Penjelasan terkait dengan masalah keberangkatan CJH (Calon Jemah Haji) Indonesia asal Kabupaten Kaimana pada bagian ini, peneliti akan memulainya dari prespektif Undang Undang. Tujuan penulis memulai dari prespektif Undang Undang karena penulis ingin menghubungkan hakikat kebijakan dengan Undang Undang yang berlaku. Undang-undang tersebut antara lain: Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Bab IV Pasal 9 dan Pasal 10 dengan penjelasan sebagai berikut:
Pasal 9
1. Urusan pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan pemerintahan umum;
2. Urusan pemerintahan absolut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintahan pusat;
3. Urusan pemerintahan konkuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah urusan pemerintahan yang dibagi antara pemerintahan pusat dan daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/kota;
153
4. Urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan ke daerah menjadi dasar pelaksanaan otonomi daerah;
5. Urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan presiden sebagai kepala pemerintahan.
Pasal 10
1. Urusan pemerintahan absolut sebagaimana dimaksud pada pasal 9 ayat (2) meliputi: (a) politik luar negeri; (b) pertahanan; (c) keamanan; (d) yustisi; (e) moneter dan fiskal nasional; dan (f) agama.
2. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan absolut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah Pusat: (a) melaksanakan sendiri; atau (b) melimpahkan wewenang kepada Instansi Vertikal yang ada di daerah atau gubernur sebagai wakil pemerintahan Pusat berdasarkan asas Dekonsentrasi.
Pada bagian penjelasan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 poin tiga bait satu, dua dan tiga dijelaskan
“urusan pemerintahan” sebagai berikut:
“sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, terdapat Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat yang dikenal dengan istilah urusan pemerintahan absolut dan ada urusan pemerintahan konkuren. Urusan pemerintahan konkuren terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan yang dibagi antara Pemerintah Pusat, Daerah Provinsi, dan Daerah Kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan Wajib dibagi dalam Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak terkait Pelayanan Dasar. Untuk Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar ditentukan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) untuk menjamin hak-hak
konstitusional masyarakat.
Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Daerah provinsi dengan Daerah Kabupaten/kota walaupun Urusan
154
Pemerintahan sama, perbedaannya akan nampak dari skala atau ruang lingkup Urusan Pemerintahan tersebut. Walaupun Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota mempunyai Urusan Pemerintahan masing- masing yang sifatnya tidak hierarki, namun tetap akan terdapat hubungan antara Pemerintah Pusat, Daerah provinsi dan Daerah Kabupaten/kota dalam pelaksanaannya dengan mengacu pada NSPK (Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria)yang dibuat oleh Pemerintah Pusat.
Di samping urusan pemerintahan absolut dan urusan pemerintahan konkuren, dalam Undang-Undang ini dikenal adanya urusan pemerintahan umum. Urusan pemerintahan umum menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan yang terkait pemeliharaan ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, menjamin hubungan yang serasi berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara serta memfasilitasi kehidupan demokratis. Presiden dalam pelaksanaan urusan pemerintahan umum di Daerah melimpahkan kepada gubernur sebagai kepala pemerintahan provinsi dan kepada bupati/wali kota sebagai
kepala pemerintahan kabupaten/kota”.
Dari uraian di atas, penulis menemukan pada pasal 10 tentang
“urusan pemerintahan absolut” berkaitan dengan ayat (1) huruf (f) tentang “agama”. Artinya, bahwa dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan absolut “Pemerintah Pusat” dapat: (a) melaksanakan sendiri; atau (b) melimpahkan wewenang kepada Instansi Vertikal yang ada di Daerah atau gubernur sebagai Wakil Pemerintahan Pusat berdasarkan asas Dekonsentrasi. Itu berarti, dalam melaksanakan
kewenangan “urusan pemerintah absolut” oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/kota dapat dilibatkan mengambil bagian dalam urusan ke-agama-an yang berada dalam wilayah kerjanya. Karena itu, kebijakan Pemerintah Kabupaten Kaimana untuk memberangkatkan beberapa umat muslim untuk menjalankan ibadah haji dari dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kaimana Tahun 2014 sudah tepat.
155
Selain itu pula, kebijakan Pemerintah Kabupaten Kaimana tersebut telah diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2009 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Menjadi Undang-Undang. Pada bagian kedua, tentang “Kewajiban
Pemerintah”
Pasal 6
Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dengan menyediakan layanan administrasi, bimbingan ibadah haji, akomodasi, transportasi, pelayanan kesehatan, keamanan, dan hal-hal lain yang diperlukan oleh Jemaah Haji”. Bagian Ketiga
“Hak Jemaah Haji”
Pasal 7
Jemaah Haji berhak memperoleh pembinaan, pelayanan, dan perlindungan dalam menjalankan Ibadah Haji, yang meliputi: (a) pembimbingan manasik haji dan/atau materi lainnya, baik di tanah air, di perjalanan, maupun di Arab Saudi; (b) pelayanan akomodasi, konsumsi, transportasi, dan pelayanan kesehatan yang memadai, baik di tanah air, selama di perjalanan, maupun di Arab Saudi; (c) perlindungan sebagai Warga Negara Indonesia; (d) penggunaan Paspor Haji dan dokumen lainnya yang diperlukan untuk pelaksanaan Ibadah Haji; dan (e) pemberian kenyamanan Transportasi dan pemondokan selama di tanah air, di Arab Saudi, dan saat kepulangan ke tanah air.
Berdasarkan lansiran berita Radar Sorong menjelaskan bahwa:
“ratusan warga asli Kaimana melakukan aksi unjuk rasa ke
Kantor Bupati Kaimana, sekitar pukul 11.00 WIT siang kemarin (22/10). Aksi itu dilakukan menyusul pembatalan keberangkatan 39 calon jemaah haji asal Kaimana, yang diprogramkan oleh pemerintah daerah selama dua tahun anggaran dan dibiayai APBD tahun 2011 dan 2012. Saat ini, ke-39 CJH (Calon Jemah Haji) asal Kaimana yang batal berangkat, masih berada di Wisma Sayidah, Kompleks Universitas Islam Negeri, Ciputat Jakarta Selatan. Menurut rencana, mereka akan kembali ke Kaimana, Rabu (24/10) mendatang. Ke-39 warga Kaimana batal berangkat
156
karena 18 calon jemaah haji tidak memiliki visa. Karena itu, seluruhnya bersepakat untuk tidak berangkat ke Tanah Suci. Massa yang berjumlah ratusan orang datang dengan konvoi kendaraan roda dua maupun roda empat. Sampai di Kantor Bupati, massa yang membawa keranda mayat dan meletakannya di loby ruang tunggu Bupati dan Wakil Bupati. Aparat keamanan dari Polres Kaimana dan Satpol PP tidak bisa berbuat banyak32.
Dari liputan berita koran Radar Sorang, ternyata gagal berangkat
CJH Indonesia asal Kaimana sebanyak “tiga puluh sembilan” disebabkan karena “delapan belas” di antaranya tidak memiliki visa.
Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2009 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2008 Tentang “Penyelenggaraan Ibadah Haji”
Menjadi Undang-Undang. Pada bagian Ketiga “Hak Jemaah Haji” Pasal
7 “Jemaah Haji” huruf (f) “penggunaan Paspor Haji dan dokumen
lainnya yang diperlukan untuk pelaksanaan Ibadah Haji”.
Ketidaklengkapan dokumen CJH jika diurutkan berdasarkan aturan, maka kelemahannya berada pada penggunaan sistem
“pengorganisasian” lihat uraian Bab IV sebagai berikut: Bab IV
Pengorganisasian Bagian Kesatu Umum
Pasal 8
(1). Penyelenggaraan Ibadah Haji meliputi unsur kebijakan, pelaksanaan, dan pengawasan; (2). Kebijakan dan pelaksanaan dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tugas nasional dan menjadi tanggung jawab Pemerintah: (3). Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Menteri mengoordinasikannya dan/atau bekerja sama dengan masyarakat,
32 Sumber http://www.radarsorong.com/read/2012/10/23/3387/Warga-Palang-Kantor-
157
departemen/instansi terkait, dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi; (4). Pelaksanaan dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat. Dalam rangka pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pemerintah membentuk satuan kerja di bawah Menteri; (5). Pengawasan Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tugas dan tanggung jawab KPHI; (6). Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan dan pelaksanaan dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat 2 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 9
Penyelenggaraan Ibadah Haji dikoordinasi oleh: (a) Menteri di tingkat pusat; (b) gubernur di tingkat provinsi; (c) bupati/wali kota di tingkat kabupaten/kota; dan (d) Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi.
Pasal 10
(1). Pemerintah sebagai penyelenggara Ibadah Haji berkewajiban mengelola dan melaksanakan Penyelenggaraan Ibadah Haji; (2) Pelaksana Penyelenggaraan Ibadah Haji berkewajiban menyiapkan dan menyediakan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan Ibadah Haji sebagai berikut: (a) penetapan BPIH; (b) pembinaan Ibadah Haji; (c) penyediaan Akomodasi yang layak; (d) penyediaan Transportasi; (e) penyediaan konsumsi; (f) Pelayanan Kesehatan; dan/atau (g) pelayanan administrasi dan dokumen. (3). Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban Penyelenggara Ibadah Haji diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Lemahnya sistem pengorganisasian, maka hal tersebut berdampak luas dan mengakibatkan demonstrasi massa. Liputan koran Radar Sorong menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
“Koordinator aksi, Muhammad Karet, dalam orasinya di depan
wakil rakyat yang menerima mereka, menegaskan kedatangan pihaknya ke Kantor Bupati dan DPRD sebagai bentuk kekecewaan terhadap proses pengurusan ke 39 calon jemaah haji asal Kaimana yang akhirnya batal berangkat menunaikan ibadah
158
haji. Kami minta DPRD agar membuat laporan ke pihak-pihak
terkait soal permasalahan ini. Warga asli Kaimana
mempertanyakan mengapa pemerintah melakukan hal ini, memberikan pengurusan haji kepada mereka yang tidak berpengalaman dalam pengurusan keberangkatan haji, tegasnya. Rusli Ufnia, orator lainnya juga mendesak DPRD Kaimana segera memanggil Bupati Kaimana. Jika pemanggilan tersebut tidak diindahkan, maka DPRD segera membuat sidang paripurna istimewa untuk menindaklanjuti persoalan ini hingga tuntas,
tukasnya”.
Menarik untuk disimak sikap para demonstrasi di depan Kantor DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Kaimana. Melalui koordinator aksi MK menyampaikan aspirasi dengan memberi penekanan pada kepengurusan keberangkatan CJH yang dianggap tidak propesional. Selain itu pula RU mencoba mendesak DPRD Kabupaten Kaimana untuk memanggil Bupati Kaimana agar menjelaskan duduk persoalan dan jika pemanggilan tidak diindahkan, maka DPRD Kabupaten Kaimana segera melakukan paripurna istimewa.