Budgeting Reform
A. Evaluation of Fiscal Year 2010 Cost Standard
III. GUIDELINE FORMULATION (SUBDIRECTORATE OF BUDGETING REGULATION ALIGNMENT)
1. Survey atas Pelayanan Katastropik Serta Efektivitas Iuran Pemerintah Pada Asuransi Kesehatan Tahun 2010
Survey dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang peningkatan layanan kesehatan yang diberikan PT Askes dan Rumah Sakit serta hambatan- hambatan yang mungkin ada atas adanya iuran dan subsidi Pemerintah tersebut dan bagaimana sambutan Peserta atas program Pemerintah dimaksud.
Berdasarkan hasil survey dimaksud, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan program iuran dan subsidi katastrofi Pemerintah dalam penyelenggaraan Asuransi Kesehatan bagi PNS dan Penerima Pensiun khususnya dalam bidang
To plan Cost Standard Regulations, several activities have been conducted:
1. Literature Study
Various theoretical and empirical aspects were reviewed to create a frame of reference.
2. Discussion with Stakeholders
The objective of discussion was to collect feedbacks from stakeholders (related ministries/ agencies, internal units in the Directorate General of Budget and experts) to ensure feasibility of constructed theoretical framework.
3. Sampling Test
The test was an effort to collect primary data to support monitoring and evaluation activity and to help prepare 2012 General Cost Standard
4. Data processing
The data obtained from sampling test data was processed scientifically using SPSS and Minitab softwares.
III. GUIDELINE FORMULATION (SUBDIRECTORATE OF BUDGETING REGULATION ALIGNMENT) 1. Survey on Services to Cathasthropic Illnesses and the effectiveness of Goverment»s contribution on Health Insurance in 2010
The survey aims to inform the public on health services improvements provided by PT Askes (a state owned health insurance company) and hospitals. It decribes the probable presence of some contraints due to the implementation of government subsidy and contribution and participants» response to the program.
The survey result shows an overall improvement in the services provided by PT Askes and hospitals in relation to the government»s contributionand cathasthropic coverage subsidy program for civil servants and pensioneer health insurance as
pelayanan menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan kepada peserta telah diberikan dengan baik oleh Askes maupun rumah sakit dan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, khusus terkait dengan program subsidi katastrofi, para peserta mengharapkan program tersebut terus dijalankan dan jangan sampai berhenti karena sangat membantu bagi peserta. Sementara itu, meskipun pelayanan yang diberikan telah baik dan mengalami peningkatan, namun ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kedepannya baik itu bagi rumah sakit, PT Askes, Pemda, maupun Pemerintah. Bagi rumah sakit dan PT Askes yaitu terkait masih adanya sharing biaya yang harus dibayarkan oleh peserta seperti iuran biaya beli darah untuk hemodialisa, CT Scan, Obat- obatan, Periksa Darah, dan biaya-biaya administratif lainnya meskipun proporsi peserta yang menyatakan demikian sebanyak seperempat (25%) dari
keseluruhan jawaban peserta yang kami kumpulkan. 2. Penyelesaian Kebijakan Pemberian
Penghasilan Aparatur dan Pegawai Negeri Penghasilan Aparatur dan Pegawai Negeri Tujuan dari kegiatan adalah untuk memberikan penyesuaian bagi penghasilan home staff yang baru dan menata kembali berbagai kebijakan yang menyangkut penghasilan apartur dan pegawai negeri.
Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan rapat- rapat koordinasi dengan para stakeholder terkait misalnya Kementerian Luar Negeri, Badan
Kepegawaian Nasional, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan pihak- pihak lain.
Penghasilan home staff telah ditetapkan melalui surat Menteri Keuangan Nomor S-705/MK.02/2010 tanggal 29 Desember 2010 mengenai Persetujuan ADTLN Baru Bagi Perwakilan R I. Surat Menteri Keuangan yang baru ini mengenai penghasilan home staff (ADTLN) menggantikan surat Menteri Keuangan Nomor S-422/MK.02/2006 tanggal 27 September 2006 mengenai Angka Dasar Tunjangan Luar Negeri.
compared to the previous years. In fact, participants of cathastrophic coverage subsidy program hope that the program would continue because it is extremely helpful.
Despite the improvements, some areas still require attention from hospitals, PT Askes, local
governments, and the central government. One of them is that 25% (a quarter) of the respondents stated they were still required to share the cost of blood for haemodialysis, CT scans, medicines, blood- checks, and other administrative fees. This must be attended to by PT Askes and hospitals.
2. Settlement of Aparatus and Civil Servant Remuneration Policy
The activity aims to adjust the level of home staff pay and restructure several existing policies on state apparatus and civil servant remuneration.
The activity was manifested in a number of coordination meeting with relevant stakeholders such as Ministry of Foreign Affairs, National Personnel Board, Ministry of State Apparatus and Bureaucracy Reform and other parties.
Home staff pay has been set by Minister of Finance Letter No. S-705/MK.02/2010 effective 29 December 2010 on New Foreign Placement Allowance (ADTLN) for Republic of Indonesia Representatives. The letter revokes and replaces the previous Minister of Finance Letter No. S-422/MK.02/2006 dated 27 September 2006 on the Baseline of Foreign Placement Allowance.
3. Proyeksi Anggaran Belanja Pegawai Yang Akurat
Tujuan dilakukannya proyeksi adalah agar perhitungan belanja pegawai yang akurat adalah untuk mengurangi inefisiensi belanja pegawai, memberikan prinsip penganggaran yang sesuai dengan kebutuhan, dan merubah mindset atas penganggaran yang berbasis kinerja dan kerangka pengeluaran jangka menengah.
Proyeksi belanja pegawai yang akurat mengarah kepada belanja pegawai yang tertutup. Beberapa permasalahan utama dalam penentuan pagu belanja pegawai yang tertutup diantaranya adalah :
• Pengelolaan database belanja pegawai termasuk sumber, validitas, koordinasi dengan instansi terkait, penyusunan SOP database ; • Pengembangan infrastruktur pengelolaan database ;
• Reformulasi peran DJA sebagai pemelihara data atau pengambil data.
Berdasarkan beberapa permasalahan di atas, maka perlu scientific method dan koordinasi lebih intensif agar kebijakan belanja pegawai tertutup sebelum diterapkan kepada seluruh kementerian/lembaga. Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan instansi terkait di lingkup DJA, beberapa tahapan awal dari rencana kebijakan belanja pegawai tertutup diantaranya adalah :
• tertutup hanya dapat dilakukan pada belanja pegawai yang bersifat otomatis dalam aplikasi RKA-KL bukan pada belanja transito ; • kebutuhan alokasi untuk belanja pegawai, sebagaimana yang telah disimulasi oleh tim Direktorat Sistem Penganggaran, secara keseluruhan cukup ;
• TNI/POLRI tidak ikut dalam tahap awal belanja pegawai tertutup karena variasi data yang cukup berbeda dengan data pegawai negeri sipil dan frekuensi pola mutasi yang cukup
tinggi ;
3. Accurate Personnel Expenditure Projection
The projection aims at ensuring an accurate personnel expenditure calculation, which will reduce expenditure inefficiency, apply appropriate budgeting principles, and change the mindset to a
performance-based budgeting with medium-term expenditure framework.
Accurate personnel expenditure projection paves the way for fixed personnel expenditure. Some of the main problems of devising fixed personnel expenditure ceiling are:
• Personnel expenditure databese management, which includes source, validity, coordination with relevant parties, and database SOP formulation; • Database management infrastructure development; • Reformulating DGB»s role as either data manager or data collector.
The above problems neccesitates the use of scientific methods and intensive coordination to ensure that the fixed personnel expenditure policy can be implemented to all ministries/agencies.
Based on the result of coordination meeting with related units in DGB, some of the initial phases of fixed personnel expenditure policy implementation plan are:
• fixed policy will only be applied to personnel expenditure items that are automatic in nature in the RKA-KL application, not to transitional expenditures.
• Appropriation needs for personnel expenditure, as simulated by Directorate of Budgeting System, has been deemed sufficient;
• Armed Forces/National Police will not participate in the initial implementation of fixed personnel expenditure policy due to differences in data variation to that of other civil servants and high level of personnel rotation;
• alokasi transito jika sudah diterapkan belanja pegawai tertutup, dialokasikan secara terpusat • perubahan mindset atas pengembangan sistem penganggaran yang berbasis kinerja dan kerangka pengeluaran jangka menengah, sehingga mengharuskan belanja pegawai dapat dilakukan secara tertutup.
Apabila beberapa tahapan awal telah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan scientific method, maka kebijakan belanja pegawai tertutup itu akan diusulkan kepada pimpinan DJA dalam sebuah peraturan setingkat peraturan menteri keuangan. 4. Penyusunan Pola Pembiayaan Program Pensiun dan THT PNS
Tujuan disusunnya Pola Pembiayaan Pensiun dan THT PNS adalah dari untuk mengurangi beban APBN untuk pembiayaan untuk Program Pensiun dan Program THT PNS dan untuk menyesuaikan atau meningkatkan manfaat yang diterima oleh PNS sepadan dengan iuran yang telah dibayarkan sesuai dengan prinsip fairness.
a. Penyelesaian Unfunded Past Service Liability
Dalam rangka penyelesaian UPSL 2007-2010 telah dilakukan penilaian kewajaran nilai UPSL oleh akturaris independen. Perhitungan tersebut menggunakan data, asumsi, dan metodologi yang telah disepakati oleh Kementerian Keuangan dan PT Taspen (Persero). Saat ini telah disusun Rancangan Peraturan Menteri Keuangan Tentang Tata Cara Pengakuan, Perhitungan, Penyediaan, Pencairan Dan Pertanggungjawaban Past Service Liability Program Tabungan Hari Tua Pegawai Negeri Sipil Pada PT Taspen (Persero). PMK tersebut akan menjadi dasar hukum penyelesaian UPSL.
b. Perubahan Formula Manfaat ProgramTHT PNS
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, penyebab timbulnya Unfunded PSL adalah karena Program THT PNS menggunakan formula manfaat pasti. Untuk itu, telah disusun formula baru yang merupakan formula gabungan antara manfaat pasti dan Iuran Pasti.
• Once fixed personnel expenditure policy is applied, transitional allocation will be done centrally; • The change of mindset to performance-based budgeting with medium-term expenditure framework will eventually require, and enable, a fixed personnel expenditure policy.
If the initial phases are executed successfully in accordance to scientific methods, the policy will be proposed to the Director General of Budget to be stipulated as a regulation at ministrial level.
4. Formulation of Civil Servants Pension and Retirement Benefit Financing Scheme
The objective of Civil Servants Pension and
Retirement Benefit Financing Scheme is to reduce the load taxed to the Indonesian Budget by pension and retirement benefit program financing. The scheme also aims to adjust or increase the benefit received by the pensioners, bearing in mind the fees paid and the fairness principles.
a. Unfunded Past Service Liability (UPSL) Settlement
To settle the 2007-2010 UPSL, an independent actuary had appraised the appropriateness of UPSL amount. The assessment was based on data, assumptions, and methods agreed by the Ministry of Finance and PT Taspen. At the moment, a draft of Minister of Finance Regulation that will be used as a legal basis with which to settle UPSL is being constructed. The regulation will cover the procedures for claiming, calculating, providing, disbursing, and reporting Past Service Liability of Civil Servant Retirement Benefit Plan at PT Taspen.
b. Altering the Benefit Formula of Civil Servant Retirement Benefit Program
As has previously been discussed, unfunded PSL arises because the Civil Servant Retirement Benefit Program is employing defined benefit formula. Therefore, a new formula combining defined benefit and defined contribution has been developed.
Dengan formula baru tersebut, diharapkan Program THT PNS tidak lagi menimbulkan Unfunded PSL. Selain itu, berdasarkan exercise yang telah dilakukan, manfaat THT yang diterima PNS tidak mengalami penurunan atau bahkan mengalami kenaikan. Formula tersebut dituangkan dalam RPMK Formula Manfaat THT PNS sebagai pengganti KMK 478/ KMK.06/2002 yang telah diubah dengan KMK 500/ KMK.06/2004.
5. Penyelenggaraan Program Pensiun PNS Eks Dephub pada PT KAI
Untuk memenuhi ketentuan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2007 tentang
Penyesuaian Pensiun Eks PNS Dephub pada PT Kereta Api (Persero) Menteri Keuangan telah menyampaikan surat kepada Menteri BUMN untuk meminta pendapat untuk proporsi pendanaan bersama. Menindaklanjuti surat tersebut, Menteri BUMN menyampaikan bahwa porsi Pendanaan Bersama atas kekurangan pembayaran manfaat untuk Tahun Anggaran 2010 diharapkan sama dengan tahun sebelumnya, yakni porsi APBN sebesar 68% dan PT Kereta Api (Persero) sebesar 32%. Hal-hal yang menjadi pertimbangan Menteri BUMN adalah sebagai berikut:
a. Proporsi Pendanaan Bersama sebesar 32% telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PT Kereta Api (Persero) Tahun 2010 yang disahkan oleh RUPS pada tanggal 19 Januari 2010. b. Meskipun pada tahun 2009 diproyeksikan memperoleh keuntungan, namun kebutuhan dana investasi PT Kereta Api (Persero) pada tahun 2010 sangat besar, terutama pemenuhan kebutuhan investasi angkutan batubara dalam rangka memenuhi kontrak dengan PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk, untuk mendukung program Pemerintah dalam penyediaan listrik 10.000 MW. c. Di samping itu, sampai saat ini PT Kereta Api (Persero) masih harus menanggung biaya
With the new formula, the program will not produce unfunded PSL. In fact, the formula exercise showed no reduction of benefit received by recipients. Instead, the amount of benefit increased. The formula is stated in Draft Minister of Finance Regulation on Benefit Formula of Civil Service Retirement Benefit. The draft will replace Minister of Finance Decree No. 478/KMK.06/2002, which was ammended by Minister of Finance Decree No. KMK 500/KMK.06/2004.
5. Implementation of Pension Program for Ex- Ministry of Transportation (MoT) Civil Servants at PT KAI (Indonesian Railway Company)
To comply with Government Regulation No. 64 of 2007 on Pension Adjustment for Ex- Ministry of Finance Civil Servants at PT Kereta Api (Persero), Minister of Finance sent a letter to Minister of State Owned Enterprises regarding the proportion of shared funding. In response, the Minister of State Owned Enterprises stated that the shared proportion for benefit back payment of FY 2010 was similar to that of the previous year, i.e. 68% from the Indonesian Budget and 32% from the PT Kereta Api (Persero). The underlying reasons are:
a. The proportion has been listed as 32% in the Company Work Plan dan Budget (RKAP) PT Kereta Api (Persero) for 2010, which was made official by the Annual General Shareholder Meeting in 19 January 2010.
b. Despite the 2009 profit projection, in 2010 PT Kereta Api (Persero) did require a very large investment fund, especially in the area of coal transportation. The company had to satisfy its contract with PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (Bukit Asam Coal Mining Company) to support the government»s 10,000 MW electricity provision program.
c. Moreover, PT Kereta Api (Persero) still needs to cover railway infrastructuere maintenance
pemeliharaan prasarana perkeretaapian yang seharusnya menjadi tugas Pemerintah. Setelah melalui pembahasan yang melibatkan berbagai pihak, baik di Lingkungan Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, PT Taspen (Persero), dan PT KAI (Persero), serta mengingat pendapat dari Kemenerian BUMN yang telah disampaikan kepada Kementerian Keuangan, selanjutnya dapat
ditetapkan besaran kontribusi APBN dalam pendanaan bersama. Kontribusi APBN dalam Pendanaan Bersama Tahun Anggaran 2011 adalah sebesar 68% atau diperkirakan senilai Rp
226.569.000.000,-, sedangkan kontribusi PT Kereta Api (Persero) adalah sebesar 32% atau diperkirakan senilai Rp106.622.000.000,-.
6. Penyempurnaan Sistem Penganggaran Belanja Barang dan Modal Tahun 2010 A. Latar Belakang
Berdasarkan beberapa pengamatan dan penelitian, selama ini kebijakan anggaran dalam belanja barang dan belanja modal masih belum ideal. Beberapa kebijakan dalam pengalokasian belanja barang dan belanja modal masih bersifat insidentil dan belum mempertimbangkan kesinambungan anggaran untuk jangka panjang. Beberapa pengeluaran negara, bahkan yang membutuhkan dukungan anggaran yang sangat besar, belum melalui suatu penilaian yang tepat sehingga berpotensi menimbulkan inefisiensi. Hal ini dapat dimaklumi karena kemungkinan dukungan data dan informasi yang belum lengkap dan akurat. Disamping itu, sistem dan persyaratan lainnya yang diperlukan oleh Ditjen Anggaran belum tersedia secara lengkap. Realisasi belanja barang selama kurun waktu 2007- 2009 dapat terlihat dalam tabel dan grafik
di bawah ini:
Dalam tabel di atas, terlihat bahwa realisasi belanja barang tiga tahun terakhir juga belum bisa mencapai 100%, bahkan hanya mencapai kurang dari 90%.
expenses, which was supposed to be borne by the government.
The issue was discussed by relevant parties from Ministry of Finance, Ministry of State Owned Enterprise, PT Taspen (Persero) and PT KAI (Persero). Taking the opinion of Minister of State Owned Enterprise into consideration, the amount of the Indonesian Budget contribution to the FY 2010 joint funding was set at 68% or an estimated Rp 226.569.000.000,-. Meanwhile the contribution of PT Kereta Api (Persero) was at 32% or an estimated Rp106.622.000.000,-.
6. Goods and Service Expenditure Budgeting System Improvement for 2010
A. Introduction
According to various observations and researches, the goods and services expenditure budgeting system is yet to arrive at an ideal state. Some policies in the area are incidental with little regard to long term budget sustainability. Several expenditures, some even with very significant budgeting consequences, were disbursed without proper assesment, which might petentially result in inefficiency. These are understandable because, at the time there might be a lack of accurate and comprehensive data and information support. Morever, Directorate General of Budget were yet to have comprehensive system and requirements to deal with such issues.
The realized goods expenditure in the period of 200- 2009 can be seen from the following table:
The above table shows a realization rate of less than 100%, or even less than 90%, in goods expenditure in the past three years.
Hal ini bisa mengindikasikan beberapa hal, antara lain perencanaan yang belum baik, sistem
penganggaran belanja barang yang belum memadai, atau kesulitan dalam pelaksanaan anggaran belanja barang tersebut.
Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk menyempurnakan Sistem Penganggaran Belanja Barang dan Modal Tahun 2010 adalah inventarisasi Data Aset/Barang, koordinasi dengan para
Stakeholder dan implementasi Sistem Penganggaran Belanja Barang Berbasis Data Aset
7. Evaluasi dan Harmonisasi Kebijakan Bidang Penganggaran
Kegiatan evaluasi dan harmonisasi kebijakan di bidang penganggaran selama tahun 2010 secara umum adalah sebagai berikut :
• Penetapan Bagian Anggaran terkait peran dan fungsi Pengguna Anggaran/Kuasa Penggunan Anggaran ;
• Penyusunan RPP perubahan PP 21/2004 tentang Penyusunan RKA-KL ;
• Evaluasi penyusunan pagu Belanja Pegawai TA. 2011 ;
• PMK No. 56/PMK.02/2010 tentang Tata Cara Pengajuan Persetujuan Kontrak Tahun Jamak (Multiyears Contract) Dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ;
• Kajian peluang investasi BMN Kemlu di luar negeri ;
• Kebijakan pengenaan pajak penghasilan pasal 21 untuk Pejabat Negara/ PNS/TNI/POLRI/ Pejabat pada lembaga non struktural (LNS). Beberapa kegiatan di atas masih perlu tindak lanjut dan koordinasi dengan beberapa stakeholder dan instansi terkait seperti penetapan BA terkait peran dan fungsi PA/ KPA, pagu belanja pegawai TA 2011, revisi PMK No. 56/PMK.02/2010, pembahasan kajian peluang investasi BMN di luar negeri dan pengenaan PPh 21 untuk Pejabat Negara/ PNS/TNI/POLRI/Pejabat pada LNS.
It gives an indication of several issues, for example poor planning, inadequate goods expenditure budgeting system,or budget implementation problems.
Efforts to improve 2010 Goods and Services Expenditure Budgeting System include making an inventory of goods/services data, strengthening stakeholder coordination, and implementing Asset Data-Based Goods Expenditure Budgeting System.
7. Budgeting Policy Evaluation and Alignment
Budgeting policy evaluation and alignment activities throughout 2010 are as follow:
• Budget Unit Stipulation in relation to Budget User and Authorized Budget User;
• Formulation of Draft Government Regulation on the amendment of Government Regulation 21/ 2004 on RKAKL Formulation;
• Evaluation of Personnel Expenditure ceiling formulation for FY 2011;
• Minister of Finance Regulation No. 56/PMK.02/ 2010 on Procedures for Goods/Services Procurement Multiyears Contract Approval Proposal;
• Study on the opportunity for Foreign State Asset Investment by Ministry of Foreign Affair;
• Policy on Article 21 income tax enactment to State Official/Civil Servant/Armed Forces/National Police of non-structural agencies;
IV. PENGEMBANGAN APLIKASI RKAKL 2011