akibat beban yang diberikan oleh pelatih”. Latihan yang dilakukan secara teratur dan commit to user
berkelanjutan membuat tubuh dapat menyesuaikan diri kembali dengan alam sekitarnya secara teratur. Dengan adaptasi tubuh terhadap situasi latihan ini maka kemampuan tubuh akan meningkat sesuai dengan rangsangan yang diberikan.
5) Kemampuan Berprestasi
Kemampuan berprestasi seseorang sangat ditentukan oleh faktor latihan, pemberian dosis latihan harus direncanakan, disusun dan diprogramkan dengan baik sehingga tuuan dapat tercapai. Kemampuan berprestasi juga dipengaruhi oleh faktor lain, A Hamidsyah Noer (1996:
11) Mengemukakan, “Kemampuan berprestasi disamping ditentukan oleh faktor latihan juga ditentukan oleh faktor usia, jenis kelamin, bakat, dan kemauan”.
d. Komponen-Komponen Latihan
Setiapkegiatan olahraga yang dilakukan atlet akan mengarah pada sejumlah perubahan yang bersifat anatomis, fisiologis, biokimia, dan kejiwaan. Menurut Andi Suhendro (2004: 3.22) bahwa, “dalam proses latihan yang efisien dipengaruhi : (1) Volume latihan, (2) Intensitas Latihan, (3) Densitas Latihan, dan (4) Kompleksitas latihan”. Apabila seorang pelatih merencanakan suatu latihan menjadi komponen latihan tersebut di atas.
Untuk lebih jelasnya komponen-komponen latihan dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :
1) Volume Latihan
Sebagai komponen utama, volume adalah prasyarat yang sangat penting untuk mendapatkan teknik yang tinggi dalam pencapaian fisik yang lebih baik. Menurut Andi Suhendro (2004: 3.17) bahwa, “ Volume latihan adalah ukuran yang menunjukkan jumlah atau kuantitas derajat besarnya suatu rangsang yang dapat ditunjukkan dengan jumlah repetisi, seri atau set dan panjang jarak yang ditempuh”. Sedangkan repetisi menurut Suharno HP (1993: 32) adalah “ ulangan gerak berapa kali atlet harus melakukan gerak setiap giliran”. commit to user
23
Peningkatan volume latihan merupakan puncak latihan dari semua cabang olahraga yang memiliki komponen aerobik dan juga cabang olahraga yang menuntut kesempurnaan teknik atau ketrampilan taktik. Hanya jumlah pengulangan latihan yang tinggi yang dapat menjamin akumulasi jumlah ketrampilan yang diperlukan untuk perbaikan penampilan secara kuantitatif. Perbaikan penampilan seorang atlet merupakan hasil dari adanya peningkatan jumlah satuan latihan serta jumlah kerja yang diselesaikan setiap satuan latihan.
2) Intensitas Latihan
Intensitas latihan merupakan salah satu komponen yang sangat erat kaitannya dengan komponen kualitatif kerja yang dilakukan dalam jangka waktu yang telah diberikan. Lebih banyak kerja yang dilakukan dalam satuan waktu, maka lebih tinggi pula intensitasnya.
Intensitas adalah fungsi dari kekuatan rangsangan syaraf yang dilakukan dal;am latihan, dan kekuatan rangsang tergantung dari beban kecepatan geraknya, variasi interval atau istirahat diantara tiap ulangannya. Menurut Suharno HP (1993: 31 bahwa, “intensitas adalah takaran yang menunjukkan kadar atau tingkatan pengeluaran energi atlet dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan”.
Intensitas latihan hendaknya diberikan secara tepat, yaitu tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Intensitas yang terlalu rendah mengakibatkan pengaruh yang ditimbulkan sangat kecil bahkan tidak berpengaruh sama sekali. Sebaliknya, apabila intensitas latihan terlalu tinggi dapat mengakibatkan cedera.
3) Densitas Latihan
Andi Suharno (2004; 3.24) menyatakan, “density merupakan ukuran yang menunjukkan derajat kepadatan suatu latihan yang dilakukan”. Dengan Demikian densitas berkaitan dengan suatu hubungan yang dinyatakan dalam satuan waktu antara kerja dan istirahat. Densitas yang cukup akan menjamin efisiensi latihan, sehingga mengindarkan atlet dari kelelahan yang berlebih. commit to user
4) Kompleksitas latihan
Kompleksitas dikaitkan pada kerumitan bentuk latihan yang dilaksanakan dalam latihan. Kompleksitas dari suatu keterampilan membutuhkan koordinasi, dapat menjadi penyebab penting dalam menambah intensitas latihan. Keterampilan tehnik yang rumit atau sulit, mungkin akan menimbulkan permasalahan dan akhirnya akan menyebabkan tekanan tambahan terhadap otot berada dalam keadaan lemah. Suatu gambaran kelompok individu terhadap keterampilan yang kompleks, dapat membedakan dengan nama yang memliki koordinasi yang baik dan yang jelek.
4. Latihan Grounstroke Forehand dengan Metode Teknis dan Metode Taktis Dalam tenis lapangan diperlukan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan keadaan yang dialami dalam pengembangan keterampilan bermain tenis lapangan. Pendekatan-pendeakatan tersebut dapat berupa pendekatan dengan menggunakan metode teknis dan taktis. Dalam metode teknis dan taktis dapat dibedakan dengan menggunakan karakteristik secara umum menurut Miguel crespo dan Machar Reid (2003 : 15).
Tabel 2.1Perbedaan antara dua pendekatan..
Karakteristik
Umum Teknis Taktis
Latihan Pendekatan teknik - Bermain untuk mengerti - Pendekatan dasar bermain - Pendekatan perasaan
bermain
Tujuan utama Penguasaan teknik Untuk mengetahui masalah taktik dalam bermain
Metode mengajar Analisa Secara global
Peranan pelatih Mengajar Membantu pemain untuk
belajar
Peran pemain Melakukan kata pelatih Bereksperimen dan menemukan
Struktur pelajaran Mengulang dengan repetisi dari teknik
Dengan bermain atau rally Pelajaran dasar Pukulan tenis Situasi bermain
Petunjuk teknis Pemain segera mengkopi commit to user Tidak ada model yang dikopi
25
model latihan tetapi banyak variasi Taktik Belajar sambil bermain
setelah menguasai teknik
Paham sebelum teknik Umpan balik Pelatih memberi tips
pembenaran
Pelatih meminta untuk beradaptasi tidak untuk menghilangkan
Organisasi Memukul ketika pelatih memberi aba-aba
Rally dengan teman sebaya
a. Metode Teknis
Menurut Drs. Tomoliyus. MS, (2001;3) “Pendekatan teknis dalam pembelajaran permainan di dasarkan pada pemahaman bahwa pemain akan dapat melakukan permainan jika mereka sudah menguasai teknik dasarnya.
Oleh karena itu, dalam pendekatan ini, pelatih akan memulai pembelajaran dengan memberikan pelajaran teknik dasar terlebih dahulu”.
Dalam pendekatan metode teknis ini menggunakan metode latihan drill. Sugiyanto (1996: 72) menyatakan, “ dalam pendekatan drill siswa melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan apa yang diinstruksikan guru dan melakukan secara berulang-ulang. Dengan pendekatan ini dimaksudkan untuk siswa dapat merekam secara otomatis gerakan yang dilakukan karena diulang secara terus menerus. Seperti telah diungkapkan pendapat dari ahli diatas pendekatan ini menitik beratkan kepada penguasaan teknik pukulan dengan cara mengulang pukulan dengan kadaan yang terus menerus, dan diharapkan pemain dapat merekam ke dalam pikiran tentang gerakan tersebut. Pendekatan ini juga memberikan keadaan peningkatan kondisi fisik akibat dari pengulangan pukulan yang terus menerus.
Kelebihan dan kelemahan dari pendekatan metode teknis adalah:
1) Kelebihan
- Dapat mengetahui kesalahan teknik pukulan groundstroke forehand sedini mungkin
- Dapat mengetahui teknik pukulan groundstroke forehand yang baik dan benar
- Dapat meningkatkan power lengan dengan drill yang terus menerus commit to user
- Dari pengulangan terus menerus tersebut dapat memberikan rekaman dalam pikiran tentang gerakan tersebut
2) Kekurangan
- Gerakan yang terus menerus dapat membuat bosan
- Pemain kurang dapat mengeksplorasi potensi diri dalam sebuah permainan
- kurang dapat menemukan pukulan yang tepat dengan keadaan
b. Metode Taktis
Tujuan utama pendekatan taktis dalam pengajaran cabang olahraga permainan adalah untuk meningkatkan pemahaman terhadap konsep bermain.
Melalui pendekatan taktis, pemain didorong untuk memecahkan masalah taktik dalam permainan, masalah taktik tersebut pada hakikatnya adalah penerapan keterampilan teknik dalam situasi permainan. Dengan menggunakan pendekatan takti, pemain semakin memahami kaitan antara teknik dan taktik dalam suatu permainan(Drs. Tomoliyus, MS,2001).
Dalam metode taktis ini akan menggunakan pendekatan permainan atau rally dengan kawan main. Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada pemain untuk bereksperimen untuk menentukan gaya memukul yang lebih tepat dalam permainan tenis.
Kelebihan dan kelemahan pendekatan metode taktis 1) Kelebihan
- Dapat mengerti tentang keadaan permainan rally yang dilakukan
- Dapat mengeksplorasi potensi dalam diri tentang pukulan groundstroke forehand yang dilakukan
- Dapat menemukan bentuk pola pukulan groundstroke forehand yang baik untuk permainan tenis lapangan
2) Kelemahan
- Kurang dapat untuk meningkatkan pukulan yang telah dimiliki - Tidak dapat mengetahui teknik yang benar
- Tidak dapat dilakukan sebelum menguasai teknik dasar commit to user
27