• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagram profil hutan dapat menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan 3 plot di masing- masing areal penelitian. Posisi plot ditentukan dari beberapa daerah inti dari orangutan yang diikuti. Plot masing- masing berukuran 10 x 100 m, berbentuk empat persegi panjang (Gambar 3.3). Pembuatannya dimulai dengan menentukan posisi setiap pohon, mengukur tinggi total, diameter setinggi dada (±130 cm dari permukaan tanah), tinggi cabang pertama, serta mengukur proyeksi (penutupan) tajuk terhadap permukaan tanah dari sisi kanan, kiri, depan, dan belakang terhadap pohon.Kemudian menggambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu pada kertas millimeter blok, discan dan diolah menggunakan program Corel Draw 13.

12

Pengidentifikasian nama ilmiah setiap pohon yang ditemukan pada plot dibantu Dr. Kade Sidiyasa (Alm) dari Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumberdaya Alam Samboja, Kalimantan Timur.

Gambar 3.3 Plot profil habitat

Data vegetasi ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan program Excel 2010 untuk mendapatkan nilai kerapatan, dominansi suku dan jenis. Analisa kesamaan struktur vegetasi antar daerah inti, baik di Mentoko maupun di Prefab, dilakukan dengan menggunakan statistik multivariate yang terdapat dalam program Minitab 17.

4HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1Individu Orangutan

Selama pengamatan dijumpai 5 individu orangutan di Mentoko dan 6 individu orangutan di Prefab (Gambar 4.1 dan Tabel 4.1). Namun demikian, yang berhasil diikuti hanya 3 individu dari masing-masing lokasi dan hampir semua orangutan dijumpai di areal pinggiran sungai yang tidak jauh dari camp sedang makan dari pohon: sengkuang (Dracontomelon dao/Anacardiaceae), ara bendang (Ficus piramidata/Moraceae) dan dari liana: belaran (Merremmia mammosa/ Convolvulaceae), serapet (Mucuna sp/Leguminosae). Dari penelitian sebelumnya juga telah diindikasi bahwa jenis-jenis tersebut masuk dalam daftar pakan penting orangutan di Mentoko dan Prefab (Rodman 1977; Cambell 1992). Pencarian dan pengambilan data dimulai dari areal Mentoko pada bulan Mei, kemudian masuk pertengahan Mei sampai pertengahan Juni orangutan di Mentoko sangat sulit ditemukan maka diputuskan untuk mengambil data di Prefab dan kemudian kembali ke Mentoko setelahnya. Selama penelitian, individu orangutan di Prefab lebih mudah dijumpai dan diikuti daripada individu orangutan yang berada di Mentoko, hal tersebut dikarenakan orangutan di Prefab sudah lebih terhabituasi dengan aktivitas penelitian.

Tabel 4.1 Jenis kelamin dan jumlah waktu pengamatan individu orangutan Individu Jenis Kelamin ∑ hari ikut ∑ hari

penuh

∑ waktu pengamatan

(menit) Mentoko

Putri Betina dewasa- anak 8 7 4907

Darwin Jantan remaja 8 7 5389

JP4 Jantan pradewasa 4 3 2350

20 17 12646

Prefab

Labu Betina dewasa-bayi 7 7 4687

Bayur Betina dewasa-anak 7 5 4031

Mawar Betina dewasa-anak 7 6 3576

21 18 12294

Orangutan yang ditemukan lebih banyak adalah individu betina dewasa, hal tersebut dikarenakan oleh sifat orangutan betina dewasa yang cenderung memiliki daerah jelajah tetap (philopatric) dibandingkan dengan jantan yang cenderung menjelajah lebih jauh. Tidak ada satu pun dari orangutan jantan dewasa yang dijumpai berhasil diikuti karena perilakunya yang cenderung agresif terhadap keberadaan peneliti. Kendala lain yang ditemukan adalah adalakanya orangutan mencoba menghindar dari keberadaan peneliti yaitu dengan secara sengaja turun ke tanah dan lari masuk ke dalam semak, bambu-bambu dan menyeberang sungai melalui sambungan tajuk ataupun melewati jalur tebing sampai tidak bisa terlihat

14

lagi. Hal tersebut terjadi ketika mengikuti individu Darwin dan JP4 di Mentoko dan Bayur di Prefab.

Gambar 4.1 Individu orangutan

Stasiun penelitian Mentoko danPrefab lokasinya terletak saling berdekatan (± 6 km dari timur ke barat), namun demikian kondisi orangutannya berbeda berdasarkan waktu habituasinya. Jumlah orangutan di Mentoko yang berhasil teridentifikasi sampai dengan 2013 sekitar 42 individu. Sedangkan jumlah orangutan yang telah teridentifikasi di Prefab sampai dengan sekarang adalah sekitar 30 individu.

4.2 Jelajah Harian (Daily Range)

Jelajah harian didefinisikan oleh Galdikas (1986) sebagai jarak yang benar-benar ditempuh orangutan semenjak keluar dari sarang malam pada pagi hari sampai masuk ke sarang untuk malam berikutnya. Hasil analisis dengan ArcGIS 10.1 menjukan bahwa rata- rata jarak jelajah yang ditempuh individu orangutan yang ada di areal Mentoko adalah 0.503 km/hari (selang 0.339-0.749 km/hari) dan di areal Prefab adalah 0.589 km/hari (selang 0.563-0.633 km/hari). Kecepatan rata- rata yang ditempuh di Prefab adalah 0.055 km/jam (selang 0.031-0.073 km/jam), sedangkan di Prefab adalah 0.049 km/jam (selang 0.39-0.058 km/jam). Hal ini sedikit berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilaporkan oleh Rodman (1977), Mitani (1989) dan Cambell (1992) di Mentoko-Prefab, dimana rata-rata jarak tempuh orangutan dari penelitian ini adalah lebih panjang.

Tabel 4.2 memperlihatkan perbandingan rata-rata jelajah harian orangutan dari hasil penelitian sekarang dengan hasil penelitian di Mentoko dan Prefab sebelumnya. Rodman (1977) melakukan penelitian sebelum terjadi kebakaran pertama tahun 1983/1983, dimana habitat masih terjaga secara alami dan orangutan rata- rata menempuh jarak 0.305 km dalam sehari. Mitani (1989) melaporkan enam tahun setelah kebakaran kedua (1997/1998), jelajah harian orangutan di Mentoko

menjadi lebih panjang, yaitu 0.480 km per hari. Sepuluh tahun setelahnya, sudah banyak pohon-pohon muda tumbuh membentuk hutan sekunder, Cambell (1992) melaporkan bahwa jarak jelajah harian orangutan kembali mendekati selang awal yaitu 0.379 km. Singleton (2000) menyatakan bahwa lokasi sumber pakan yang tersebar disuatu habitat dapat mempengaruhi pola jelajah.

Tabel 4.2 Perbandingan rata-rata jelajah harian orangutan dari beberapa penelitian di Mentoko dan Prefab

No Peneliti Tahun Waktu (bulan) Jelajah harian (km) Jumlah orang

utan Metode Lokasi 1 Rodman 1977 15 0.305 15 Grid Mentoko 2 Mitani 1989 18 0.480 18 Grid Mentoko 3 Cambell 1992 12 0.379 12 Grid Mentoko 4 Krisdijantoro 2008 4 0.880 4 GPS Prefab 5a Ferisa 2012 3 0.504 3 GPS Mentoko 5b Ferisa 2012 2 0.589 3 GPS Frefab

Ketiga hasil tersebut memperlihatkan bahwa orangutan bisa menyesuaikan jelajah hariannya dengan kondisi habitat. Pada habitat sangat terganggu jarak jelajah harian semakin panjang karena diperlukan untuk mencari makan dan begitu pula sebaliknya. Namun demikian, hampir 30 tahun setelah kebakaran kedua terjadi, jarak jelajah harian orangutan di Mentoko-Prefab dilaporkan lebih panjang lagi. Hal tersebut bisa saja terjadi karena adanya gangguan lain terhadap habitatnya seperti illegal logging dan konversi lahan disekitar TN Kutai, sehingga kualitas habitat yang menurun membuat orangutan harus mencari makan lebih jauh.

Pada waktu tertentu, orangutan di Mentoko maupun di Prefab tidak dijumpai di pinggiran sungai maupun di sekitar stasiun penelitian. Hal ini pun terjadi pada saat penelitian ini dilakukan, dimana orangutan tidak ditemukan dimanapun di sekitar areal stasiun penelitian selama satu bulan. Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti sejauh mana orangutan di Mentoko dan Prefab menjelajah. Kemungkinan lain karena metode yang digunakan untuk menghitung jarak jelajah yang berbeda. Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa selain waktu penelitian dan jumlah orangutan yang diikuti berbeda, kedua hasil analisis jelajah harian yang direkam menggunakan GPS terlihat lebih panjang daripada yang menggunakan system grid. Hal tersebut tentunya perlu diteliti lebih lanjut, karena penelitian ini hanya bisa melaporkan jarak jelajah harian orangutan pada musim dimana penelitian dilakukan.

16

Gambar 4.2 Jelajah harian orangutan di Mentoko.

Gambar 4.2 memperlihatkan pola pergerakan orangautan yang ada di Mentoko (Darwin, Putri dan JP4). Gambar 4.3 memperlihatkan pergerakan orangutan yang ada di Prefab (Bayur, Mawar dan Labu). Pada kedua gambar jelas terlihat bahwa daerah pinggiran sungai lebih intensif digunakan dibandingkan dengan daerah yang bukan pinggir sungai. Di Prefab pergerakan orangutan benar- benar terpusat di tanjung atau areal dataran rendah yang menjorok ke sungai, karena di daerah tersebut memiliki pakan yang bervariasi mulai dari jenis pohon, liana maupun herba. Cambell (1992) melaporkan hal yang serupa, dan menambahkan bahwa areal penelitian di sebelah timur (Prefab) adalah areal yang sering digunakan dibandingkan dengan areal penelitian yang di sebelah Barat (Mentoko).

Jika dilihat per lokasi dan per individu, rata-rata jelajah harian terpendek yang ditemukan di Mentoko adalah JP4 yaitu 0.339 km/hari dengan kecepatan 0.031 km/jam dan yang terpanjang adalah Darwin 0.749 km/hari dengan kecepatan 0.062 km/jam. JP4 adalah satu-satunya jantan pradewasa yang dijumpai pada saat itu. Ditemukan di pinggiran sungai yang jaraknya ± 1 km ketimur dari lokasi ditemukannya individu Darwin pada saat memakan liana belaran (Merremia mammosa). Cambell (1992) menyebutkan jantan pradewasa memiliki jelajah harian yang panjang, namun ini tidak terlihat pada JP4, pergerakannnya pun sangat lamban. Namun hal tersebut dapat dijelaskan karena individu ini hanya berhasil diikuti selama 3 hari secara penuh sehingga tidak cukup untuk bisa melihat jarak jelajah sebenarnya.

Di Prefab, jelajah harian yang terpendek dimiliki oleh Labu yaitu 0.563 km/hari dengan kecepatan sekitar 0.039 km/hari, sedangkan yang memiliki jelajah harian terpanjang adalah Bayur yaitu 0.633 km/hari dengan kecepatan 0.051 km/jam. Dari ketiga betina dewasa dengan anak yang di temukan di Prefab, individu Bayur yang sedikit sulit untuk diikuti, karena kecendrungannya untuk menghidar dari peneliti dengan melewati jalur-jalur yang sulit seperti bambu-bambu, pinggiran tebing, sungai-sungai. Hal yang serupa dilakukan oleh individu Darwin di Mentoko. Hal menarik adalah, kedua individu ini juga ditemukan melakukan pergerakan terestrial di tanah. Bayur dijumpai jalan di tanah melintasi areal terbuka menuju pohon ara bendang (Ficus piramidata) yang berada di pinggiran sungai. Kasus berbeda untuk Darwin, individu ini ditemukan jalan dan berlari di tanah ketika ingin menghindar dari penglihatan peneliti. Bayur terlihat lebih biasa di tanah daripada Darwin, jika melihat perbedaan waktu habituasi di kedua lokasi tersebut. Rodman (1977) dan Mitani (1989) juga menjumpai orangutan di Mentoko yang melakukan pergerakan terestrial di tanah. Untuk peta pergerakan dari masing-masing individu baik di Mentoko maupun di Prefab disajikan pada Lampiran 1-6.

4.3 Daerah Jelajah (Home Range) dan Inti (Core Area)

Analisis Kernell Density Estimation (kde) menunjukkan bahwa rata-rata luas home range orangutan Mentoko adalah 0.169 km2 (selang 0.045 km2-0.401 km2) dan di Prefab rata-rata seluas 0.117 km2 (selang 0.061 km2-0.197 km2). Daerah jelajah yang paling luas di areal Mentoko dimiliki oleh individu Darwin yaitu 0.401 km2 dengan daerah inti 0.113 km2 (Gambar 4.4). Daerah jelajah paling luas dimiliki oleh individu Bayur yaitu 0.197 km2 dengan luas daerah inti 0.079 km2 (Gambar 4.5).Daerah jelajah yang diperoleh masih sangat kecil jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, mengingat waktu penelitian yang pendek

18

ditambah sulitnya menemukan individu yang bisa diikuti. Sehingga, luas home range yang didapatkan pada penelitian ini merupakan luasan jelajahnya pada musim itu saja. Metode baru pertama kali digunakan di Mentoko dan Prefab pada penelitian ini.

Gambar 4.4 Daerah jelajah dan inti Darwin (Mentoko) dengan fixed kernel 95% dan 50%, bandwith SCV (Square Cross Validation),grid cell 1 x 1 m Cowlishaw dan Dunbar (2000) menyatakan bahwa ukuran dan fitur dari luas home range ditentukan terutama oleh faktor-faktor ekologi, seperti kelimpahan pakan dan distribusi sumber daya penting temporal berupa pakan, air atau perlindungan (Altmann 1974). Daerah inti sangat bergantung pada kelimpahan dan distribusi pakan, sehingga lokasi dan ukurannya kemungkinan bersifat temporal. Saat pergantian musim, produktifitas buah akan berpindah pada areal yang lain, keberadaan individu orangutan pun akan ikut berpindah. Dengan demikian, sama halnya dengan home range, ukuran dan lokasi daerah inti yang dihasilkan dari penelitian ini merupakan hasil pada waktu penelitian ini saja. Daerah inti digambarkan dengan warna kuning sampai ke merah.

Rata-rata luas daerah inti di areal Mentoko adalah 0.045 km2 (selang 0.007 km2-0.113 km2), dan di Prefab adalah 0.038 km2 (selang 0.009 km2-0.079 km2). Core area yang paling luas di Mentoko dimiliki individu Darwin, sedangkan di Prefab dimiliki individu Bayur.

Gambar 4.5 Daerah jelajah dan inti Bayur (Prefab) dengan fixed kernel 95% dan 50%, bandwith SCV (Square Cross Validation) grid cell 1 x 1m Jantan remaja Darwin memiliki daerah jelajah paling luas (0.401 km2) di Mentoko dan betina dewasa-anak Bayur (0.197 km2) di Prefab, namun demikian luasnya masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan luas daerah jelajah orangutan yang dilaporkan oleh peneliti-peneliti sebelumnya (Tabel 4.3).

Tabel 4.3 Perbandingan luas daerah jelajah orangutan dari beberapa penelitian di Mentoko

No Peneliti Tahun Waktu (bln) Betina dewasa (km2) Jantan dewasa (km2) Metode 1 Rodman 1977 15 0.4-0.6 0.8-1.20 Grid 2 Mitani 1989 18 1.50 > 1.50 Grid 3 Cambell 1992 12 1.38 0.425 Grid

20

Adanya nilai luas jelajah yang bervariasi dari tiap penelitian, memeperlihatkan bahwa orangutan tidak memiliki luas daerah jelajah yang tetap. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa lama waktu penelitian, luas areal penelitian, keberadaan sumber pakan dan metode yang digunakan sangat mempengaruhi estimasi luas daerah jelajah orangutan. Sehingga diperlukan penelitian jangka panjang secara berkelanjutan dengan menggunakan metode yang sesuai untuk dapat memperoleh estimasi luas yang benar-benar dapat mewakili.

Berdasarkan frekuensi kunjungan dalam core area diketahui beberapa pohon dan liana yang secara aktif dikunjungi oleh orangutan seperti sengkuang (Dracontomelon dao), ara (Ficus sp.), serapet (Mucuna sp.) dan belaran (Meremmia mammosa) untuk areal pinggir sungai dan nayup (Geunsia pentandra) dan leban (Vitex pinnata) untuk areal lebih ke dalam hutan. Pada penelitian sebelumnya jenis- jenis tersebut merupakan pakan penting orangutan yang dijadikan salah satu indikator untuk menemukan keberadaan orangutan (Rodman 1977; Cambell 1992; Krisdijantoro 2007). Penelitian sebelumnya di Mentoko dan Prefab, tidak dilakukan perhitungan sampai ke core area sehingga tidak bisa dilakukan perbandingan. Gambar daerah jelajah dari empat individu lainnya disajikan dalam Lampiran7-10.

Dokumen terkait