BAB III : KEKRISTENAN DI JAWA: WACANA AJARAN KRISTEN
II. Pengaruh dan Proses Pembentukan Identitas Kristen Jawa
1. Hadirnya Gereja Kristen Jawa di Banyubiru
Perkembangan Gereja Kristen Banyubiru dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Tidak hanya letaknya yang berdekatan dengan Salatiga sebagai basis perkembangan ajaran Kristen, namun juga karena faktor-faktor lain. Berbagai faktor-faktor tersebut mencakup Misonaris dan cara penyebaran. Kedua faktor ini menjadi kekuasaan yang tidak mendominasi, namun lebih menjadi kekuasaan yang produktif dalam menciptakan pengetahuan.
Foucault memandang bahwa “Dalam kekuasaan tidak ada unsur penaklukan dalam bentuk kekerasan atau aturan” (Foucault, 1978: 92). Pengaruh dan proses pembentukan identitas Kristen Jawa hadir tanpa adanya proses pemaksaan maupun kekerasan. Namun penaklukan kekuasaan ini hadir melalui dogma yang dibawa oleh para penyebar ajaran Kristen.
Di bawah ini akan dibahas bagaimana peran misionaris dalam menciptakan identitas bagi Jemaat GKJ di Banyubiru. Peran misionaris ataupun penyebar ajaran agama dan juga cara penyebaran sangat mempengaruhi keadaan jemaat. Misionaris atau penyebar ajaran Kristen di sini tidak hanya hadir dari kalangan pendeta namun juga kaum awam. Semuanya menjadi kekuasaan yang mempengaruhi pengetahuan jemaat GKJ di Banyubiru, tanpa ada unsur kekerasan dan pemaksaan.
89 1.1. Peran Penyebar Ajaran Kristen
GKJ Banyubiru sebagai Gereja pepantan yang menginduk pada GKJ Ambarawa, tentu sangat tergantung dari peran para tokoh GKJ Ambarawa, baik itu pendeta maupun kaum awam. Sekitar tahun 1970an GKJ Banyubiru belum mempunyai bangunan Gereja, pada waktu itu hanya berkumpul di rumah Bapak Witono69. Sebagai orang awam pak Witono bersama istri cukup memiliki peran besar dalam membangun jemaat di GKJ Banyubiru. Sebagai seorang jemaat biasa Pak Witono merelakan sebagian rumahnya
untuk “gereja”, bahkan untuk mempersiapkan tempat dan persiapan lainnya
dilakukan sendiri.
Bapak Witono bersama istrinya memiliki peran cukup besar dalam memberi semangat kepada jemaat yang lain. GKJ Banyubiru pada waktu itu hanya memiliki sekitar 20 jemaat, namun berkat kegigihan Bapak Witono tahun 1987 GKJ Banyubiru bisa memiliki tanah dan membangun Gereja di Dusun Randusari Desa Banyubiru.
Berdirinya bangunan Gereja tidak terlepas dari peran jemaat yang memiliki semangat untuk membangun sebuah tempat untuk beribadah. Berbagai tantangan dihadapi oleh jemaat terutama Bapak Witono. Dalam mendirikan Gereja mengalami berbagai permasalahan, namun karena
69
Bapak Witono adalah salah satu tokoh pendiri Gereja Kristen Jawa di Banyubiru. Dia adalah seorang Mantri Kesehatan, lahir di daerah Jogjakarta dan meninggal di Banyubiru sekitar tahun 1983. Dia memiliki pandangan yang teguh terhadap iman Kristen, bahkan cenderung memliki pandangan tertutup terhadap tradisi Jawa yang bertentangan dengan ajaran Kristen.
90 berbagai pihak yang membantu semua bisa teratasi, terutama usaha yang dilakukan oleh keluarga Bapak Witono. Seperti apa yang diungkapkan oleh salah satu jemaat di Banyubiru berikut:
“Bu dan Pak Witono ki sing golek donatur (yang mencari penyumbang dana), saudara-saudaranya dimintai dana. Bagi saya keluarga pak Witono ya aktifis Gereja awal berdirinya GKJ
di Banyubiru.”70
Selain Bapak Witono sebagai kaum awam yang berperan dalam berdirinya GKJ di Banyubiru, hadir seorang Pendeta GKJ Ambarawa yaitu Bapak Pdt Pinoejadi. Warna ajaran GKJ Banyubiru sangat dipengaruhi oleh Bapak Pdt Pinoejadi. Hadirnya pendeta di Banyubiru cukup mempengaruhi perkembangan dan juga cara pandang jemaat akan pemaknaan Kekristenan.
Pembentukan identitas sangat dipengaruhi oleh rezim pengetahuan. Penafsiran Bapak Pdt Pinoejadi tentang ajaran Kristen memunculkan cara pandang bagi jemaat di Banyubiru. Agama yang kongkrit adalah yang dihayati oleh pemeluknya dengan sistem ajaran, norma moral, institusi, ritus, simbol, dan para pemukanya. Penghayatan Kekristenan jemaat di Banyubiru sangat di pengaruhi hasil penafsiran teks-teks Alkitab oleh Bapak Pdt Pinoejadi, yang menurut para jemaat, tafsiran Bapak Pdt Pinoejadi lebih bersifat dogmatis atau selalu berdasarkan Kitab Suci tanpa dikontekskan dalam kehidupan masyarakat.71
Bapak Pdt Pinoejadi bertugas menjadi Pendeta di Ambarawa dalam periode waktu yang cukup lama, yaitu sekitar tahun 1970 samapai 1997.
70
Berdasarkan wawancara dengan Bu Giyati (Jemaat GKJ Banyubiru) tanggal 10 Juni 2013
71 Idem
91 Bagi para jemaat beliau terkenal sangat kaku, kolot, dan juga sangat disiplin dalam pemahaman akan ajaran Kristen. Hal yang paling ditekankan adalah larangan untuk melakukan tradisi-tradisi lokal, seperti ziarah kubur, memperingati meninggalnya saudara (3 hari, 7 hari, 40 hari, dan juga 1000 hari), dan juga larangan untuk melakukan hajatan besar untuk syukuran sunatan. Ini semua di dasarkan atas ajaran Alkitab bahwa Allah telah menyelamatkan semua yang mengikutinya.
Kekakuan ini memunculkan perpecahan bagi jemaat di Banyubiru, sehingga beberapa jemaat yang berusia lanjut memutuskan untuk bergabung dengan GKJ Ngampin dalam berbagai kegiatan dan juga ibadah. Perpecahan ini ini dipicu karena perbedaan pandangan secara teologis antara Bapak Pdt Pinoejadi dengan Bapak Margotono. Perbedaan teologi semacam ini kurang bisa dimengerti oleh beberapa jemaat, namun beberapa jemaat mengungkapkan bahwa Pdt Pinoejadi ini memiliki sifat keras kepala. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Giyati tentang karakter Bapak Pdt Pinoejadi berikut “Nek ngunekne umate ki rodo keras, kolot, nek sing ra cocok yo pindah, tapi Pak Witono dan Bu Witono tetap bertahan.”72
Berkat perjuangan dan ketaatan Bapak Witono GKJ Banyubiru tetap berdiri dan tetap mengembangkan ajaran Kristen dan mencoba mempertahankan keutuhan GKJ di Banyubiru. Bapak Witono tetap bertahan karena memiliki cara pandang yang sama dengan Bapak Pendeta Pinoejadi, memiliki iman Kristen yang teguh. Dalam artian, tidak memberi ruang bagi
72
92 tradisi Jawa yang bertentangan dengan ajaran Kristen. Salah satu contoh
yang diungkapkan jemaat GKJ bahwa “Pak Witono tidak pernah
mengadakan genduren, baik pada waktu nyunatke atau peringatan kematian
saudaranya”73
Saat ini GKJ Banyubiru dibawah GKJ Ambarawa dipimpin oleh Bapak Pdt Setyo Utomo74. Usianya yang muda, lebih bisa menerima tradisi-tradisi lokal. Ini karena secara teologis sudah memiliki cara pandang yang berbeda. Inilah alasan mengapa ajaran yang dibawanya berbeda, dibanding pendeta angkatan sebelumnya:
“Dahulu para pendeta menjaga pemurnian, itu karena masih pertumbuhan atau rintisan jadi harus dijaga dan didoktrinasi dengan kuat. Dalam konteks sekarang tidak bisa harus dianggap
dewasa jadi sudah bisa mengambil keputusan etis sendiri.”75
Berangkat dari situ, maka corak Gereja dahulu dengan sekarang berbeda. Gereja yang dewasa di era saat ini seharusnya bisa menerima tradisi lokal yang ada. Maka peran pemuka agama menjadi sangat penting dalam membentuk sebuah tradisi baik sebagai suatu cara pandang pribadi maupun secara hidup bermasyarakat. Gereja yang dewasa menurut Bapak Pdt Setyo Utomo ini tidaklah mudah, kenyataannya dalam diri jemaat tetap
73
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Sisiwantoro (Jemaat GKJ Banyubiru) tanggal 18 Oktober 2013
74
Bapak Setyo Utomo lahir di Tuban, Jawa Timur tahun 1968. Ketertarikannya pada bidang Teologi membuat Pak Setyo memutuskan untuk belajar di Universitas Kristen Duta Wacana, menyelesaikan pendidikan Teologinya pada tahun 1994. Berkarya di GKJ Ambarawa sejak tahun 1996, sedangkan menjadi pendeta tahun 1997 sampai sekarang.
75
93 muncul sebuah tarik ulur akan identitas. Pengetahuan yang berbeda antara Kekristenan dan Kejawaan pada akhirnya tetap membuat jemaat GKJ menegosiasikan identitasnya.
1.2. Cara penyebaran
Pembentukan identitas Kristenan Jawa di Banyubiru selain dipengaruhi oleh peran para penyebar ajaran juga cara penyebaran. Cara penyebaran di sini berkaitan dengan bagaimana caranya ajaran Kristen bisa hadir dan berkembang di tengah Desa Banyubiru. Secara garis besar ada dua cara yaitu berdasarkan dogma melalui Alkitab yang ditafsirkan Pendeta dan juga berbagai kegiatan dari daerah sekitar Banyubiru.
Pembentukan dan perkembangan Kekristenan hadir melalui pendalaman Alkitab. Setiap hari Kamis jemaat GKJ Banyubiru berkumpul bersama dengan berpindah-pindah tempat untuk mengadakan pendalaman Alkitab. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membentuk jati dirinya sebagai orang Kristen dengan mencoba menafsirkan teks-teks Alkitab. Inilah salah satu ungkapan jemaat GKJ yang rutin mengikuti pendalaman Alkitab:
“Pendalaman Alkitab semakin bisa menunjukan bagaimana
orang Kristen yang benar berdasarkan ajaran Alkitab, dengan cara bertukar pengalaman berdasar atas firman Tuhan, kalau ada
kesulitan baru tanya Bapak Pendeta.”76
Penunjukan kebenaran akan identitas Kekristenannya selain di hadirkan melalui peran Pendeta ataupun misionaris, ternyata juga atas
76
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Suratno (Jemaat GKJ Banyubiru) tanggal 20 Mei 2013
94 tafsiran Alkitab yang dilakukan oleh jemaat sendiri. Tafsiran teks Alkitab menjadi kekuatan cara pandang mereka dalam hidup di tengah msayarakat. Tafsiran teks Alkitab menjadi pembenaran yang berfungsi tidak hanya sekedar berfungsi sebagai aturan hidup, namun menjadi cara hidup dan perjuangan hidup, singkat kata hidup demi Tuhan. Permasalahan dalam kehidupan masyarakat sering dibicarakan dalam Pendalaman Alkitab dengan dicari kebenarannya berdasar atas Alkitab. Mereka menjadikan Alkitab sebagai panutan atau kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Seperti apa yang diungkapan oleh Jemaat GKJ berikut:
“Ada dua kegiatan yaitu pendalaman Alkitab dan sarasehan,
bedanya kalau pendalaman Alkitab sumbernya dari Alkitab tetapi dihubungkan dengan dunia, kalau sarasehan sumbernya dari luar dihubungkan dari Alkitab. Jadi dari pengalaman jemaat terus dicari di Alkitab bersama-sama.”77
Tafsiran teks Alkitab ini akan memiliki pembenaran yang lebih kuat ketika ditafsirkan oleh seorang Pendeta. Dengan demikian ketika diskusi sesama jemaat mengalami kebuntuan, tafsiran Bapak Pendeta yang memiliki kekuatan penuh akan kebenaran. Hal ini karena seorang pendeta diyakini memiliki pemahaman teologis yang lebih dibanding dengan kaum awam.
Ajaran Kristen di Banyubiru juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Sinode GKJ di Salatiga. Jarak yang dekat antara Salatiga dengan Banyubiru membuat banyak kegiatan di Banyubiru yang dilakukan oleh jemaat dari Salatiga. Misalnya kaum muda sering mengadakan kunjungan dan juga berbagai macam kegiatan di daerah Banyubiru. Dari kegiatan
77
95 tersebut kaum muda merasa memiliki semangat untuk hidup dalam komunitas GKJ
“Kegiatan anjangsana selain untuk meningkatkan iman, bagi
saya juga menjadi suatu wadah atau tempat bertemunya kaum muda, bisa bertambah teman atau mungkin ketemu pasangan
hidup.”78
Kegiatan kaum muda ini memperlihatkan bagaimana mempertahankan identitas Kekristenannya. Jemaat muda merasa nyaman dan bangga menjadi orang Kristen, dan juga memiliki harapan yang besar untuk kelangsungan masa depannya. Seperti harapan memiliki banyak teman dan juga menemukan pasangan hidup.
Cara penyebaran ajaran Kristen di sini bukan hanya berkaitan dengan perkembangan atau sejarah penyebaran GKJ, namun lebih pada ajaran akan kekristenan sendiri yang membuat jemaat semakin menghayati keberadaan dirinya sebagai orang Kristen maupun komunitas Kristen.