• Tidak ada hasil yang ditemukan

ِميِحهرلا ِنَْحْهرلا ِهللَّا ِمْسِب ِهِللَّ َدْمَْلْا هنِإ َنَو ُهُنيِعَتْس َن

ِفْغَ تْس ُر َلاَف ُهللَّا ِهِدْهَ ي ْنَم اَنِسُفْ نَأ ِروُرُش ْنِم ِهللَِّبِ ُذوُعَ نَو ُه

ْنَأ ُدَهْشَأَو ُهَل َىِداَه َلاَف ْلِلْضُي ْنَمَو ُهَل هلِضُم ُهللَّا هلِإ َهَلِإ َل

ُهُدْبَع ًادهمَُمُ هنَأ ُدَهْشَأَو

.» ُهُلوُسَرَو َيَ(

ُّ يَأ َمآ نيِذهلا اَه ه تا اوُن

)َنوُمِلْسُم ْمُتْ نَأَو هلِإ هنُتوَُتَ َلَو ِهِتاَقُ ت هقَح َهللَّا او ُق

ْنِم ْمُكَقَلَخ ىِذهلا ُمُكهبَر اوُقه تا ُساهنلا اَهُّ يَأ َيَ(

َلَخَو ٍةَدِحاَو ٍسْفَ ن هثَبَو اَهَجْوَز اَهْ نِم َق

َو ًايرِثَك ًلاَجِر اَمُهْ نِم اَسِن

َهللَّا اوُقه تاَو ًء هلا

َناَك َهللَّا هنِإ َماَحْرَلْاَو ِهِب َنوُلَءاَسَت ىِذ

)ًابيِقَر ْمُكْيَلَع ْوَ ق اوُلوُقَو َهللَّا اوُقه تا اوُنَمآ َنيِذهلا اَهُّ يَأ َيَ(

َل ْحِلْصُي ًاديِدَس ًل ْرِفْغَ يَو ْمُكَلاَمْعَأ ْمُك

ِطُي ْنَمَو ْمُكَبوُنُذ ْمُكَل َهللَّا ِع

ُهَلوُسَرَو ْدَقَ ف َف )ًاميِظَع ًازْوَ ف َزا

ِثيِدَْلْا َقَدْصَأ هنِإ ُهَل َىِداَه َلاَف ُهْلِلْضُي ْنَمَو ُهَل هلِضُم َلاَف ُهللَّا ِهِدْهَ ي ْنَم ُدْعَ ب اهمَأ َسْحَأَو ِهللَّا ُباَتِك َُتهَثاَدُْمُ ِروُمُلْا هرَشَو ٍدهمَُمُ ُىْدَه ِىْدَْلْا َن

َو ا ٍةَثَدُْمُ هلُك ةَعْدِب

هلُكَو

ِراهنلا ِف ٍةَلَلاَض هلُكَو ةَلَلاَض ٍةَعْدِب :الل دابع لاقف هتكئلابِ هيف نثو هسفنب هيف أدب رمبأ مكرمأ الل نإ

هنِإ {:لىاعت

ُي ُهَتَكِئ َلاَمَو َهللَّ ا َص اوُنَمآ َنيِذهلا اَهُّ يَأَيَ ِ ِبهنلا ىَلَع َنوُّلَص

اوُّل ِ لَسَو ِهْيَلَع ْسَت اوُم

}اًمي ِل

:بازحلْا[

] 56

ملسو هيلع الل ىلص الل لوسر لاقو اَِبَ ِهْيَلَع ُهللَّا ىهلَص ًةَلاَص هىَلَع ىهلَص ْنَم ))

اًرْشَع

((

192

ِ لَص همُههللا َعَو ، ٍدهمَُمُ ىَلَع

َعَو َميِهاَرْ بِإ ىَلَع َتْيهلَص اَمَك ، ٍدهمَُمُ ِلآ ىَل آ ىَل

ِل

َميِهاَرْ بِإ َكهنِإ ، َتْكَرَبِ اَمَك ، ٍدهمَُمُ ِلآ ىَلَعَو ، ٍدهمَُمُ ىَلَع ْكِرَبِ همُههللا ، ديَِمج ديَِحْ

َميِهاَرْ بِإ ِلآ ىَلَعَو ، َميِهاَرْ بِإ ىَلَع ديَِمج ديَِحْ َكهنِإ ،

لإاو ،ةينلاعلاو رسلا ف لجو زع الل ىوقتب يسفنو مكيصوأ نا صلاخ

ف هل

او لامعلْا ،لاوقلْ

او عيجَ ف ملسو هيلع الل ىلص دممُ يركلا انلوسرب ءادتقل

يه لىاعتو كرابت الل ىوقت نإف ،لجو زع انبر لىإ هب برقتن ام لك فو انلامعا ميظعلا ببسلا

و ايندلا ةداعس ليصت ف َهللَّا ِقهتَ ي نَمَو(:لىاعت الل لاق ،ةرخلآا

ُههل لَعَْيج َرَْمَ

ْقُزْرَ يَو * اًج ْنِم ُه

)ُبِسَتَْيَ َل ُثْي َح

:لىاعت لاق :ق[ }ِديِعَو ُفاََيخ ْنَم ِنآْرُقْلِبِ ْرِ كَذَف{

] 45

Artinya: “Maka beri peringatanlah dengan Al Qur'an orang yang takut kepada anc aman-K u.” QS. Qaaf:45.

ىَرْكِ ذلا ِتَعَفَ ن ْنِإ ْرِ كَذَف{

( َس ) 9 ْنَم ُرهكهذَي ىَشَْيخ

( 0 :ىلعلْا[ } ) 1 ، 9

] 10

Artinya: “Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” “Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” QS. Al A’la: 9-10.

( رِ كَذُم َتْنَأ اَهنَِّإ ْرِ كَذَف { ) 21

غلا[ } :ةيشا ] 21

Artinya: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” “K amu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” QS. Al Ghasyiah: 21.

َقُ ي{

ُبِ ل ًةَْبرِعَل َكِلَذ ِف هنِإ َراَهه نلاَو َلْيهللا ُهللَّا

وُِلْ

ِراَصْبَْلْا ِل ونلا[ }

] 44

193

Artinya: “Allah mempergantikan malam dan siang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” QS. An Nur: 44.

Ayat-ayat yang disebutkan di atas tadi memberikan pengetahuan kepada bahwa kita dalam sesuatu yang diciptakan atau yang disyariatkan Allah selalu ada pelajaran yang dapat dipetik.

Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…

Ramadhan Bulan penuh berkah itu sudah berlalu…

Ramadhan Bulan yang malam-malamnya kemerdekaan api neraka di setiap malamnya itu sudah berlalu…

Ramadhan Bulan yang di dalamnya dosa-dosa diampuni sudah berakhir

Ramadhan bulan yang di dalamnya doa-doa dikabulkan sudah lewat…

Bulan Al Quran itu telah lewat…

Bulan Bersedekah itu telah habis

Bulan penuh perjuangan itu telah berakhir.

Bulan Lailatul Qadar Malam yang lebih baik dari seribu bulan telah berlalu.

Dan jika berbicara mungkin Ramadhan akan berkata:

“Wahai sahabat Muslimku…

Aku pergi ya, untuk meninggalkan kamu dalam waktu yang lama…

11 bulan lagi aku pasti kembali.

TAPI AKU TIDAK TAHU, KAMU BISA MENEMUIKU LAGI ATAU TIDAK?!?” begitulah kira-kira Ramadhan berkata.

194

Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga kita selalu dirahmati Allah)…

Pada Khotbah idul Fitri kali ini kita akan belajar dari Bulan Ramadhan…

Kiranya, apakah pelajar-pelajarn yang bisa kita petik dari seorang GURU YANG BERNAMA RAMADHAN ITU?

Wahai kaum muslimin rahimakumullah (semoga Allah selalu selalu merahmati kita seluruhnya)…

Pelajaran Pertama:

Ramadhan membuat kita lebih memahami keberadaan kita dunia, yaitu menjadi hamba Allah bertakwa.

Wahai kaum muslimin, ini adalah salah satu pelajaran yang sangat berarti dari Ramadhan mengenalkan hakikat seseorang, mengenalkan tujuan penciptaannya di dunia, sehingga seseorang selalu di dalam batasan-batasan Allah selama ia diberi nafas oleh Allah di dunia yang sementara ini.

Sehingga juga, setiap kali mulai melenceng atau benar-benar sudah melenceng dari tujuan aslinya di dunia, dia bisa kembali dengan cepat dan tanggap.

Allah berfirman:

ْمُكهلَعَل ْمُكِلْبَ ق ْنِم َنيِذهلا ىَلَع َبِتُك اَمَك ُماَيِ صلا ُمُكْيَلَع َبِتُك اوُنَمآ َنيِذهلا اَهُّ يَأَيَ { :ةرقبلا[ }َنوُقه تَ ت ] 183

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” QS. Al Baqarah: 183.

Wahai Kaum Muslimin…

Taqwa adalah Mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan petunjuk dari Allah berharap pahala dari Allah dan menjauhi

195

larangan Allah dengan petunjuk dari Allah karena takut siksa Allah.

َْحَْر َءاَجَر ِهللَّا ِةَعاَطِب َلَمْعَ ت ْنَأ ىَوْقه تلا :َلاَق ،ٍبيِبَح ِنْب ِقْلَط ْنَع ٍروُن ىَلَع ِهللَّا ِة

ُْترَت ْنَأ ىَوْقه تلاَو ،ِهللَّا َنِم ٍروُن ىَلَع ِهللَّا ِباَذَع َةَفاََمَ ِهللَّا َةَيِصْعَم َك

َنِم .ِهللَّا

Talq bin Habib (tabii wafat sebelum tahun 100 H) rahimahullah berkata: “Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan berharap rahmat Allah sesuai dengan petunjuk dari Allah, dan takwa adalah meninggalkan kemaksiatan yang dilarang Allah karena khawatir siksa dari Allah sesuai dengan petunjuk dari Allah.

Shahabat Nabi yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu

‘anhu berkata tentang takwa:

ْذُيَو ،ىَصْعُ ي َلاَف َعاَطُي ْنَأ ،َرَفْكُي َلاَف َرَكْشُيَو ،ىَسْنُ ي َلاَف َرَك

“Taqwa adalah berusaha selalu mengingat Allah, selalu berusaha bersyukur akan nikmatnya",

Berkata Ali Bin Thalib radhiyallahu ‘anhu:

، ليلقلبِ ايندلا نم ةعانقلاو ، ليزنتلبِ لمعلاو ، ليللِا نم فولخا ىوقتلا او ليحرلا مويل دادعتسل

Artinya: “Taqwa adalah Merasa takut dengan Allah Yang Maha Perkasa, beribadah sesuai dengan contoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, puas dengan pemberian Allah walau sedikit, mengumpulkan bekal untuk hari kematian.”

Berkata Al Hasan Al Bashri rahimahullah:

الل كدقفي لأ ىوقتلا مأ ثيح

يح كاري لو ، كر كانَ ث

Artinya: “Takwa adalah Allah tidak kehilanganmu saat Dia memerintahkanmu, dan tidak melihatmu saat Dia melarangmu?”.

Oleh karenanya wahai kaum muslimin…

196

Hamba Allah di dalam bulan Ramadhan lebih Taat kepada Allah dalam melaksanakan kewajiban.

Hamba-hamba Allah di dalam bulan Ramadhan lebih takut kepada Allah dengan menjauhi maksiat.

Hamba-hamba Allah di dalam bulan Ramadhan lebih banyak berdzikir dan membaca Al Quran

Hamba-hamba Allah di dalam bulan Ramadhan lebih bisa bersabar dan puas atas Taqdir dan pemberian Allah Taala.

Hamba-hamba Allah di dalam bulan Ramadhan lebih bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.

Karena Ramadhan adalah guru yang mengajarkan kepada kita muridnya hakikat diri, yaitu menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

ِهِللََّو { هسلا ِف اَم ِتاَواَم

اَمَو ْمُكِلْبَ ق ْنِم َباَتِكْلا اوُتوُأ َنيِذهلا اَنْ يهصَو ْدَقَلَو ِضْرَْلْا ِف

َواَمهسلا ِف اَم ِهِللَّ هنِإَف اوُرُفْكَت ْنِإَو َهللَّا اوُقه تا ِنَأ ْمُكهيَِإَو ِف اَمَو ِتا

ُهللَّا َناَكَو ِضْرَْلْا

َِحْ اًّيِنَغ اًدي :ءاسنلا[ }

] 131

Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh K ami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah k epada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha K aya lagi Maha Terpuji.” QS. An Nisa: 131.

197 Pelajaran kedua:

Belajar Ikhlas dari Puasa

Wahai kaum muslimin rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…

Amalan wajib di dalam bulan Ramadhan adalah berpuasa wajib Ramadhan, dan dari puasa kita dapat belajar keikhlasan dalam beribadah.

Para ulama telah menjelaskan hal ini,

Bagaimana Belajar Ikhlas dari Ibadah Puasa?

Mari kita perhatikan hadits berikut;

ِبَأ ْنَع ْ يَرُه َةَر هنع الل ىضر

ِهللَّا ُلوُسَر َلاَق َلاَق

-ملسو هيلع الل ىلص

«

َلاَق ٍفْعِض ِةَئاِمِعْبَس َلىِإ اَِلْاَثْمَأ ُرْشَع ُةَنَسَْلْا ُفَعاَضُي َمَدآ ِنْبا ِلَمَع ُّلُك هزَع ُهللَّا

ِلى ُههنِإَف َمْوهصلا هلِإ هلَجَو َنَأَو

َي ِهِب ىِزْجَأ َش ُعَد

ُهَتَوْه هيلع قفتم .» ىِلْجَأ ْنِم ُهَماَعَطَو

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap amalan anak Adam dilipatkan, s atu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh lipat sampai tujuhratus kali lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “K ecuali puasa, karena sesuangguhnya ia adalah milik -K u dan Aku Yang akan mengganjarnya, (karena) ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” HR. Bukhari dan Muslim.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:

أ بأ نع ضايع هلقنو يرزالما هاكح هيرغ ف عقي امك ءيَرلا هيف عقي ل موصلا ن

ديبع

“Bahwa puasa tidak terjadi di dalamnya riya’ sebagaimana terjadi pada selainnya, diceritakan oleh al Maziry dan dinukilkan oleh

‘yadh dari Abu ‘Ubaid.

198

بطرقلا لاق

ك الم : لْا تنا درجبِ هيلع علطي ل موصلاو ، ءيَرلا اهلخدي لامع

)يلجأ نم هتوهش عدي( : ثيدلْا ف لاق اذلْو هسفن لىإ الل هفاضأف الل لإ هلعف

“Berkata Al Qurthuby rahimahullah: “Ketika amalan-amalan (lain) dimasuki oleh riya’, sedangkan puasa tidak dapat dilihat dengan hanya melakukannya, kecuali Allah, maka Allah gandengkan puasa itu kepada diri-Nya, oleh sebab inilah Allah berfirman di dalam hadits: “Ia meninggalkan syahwatnya karena Aku.”

قو اهلعفب رهظت تادابعلا عيجَ : يزولِا نبا لاقو نأ ل

نم رهظي ام ملسي ٍبوش

ي ( نع دق . موصلا فلابِ ) ءيَرلا نم ءيش هطلايخ

Berkata Ibnul Jauzy rahimahullah: “Seluruh ibadah terlihat dengan melakukannya dan sedikit yang selamat yang terlihat dari duri (yaitu terkadang dicampuri oleh sesuatu dari riya’) berbeda dengan puasa.”

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “

مئاصلا قحتسي ابَ تلا ةهلِا ىلع هيبنتلا رصلْا اذه نم مهفي دق" :ظفالْا لاق مك لوقلبِ ءيَرلا لخدي دقو" :لاق ث ,هب صالخا صلاخلإا وهو ،كلذ موصي ن

مأ ،لوقلبِ نوكي ءيَرلا لوخدف ،مئاص هنبأ بريخ ث ةيقب ا

رلا نإف لامعلْا دق ءيَ

ي بِ اهلخد لعفلا درج

."

“Terkadang dipahami dari pembatasan ini, adalah peringatan atas sisi yang di dapatkan oleh seorang yang berpuasa, yaitu ikhlas yang khususnya padanya,”

kemudian beliau berkata: “Dan terkadang (puasa) masuk (ke dalamnya) riya’ dengan ucapan, seperti seorang yang berpuasa kemudian ia memberitahukan bahwa ia berpuasa, maka masuknya riya’ dengan ucapan, adapun sisa dari amalan-amalan lain, maka sesungguhnya riya’ terkadang masuk ke dalamnya hanya dengan melakukan.” Lihat kitab Fath Al Bary, 4/107

199

Berkata Syeikh Ibnu Ustaimin rahimahullah:

: ٍةديدع ٍهوجو نم ِموصلا ِةليضف ىلع ُّلُدي ُليللِا ُثيدلْا اَذَهَو "

يب نم موصلا هسفنل هصتخا الل نأ : لولْا هجولا

ِهِفرشِل كلذو ، لامعلْا ِرئاس

و ، هل ِهتهبمُو ، هدنع ا روهظ

احبس هل ِصلاخِلإ

، هيف هن ِس هنلْ

ْيَب ُّر ل هِ برو ِدبعلا

ْنم ًانِ كمتُم سانلا نم لالخا ِعِضولما ف نوكي َمئاصلا نِإف . الل لإ هيلع ُعلهطي ُهُلوانتي لاف ، مايصلبِ هيلع الل مهرح ام ِلُوانت ف هيلع علهطي ً بِر هل نأ ملعي هنلْ ؛

هرح دقو ، هِتولخ َع م

ُتريف ، كلذ هْيَل لل هُك

ًافوخ

، هباقع نم نمف ، هباوث ف ًةبغرو

ِرِئاَس يب نم هِسْفنل هَمايص هصتخاو ، َصلاخِلإا اذه هل ُالل ركش كلذ لجأ . ) يلْجأ نم هَماعطو هَتوهش ُعدَي ( : لاق اذلْو ِهِلامعأ

“Dan hadits yang agung ini menuinjukkan keutamaan puasa dari beberapa sisi;

Yang pertama: Bahwa Allah mengkhususkan untuk diri-Nya puasa dari antara seluruh amalan, dan demikian itu karena kemuliaannya disisi-Nya dan kecintaan-Nya kepada puasa, dan terlihat ikhlas kepada-Nya Maha Suci Allah di dalamnya, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-Nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, karena seorang yang berpuasa ia berada disebuah temapt yang kosong dari orang-orang, memungkin baginya untuk mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah atasnya dengan puas, lalu ia tidak menkonsumsinya, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang Rabb yang mengetahui dalam kesendiriannya, dan Allah telah mengharamkan hal itu atasnya, maka ia meninggalkannya karena Allah karena takut akan siksa-Nya, berharap pahala-Nya, oleh sebab inilah Allah mensyukurinya keikhlasan ini dan mengkhususkan puasanya untuk diri-Nya dibandingkan seluruh amalannya, oleh sebab inilah Allah berfirman: “Ia meninggakan

200

syahwat dan makanannya karena Aku.” Lihat kitab Majalis Syahri Ramadhan, hal. 13.

Kalau Ikhlas, memang kenapa? Apa Kedudukan Ikhlas dalam agama Islam?

Berkata Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafizhahullah menjelaskan salah satu urgensi ikhlas dalam amal ibadah:

دلا ف بولطلمبِ رفظلاو حاجنلا ساسأ وه صلاخلإا :هتلزنم او اين

وهف ,ةرخلآ

لمعلل ةلزنبِ

ساسلْا و ,ناينبلل

لو ءانبلا رقتسي ل هنأ امكف ,دسجلل حورلا ةلزنبِ

كلذكف للخ هيترعي نأ نم هدهاعتو هساسأ ةيوقتب لإ هنم عافتنلا نم ن كمتي لا ةايح نأ امكو ,صلاخلإا نودب لمعلا هتارثم ليصتو لمعلا ةايحف حورلبِ ندب

هتمزلامو هتبحاصبِ

لاخلإل كلذ حضوأ دقو ,ص

ف الل هباتك اقف زيزعلا ْنَمَفَأ{ :ل

ٍفُرُج اَفَش ىَلَع ُهَناَيْ نُ ب َسهسَأ ْنَم ْمَأ ْيرَخ ٍناَوْضِرَو ِهللَّا َنِم ىَوْقَ ت ىَلَع ُهَناَيْ نُ ب َسهسَأ َن ِف ِهِب َراَْنَاَف ٍراَه ِلاهظلا َمْوَقْلا يِدْهَ ي ل ُهللَّاَو ,َمهنَهَج ِر

َيِم معأ تناك المو ,}

لا

افكلا تلا ر راع اهولمع

لعج هناحبس هل لمعلا صلاخإو الل ديحوت نم ةي

.}ًاروُثْ نَم ًءاَبَه ُهاَنْلَعَجَف ٍلَمَع ْنِم اوُلِمَع اَم َلىِإ اَنْمِدَقَو{ :لاقف اهمدعك اهدوجو

“Ikhlas adalah pokok dasar kesuksesan dan kemenangan dengan cita-cita di dunia dan akhirat, ia bagi amalan bagaikan pondasi untuksebuah bangunan dan bagaikan truh untuk jasad, maka sebagaimana bangunan tidak akan menetap dan tidak akan dapat diambil manfaat darinya kecuali dengan menguatkan pondasinya dan selalu menjaganya dari kerusakan yang terjadi padanya, maka demikian pula amalan tanpa ikhlas. Dan sebagaimana kehidupan badan dengan adanya ruh, maka kehidupan amal, pencapaian buah hasilnya dengan selalu menyertakan nya untuk keikhlasan, dan Allah telah menjelaskan akan hal itu dalam firman-Nya: