• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)

a. Pengertian guru pendidikan agama Islam (PAI)

Sebelum mengulas tentang pengertian guru PAI, maka perlu mengulas tentang pengertian guru atau pendidik. Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir (2010: 90) dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikan dengan guru yang berarti digugu dan ditiru. Dikatakan

digugu (dipercaya) karena guru memiliki seperangkat ilmu yang

memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (diikuti) karena guru memiliki kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri teladan oleh peserta didiknya.

Menurut Akmal Hawi (2013: 9) guru adalah orang yang dapat memberikan respons positif bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar. Menurut Haidar Putra Daulay (2014: 103) guru adalah orang yang memberikan ilmu kepada peserta didik, serta membimbing jiwa mereka sekaligus pula mengarahkan tingkah laku mereka kepada yang baik. Sedangkan menurut Hadari Nawawi dalam Moh Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan (2012: 137) menjelaskan bahwa guru adalah

orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang memberikan ilmu kepada peserta didik dan mengarahkan tingkah laku mereka kepada yang baik sekaligus ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.

Dalam Peraturan Agama Republik Indonesia No. 13 Tahun 2014 Pasal 1 pendidikan keagamaan Islam merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama Islam dan/atau menjadi ahli ilmu agama Islam dan mengamalkan ajaran agama Islam.

Menurut Abdul Majid (2012: 11) pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman. Sedangkan menurut Syamsul Huda Rohmadi (2012: 140) pendidikan agama Islam adalah suatu usaha peningkatan kualitas manusia menuju kesempurnaan berdasarkan ajaran Islam yang

sempurna, komprehensif dan universal dalam rangka menciptakan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Dari Peraturan Agama Republik Indonesia No. 13 Tahun 2014 dan pengertian para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu usaha dalam menyiapkan peserta didik menuju kesempurnaan berdasarkan sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadis melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.

Berdasarkan uraian tentang pengertian guru dan pendidikan agama Islam di atas, dapat dipahami bahwa guru PAI adalah orang yang memberikan ilmu kepada peserta didik berdasarkan kitab suci Al-Qur’an dan Hadis sekaligus ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing dan mengarahkan tingkah laku mereka kepada yang baik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.

b. Tugas guru pendidikan agama Islam (PAI)

Tidak ada pekerjaan yang paling mulia daripada pekerjaan sebagai guru. Pekerjaan menjadi guru adalah pekerjaan yang paling mulia dan paling luhur. Semakin tinggi dan bermanfaat materi ilmu yang diajarkan, maka yang mengajarkan juga semakin tinggi derajatnya. Menurut Akmal Hawi (2013: 42) tugas guru bukan saja menyangkut kegiatannya di dalam kelas atau sekolah, melainkan harus

pula melakukan hal-hal atau melaksanakan seperangkat tingkah laku sehubungan dengan kedudukannya sebagai guru.

Menurut Ahmad Tafsir (2007: 78) mengenai tugas guru, ahli-ahli pendidikan Islam juga ahli-ahli pendidikan Barat telah sepakat bahwa tugas guru ialah mendidik. Mendidik adalah tugas yang amat luas. Mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, sebagian dalam bentuk memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan, dan lain-lain. Tugas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1

Tugas guru dalam lingkaran pendidikan

Keterangan gambar: dari lingkaran pendidikan di atas dapat dilihat bahwasannya tugas guru yang paling dominan adalah mendidik dengan cara mengajar. Mendidik dengan cara yang lainnya merupakan tugas penyempurna seorang guru. Karena tugas guru bukan hanya internalisasi nilai- nilai kognitif atau mentrasnfer ilmu di dalam kelas, akan tetapi internalisasi nilai-nilai afektif dan juga psikomotorik sangat

P

P = Lingkaran Pendidikan

P1 = Mendidik dengan cara mengajar

P2 = Mendidik dengan cara memberi dorongan P3 = Mendidik dengan cara memberi contoh P4 = Mendidik dengan cara memuji

P5 = Mendidik dengan cara membiasakan P6 = Mendidik dengan cara lain-lain Pn P1

P5

penting bagi peserta didik dalam menyiapkan bekal untuk menghadapi kehidupannya.

Menurut Roestiyah NK dalam Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir (2010: 91) fungsi dan tugas guru dalam pendidikan dapat disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu:

1) Sebagai pengajar (instruksional), yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan.

2) Sebagai pendidik (educator), yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah SWT menciptakannya.

3) Sebagai pemimpin (managerial), yang memimpin, mengendalikan kepada diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.

Menurut Haidar Putra Daulay (2014: 106) tugas guru dalam konsep pendidikan Islam yaitu:

1) Menyampaikan ilmu (transfer of knowledge)

Pada tataran ini seorang guru bertugas mengisi otak siswa (kognitif). Guru tidak boleh menyembunyikan ilmunya agar tidak

diketahui orang lain. Menyampaikan ilmu adalah kewajiban orang yang berpengetahuan. Sebagaimana Hadis Nabi Muhammad Saw:

ُهَمَْلَْا ُهَمَتَكَف اًمْلِع َمَّلَع ْنَم :َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ُلْوُسَر َلاَق

ِم ٍماَجِلِب ِةَماَيِقْلا َمْوَ ي ُللها

نباو يذمترلاو دواد وبا هاور( ٍراَن ْن

)نابح

Artinya: “Barangsiapa saja ditanya tentang ilmu kemudian menyimpan ilmunya (tidak mau mengajarkan), maka Allah akan mengekang dia dengan kekangan api neraka pada hari kiamat.”(Zakiah Daradjat, 2009: 40)

2) Menanamkan nilai-nilai (transfer of values)

Pada tataran ini guru mengisi hati siswa, sehingga lahir kecerdasan emosionalnya. Di sekeliling manusia terdapat nilai-nilai, baik nilai yang baik maupun yang buruk. Tugas gurulah memperkenalkan mana nilai yang baik, serta menerapkannya dalam kehidupan siswa lewat praktik pengamalan yang dilatihkan kepada mereka.

3) Melatih keterampilan hidup (transfer of skill)

Guru juga bertugas untuk melatihkan kemahiran hidup. Mengisi tangan siswa dengan satu atau beberapa keterampilan yang dapat digunakannnya sebagai bekal hidupnya.

Sedangkan menurut Muhaimin (2012: 83) tugas guru PAI adalah berusaha secara sadar untuk membimbing, mengajar dan/atau melatih siswa agar dapat:

1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.

2) Menyalurkan bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkannya secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.

3) Memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

4) Menangkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan, paham atau budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan keyakinan siswa.

5) Menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam.

6) Menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

7) Mampu memahami, mengilmui pengetahuan agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan daya serap siswa dan keterbatasan waktu yang tersedia.

Dari berbagai tugas guru pendidikan agama Islam (PAI) yang dikemukakan oleh para ahli, maka penulis menyimpulkan bahwa tugas guru pendidikan agama Islam (PAI) adalah sebagai berikut:

2) Mendidik dengan cara mengajar, memberi dorongan, memberi contoh, memuji dan membiasakan.

3) Mampu memahami, mengilmui pengetahuan agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan daya serap siswa dan keterbatasan waktu yang tersedia.

4) Menanamkan nilai-nilai untuk mencegah pengaruh negatif atau budaya lain yang membahayakan.

5) Melatih keterampilan hidup dengan menyalurkan bakat.

6) Memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari

c. Kompetensi guru pendidikan agama Islam (PAI)

Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 dalam Abdul Majid (2012: 92-93) menyatakan bahwa standar kompetensi guru termasuk guru PAI terdiri dari empat kompetensi utama, yaitu:

1) Kompetensi pedagogik yang meliputi:

a) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, emosional dan intelektual.

b) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

c) Mengembangkan kurikulum terkait dengan mata pelajaran yang diampu.

e) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.

f) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

g) Komunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik.

h) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

i) Melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

2) Kompetensi profesional yang meliputi:

a) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

b) Menguasai standar kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.

c) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

d) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

3) Kompetensi sosial yang meliputi:

a) Bertindak dan bersikap secara objektif dan tidak diskriminatif. b) Beradaptasi di tempat tugas di NKRI.

c) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lainnya.

4) Kompetensi kepribadian yang meliputi:

a) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan.

b) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.

c) Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.

d) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Sedangkan menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir (2010: 94-95) pendidik Islam yang profesional harus memiliki kompetensi-kompetensi yang lengkap, meliputi:

1) Penguasaan materi al-Islam yang komprehensif serta wawasan dan bahan pengayaan, terutama pada bidang-bidang yang menjadi tugasnya.

2) Penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode, dan teknik) pendidikan Islam, termasuk kemampuan evaluasinya.

3) Penguasaan ilmu dan wawasan kependidikan.

4) Memahami prinsip-prinsip dalam menafsirkan hasil penelitian pendidikan, guna keperluan pengembangan pendidikan Islam masa depan.

5) Memiliki kepekaan terhadap informasi secara langsung atau tidak langsung yang mendukung kepentingan tugasnya.

Dengan memiliki kompetensi tersebut, diharapkan guru dapat menjalankan tugasnya secara professional. Kompetensi yang harus dimiliki guru sungguh sangat ideal, karena itu, guru harus selalu belajar dengan tekun di sela-sela menjalankan tugasnya. Semua kompetensi-kompetensi di atas sangat penting bagi seorang guru. Tujuan pendidikan nasional dapat diraih jika para guru telah benar-benar kompeten.

Dari berbagai kompetensi guru pendidikan agama Islam (PAI) yang dikemukakan oleh para ahli, maka penulis menyimpulkan bahwa kompetensi guru pendidikan agama Islam (PAI) adalah sebagai berikut:

1) Menguasai materi Al-Islam, karakteristik siswa, ilmu dan wawasan kependidikan.

2) Dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, strategi (mencakup pendekatan, metode, dan teknik) pendidikan Islam. 3) Menciptakan pembelajaran yang menarik.

4) Memfasilitasi pengembangan potensi siswa. 5) Menyelenggarakan evaluasi.

6) Bertindak dan bersikap objektif tidak diskriminatif. 7) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Dokumen terkait