• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hadhanah Dalam Peraturan Perundang-Undangan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HADHANAH

E. Hadhanah Dalam Peraturan Perundang-Undangan

Pemeliharaan anak terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku Kesatu hal Orang pada Bab X, XII, dan XIV. Pada pasal 289 bab XIV Tentang Kekuasaan Orang Tua bagian I Akibat-akibat Kekuasaan Orang Tua Terhadap Pribadi Anak dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa setiap anak, berapapun juga umumnya wajib menghormati dan menghargai kedua orang tuanya. Dalam tinjauan perdata mengenai siapa yang paling berhak memelihara dan mengasuh anak yang masih dibawah umur, akibat dari perceraian suami istri adalah kewajiban orang tuanya. Orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka yang masih dibawah umur. Kehilangan kekuasaan orang tua dan kekuasaan wali tidak membebaskan mereka dari kewajiban untuk memberi tunjangan menurut besarnya pendapatan mereka guna membiayai pemeliharaan dan pendidikan anak-anak mereka itu.31

Kemudian dijelaskan pada pasal 299 bab XIV Tentang Kekuasaan Orang Tua bagian I Akibat-Akibat Kekuasaan Orang Tua Terhadap Pribadi Anak dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa selama perkawinan orang tuanya,

31

Soedaryo Soimin. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007),

setiap anak anak sampai dewasa tetap berada dalam kekuasaan kedua orang tuanya, sejauh kedua orang tua tetrsebut tidak dilepaskan atau dipecat dari kekuasaan itu. Kecuali jika terjadi pelepasan atas pemecatan dan berlaku ketentuan-ketentuan mengenai pisah ranjang, bapak sendiri yang melakukan kekuasaan itu. Bila bapak berada dalam keadaan tidak mungkin untuk melakukan kekuasaan orang tua, kecuali dalam hal adanya pisah ranjang. Bila ibu juga tidak dapat atau tidak berwenang, maka oleh Pengadilan Negeri diangkat seorang wali sesuai dengan pasal 359. Hal ini terdapat dalam pasal 300 bab XIV Tentang Kekuasaan Orang Tua bagian 3 Akibat-akibat Kekuasaan Orang Tua Terhadap Pribadi Anak dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.32

Mengenai pemeliharaan anak yang masih dibawah umur, diatur dalam pasal 229 bab X Tentang Pemeliharaan Perkawinan, pada umumnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang berisikan : “Setelah memutuskan

perceraian, dan setelah mendengar atau memanggil dengan sah para orang tua atas keluarga sedarah atau semenda dari anak-anak yang dibawah umur, Pengadilan Negeri akan menetapkan siapa dari kedua orang tua akan melakukan perwalian atas tiap-tiap anak, kecuali jika kedua orang tua itu dipecat atau dilepaskan dari kekuasaan orang tua, dengan mengandalkan putusan-putusan hakim terdahulu yang mungkin memecat atau melepas mereka dari kekuasaan orang tua”.33

32

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa hak memelihara anak yang masih kecil tetap tanggung jawab orang tua baik ibu maupun ayah. Kecuali apabila orang tua tersebut melalaikan tugasnya atau berprilaku tidak baik maka Pengadilan akan menetapkan siapa dari kedua orang tua itu yang akan melakukan perwalian atas tiap-tiapa anak.

Sebagaimana dijelaskan juga dalam pasal 231 bab X Tentang Pembubaran Perkawinan pada umumnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata : “Bubarnya Perkawinan karena perceraian tidak akan menyebabkan anak-anak yang lahir dari perkawinan itu kehilangan keuntungan-keuntungan yang telah dijamin bagi mereka oleh undang-undang atau oleh perjanjian

perkawinan orang tua mereka”. Menurut pasal tersebut, bahwa hak mengasuh terhadap anak kecil meskipun orang tua telah terjadi perceraian, tetap berada dalam tanggungannya, dengan syarat anak tersebut adalah anak yang dilahirkan atas perkawinan yang sah.34

2. Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan KHI

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan telah disebutkan tentang hukum penguasaan anak secara tegas yang merupakan rangkaian dari hukum perkawinan di Indonesia, akan tetapi hukum penguasaan anak itu belum diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomer 9 Tahun 1975 secara

33

Ibid, h.55-56. 34

luas dan rinci. Oleh karena itu, masalah penguasaan anak (hadhanah) ini belum dapat diberlakukan secara efektif sehingga pada hakim di lingkungan Peradilan Agama pada waktu itu masih mempergunakan hukum hadhanah yang tersebut dalam kitab-kitab fikih ketika memutus perkara yang berhubungan dengan hadhanah itu. Setelah diberlakukan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, dan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam, masalah hadhanah menjadi hukum positif di Indonesia dan Peradilan Agama deberi wewenang untuk mengadili dan menyelesaikannya.35

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 42-45 dijelaskan bahwa orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya yang belum mencapai umur 13 tahun dengan cara yang baik sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri. Kewajiban ini berlaku terus meskipun antara orang tua si anak putus karena perceraian atau kematian. Kekuasaan orang tua juga meliputi untuk mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan. Kewajiban orang tua memelihara anak meliputi pengawasan (menjaga keselamatan jasmani dan rohani), pelayanan (memberi dan menanamkan kasih sayang) dan pembelajaran dalam arti yang luas yaitu kebutuhan primer dan skunder sesuai dengan kebutuhan dan tingkat sosial ekonomi orang tua si anak. Ketentuan ini sama dengan konsep hadhanah dalam

35

Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama,(Jakarta: Kencana, 2008), h.428-429.

Hukum Islam, dimana dikemukakan bahwa orang tua berkewajiban memelihara anak-anaknya, semaksimal mungkin dengan sebaik-baiknya.36

Kompilasi Hukum Islam juga melakukan antisipasi jika kemungkinan seorang bayi disusukan kepada perempuan yang bukan ibunya sebagaimana dikemukakan dalam pasal 104 yaitu :

1. Semua biaya penyusuan anak dipertanggungjawabkan kepada ayah. Apabila ayahnya meninggal dunia, maka biaya penyusuan dibebankan kepada orang yang berkewajiban member nafkah kepada ayahnya dan walinya;

2. Penyusuan dilakukan paling lama dua tahun dan dilakukan penyapihan dalam masa kurang dua tahun dengan persetujuan ayahnya.37

Antisipasi ini sangat positif sebab meskipun ibu yang harus menyusui anaknya tetapi dapat diganti dengan susu kaleng atau anak disusukan oleh seorang ibu yang bukan ibunya sendiri. Ketentuan ini juga relevan dengan hal yang terdapat dalam ayat 233 surat Al-Baqarah yang menjadi acuan dalam hal pemeliharaan anak.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 41, dapat dipahami bahwa ada perbedaan antara tanggung jawab pemeliharaan yang bersifat material dengan tanggung jawab material yang menjadi beban suami atau bekas suami jika ia mampu, dan sekiranya tidak mampu Pengadilan Agama dapat menentukan lain sesuai dengan keyakinannya.38

36

Ibid, h.429.

37

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo,

2007), h.138. 38

Dalam kaitan ini, Kompilasi Hukum Islam Pasal 105 menjelaskan secara lebih rinci dalam hal suami istri terjadi perceraian yaitu (1) pemeliharaan anak yang belum Mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya; (2) pemeliharaan anak yang sudah Mumayyiz deserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya; (3) biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.39

Pada pasal 45 bab X mengnai Hak dan Kewajiban antara Orang Tua dan Anak Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyatakan pada ayat 1 bahwa kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya. Pada ayat 2 menyatakan kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat 1 pasal ini berlaku sampai anak asuh itu menikah atau dapat berdiri sendiri, yang mana kewajiban tersebut berlaku selamanya meskipun antara kedua orang tua putus.40

Selanjutnya dijelaskan pula pada pasal 47 ayat 1 bab X mengenai hak dan kewajiban antara Orang Tua dan Anak Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan bahwa anak yang belum mencapai usia 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada dibawah kekuasaan orang tuanya selama

39

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, h.138. 40

Undang-Undang Pokok Perkawinan Beserta Peraturan Perkawinan Khusus Anggota ABRI, POLRI, Pegawai Kejaksaan dan Pegawai Negeri Sipil, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h.14.

mereka tidak dicabut dari kekuasaannya. Pada ayat 2, orang tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan.41

Pada Pasal 48 bab X mengenai Hak dan Kewajiban antara Orang Tua dan Anak Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyatakan orang tua juga tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggdaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang berumur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.42

Dalam Kompilasi Hukum Islam pada pasal 98 menyatakan pada ayat :

1) Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah usia 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak cacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.

2) Orang tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan luar pengadilan.

3) Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menyesuaikan kewajiban tersebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.43

Jadi, dengan adanya perceraian, hadhanah bagi anak yang belum Mumayyiz dilaksanakan oleh ibunya, sedangkan biaya pemeliharaan tersebut tetap dipikulkan kepada ayahnya. Tanggung jawab ini tidak hilang meskipun mereka bercerai. Hal ini sejalan dengan bunyi pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dimana dijelaskan bahwa suami

41

Soedaryo Soimin. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, h.14-15. 42

Undang-Undang Pokok Perkawinan Beserta Peraturan Perkawinan Khusus Anggota ABRI, POLRI, Pegawai Kejaksaan dan Pegawai Negeri Sipil, h.14-15.

43

Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama (Dalam Sistem Hukum

mempunyai kewajiban untuk memenuhi dan memberi segala kepentingan biaya yang diperlukan dalam kehidupan rumah tangganya. Apabila suami ingkar terhadap tanggung jawabnya, bekas istri yang diberi beban untuk melaksanakan, maka Pengadilan Agama setempat agar menghukum bekas suaminya untuk membayar biaya hadhanah sebanyak yang dianggap patut jumlahnya oleh Pengadilan Agama. Jadi, pembayaran itu dapat dipaksakan melalui hukum berdasarkan putusan Pengadilan Agama.44

Jika orang tua dalam melaksanakan kekuasaannya tidak cakap atau tidak mampu melaksanakan kewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, maka kekuasaan orang tua dapat dicabut dengan putusan Pengadilan Agama. Adapun alasan pencabutan tersebut karena : (1) orang tua itu sangat melalaikan kewajiban terhadap anaknya; (2) orang tua berkelakuan buruk sekali.

M. Yahya Harahap menjelaskan bahwa orang yang melalaikan kewajiban terhadap anaknya yaitu meliputi ketidakbecusan si orang tua itu atau sama sekali tidak mungkin melaksanakannya sama sekali, boleh jadi disebabkan karena dijatuhi hukuman penjara yang memerlukan waktu lama, sakit uzur atau gila dan bepergian dalam suatu jangka waktu yang tidak diketahui kembalinya. Sedangkan berkelakuan buruk meliputi segala tingkah laku yang tidak senonoh sebagai pengasuh dan pendidik yang seharusnya memberikan contoh yang baik.45

44

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Bandung: Citra Umbara, 2007), h.13. 45

Yahya Harahap, Hukum perkawinan nasional : pembahasan berdasarkan undang-undang

Akibat pencabutan kekuasaan dari orang tua sebagaimana tersebut diatas, maka terhentinya kekuasaan orang tua itu untuk melakukan penguasaan kepada anaknya, jika yang dicabut kekuasaan terhadap anaknya hanya ayahnya saja, maka dia tidak berhak lagi mengurusi urusan pengasuhan, pemeliharaan dan mendidik anaknya, tidak berhak lagi untuk mewakili anak di dalam dan diluar pengadilan.46 Dengan demikian, ibunyalah yang berhak melakukan pengasuhan terhadap anak tersebut, ibunyalah yang mengendalikan pemeliharaan dan pendidikan anak tersebut. Berdasarkan Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, biaya pemeliharaan ini tetap melekat secara permanen meskipun kekuasaannya terhadap anaknya dicabut.47

3. Hadhanah di beberapa Negara Islam

a. Mesir

Masa pengasuhan anak dalam setatus hukum perorangan (personal status law) yang di amandemen tahun 1985, menetapkan bahwa wanita (istri) memiliki hak untuk mengasuh anak laki-laki hingga usia 10 tahun dan 12 tahun bagi anak perempuan. Setelah habis masa pengasuhan, hakim dapat memerintahkan bahea anak yang dalam pengasuhan tetap pada ibu tanpa adanya upah hingga berusia 15 tahun bagi anak laki-laki, dan sampai menikah bagi anak perempuan. Jika hakim yakin bahwa kemaslahatan anak akan terpenuhi.

46

Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama,

(Jakarta: Kencana, 2008), h.431. 47

Soedaryo Soimin, Kitab Undang- Undang Hukum Perda, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h.15.

Mengenai syarat-syarat pemegang hak hadhanah, dirumuskan sebagai berikut: orang yang baligh, berakal, mampu mengasuh anak, sehat dan mempunyai garis hubungan kekeluargaan.

Adapun mengenai gugur atau pencabutan hak hadhanah, hakim dapat mempertimbangkan dua hal :

- Pertama, apabila pemegang hak hadhanah berprilaku buruk yang dapat mempengaruhi akhlak dan tabiat anak yang dalam pengasuhannya.

- Kedua, jika pemegang hak hadhanah sering mengabaikan dan/atau meninggalkan anak yang dalam pengasuhannya.48

b. Yordania

Ketentuan hadhanah dalam perundang-undangan yordania, terdiri dari 12 pasal yakni pasal 154 sampai dengan pasal 166. Ketentuan hadhanah berlaku setelah terjadinya perceraian. Apabila terjadi perceraian antara suami istri, maka ibu mempunyai hak utama untuk mengasuh dan mendidik anaknya. Adapun tertib urutan pemegang hak hadhanah setelah ibu disesuaikan pendapat Imam Abu Hanifah.

Adapun syarat-syarat hadhanah, dewasa, berakal, tidak meninggalkan anak karena ksibukannya, mampu untuk mendidik dan menjaganya, tidak murtad, dan tidak menikah dengan laki-laki lain, kecuali mempunyai hubungan

48

Andi syamsu alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Persfektif Islam, (Jakarta : Kencana, 2008), Cet.I, h.135-136.

kekerabatan dekat dengan anaka asuhnya, dan tidak menempatkannya di rumah yang penuh konflik.49

c. Syria

Masa pengasuhan anak dalam Undang-Undang Syiria, dirumuskan bahwa bagi anak laki-laki sampai berusia 7 tahun, sedangkan anak perempuan sampai berusia 9 tahun. Meskipun demikian, jika hakim melihat ada kemaslahatan, maka ia dapat menambah masa pengasuhan masing-masing anak selama 2 tahun, yakni bagi anak laki-laki dapat diperpanjang menjadi 9 tahun, sedangkan anak perempuan hingga berusia 11 tahun. Syarat-syarat pemegang hak hadhanah dirumuskan sebagai berikut, yaitu: dewasa, berakal, mampu mengasuh anak baik jasmani maupun rohani,. Kemudian hak hadhanah seseorang dapat digugurkan apabila: pemegang hak hadhanah memiliki sifat tercela yang dapat mempengaruhi si anak, gila, dan murtad. Bahkan hak pengasuhan anak dapat digugurkan karena tidak mempu melakukan pengasuhan dengan alasan kesehatan. Apabila pemegang hak hadhanah mengaku sering meninggalkan rumah, dan tidak mempunyai kesempatan mengasuh anak, maka hak hadhanahnya di gugurkan, meskipun anak tersebut masih sangat kecil.50

d. Kuwait

Secara umum hukum keluarga Kuwait tidak berbeda dengan hukum keluarga fikih klasik, termasuk didalamnya pasal-pasal yang mengatur tengtang

49

Ibid, h.139. 50

hadhanah. Misalnya tentang ketentuan pemegang hak hadhanah, Undang-Undang hukum keluarga Kuwait mengutamakan pemegang hak hadhanah adalah ibu.

Penetapan hak hadhanah itu di dasarkan pada sunah, ijma’, dan rasio (akal). Mengenai hal yang dapat menggugurkan hak hadhanah antara lain, pemegang hak menikah lagi dengan laki-laki yang bukan kerabat dekatnya. Namun perbedaan agama tidak menyebabkan gugurnya hak untuk mengasuh, sehingga ia mengerti agama. Mengenai lamanya masa hadhanah perundang-undangan Kuwait lebih cenderung kepada pendapat Imam Malik. Maka pengasuhan anak berakhir apabila laki-laki ia sampai baligh sedangkan wanita sampai ia telah menikah.

e. Tunisia

Dalam perundang-undangan Keluarga Tunisa tahun 1958 dirumuskan: 1. Pasal 54, hadhanah adalah pemeliharaan anak, termasuk juga merawat dan

mendidik anak sampai ia mencapai usia dewasa.

2. Pasal 57, selama masa perkawinan, anak dipelihara kedua orang tuanya. Jika terjadi perceraian atau meninggal dunia, hak pemeliharaan anak secara berturut-turut diberikan kepada ibu dan nasab ibunya.

3. Pasal 58, syarat memelihara anak antara lain harus dewasa, dapat dipercaya, dan cakap dalam menjalankan kewajiban.

4. Pasal 61, jika seorang wanita dalam memelihara anak memiliki tempat tinggal jauh dan menghambat proses perawatan anak, maka ia bisa kehilangan hak pemeliharaannya.

5. Pasal 64, seorang pemelihara anak tidak boleh melalaikan kewajibannya, meskipun dalam keadaan sulit.

6. Pasal 67, anak laki-laki dirawat sampai berumur 7 tahun dan anak perempuan dipelihara sampai berusia 9 tahun selanjutnya ayah dapat mengambil alih pemeliharaan anak, kecuali adanya keputusan pengadilan yang berkehendak lain berdasarkan kepentingan anak.

Dari undang-undang tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa masa pemeliharaan anak Tunisia masih berpegang teuh pada pendapat fikih sedangkan keutamaan pemeliharaan anak lebih cenderung mengakomodir kemaslahatana anak, ketimbang mengikuti pendapat fukaha. Mengenai pencabutan hak hadhanah tidak disebut dengan tegas, nampaknya diserahkan pada pertimbangan pengadilan.51

51

43

BAB III

PROFIL PENGADILAN AGAMA CIKARANG KELAS 1 B

A. Sejarah Pengadilan Agama Cikarang

Segala informasi mengenai profil pengadilan khususnya Pengadilan Agama di Indonesia secara umum dapat kita ketahui dengan mudah di halaman website Pengadilan Agama yang bersangkutan, begitu juga dengan Pengadilan Agama Cikarang dapat dilihat di website www.pa-cikarang.go.id, setelah penulis komfirmasi tentang isi profil Pengadilan Agama Cikarang kepada ketua Pengadilan Agama, wakil panitera dan staf pegawai yang membidangi pengelolaan website, semua informasi mengenai profil Pengadilan Agama yang dimuat di website tersebut diatas valid, sesuai dengan sejarah Pengadilan Agama Cikarang yang sebenarnya, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Pengadilan Agama Cikarang (selanjutnya disebut PA Cikarang) dibentuk oleh Pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 145 Tahun 1998 tentang Pembentukan Pengadilan Agama Natuna, Tulang Bawang,Tanggamus, Cikarang, Kajen, Giri Menang, Badung, Ermera, Mana Tuto, Sentani, Mimika, dan Paniai guna pemerataan dan peningkatan pelayanan hukum kepada masyarakat.

Kabupaten Bekasi yang memiliki luas wilayah 127.388 Ha terdiri atas 23 Kecamatan, 182 desa dan 5 kelurahan menjadi wilayah hukum (yurisdiksi) PA Cikarang (lihat daftar radius). Dengan jumlah Pegawai berikut Hakim dan Pimpinan

tidak sampai 50 orang, merupakan tantangan tersendiri bagi kami untuk terus meningkatkan pelayanan hukum kepada masyarakat.

Saat ini Kabupaten Bekasi tumbuh berkembang dengan ditandai banyaknya industri, masyarakatnya pun banyak yang telah melek teknologi. Oleh karena itu PA Cikarang telah memiliki portal (website) berisi informasi yang berkaitan dengan dunia peradilan. Hal ini memudahkan bagi pencari keadilan untuk mengakses informasi, baik itu yang berkaitan dengan perkara maupun hal lain seputar peradilan.

Dalam Portal (website) dapat ditemukan informasi mengenai keadaan perkara, mulai dari pendaftaran hingga putusan. Biaya Panjar Perkara pun sudah dapat dilihat dalam rangka mendukung transparansi peradilan. Kantor PA Cikarang berada dalam lingkungan Kompleks Pemerintahan Kabupaten Bekasi Blok E.2, Desa Sukamahi Kec. Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi 17530. Ada beberapa nama yang sempat menjadi ketua Pengadilan Agama di wilayah Cikarang diantaranya adalah dapat dilihat dalam tabel berikut :1

No. NAMA GOL PEND TAHUN

1. 2. 3. 4. 5. H.M.SURURY YS SUPARNO

H. RUSLAN ABD. GANI H. FACHRUDDIN YUSUF EFFENDI - - - - - - - - - - 13/04/1999 23/05/2006 21/03/2007 15/10/2009 22/03/2012 1

PA Cikarang, Sejarah Pengadilan Agama Cikarang, artikel diakses pada tanggal 22 Oktober 2013 dari http://pa-cikarang.go.id/index.php/profil/profil/sejarah

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009 tentang Pengadilan Agama, dalam pasal 2 disebutkan bahwa : “Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan

kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara

tertentu”.

Untuk menujang dan memenuhi harapan lembaga Peradilan yang sederhana, cepat dan dengan biaya murah sebagai mana tersebut dalam Pasal 57 ayat (3) Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009. Maka Pengadilan Agama Cikarang Mengimplementasikannya Dengan Dalam Visi :

Mewujudkan Pengadilan Agama Cikarang yang bersih, berwibawa, dan bermartabat terhormat dan dihormati sebagai salah satu institusi kekuasaan kehakiman di bawah Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam menegakan hukum dan keadilan.

Misi Pengadilan Agama Cikarang yaitu :

 Menjaga kemandirian lembaga peradilan

 Memberikan pelayanan yang prima dan berkeadilan kepada para pencari keadilan

 Meningkatkan kualitas kepemimpinan badan peradilan

 Meningkatkan kredibilitas dan transparansi peradilan.2

B. Dasar Hukum dan Wewenang Pengadilan Agama Cikarang

2

PA Cikarang, Visi dan Misi Pengadilan Agama Cikarang, artikel diakses pada tanggal 18 Desember 2013 dari http://www.pa-cikarang.go.id/visi-dan-misi

Selama ini sebagaimana diketahui bahwa kewenangan organisasi, administrasi dan financial Peradilan Agama berada dibawah Departemen Agama, sedangkan kewenangan teknis yuridis berada di bawah Mahkamah Agung.

Berdasarkan pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 yang telah diamandemen dikatakan bahwa “ kekuasaan

kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan Peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, dan

oleh Mahkamah Konstitusi”. Dengan amandemen Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut, khususnya Bab IX tentang kekuasaan kehakiman pasal 24 telah membawa perubahan penting terhadap penyesuaian tersebut, lahirlah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Jo Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-Undang Nomor 5 Tentang Mahkamah Agung.

Berdasarkan pasal 21 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman disebutkan bahwa “ketentuan mengenai organisasi,

administrasi dan finansial badan Peradilan sebagaimana dimaksud ayat (1) untuk masing-masing lingkungan Peradilan diatur dalam Undang-Undang sesuai dengan kekhususuan lingkungan Peradilan masing-masing”. Dengan demikian berdasarkan

pasal tersebut, lahirlah apa yang disebut dengan Peradilan satu atap. Sebagai realisasi dar pasal tersebut lahirlah Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan

Dokumen terkait