• Tidak ada hasil yang ditemukan

GRUP LIPTINIT

Dalam dokumen Genesa Batubara (Halaman 59-65)

MASERAL PADA BATUBARA

2. GRUP LIPTINIT

Liptinit berasal dari organ tumbuhan (ganggang, spora, kotak spora, kutikula dan getah), yang relatif kaya dengan ikatan alifatik sehingga kaya akan hidrogen (Techmueller, 1982; Wolf, 1988) atau bisa juga sekunder, terjadi selama proses pembatubaraan dari bitumen.

batubara pada rank rendah sampai pada batubara sub-bituminus relatif stabil (Techmueller, 1989).

Pembatubaraan Pada Grup Liptinit

Naiknya reflektivitas dibarengi sifat fluoresense menurun (Gambar 3). Warna fluoresense berubah dari panjang gelombang yang pendek (hijau dan kuning) ke panjang gelombang yang lebih tinggi (merah). Liptinit-liptinit tertentu mempunyai loncatan proses pembatubaraan masing-masing, seperti: Sporinit mempunyai loncatan pertama (R vitrinit = 0.5%) dimana substansi seperti minyak terbentuk. Loncatan kedua (R vitrinit = 0.8-1.0%) adalah pada oilgeneration yang maksimum. Loncatan ketiga (R vitrinit = 1.3%) adalah pada batas akhir oilgeneration dimana Sporinit mencapai R vitrinit dan fluoresensenya menghilang.

Perubahan mikroskopis disertai dengan perubahan komposisi dan jumlah ekstrak dari batubara yang kaya akan Liptinit (Radke et. al. 1980).

Sesudah oilgeneration (bituminisasi) beberapa Liptinit menghilang dan akan membentuk mikrinit yang berupa sisa padatan (dari Resinit dan Bituminit). Liptinit-liptinit yang lain (Sporinit dan Kutinit) berkurang kemudian mencapai reflektivitas yang lebih tinggi dari reflektivitas vitrinit.

Eksudatinit adalah maseral sekunder pada grup Liptinit dan terbentuk selama proses pembatubaraan (awal bituminisasi). Eksudatinit mencapai reflektivitas yang lebih tinggi dari reflektivitas vitrinit pada awal stadium coking coal. Banyak meta-eksudatinit dikenal dari anisotropinya yang tinggi. Secara umum R Liptinit dan fluoresensenya berubah pada stadium oilwindow.

Sporinit terbentuk dari bagian luar dinding sel spora dan kotak spora. Secara kimia substansi ini mengandung sporopollenin. Pada lingkungan yang kaya akan kalsium dan relatif kering, spora dan kotak spora akan terhancur dengan kuat oleh bakteri. Tetapi dalam lingkungan yang basah (di bawah air) spora dan kotak spora terawetkan dengan baik (Teichmueller, 1989).

Coalification of exinite : a) Sporinite in a high-volatile Ruhr coal (approx. 40% V. M.), polished surface, oil imm., 375 x; b) Sporinite in a high-volatile Ruhr coal (approx. 32% V. M.), polished surface, oil imm., 375 x; c) Sporinite in a medium bituminous Ruhr coal (approx. 25% V. M.); d) Traces of sporinite in a low-volatile coal (approx. 18% V. M.), polished surface, oil imm., 375 x; e) Probably former sporinite (no longer recognizable) in durite from a semi-anthracite (approx. 10% V. M.), polished surface, oil imm., 375 x; f) Anthracite (approx. 8% V. M.) from the Ruhr coalfield, polished surface, oil imm., 375 x;

Gambar 3. Perubahan refleksifitas liptinit dengan naiknya rank

Kulit spora sering sama-sama tertindih sehingga ruang dalam spora hanya bisa dikenali sebagai satu garis hitam di bagian tengah (Gambar 4 dan 5). Bagian luar spora terpisahkan secara simetris. Berdasarkan besarnya sporinit dibagi menjadi megasporinit dan mikrosporinit. Mikrosporinit lebih kecil dari 100 mikrometer. Berdasarkan pada ketebalan dindingnya maka mikrosporinit dibagi menjadi dua, yaitu Tenuisporinit yang mempunyai dinding yang tipis dan Crassisporinit yang mempunyai dinding yang tebal (Stach, 1982).

Schematic drawing of a collapsed megaspore with transected star ledges (in German : Sternleisten). (After E. Stach, 1935) Gambar 4. Megaspora dan penampang melintangnya

Cutinit berasal dari kutikula dan lapisan kutikula yang biasanya berada pada permukaan daun, cabang dan bagian lain dari tumbuhan sebagai pelindung dari kekeringan. Substansi kimianya disebut cutin dan komposisinya adalah asam lemak dan lilin. Dalam sayatan yang tegak lurus dengan perlapisan, cutinit mempunyai lapisan berbentuk gigi yang unik dengan berbagai ketebalan. Dalam sayatan yang lain sering terlihat sebagai struktur jaring (Gambar 6 dan 7).

Suberinit, resinit dan fluorinit berbeda dengan sporinit, alginit dan cutinit. Material asalnya hanya diketahui secara umum. Suberinit berasal dari lapisan suberin dari dinding sel yang tergabuskan khususnya kulit kayu.

Tenuisporinite, crassisprorinite : a) Fusinitized microspore from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 2000 x; b) Microspores (tenuispores) from a high-volatile Ruhr coal, polished surfaces, oil imm., 1000 x; c) Microspores (crassispores) from a high-volatile Ruhr coal, polished surfaces, oil imm., 1000 x; d) The Sporangium Bicoloria U. Horst (the outer wall is formed by Torispora forms) from theOlsnitz coalfield in Saxony (Germany); polished surface, oil imm., 350 x. Gambar 5. Kenampakan sporinit

Schematic cross section through a leaf. (After Jurasky, 1936) p = palisade parenchyma; s = sponge parenchyma; e = epidermis; k = cuticle; sp = opening os fissure

Three dimensional schematic picture of a cuticle with broad cuticular ledges forming a kind of framework. (After E. Stach, 1935)

Cross sections through various cuticles from Palaeozoic bituminous coals. (After E. Stach, 1935)

a) Cross section through a cuticle (black) and epidermis (white); b) Cuticle without

epidermis; c) , d) Cuticle strongly folded. (After E. Stach, 1935)

Gambar 6. Skema asal kutinit

(A)

Cutinite : a) Thick-toothedcuticle (crassicutinite) from a Turkish high-volatile coal, polished surface, oil imm., 500 x; b) Cuticle with cuticular ledges from a high volatile Polished surface, dry fluorescent light, 500 x; c) Cuticle with cuticular ledges, polished surfaces, oil imm., 1050 x; d) Thin-walled untooth cuticles (tenuicutinite) from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 150 x.

(B)

Cutinite : a) Top : thin-walled cutinite (tenuicutinite), bottom : thick-walled cutinite (crasscutinite) from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 135 x; b) Oblique section through crassicutinite from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 135 x; c) Crassicutinite, horizontally cut from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 135 x.

Gambar 7. Kenampakan kutinit di bawah mikroskop

Suberin adalah polimer yang mengandung asam lemak dan ester gliserin (Treiber, 1957). Suberin tidak hanya terdapat pada kulit kayu tetapi juga pada permukaan akar, buah dan berfungsi sebagai pelindung dari kekeringan. Pemunculan suberinit sering pada brown coal tersier dimana dinding sel yang tipis, reflektivitas rendah

dan berfluoresense dari suberinit mengelilingi suatu material dengan reflektivitas tinggi, biasanya berbentuk tabular, sebagai pengisi ruang sel dan disebut phlobaphinit. Pada batubara mezosoikum, suberinit sangat jarang dan pada batubara karbon tidak terdapat suberinit (Teichmueller, 1989).

Resinit berasal dari resin, balsem, lateks, lemak dan lilin. Secara kimia resinit dibedakan menjadi terpen resin (yang berasal dari resin, balsam, copals, lateks dan minyak essensial) dan lipid resin (berasal dari lemak dan lilin). Terpin adalah produk hasil kondensasi yang relatif stabil dari molekul isoprene (C6H8). Lipid dari lemak dan lilin merupakan campuran yang dapat diekstak dari asam lemak (dari ester gliserin atau lemak atau asam lemak dengan alkohol yang tinggi atau lilin). Secara botani resin merupakan sekresi dari dinding sel pada ruang sel dan kanal. Beberapa konifern menghasilkan resin (kalau terluka), dan resin ini menghasilkan resinit pada batubara. Karena perbedaan material asal, maka resinit akan muncul dengan berbagai sifat mikrokopis, seperti bentuk, warna, reflektan dan fluoresense (Zhao et. al., 1990).

Resin muncul sebagai pengisi sel pada telocollinit atau terisolasi pada massa dasar vitrinit. Bentuk resinit yang bundar, opal atau juga tidak beraturan menunjukkan variasi yang besar pada reflektivitas dan fluoresensenya (Gambar 8).

Batubara tersier mengandung banyak resinit karena tumbuh banyak kornifern pada jaman tersier. Di daerah tropis ada banyak angiosperm yang kaya akan resin, lateks, minyak dan lemak sebagi sumber dari resinit (Teichmueller, 1989). Resinit mempunyai kecenderungan untuk membentuk eksudatinit pada awal proses pembatubaraan (Teichmueller, 1989 ; Zhao et. al., 1990).

Resinite : a) Very dark resinite, well preserved resin in Eocene hard lignite from Borneo, polished surface, oil imm., 375 x; b) Isolated elliptical resin bodies (resinite cell fillings) from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 135 x; c) Elongated resin body, showing zonal structure, from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 450 x; d) Resinite layers on the left side with formerly spherical droplets from a high-volatile Ruhr coal, polished surface, oil imm., 300 x;

e) Spherical dark grey resinite bodies, gradually transformed into fusinite, from a

Gambar 8. Kenampakan resinit di bawah mikroskop

Walaupun material asal dari fluorinit adalah minyak essensial tetapi karena sifat optisnya yang khusus maka fluorinit dipisahkan dari resinit. Fluorinit adalah relatif baru dan dapat diamati dengan mikroskop fluoresense (Teichmueller, 1974 a, c). Dengan panjang gelombang yang pendek fluorinit menunjukkan warna fluoresense yang berwarna kuning terang yang kuat. Sementara dengan sinar putih fluorinit tidak dapat dibedakan dengan mineral lempung pada batubara. Pemunculan fluorinit adalah khas pada sel yang kecil dari phyllovitrinit dan dikelilingi oleh cutinit. Beberapa fluorinit berasal dari sel lipoida pada daun-daun tertentu.

Liptodetrinit adalah campuran fragmen dan sisa-sisa kecil dari produk degradasi atau dari maseral Liptinit yang lain. Liptodetrinit banyak pada batubara sub-aquatis (batubara sapropel atau clarit, durit dan trimaserit tertentu), karena Liptinit terbentuk dari penghancuran mekanis dari Liptinit selama proses transport.

Eksudatinit (seperti bituminit dan fluorinit) dapat diamati dengan sinar fluoresense. Eksudatinit adalah maseral sekunder dan pembentukannya adalah selama proses pembatubaraan (awal bituminisasi atau antara sub-bituminous coal sampai high volatile bitumious coal) dari Liptinit dan perhydrous vitrinit (migrabitumen menurut Jakob, 1985). Eksudatinit mengisi rekahan, bidang perlapisan, kekar, sel yang kosong dari fusinit dan sclerotinit (Zhao et. al, 1990). Komposisi kimia dari eksudatinit diperkirakan asphaltene (Teichmueller, 1989).

Dalam dokumen Genesa Batubara (Halaman 59-65)

Dokumen terkait