BAB III: GUGUS KENDALI MUTU (GKM) PADA MASA DAKWAH
A. Gugus Kendali Mutu di Markas Dakwah Darul Arqam pada Periode
Dakwah Rasulullah di kota Mekkah merupakan awal dari perjuangan panjang dakwah Islam. Pada periode ini, Rasulullah mengambil strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi. Pemilihan markas rahasia merupakan cara Rasulullah untuk menjaga dakwah secara sembunyi-sembunyi (sirriyatu at-tanzhim). Tempat tersebut akan digunakan untuk pertemuan sesama pejuang dakwah yang tidak diketahui oleh orang-orang musyrik Quraisy.
Selain tempat rahasia, Rasulullah juga melarang orang-orang Islam untuk menampakkan keislamannya, baik perkataan maupun perbuatan. Rasulullah mengajarkan mereka tentang al-Quran dan aqidah
dengan sembunyi-sembunyi. Jika orang-orang musyrik Quraisy
mengetahui dakwah tersebut, maka mereka akan menghalanginya. Orang-orang musyrik Mekkah tidak akan membiarkan Rasulullah menyebarkan agama Islam. Mereka akan menghalangi penyebaran Islam dengan
39
berbagai cara, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya kekerasan fisik1.
Hal tersebut pernah terjadi pada tahun keempat dari awal kenabian. Pada waktu itu, para sahabat Rasulullah akan mendirikan shalat. Mereka menuju ke Syi'b untuk menjauhkan diri dari pandangan orang-orang Quraisy. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash bersama beberapa sahabat sedang mendirikan shalat di Syi'b, tiba-tiba beberapa orang dari kaum kafir Quraisy datang ke tempat mereka. Orang-orang Quraisy itu mengumpat dan menghina apa yang dilakukan kaum Muslim, hingga di antara mereka terjadi duel hebat. Dalam duel tersebut, Sa'ad bin Abi Waqqash memukul salah seorang dari kaum kafir Quraisy. Ia menggunakan tulang rahang unta untuk memukulnya hingga lawannya terluka. Kejadian ini merupakan pertumpahan darah yang pertama dalam Islam2.
Langkah bijaksana yang diambil para sahabat Rasulullah adalah penyembunyian keislmaman, sehingga pertumpahan darah tidak terjadi lagi. Jika pertumpahan darah terjadi secara terus menerus akibat penampakkan keislaman, maka kaum muslim akan semakin berkurang dan dakwah Islam akan hancur. Namun, Rasulullah tetap menampakkan dakwah dan ibadah di tengah orang-orang musyrik Quraisy.
1Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah), terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2017) hal 178
2Ibnu Hisyam, E-Book Sirah Nabawiyah Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah, (Jakarta: Akbar Media, 2015) hal 163
40
Tempat tinggal al-Arqam bin Abil Arqam yang berada di kaki bukit Shafa menjadi markas dakwah secara sembunyi-sembunyi. Tempat tersebut dinamakan Darul Arqam, yaitu rumah Arqam. Darul Arqam menjadi pusat dakwah, ilmu agama, dan penyampaian wahyu dari Rasulullah. Pemilihan rumah al-Arqam yang menjadi markas dakwah dimaksudkan untuk pengelabuhan orang-orang musyrik Quraisy. Berikut ini merupakan beberapa sebab terpilihnya rumah al-Arqam yang tidak diketahui oleh orang-orang musyrik Quraisy3.
Pertama, al-Arqam tidak diketahui keislamannya. Mereka tidak pernah berpikir, bahwa pertemuan Rasulullah dan para sahabat berlangsung di rumahnya.
Kedua, al-Arqam berasal dari Bani Makhzum. Kabilah Bani Makhzum adalah musuh bebuyutan Bani Hasyim. Sekalipun keislaman al-Arqam tidak diketahui, namun mereka tidak akan berpikir, bahwa pertemuan itu berlangsung di rumah al-Arqam. Hal ini berarti, pertemuan berada di jantung barisan musuh.
Ketiga, al-Arqam masuk Islam pada saat ia masih muda, ia berusia sekitar 16 tahun. Tatkala kaum Quraisy mencari markas dakwah tersebut, mereka tidak pernah terpikirkan untuk mencarinya di rumah “anak-anak kecil” dari sahabat Rasulullah. Pendeteksian dan pencarian mereka tertuju ke rumah-rumah para sahabat yang sudah cukup usia,
3Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban, Manhaj Haraki Strategi Pergerakan dan Perjuangan
41
hingga ke rumah Rasulullah sendiri. Mereka berpikir, bahwa tempat pertemuan itu mesti berada di salah satu rumah Bani Hasyim, rumah Abu Bakar, rumah Utsman, dan lainnya. Oleh karena itu, pemilihan rumah ini tepat dan bijaksana dari segi keamanan.
Letak geografisnya pun sangat strategis untuk dijadikan tempat persembunyian dakwah. Darul Arqam terletak di kaki bukit Shafa yang terpencil. Segala aktivitas jarang ditemui di tempat itu. Hal ini pun menyulitkan seseorang untuk datang ke tempat tersebut4.
Ancaman Kaum Musyrik Quraisy
Darul Arqam menjadi markas dakwah sejak tahun kelima dari kenabian5. Sebelum rumah al-Arqam dijadikan sebagai markas dakwah,
Rasulullah dan orang yang pertama masuk Islam melakukan kegiatan dakwah serta ibadah secara terbuka. Pada tahun ketiga setelah kenabian, Rasulullah mengajak kaum kerabatnya secara terang-terangan, lalu ia berdakwah di bukit Shafa kepada orang-orang Quraisy6. Namun, mereka
menentang dakwahnya dan mencoba untuk menghalanginya dalam menyampaikan risalah.
Orang yang pertama kali masuk Islam setelah kenabian adalah Ali bin Abi Thalib dari kalangan keluarga. Usianya masih tergolong sangat
4Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, Terj. Anis Maftukhin (Jakarta: Qisthi Press, 2004) hal 156
5Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah), terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2017) hal 178
42
muda muda7. Setelahnya, Abu Bakar yang merupakan teman kecil
Rasulullah menjadi kalangan pertama dari kaum Quraisy8. Ia memberikan
banyak manfaat bagi dakwah Islam. Setelah masuk Islam, ia mengajak tokoh-tokoh besar yang berpengaruh di Mekkah. Mereka yang masuk Islam karena dakwah Abu Bakar adalah Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Utsman bin Affan, Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin Ubaydillah9. Mereka adalah muslim pertama yang ikut dalam barisan
Rasulullah untuk berdakwah pada awal periode Mekkah.
Kaum musyrik Quraisy tidak membiarkan mereka untuk menjalankan ajaran baru dengan aman dan tenang. Mereka merasa terancam dengan ajaran baru yang dibawa oleh Rasulullah. Oleh karena itu, mereka melakukan intimidasi, ancaman, dan siksaan kepada semua kaum muslim. Rasulullah dan Abu Bakar pun tidak luput dari intimidasi dan kekejaman mereka10. Namun, Rasulullah mendapatkan perlindungan
dari pamannya, Abu Thalib. Abu Bakar mendapatkan perlindungan dari kaum kerabatnya, Naufal bin Khuwailid11. Perlindungan dari kaum kerabat
mereka memberikan rasa aman dalam beribadah, meskipun intimidasi atau ucapan kasar kemungkinan masih dialami.
7Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah Kurun Makkah, (Bandung: Penerbit Mizan, 1992) hal 156
8Maulana Muhammad Ali, Muhammad The Propet, Terj. Suyud SA Syurayudha (Jakarta:Darul Kutubil Islamiyah, 2007) hal 66
9Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin, Terj. Abu Ihsan al-Atsari, (Jakarta: Darul Haq, 2004) hal 29
10Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, Terj. Anis Maftukhin (Jakarta: Qisthi Press, 2004) hal 62
11Khalid Muhammad Khalid, Biografi 60 Sahabat Nabi, Terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2016) hal 360
43
Abdurrahman bin Auf adalah seorang saudagar yang sukses dengan perniagaannya. Ia juga tidak merasa aman dari penganiayaan kaum musyrik Quraisy12. Sa’ad bin Abi Waqqash mendapatkan tentangan dari
ibunya saat ia masuk Islam. Ibunya berusaha menghalangi putranya untuk memeluk agama Islam, namun usaha itu selalu gagal. Segala jalan dilakukan ibunya untuk mengajaknya kembali dalam menyembah berhala. Akhirnya, ibunya menyatakan mogok makan. Rencana tersebut dilaksanakan ibunya hingga hampir menemui ajal. Akan tetapi, Sa’ad tidak terpengaruh oleh rencana ibunya tersebut. Ia tetap pada pendiriannya dan berkata kepada ibunya, “Demi Allah, ketahuilah wahai ibu, seandainya ibu mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, saya tidak akan meninggalkan agama ini, meskipun saya ditebus dengan apa pun juga. Maka, terserah ibu, apakah ibu mau makan atau tidak.” Ibunya pun menghentikan rencananya13.
Zubair bin al-Awwam merupakan orang yang terpandang dari kaumnya. Namun, ia tetap mendapatkan siksaan dari pamannya sendiri. Ia pernah disekap dalam ruangan yang dipenuhi asap, agar ia sesak nafas. Ia mendapatkan tekanan untuk mengingkari Allah dan Rasul-Nya, namun ia menolaknya dengan tegas14. Zubair masih berusia 14 tahun15saat ia masuk
12Ibid hal 459
13Ibid hal 127
14Ibid hal 369
15Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah Kurun Makkah, (Bandung: Penerbit Mizan, 1992) hal 158
44
Islam, namun usianya tidak menghalanginya untuk berdakwah dan melawan musuh-musuh Islam.
Thalhah bin Ubaidillah adalah orang yang terpandang dan hartawan dengan perniagaanya. Ia pun tidak luput dari penganiayaan orang-orang Quraisy karena keislamannya. Akan tetapi, ia masih beruntung, karena mendapatkan perlindungan dari Naufal bin Khuwailid. Naufal merupakan singa kaum Quraisy, sehingga tidak ada seorang pun berani mengganggu Thalhah16.
Kekejaman kaum musyrik Quraisy semakin bertambah ketika mereka mengetahui jumlah umat Islam yang semakin banyak. Mereka terus melakukan intimidasi dan penganiayaan, terutama kepada mereka yang lemah dan tidak memiliki pelindung. Lebih dari itu, di antara para budak tidak mampu menahan kekejaman dan kembali kepada kekufuran.
Rasulullah dan para sahabat saling mengingatkan dan menguatkan. Mereka tidak membiarkan siksaan dan intimidasi yang merenggut keyakinan iman dan Islam. Seorang pejuang dakwah tidak dikatakan pejuang tanpa adanya ujian. Ujian ini adalah awal dari ujian yang lebih besar, yaitu hawa nafsu.
Pada periode ini, umat Islam diajarkan tentang penderitaan, ancaman, dan intimidasi yang membuat mereka tetap sabar dan yakin akan
16Khalid Muhammad Khalid, Biografi 60 Sahabat Nabi, Terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2016) hal 359-360
45 pertolongan Allah. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami adalah kaum yang ditimpa kesulitan dan kesengsaraan hidup di Mekkah bersama Rasulullah. Ketika suatu musibah menimpa kami, kami mengetahui dan terbiasa untuk sabar menghadapinya.”17
Penderitaan yang dirasakan kaum muslim membuat Rasulullah bersedih hati. Pada akhir tahun keempat setelah kenabian, Rasulullah memerintahkan kaum muslim untuk berhijrah ke Habasyah dalam rangka meminta perlindungan. Mereka pun berangkat untuk mendapatkan perlindungan18. Namun, setelah mereka kembali dari hijrah keadaan
mereka tidak berubah, sebagaimana diungkapkan Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Sebelum hijrah ke Habasyah, kami didera kesengsaraan demi kesengsaraan dalam hidup. Kami tidak mampu bersabar menghadapinya, sehingga kami pun berhijrah. Namun, setelah hijrah, kami masih mengalami kelaparan dan kesulitan hidup.”19
Markas Darul Arqam sebagai Solusi
Al- Arqam bin Abil Arqam adalah sahabat ketujuh yang masuk Islam20. Ia merupakan sahabat yang memberikan banyak manfaat dalam
dakwah Rasulullah. Ia memberikan rumahnya kepada Rasulullah sebagai
17Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, Terj. Anis Maftukhin (Jakarta: Qisthi Press, 2004) hal 64
18Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah), terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2017) hal 179
19Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, Terj. Anis Maftukhin (Jakarta: Qisthi Press, 2004) hal 80-81
20Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah Kurun Makkah, (Bandung: Penerbit Mizan, 1992) hal 160
46
markas dakwah dan pembelajaran umat Islam saat itu. Markas Darul Arqam adalah solusi dari permasalahan yang menimpa umat Islam. Permasalahan itu berupa ancaman dan intimidasi. Dalam rumah ini, Rasulullah memberikan pembinaan secara intensif untuk mencetak generasi pertama Islam yang berkualitas.
Para muslim awal ini, orang yang sering mengunjungi markas Darul Arqam untuk belajar langsung kepada Rasulullah adalah Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin al-Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah21.
Mereka adalah kelompok kecil yang setia kepada Rasulullah. Mereka adalah Assabiqunal Awwalun22 yang banyak berperan di Darul Arqam dan
dakwah Islam.
Zubair bin al-Awwam memainkan perannya dalam merintis Darul Arqam untuk menjadi tempat yang penuh keberkahan. Ia merupakan orang yang pertama kali dalam menghunuskan pedang untuk melindungi dakwah pada periode Mekkah. Ketika ia mendengar kabar pembunuhan Rasulullah, ia bertekad untuk menebas semua pundak orang-orang Quraisy. Rasulullah yang mengetahui alasan Zubair mendoakan kebaikan untuknya dan keampuhan bagi pedangnya23.
21Hanafi Muhallawi, Tempat-Tempat Bersejarah Dalam Kegidupan Rasulullah, Terj. Abdul Hayyie al-Kattani (Jakarta: Gema Insani, 2005) hal 137
22Nur’aisyah, Hikayat Muhammad, (Jakarta: Kunci Iman, 2014) hal 82
23Khalid Muhammad Khalid, Biografi 60 Sahabat Nabi, Terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2016) hal 369
47 Sa’ad bin Abi Waqqash adalah sahabat yang setia dalam melindungi sahabatnya dari kejahatan orang-orang Quraisy, sebagaimana terdapat dalam kisah berikut ini.
“Sa’ad mendengar seorang laki-laki memaki Ali, Thalhah, dan Zubayr. Ketika makian itu dilarang, orang itu tidak menghiraukannya. Meski demikian, Sa’ad hanya berkata, “walau begitu, saya mendoakan kamu kepada Allah.” Orang itu menjawab, “ternyata kamu hendak menakut-nakuti aku, seolah-olah kamu seorang Nabi.”
Sa’ad pun pergi untuk berwudhu dan mendirikan shalat dua rakaat. Setelah itu, ia mengangkat kedua tangan dan berdoa, “Ya Allah, bila menurut ilmu-Mu, orang ini telah memaki golongan orang yang telah mendapatkan kebaikan dari-Mu, dan tindakan itu mengundang murka-Mu, jadikanlah hal itu sebagai pertanda dan suatu pelajaran.”24
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba muncul dari pekarangan rumah seekor unta liar. Kemunculannya itu tidak dapat dibendung. Hewan itu masuk ke dalam lingkungan orang banyak seolah-olah ia mencari seseorang. Unta itu menerjang orang tadi dan membawanya ke bawah kakinya. Lalu, unta itu menginjak dan menendangnya beberapa saat, hingga orang yang mencaci maki sahabat tersebut menemui ajalnya25.
Kisah tersebut menunjukkan keistimewaan Sa’ad bin Abi Waqqash yang doanya selalu dikabulkan. Ia telah mendapatkan doa dari Rasulullah dengan terkabulkannya doa Sa’ad bagaikan bidikan panah. Ia adalah orang yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Allah26.
Pembelajaran di Darul Arqam
Rasulullah menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat utama dalam penyebaran dakwah serta pembelajaran. Rasulullah mengajak orang-orang tertentu yang dikenal sebagai orang baik, jujur, dan amanah.
24Ibid hal 124
25Ibid hal 124
48
Ia mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Rasulullah juga menjadikan Darul Arqam sebagai tempat pengajaran al-Quran serta pernyampaian wahyu kepada para sahabat, sebagaimana terdapat dalam surat Ali Imron ayat 164.
ُﻢُﻬُﻤِّﻠَﻌُﯾَو
Artinya: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali Imron: 164)Dalam ayat tersebut, seorang Rasul merupakan karunia dari Allah. Rasulullah diutus kepada mereka dari golongan mereka sendiri, sehingga hal ini memudahkan mereka untuk berkomunikasi dalam memahami firman Allah. Dalam ayat ini, Rasulullah diutus untuk mengajarkan kepada orang-orang yang beriman tentang tiga hal, yaitu membacakan ayat-ayat al-Quran, membersihkan jiwa mereka, dan
49
memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran, serta mengajarkan hikmah/sunnah atau keterampilan yang bermanfaat27.
Ketika Malaikat Jibril mengajarkan tata cara berwudhu dan shalat kepada Rasulullah, para sahabat mengfungsikan Darul Arqam sebagai masjid. Sebagian sahabat juga menggunakan bagian tertentu rumah tersebut untuk shalat dan membaca al-Quran28.
Penerimaan al-Quran berlangsung di Darul Arqam. Ketika Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, Rasulullah segera menyampaikan kepada para sahabat. Mereka pun memperhatikan dengan seksama. Mereka juga bersemangat untuk mempelajarinya. Mereka tidak hanya memahami ayat-ayat al-Quran, tetapi juga mereka menghafal dan mengamalkannya. Ayat-ayat ini cukup untuk memperkokoh iman serta semangat dakwah mereka. Generasi ini tidak menerima pelajaran selain dari wahyu al-Quran dan Hadis Rasulullah. Wahyu ini bisa menghilangkan segala kotoran, ideologi, dan nilai-nilai jahiliyah yang melekat di dada mereka29.
Pada periode ini, sahabat dan seluruh umat Islam saat itu senantiasa menjaga kemurnian dan kesatuan sumber penerimaan.
Al-27Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, Terj. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan, (Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2004) hal 181
28Hanafi Muhallawi, Tempat-Tempat Bersejarah Dalam Kegidupan Rasulullah, Terj. Abdul Hayyie al-Kattani (Jakarta: Gema Insani, 2005) hal 136
29Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban, Manhaj Haraki Strategi Pergerakan dan Perjuangan
Politik dalam Sirah Nabi, Penerjemah Ainur Rafiq Shalih Tahmid, (Jakarta: RobBani Press, 1984)
50
Quran menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan tentang Islam dan seluruh kehidupan manusia. Saat itu, generasi Islam di awal kenabian ini tidak pernah menerima ilmu sekuler yang mencampuradukkan haq dan batil. Ilmu-ilmu sekuler itu berasal dari filsafat Yunani, ilmu pengetahuan Romawi, atau hikmah Persia. Generasi ini hidup bahagia dengan wahyu Allah semata yang diterima langsung dari Rasulullah30.
Sahabat Rasulullah yang paling aktif mengunjungi markas dakwah untuk belajar adalah orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Mereka bersegera untuk mendengar wahyu di rumah al-Arqam. Mereka menjadi kelompok yang terdepan dan paling siap untuk menerima dan menjalankan setiap perintah al-Quran31. Semangat mereka tidak hanya
berguna untuk diri sendiri, tetapi juga mereka mengajarkan kepada orang-orang terdekatnya. Mereka membagikan dan menumbuhkan kenikmatan iman dan Islam diperoleh dari Rasulullah. Dalam hal ini, mereka bersemangat untuk mensyiarkan agama Islam, meskipun dakwah disampaikan hanya untuk orang sekitar dan dalam lingkup Mekkah saja.
Abu Bakar adalah sahabat yang paling setia dan selalu mendampingi Rasulullah. Ia juga berperan besar dalam proses turunnya hidayah kepada sahabat utama lainnya, sebelum Hamzah dan Umar masuk Islam. Ia memperkenalkan Islam dan menghadirkan kecintaan dalam hati mereka. Setelah mereka mengenal dan tertarik dengan Islam, mereka
30Ibid 56
31Hanafi Muhallawi, Tempat-Tempat Bersejarah Dalam Kegidupan Rasulullah, Terj. Abdul Hayyie al-Kattani (Jakarta: Gema Insani, 2005) hal 137
51
dipertemukan dengan Rasulullah. Akhirnya, mereka beriman setelah adanya penjelasan tentang ajaran-ajaran Islam, pembacaan al-Quran, serta janji-janji Allah yang disampaikan bagi mereka yang beriman. Akhirnya, mereka menjadi sahabat utama Rasulullah dan pejuang Islam yang paling setia.
Beberapa sahabat yang berkedudukan sederhana juga menjadi muslim pertama periode Mekkah. Zaid bin Tsabit merupakan budak pertama yang masuk Islam. Berikutnya adalah Bilal, Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar32, dan Shuhaib33. Sebelum Rasulullah menjadikan rumah
al-Arqam sebagai markas dakwah, Miqdad bin Amr34, Abdullah bin
Mas’ud35dan Khabbab bin al-Arats36 telah beriman kepadanya. Kelompok
kecil pengikut setia Rasulullah lainnya adalah Ubaydah bin al-Harits, Sa’id bin Zayd, Amr bin Nufail dan istrinya Fathimah binti al-Khattab, Asma’ binti Abu Bakar, dan Ja’far bin Abi Thalib37. Mereka mengikuti
pembelajaran yang diberikan oleh Rasulullah di rumah al-Arqam.
Dalam surat Ali Imron ayat 164, Rasulullah memberikan pembelajaran intensif kepada generasi pertama Islam, agar mereka menjadi manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia. Pembelajaran
32Maulana Muhammad Ali, Muhammad The Propet, Terj. Suyud SA Syurayudha (Jakarta:Darul Kutubil Islamiyah, 2007) hal 68
33Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, Terj. Anis Maftukhin (Jakarta: Qisthi Press, 2004) hal 62
34Ibid hal 62
35Khalid Muhammad Khalid, Biografi 60 Sahabat Nabi, Terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2016) hal 188
36Maulana Muhammad Ali, Muhammad The Propet, Terj. Suyud SA Syurayudha (Jakarta:Darul Kutubil Islamiyah, 2007) hal 68
52
yang diberikan Rasulullah kepada kaum muslim di Darul Arqam memiliki tiga bentuk38. Pertama, Rasulullah mengajarkan bacaan al-Quran kepada
mereka. Bacaan al-Quran merupakan prioritas utama yang perlu diajarkan kepada seluruh umat Islam. Rasulullah membacakan dan mengajarkan cara membaca al-Quran dengan baik dan benar. Utsman bin Affan merupakan sahabat yang rajin dalam mengkhatamkan al-Quran. Ia terbiasa dalam membaca al-Quran hingga mengkhatamkannya dalam waktu sehari semalam39.
Abdullah bin Mas’ud adalah orang yang pertama kali membaca Quran di Mekkah setelah Rasulullah. Ia membacakan ayat-ayat al-Quran di hadapan kaum Quraisy pada waktu Dhuha. Ia mengawali bacaan dengan kalimat basmalah. Setelah itu, ia melanjutkan dengan bacaan surat ar-Rahman seraya wajahnya dihadapkan kepada kaum Quraisy. Setelah bacaan Ibnu Mas’ud biasa dibaca Rasulullah diketahui mereka. Mereka pun mendatangi dan memukulinya hingga penuh luka. Namun, Ibnu Mas’ud tidak menyerah dengan luka tersebut. Ia membaca al-Quran untuk di hadapan musuh-musuh Allah secara terus menerus40.
Kedua, Rasulullah mengajarkan mereka tentang kesucian jiwa. Kesucian jiwa mencakup banyak hal, yaitu akhlak, adab, dan perilaku keseharian. Penyucian jiwa yang diajarkan oleh Rasulullah mampu
38Abdullah Zaen, Kajian Sejarah Nabi Muhammad-Madrasah Darul Arqam, (Purwokerto: Masjid Agung Baitussalam) menit ke 39:34
39Imam Nawawi, Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Quran, (Konsis Media) hal 42
40Khalid Muhammad Khalid, Biografi 60 Sahabat Nabi, Terj. Agus Suwandi (Jakarta: Ummul Qura’, 2016) hal 190-191
53
menghilangkan segala keburukan dalam diri sahabat pada masa jahiliyah. Rasulullah mengajarkan tidak mengajarkan teori, tetapi juga ia praktek langsung.
Kehidupan jahiliyah yang dijalani bangsa Arab sebelum masuk Islam telah menjadi kebiasaan. Kehidupan jahiliyah pun melekat pada umat Islam saat itu, tidak terkecuali sahabat Rasulullah. Pengubahan kebiasaan jahiliyah yang menuju kehidupan Islami bukan merupakan perkara yang mudah. Mereka membutuhkan kerja keras, tekad, dan semangat yang tinggi. Setelah itu, mereka harus senantiasa bersabar dan istiqomah dengan ajaran Islam.
Dalam al-Quran, Allah menyebut kata sabar sebanyak 99 kali.