PENGANGKUTAN BARANG BERBAHAYA
IV- 38 h. Mengatur persyaratan stabilitas kapal
i. Mengatur persyaratan permesinan dan kelistrikan j. Mengatur tentang muatan berbahaya
k. Mengatur persyaratan kapal nuklir
l. Mengatur persyaratan untuk Nahkoda, perwira deck, dan mesin kapal serta awak kapal
m.Mengatur bentuk sertifikat keselamatan pelayaran
4. Pengawasan Syahbandar meningkatkan keamanan dan keselamatan dalam pelayaran melalui pengawasan kelaiklautan kapal, di atur dalan beberapa kebijakan seperti :
a. Peraturan Bandar 1925, Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 13 Ayat 1 Reden Reglement 1925.
b. UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, Pasal 1 butir 34 berbunyi : Keselamatan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan material, konstruksi bangunan, permesinan dan pelistrikan, stabilitas, tata susunan serta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio, elektronik kapal, yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian).
c. Konvensi Marine Pollution 1973/1978 yang diratifikasi dengan Keputusan Presiden No. 46 tahun 1986 adalah untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran.
d. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 62 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan.
Pasal 2
Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan mempunyai tugas melaksanakan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran pada pelabuhan, serta penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan yang belum diusahakan secara komersial.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 62 tahun 2010, tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan. Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan adalah Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Perhubungan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan melalui Direktur Jenderal Perhubungan Laut, mempunyai tugas melakukan kegiatan pemberian pelayanan lalu lintas dan angkutan laut, keamanan dan keselamatan pelayaran di perairan pelabuhan untuk memperlancar angkutan laut.
IV-39
Pelaksanaan peran sebagai wakil pemerintah dalam pemberian konsesi atau bentuk lainnya kepada Badan Usaha Pelabuhan untuk melakukan kegiatan pengusahaan di pelabuhan.
e. Peraturan Menteri Perhubungan KM No. 64 tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Syahbandar .
Pasal 1.
(1)Kantor Syahbandar adalah unit Pelaksana Teknis di lingkungan kementerian Perhubungan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan melalui Direktur Jenderal Perhubungan Laut di pelabuhan yang melaksanakan fungsi keselamatan dan ketertiban pelayaran serta pengawasan dan penegakan hukum bidang pelayaran, (2)Syahbandar memiliki kewenangan tertinggi dalam
melaksanakan koordinasi kegiatan kepabeanan, keimigrasian, kekarantinaan dan kegiatan institusi pemerintah lainnya di pelabuhan.
Kantor Syahbandar dipimpin oleh seorang Kepala. Pasal 2.
Kantor Syahbandar mempunyai tugas mengkordinasikan dan melaksanakan keselamatan dan keamanan pelayaran.
Pasal 3
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 2, Kantor Syahbandar menyelenggarakan fungsi, antara lain:
(1) Pengawasan bongkar muat barang berbahaya, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), dan pengisian bahan bakar.
(2) Kordinasi dan pelaksanaan penanggulangan pencemaran dan pemadam kebakaran di pelabuhan serta pengawasan perlindungan lingkungan maritim.
Pasal 10
Bidang kelaiklautan kapal mempunyai tugas melaksanakan pemeriksaan, pengujian dan sertifikasi kelaiklautan kapal serta pengawasan bongkar muat barang berbahaya, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan pengisian bahan bakar.
IV-40
Dalam melaksanakan tugas di bidang kelaiklautan kapal menyelenggarakan fungsi antara lain :
a) Pemeriksaan peralatan pencegahan pencemaran dan pembersihan tangki.
b) Pemeriksaan nautis, teknis, radio dan perlengkapan kapal. c) Penyiapan bahan penerbitan sertifikasi keselamatan dan
pencegahan pencemaran.
5. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah: upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/ atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum, (UU PPLH No. 32 Tahun 2009).
Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energy, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Dalam Undang-undang nomor 32 tahun 2009 dalam pasal 13 tercantum bahwa pengedalian pencemaran dan /atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengedalian pecemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup ini terdiri dari 3 hal yaitu pencegahan, penanggulangan dan pemulihan lingkungan hidup dengan menerapkan berbagai instrument-instrument yaitu: Kajian lingkungan hidup straegis (KLHS); Tata ruang; Baku mutu lingkungan hidup; Kreteria baku mutu kerusakan lingkungan hidup; Amdal; UKL-UPL; perizinan; instrument ekonomi lingkungan hidup; peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup; anggaran berbasis lingkungan hidup; Analisis resiko lingkungan hidup; audit lingkungan hidup, dan instrument lain sesuai dnagan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan.
Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup wajib melakukan pemulihan fungsi lingkungan dengan melalui antara lain: penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar; remediasi; rehabilitasi; restorasi dan/atau cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengtahuan dan teknologi.
IV-41
Pemeliharan lingkungan hidup dilakukan melalui upaya: konservasi sumber daya alam; pencadangan sumber daya alam; dan/atau pelestarian fungsi atmosfer. Sedangkan konservasi sumber daya adalah perlindungan sumber daya alam; pengawetan sumber daya alam; dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam. Bila terjadi pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup maka pasti akan menibulkan sengketa lingkungan hidup , penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini bias dilakukan melalui jalur pengadilan maupun diluar pengadilan pada dasarnya isi dari sengketa lingkungan hidup adalah bentuk dan besaran ganti kerugian; tindakan pemulihan akibat dan/atau perusakan, pencemaran; tindakan tertentu untuk menjamin tindak akan terulangnya pencemaran dan/atau perusakan; tindakan dampak untuk negative mencegah terhadap timbulnya lingkungan hidup.
Penegakan hukum pidana adalah semua tidakan pencemaran atau perusakan lingkungan hidup yang telah di kriminalisasi dalam ketentuan pasal 97 sampai dengan ketentuan pasal 120 undang-undang nomor 32 tahun 2009
C PROSES PENANGANAN BARANG BERBAHAYA DAN