DPTR 0000H
Port 0-3 FF H
Interrupt Priority (IP) xxx00000B Interrupt Enable (IE) 0xx00000 B
Register Timer 00 H
SCON 00 H SBUF 00 H
PCON (HMOS) 0xxxxxxx B
PCON (CMOS) 0xxx0000 B
Sumber: Nalwan, Paulus Andi. Panduan Praktis Teknik Antarmuka dan
Pemrograman Mikrokontroler AT89C51. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2003, p.28
Reset terjadi dengan adanya logika 1 selama minimal dua cycle pada pin RST. Setelah kondisi pin RST kembali low, mikrokontroler akan mulai
menjalankan program dari alamat 0000 H. Kondisi pada internal RAM tidak terjadi perubahan selama reset.
2.4.7. Operasi Timer
AT89C51 mempunyai dua buah timer, yaitu Timer 0 dan Timer 1 yang keduanya dapat berfungsi sebagai counter ataupun sebagai timer. Secara fisik sebetulnya timer juga merupakan rangkaian T flip-flop yang dapat diaktifkan dan dinonaktifkan setiap saat. Perbedaan terletak pada sumber clock dan aplikasinya. Jika timer mempunyai sumber clock dengan frekuensi tertentu yang sudah pasti sedangkan counter mempunyai sumber clock dari pulsa yang hendak dihitung jumlahnya. Aplikasi dari counter atau penghitung pulsa biasa digunakan untuk aplikasi menghitung jumlah kejadian yang terjadi dalam periode tertentu sedangkan timer atau pewaktu biasa digunakan untuk aplikasi menghitung jumlah lamanya suatu kejadian yang terjadi.
Kedua timer pada AT89C51 masing-masing mempunyai 16 bit counter yang mampu diatur keaktifan dan mode operasinya, di-reset dan di-set dengan harga tertentu. Untuk mengatur timer ini AT89C51 mempunyai enam buah Special Function Register.
¾ Timer Mode Register (TMOD)
Tidak dapat dimuati secara bit 89H
Gambar 2.17. Register TMOD
Register TMOD berupa 8 bit register yang terletak pada alamat 89H dengan fungsi setiap bit-nya adalah sebagai berikut:
Gate : Timer akan berjalan jika bit ini di-set dan INT0 (untuk Timer 0) atau INT1 (untuk Timer 1) berkondisi high. C / T : 1 = Counter
0 = Timer
M1 & M0 : Untuk memilih mode timer
Timer 1 Timer 0
¾ THx dan TLx
AT89C51 mempunyai dua buah timer, yaitu Timer 0 dan Timer 1 dan setiap timer terdiri atas 16 bit timer yang masing-masing tersimpan dalam dua buah register yaitu THx untuk Timer High Byte dan TLx untuk Timer Low Byte. ¾ Timer Control Register
Register ini hanya mempunyai 4 bit saja, yaitu TCON.4, TCON.5, TCON.6 dan TCON.7 saja yang mempunyai fungsi behubungan dengan timer.
dapat dimuati secara bit 88H
Gambar 2.18. Register TCON
Register ini bersifat bit addressable sehingga bit TF1 dapat disebut TCON.7, TR1 sebagai TCON.6 dan seterusnya hingga Bit IT0 sebagai TCON.0
TCON.7 atau TF1: Timer 1 Overflow Flag yang akan di-set jika timer overflow. Bit ini dapat di-clear oleh software dan oleh hardware pada saat program menuju ke alamat yang ditunjuk oleh interrupt vector.
TCON.6 atau TR1: 1 = Timer 1 aktif 0 = Timer 0 aktif TCON.5 atau TF0: sama dengan TF1 TCON.4 atau TR0: sama dengan TR1 ¾ Mode Timer
Timer AT89C51 mempunyai empat buah mode kerja timer dimana setiap mode mempunyai masing-masing fungsi.
Mode 0
Tidak dapat dimuati secara bit
89H
Gambar 2.19. Register TMOD pada Timer 1 Mode 0 (x diabaikan)
Pada mode ini, timer bekerja dengan mode 13 bit timer ketika overflow terjadi saat terjadi perubahan kondisi dari ketiga belas bit yang tersimpan di register TLx dan THx (x = 0 untuk Timer 0 dan x = 1 untuk Timer 1)
Register Timer Register Interupsi
TF1 TR1 TF0 TR0 IE1 IT1 IE0 IT0 TCON.7 TCON.6 TCON.5 TCON.4 TCON.3 TCON.2 TCON.1 TCON.0
Gate (1) C/T (1) M1 (1) M0 (1) Gate (0) C/T (0) M1 (0) M0 (0) X x 0 0 X x x x
menjadi logika 1. Pada aplikasi sebagai hal ini terjadi saat counter kembali menghitung kembali dati awal. Bit TFx akan berlogika 1 pada saat kondisi overflow terjadi.
Mode 1
Tidak dapat dimuati secara bit
89H
Gambar 2.20. Register TMOD pada Timer 1 Mode 0 (x diabaikan) Pada mode 1, timer berfungsi sebagai 16 bit timer yang akan menghitung naik mulai dari 0000H hingga FFFFH. Hasil dari perhitungan tersimpan pada register TLx untuk Low Byte dan THx untuk High Byte. Jika perhitungan sudah mencapai FFFFH, timer akan kembali menghitung mulai dari 0, pada saat ini Timer Flag (TFx) akan di-set.
Mode 2
Tidak dapat dimuati secara bit
89H
Gambar 2.21. Register TMOD pada Timer 1 Mode 2 (x diabaikan) Pada Mode ini, timer bekerja dalam mode 8 bit dimana nilai timer tersimpan pada TLx. Register THx berisi Nilai Isi Ulang (Reload Value) yang akan dikirim ke Register TLx setiap kali terjadi overflow. Misalkan, Nilai THx diisi dengan 20H, saat timer diaktifkan nilai TLx akan menghitung naik hingga pada saat nilai TLx hendak berubah dari FFH menjadi 00H. Dengan demikian, Bit TFx akan set dan nilai THx, 20H akan kembali dikirim ke register TLx. Selama timer aktif nilai THx akan tetap 20H.
Mode 3
Tidak dapat dimuati secara bit
89H
Gambar 2.22. Register TMOD pada Timer 0 Mode 3 (x diabaikan) Pada mode ini, AT89C51 bagaikan memiliki tiga buah timer. Timer 0 terpisah menjadi dua buah 8 bit timer yaitu TL0 dan TF0 sebagai overflow
Gate (1) C/T (1) M1 (1) M0 (1) Gate (0) C/T (0) M1 (0) M0 (0) X X 0 1 X x x x Gate (1) C/T (1) M1 (1) M0 (1) Gate (0) C/T (0) M1 (0) M0 (0) x x 1 0 X x x x Gate (1) C/T (1) M1 (1) M0 (1) Gate (0) C/T (0) M1 (0) M0 (0) x x x x X x 1 1
flag dan TH0 dengan TF1 sebagai overflow flag. Sedangkan Timer 1 tetap berfungsi sebagai 16 bit timer. Pada saat Timer 1 berada pada mode 3, timer ini akan berhenti hingga mode kerja Timer 1 diubah menjadi mode lain. Oleh karena Bit TF1 digunakan oleh TH0 sebagai overflow flag, maka bit ini tidak dapat digunakan selama Timer 0 masih berada pada mode 3.
¾ Cara Kerja Timer
Gambar 2.23. Operasi Timer
Operasi dari timer memerlukan sumber clock yang didapat dari eksternal maupun internal. Jika timer menggunakan sumber clock dari eksternal, pin T0 (P3.4) berfungsi sebagai input clock. Untuk menjadikan sumber clock eksternal sebagai sumber clock timer, maka bit C/T dari Register TMOD harus di-set atau berkondisi high. Seperti yang tampak pada Gambar 2.20, jika Bit C/T berkondisi high, saklar akan menghubungkan sumber clock timer ke pin Tx (T0 untuk Timer 0 dan T1 untuk Timer 1).
Jika digunakan sumber clock internal, input clock tersebut berasal dari osilator yang telah dibagi 12. Untuk ini Bit C/T dari Register TMOD harus di-clear atau berkondisi low sehingga saklar akan menghubungkan sumber clock timer ke osilator yang telah dibagi 12.
Untuk mengaktifkan timer dapat dilakukan melalui hardware ataupun software. Seperti yang terlihat pada Gambar 2.20, timer baru akan aktif setelah
mendapat sumber clock dan saklar SPST yang terletak antara saklar yang dikontrol oleh C/T dan timer terhubung dengan sinyal clock dari sumber clock akan mengalir masuk ke timer, sedangkan saklar tersebut akan terhubung (jika terdapat logika high dari output gerbang AND).
Sesuai dengan tabel kebenaran gerbang AND, output dari gerbang AND hanya akan berlogika high jika kedua input-nya berlogika high pula. Jika ada salah satu dari inputnya yang berlogika low, output akan berlogika low pula. Untuk pengaturan timer melalui software, keaktifan timer hanya ditentukan oleh kondisi bit TR0 saja. Oleh karena itu output dari gerbang OR yang terhubung ke input yang lain dari gerbang AND akan berlogika high dan timer akan aktif dan sebaliknya jika TR0 berlogika low, output gerbang AND akan berlogika low dan timer akan berhenti.
Agar output dari gerbang OR berlogika high, sesuai dengan tabel kebenaran gerbang OR, cukup salah satu dari input-nya saja yang berlogika high. Dengan demikian, output akan berlogika pula. Untuk pengaturan timer melalui software, bit gate harus berkondisi low sehingga hasil invers-nya yang merupakan salah satu input dari gerbang OR berlogika high. Hal ini membuat output gerbang OR selalu berlogika high walau apapun yang terjadi pada Pin INTx (INT0 untuk Timer 0 dan INT1 untuk Timer 1) seperti yang tampak pada Gambar 2.21
Gambar 2.24. Pengaturan Timer Dengan Software
Untuk pengaturan timer dengan hardware. Pin INTx berfungsi sebagai penentu. Oleh karena itu, Bit TRx harus berlogika high, agar pengaturan timer
ditentukan oleh output dari gerbang OR. Agar kondisi output dari gerbang OR ditentukan oleh pin INTx, maka bit gate harus berkondisi high.
Gambar 2.25 Pengaturan Timer Dengan Hardware
Jadi kesimpulan untuk pengaturan timer dengan software, maka bit penentu keaktifan adalah TRx (kondisi dari bit gate harus berlogika 0). Untuk pengaturan timer dengan hardware, maka penentu keaktifan adalah INTx (kondisi bit gate dan TRx harus berlogika 1).
2.5. LCD M1632
LCD M1632 merupakan modul LCD matriks dengan konfigurasi 16 karakter dan 2 baris dengan setiap karakternya dibentuk oleh 8 baris pixel dan 5 kolom pixel. Pada LCD M1632 terdapat HD44780 yang merupakan mikrokontroler pengendali LCD. LCD yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah LCD yang dikeluarkan oleh Hitachi.
2.5.1. Deskripsi M1632
HD44780 sebetulnya merupakan mikrokontroler yang dirancang khusus untuk mengendalikan LCD dan mempunyai kemampuan untuk mengatur proses scanning pada layar LCD yang terbentuk oleh 16 COM dan 40 SEG sehingga mikrokontroler/perangkat yang mengakses modul LCD ini tidak perlu lagi mengatur proses scanning pada layar LCD. Mikrokontroler atau perangkat tersebut hanya mengirimkan data-data yang merupakan karakter yang akan ditampilkan pada LCD atau perintah yang mengatur proses tampilan pada LCD saja.
Gambar 2.26 Modul M1632 a. Bagian Penguat Sinyal
Bagian ini merupakan bagian yang menguatkan sinyal sebelum sinyal tersebut masuk ke layar LCD dan terdiri dari bagian penguat sinyal segmen (segment signal driver) dan bagian penguat sinyal pin bersama (common signal driver).
Sinyal yang dikuatkan oleh common signal driver adalah sinyal yang berasal dari sebuah 16 bit shift register dan berfungsi untuk mengatur scanning baris pixel dari layar LCD, sedangkan sinyal yang dikuatkan oleh segment signal driver adalah sinyal yang berasal dari sinyal data 40 bit shift register yang ditahan oleh 40 bit rangkaian latch. Sinyal ini berfungsi untuk mengatur tampilan kolom pixel dari layar LCD.
LCD driver voltage selector (pemilih tegangan penguat LCD) berfungsi untuk mengatur penguatan sinyal yang dikirim ke layar LCD sehingga kontras dari LCD dapat diatur. Semakin kuat sinyal yang dikirim, maka akan semakin kuat pula kontras yang ada pada layar LCD.
b. Bagian Memori
Bagian memori terdiri dari 9.920 bit CGROM, 64 byte CGRAM dan 80×8 bit DDRAM yang mengatur pengalamatan oleh Address Counter dan akses datanya (pembacaan maupun penulisan datanya) dilakukan melalui Register Data.
Data-data dari CGRAM atau CGROM tersebut merupakan data yang selanjutnya dikirim ke 40 bit shift register melalui bagian Parallel and Serial Converter.
c. Bagian Register
Pada M1632 terdapat Register Data dan Register Perintah. Proses akses data ke atau dari Register Data akan mengakses ke CGRAM, DDRAM atau CGROM, bergantung pada kondisi Address Counter, sedangkan proses akses data ke atau dari Register Perintah akan mengaskes Instruction Decoder (Dekoder Instruksi) yang akan menentukan perintah-perintah yang akan dilakukan oleh LCD.
d. Bagian Antar Muka dengan Mikrokontroler
Bagian ini adalah bagian yang terhubung dengan pin-pin modul M1632 yang akan berhubungan langsung dengan mikrokontroler.
2.5.2. Pin-pin Modul M1632
Untuk keperluan antarmuka suatu komponen elektronika dengan mikrokontroler, perlu diketahui fungsi dari setiap pin yang ada pada komponen tersebut.
Pin 1 (VCC): pin ini berhubungan dengan tegangan +5 volt
Pin 2 (GND): pin ini berhubungan dengan tegangan 0 volt (ground)
Pin 3 (VEE/VLCD): tegangan pengatur kontras LCD, kontras mencapai nilai maksimum pada saat kondisi pin ini pada tegangan 0 volt.
Pin 4 (RS): Register Select, pin pemilih register yang akan diakses. Untuk akses ke Register Data, logika dari pin ini adalah 1 dan untuk akses ke Register Perintah, logika dari pin ini adalah 0.
Pin 5 (R/W): Logika 1 pada pin ini menunjukkan bahwa modul LCD sedang dalam mode pembacaan dan logika 0 menunjukkan bahwa modul LCD sedang pada mode penulisan. Untuk aplikasi yang tidak memerlukan pembacaan data pada modul LCD, pin ini dapat dihubungkan langsung dengan ground.
Pin 6 (E): Enable Clock LCD, pin mengaktifkan clock LCD. Logika 1 pada pin ini diberikan pada saat penulisan atau pembacaan data.
Pin 7-14 (D0-D7): Data Bus, kedelapan pin modul LCD ini adalah bagian dimana aliran data sebanyak 4 bit ataupun 8 bit mengalir saat proses penulisan maupun pembacaan data.
Pin 15 (Anoda): berfungsi ini tegangan positif dari backlight modul LCD sekitar 4,5 volt.
Pin 16 (Katoda): Tegangan negatif backlight modul LCD sebesar 0 volt.
Gambar 2.27 Konfigurasi Pin M1632 Hitachi
Sumber: Nalwan, Paulus Andi. Panduan Praktis Penggunaan dan Antarmuka Modul LCD M1632. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004. p.6
2.5.3. Struktur Memori LCD
Modul LCD M1632 memiliki beberapa jenis memori yang digunakan untuk menyimpan atau memproses data-data yang akan ditampilkan pada layar LCD. Setiap jenis memori mempunyai fungsi-fungsi tersendiri.
DDRAM
DDRAM merupakan memori tempat karakter yang ditampilkan berada. Contohnya, karakter “A” atau 41H yang ditulis pada alamat 00H akan tampil pada baris pertama dan kolom pertama dari LCD. Apabila karakter tersebut ditulis di alamat 40H, karakter tersebut akan tampil pada baris kedua kolom pertama dari LCD.
Gambar 2.28 DDRAM M1632
Sumber: Nalwan, Paulus Andi. Panduan Praktis Penggunaan dan Antarmuka Modul LCD M1632. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004. p.7
CGRAM
CGRAM adalah memori untuk menggambarkan pola sebuah karakter dan bentuk karakter dapat diubah-ubah sesuai keinginan. Akan tetapi isi memori akan hilang pada saat power supply tidak aktif sehingga pola karakter akan hilang.
CGROM
CGROM adalah memori untuk menggambarkan pola sebuah karakter dan pola tersebut sudah ditentukan secara permanen dari HD44780 sehingga pengguna tidak dapat mengubah lagi. Oleh karena ROM bersifat permanen, pola karakter tersebut tidak akan hilang walaupun power supply tidak aktif.
Pada gambar 2.25 tampak pola-pola karakter yang tersimpan dalam lokasi-lokasi tertentu dalam CGROM. Saat HD44780 akan menampilkan data 41h yang tersimpan dalam DDRAM, HD44780 akan mengambil data di alamat 41h (0100 0001) yang ada pada CGROM, yaitu pola karakter A.
Gambar 2.29 Pola Karakter
Sumber: Nalwan, Paulus Andi. Panduan Praktis Penggunaan dan Antarmuka Modul LCD M1632. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004. p.8
2.5.4. Register-register LCD
HD44780 yang terdapat pada modl M1632 mempunyai dua buah register yang akan diatur dengan pin RS. Saat RS berlogika 0, register yang diakses adalah Register Perintah dan saat RS berlogika 1, register yang diakses adalah Register Data.
Register Data
Register ini adalah register dimana mikrokontroler dapat menuliskan atau membaca data ke atau dari DDRAM maupun CGRAM. Akses data ke DDRAM, baik penulisan maupun pembacaan, merupakan hasil akses ke bagian memori tampilan pada layar LCD, sedangkan akses CGRAM merupakan proses untuk mengedit pola karakter yang ada pada lokasi CGRAM tersebut.
Register Perintah
Register ini adalah register dimana perintah-perintah mikrokontroler ke HD44780 selaku pengendali modul M1632 diberikan. Perintah-perintah tersebut berfungsi untuk mengatur tampilan pada LCD atau alamat dari DDRAM atau CGRAM. Selain itu, register ini juga merupakan tempat dimana status HD44780 dapat dibaca. Bit ke-7 dari status yang terbaca adalah busy flag (tanda sibuk), yaitu tanda yang mengindikasikan bahwa HD44780 masih dalam kondisi sibuk sehingga akkses data lebih lanjut dari mikrokontroler yang terhubung pada modul M1632 harus menunggu hingga tanda sibuk ini selesai. Bit ke-6 hingga bit ke-0 adalah Address Counter (Penghitung Alamat) dari DDRAM. Address Counter ini menunjukkan lokasi dari DDRAM yang sedang ditunjuk saat itu.
2.5.5. Perintah-perintah M1632
Untuk mengatur tampilan pada layar LCD, alamat DDRAM atau CGRAM mikrokontroler yang terhubung dengan modul M1632 harus mengirimkan data-data tertentu ke register perintah sesuai tabel 2.5 (perintah-perintah M1632). Menghapus Display DDRAM
Perintah ini merupakan perintah untuk menghapus isi DDRAM sehingga layar LCD tidak akan menampilkan pola karakter apapun. Perintah ini berfungsi untuk membersihkan layar LCD dan sekaligus menghapus isi DDRAM. Kode perintah ini adalah 01H atau 0000 0001 dalam biner.
Mengatur Alamat DDRAM
Perintah ini menunjuk lokasi alamat DDRAM yang akan diakses. Kode 02h atau 0000 0010B akan memerintahkan pointer (penunjuk) agar menunjuk lokasi alamat awal, yaitu alamat 0 DDRAM. Perintah dengan logika 1 pada bit ke-7 akan memerintahkan pointer agar menunjuk lokasi sesuai konfigurasi bit ke-6 hingga bit ke-0.
Mengatur Mode
Bagian ini adalah bagian pengatur pergeseran kursor atau tampilan dengan atau tanpa mengubah alamat DDRAM. Logika bit ke-2 adalah logika 1 dan logika bit ke-3 hingga bit ke-7 adalah logika 0, sedangkan pada proses pergeseran kursor atau tampilan tanpa mengubah alamat DDRAM, maka logika bit ke-4 adalah logika 1 dan bit ke-5 hingga ke-7 adalah logika 0.
a. Pergeseran kursor atau tampilan dengan mengubah format alamat DDRAM
Proses pergeseran ini dilakukan dengan menggunakan alamat DDRAM, baik pada proses pergeseran kursor maupun tampilan.
- Kode 04H atau 0000 0100B
Pada kode ini kondisi bit I/D adalah berlogika 0 sehingga proses pergeseran adalah decrement (berkurang), sedangkan logika bit S adalah logika 0 sehingga pergeseran hanya terjadi pada kursor. Proses pergeseran ini juga mempengaruhi pointer alamat DDRAM (address counter) sehingga Address Counter juga akan mengikuti arah pergeseran tersebut.
- Kode 05H atau 0000 0101B
Pada kode ini kondisi bit I/D adalah logika 1 sehingga proses pergeseran adalah increment (bertambah), sedangkan logika bit S adalah logika 0 sehingga pergeseran hanya akan terjadi pada kursor, seperti pada kode 04H, proses ini juga mempengaruhi pointer alamat DDRAM (address counter) sehingga Address Counter juga akan mengikuti arah pergeseran tersebut, namun pada arah yang berlawanan, yaitu ke kanan.
b. Pergeseran kursor atau tampilan tanpa mengubah alamat DDRAM - Kode 06H atau 0000 0110B
Pada kode ini kondisi bit I/D adalah berlogika 0 sehingga proses pergeseran adalah decrement (berkurang), sedangkan logika bit S adalah logika 1 sehingga pergeseran terjaddi pada seluruh tampilan. Proses pergeseran ini juga mempengaruhi isi DDRAM sehingga data-data do alamat DDRAM dipndah ke alamat sebelumnya. Pergeseran ini akan menyebabkan tampilan pada layar LCD bergeser ke kiri.
- Kode 07H atau 0000 0111B
Pada kode ini kondisi bit I/D adalah berlogika 1 sehingga proses pergeseran adalah increment (bertambah), sedangkan logika bit S adalah logika 1 sehingga pergeseran terjadi pada seluruh tampilan. Proses pergeseran ini juga mempengaruhi isi DDRAM sehingga data-data do alamat DDRAM dipindah ke alamat sesudahnya. Pergeseran ini akan menyebabkan tampilan pada layar LCD bergeser ke kanan.
Atur Keaktifan Tampilan
Proses pergeseran ini, baik pada kursor maupun seluruh tampilan, dilakukan tanpa mempengaruhi DDRAM sehingga nilai Address Counter maupun isi data pada DDRAM tetap pada kondisi sebelumnya. Proses pergeseran hanya tampak pada layar LCD saja. Hal ini dilakukan olah HD44780 dengan mengubah urutan data yang ditampilkan.
Atur Fungsi
Proses ini dilakukan pada saat kondisi bit ke-5 berlogika 1, sedangkan bit ke-6 dan bit ke-7 berlogika 0. bit ke-4 (DL), bit ke-3 (N) dan bit ke-2 (F) berfungsi sebagai berikut:
- DL: Bit untuk mengatur panjang data pada proses antarmuka logika 1 pada bit ini bertujuan untuk proses antarmuka 8 bit dan logika ke 0 bertujuan untuk proses antarmuka 4 bit.
- N : Bit untuk mengatur jumlah baris yang digunakan. Logika 1 pada bit ini adalah untuk menggunakan 2 baris dan logika 0 adalah untuk menggunakan 1 baris.
- F : Bit untuk mengatur font karakter. Logika 1 pada bit ini adalah untuk font 5×10 dan logika 0 adalah untuk font 5×8.
Atur Alamat CGRAM
Proses ini dilakukan saat kondisi bit ke-6 barlogika 1 dan bit ke-7 berlogika 0. bit ke-5 hingga bit ke-0 merupakan Address Counter CGRAM sebanyak 6 bit atau 64 byte. Setiap pola karakter dibentuk oleh 8 byte data CGRAM sehingga total keseluruhan CGRAM mampu menyimpan 8 buah pola karakter.
Tabel 2.5. Perintah-perintah M1632
Perintah D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0 Deskripsi Hapus Display 0 0 0 0 0 0 0 1 Hapus Display dan DDRAM Posisi Awal 0 0 0 0 0 0 1 X Set Alamat DDRAM di 0 Set Mode 0 0 0 0 0 1 I/D S Atur arah Pergeseran Kursor
dan Display Display On/Off 0 0 0 0 1 D C B Atur Display (D) On/Off, Kursor (C) On/Off, Blinking (B) Geser Kursor/Display 0 0 0 1 S/C R/L X X
Geser Kursor atau display tanpa mengubah alamat DDRAM
Set Fungsi 0 0 1 DL N F X X
Atur panjang data, jumlah baris yang tampil, dan font karakter
Set Alamat
CGRAM 0 1 ACG ACG ACG ACG ACG ACG
Data dapatdibaca atau ditulis setelah alamat diatur
Set Alamat
DDRAM 1 ADD ADD ADD ADD ADD ADD ADD
Data dapat dibaca atau ditulis setelah alamat diatur
X = Abaikan
I/D 1 = Increment, 0 = Decrement S 0 = Display tidak geser
S/C 1 = Display Shift, 0 = Geser Kursor R/L 1 = Geser Kiri , 0 = Geser Kanan DL 1 = 8 bit, 0 = 4 bit
N 1 = 2 baris, 0 = 1 baris F 1 = 5 ×10, 0 = 5 × 8 D 1 = Display On, 0 = Display Off C 1 = Cursor On, 0 = Cursor Off B 1 = Blinking On, 0 = Blinking Off
Sumber: Nalwan, Paulus Andi. Panduan Praktis Penggunaan dan Antarmuka Modul LCD M1632. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004. p.19