TINJAUAN UMUM
A. Tinjauan Umum Tentang Hak Memperoleh Pekerjaan Yang Layak
2. Hak Asasi Manusia dalam Kehidupan Bernegara
Interaksi sosial terlahir dari hubungan antar warga negara. Dengan demikian, pembentukan sistem sosial terjadi akibat interaksi antar individu.
Manusia yang merupakan makhluk sosial, seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, selain adanya aturan yang membentuk hubungan antar sesama. Juga terdapat jalan keluar dan langkah-langkah konkret untuk meredam jika terjadi suatu perbedaan.
Ini merupakan hal penting, karena pada masyarakat perbedaan pendapat sering terjadi dan merupakan hal yang wajar. (Effendi, 2010)
31 Oleh karena itu dalam masyarakat, selain adanya potensi untuk bersatu potensi untuk terjadinya konflik selalu ada, melihat hal ini merupakan konsekuensi sifat dasar manusia yang hidup bersama dalam suatu masyarakat sebagai makhluk sosial. Konflik disini berdasarkan pandangan Pound terkait dengan keinginan manusia untuk menjadi berbeda serta keinginan untuk berkuasa mengatur masyarakat. Maka dari itu sangatlah penting, adanya toleransi, rasa saling peduli dan pengawasan antar warga masyarakat. Jika hal tersebut tidak berjalan dengan baik maka kehidupan bersama dapat berjalan dengan tidak baik, dan dapat melahirkan konflik.
Pada dasarnya konsep dari hukum hak asasi manusia mengatur mengenai hubungan antara negara dengan warga negaranya. warga negara sebagai pemegang hak dan Negara sebagai pemegang kewajiban. Negara menjadi subyek yang utama dalam konteks hak asasi manusia, karena dalam melindungi, menegakkan dan memajukan hak asasi manusia merupakan tanggung jawab dari Negara. Manfred Nowark berpendapat bahwa, “hukum hak asasi manusia mengatur tentang 3 (tiga) kewajiban dasar yang harus dilaksanakan oleh negara selaku pemangku kewajiban. 3 (tiga) kewajiban dasar itu adalah kewajiban untuk menghormat, memenuhi, dan melindungi hak asasi manusia”.
Berdasarkan instrumen hukum Internasional ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan oleh negara:
1. Kewajiban dalam mengambil suatu tindakan, 2. Kewajiban dalam membuat hasil tertentu, 3. Kewajiban untuk menghormati,
32 4. Kewajiban untuk melindungi,
5. Kewajiban untuk memenuhi.
3. Hukum Ketenagakerjaan, Hukum Kerja, dan Hak atas pekerjaan a. Hakikat dan Sifat Hukum Kerja
Guna membahas lebih lanjut mengenai hakekat hukum kerja, maka perlu dibandingkan antara hubungan pekerja dan pengusaha dengan hubungan antara penjual dan pembeli. Antara seorang penjual dan pembeli terdapat kebebasan dalam melakukan hubungan hukum, dengan artian seorang penjual tidak bisa dipaksa untuk menjual barang yang dimilikinya jika harga yang ditawarkan pembeli tidak sesuai dengan keinginannya. Begitu pula sebaliknya seorang pembeli tidak boleh dipaksa untuk membeli barang dari penjual jika barang atau harga barang tidak sesuai dengan keinginannya.
Hubungan yang demikian tentunya berbeda jika dibandingkan dengan hubungan antara pekerja/buruh dengan pengusaha, secara yuridis memang hubungan mereka adalah bebas, tiada seorangpun yang boleh diperbudak. Segala jenis perbudakan atau perhambaan dilarang karena sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam UUD RI dan Pancasila. Namun jika dilihat secara sosiologis pekerja/buruh tidak dapat dikatakan bebas, Karena terkadang seorang pekerja/buruh terpaksa untuk menerima hubungan kerja dengan pengusaha walaupun hubungan tersebut nyatanya membebani pekerja/buruh tersebut, terutama saat sekarang dimana jumlah tenaga kerja yang selalu meningkat dan tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia.
33 Tenaga kerja sebagai bagian yang penting bagi pengusaha dan merupakan sesuatu yang dibutuhkan sudah sangat melekat pada pribadi pekerja/buruh sehingga pekerja tersebut selalu ikut kemanapun tenaganya dibutuhkan, ke tempat mana akan dipekerjakan, sementara pengusaha terkadang dengan sesukanya melakukan pemutusan hubungan kerja pada pekerja karena tenaganya sudah tidak dibutuhkan. Oleh karenanya, pemerintah turut serta melindungi pihak yang lemah dari kekuasaan pengusaha dengan cara mengeluarkan peraturan perundang-undangan, yang mana peraturan perundang-undangan tersebut dapat dijadilakan sebagai jaminan bagi mereka untuk memperoleh kedudukan yang layak sebagaimana mestinya seorang manusia. Tujuan dasar dari dibentuknya seluruh regulasi terkait ketenagakerjaan adalah agar dapat memberikan keadilan serta perlindungan hukum pada para pekerja agar tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh para pemberi kerja.
Pihak-Pihak dalam Hukum Kerja
Untuk menciptakan hubungan kerja / industrial yang baik maka Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan melibatkan beberapa pihak dalam hubungan kerja / industrial, adapun pihak-pihak tersebut antaralain:
a. Tenaga kerja;
b. Perserikatan buruh
c. Pengusaha / pemberi kerja;
d. Perserikatan pengusaha / organisasi pengusaha;
e. Lembaga kerja sama bipartit/tripartit;
f. Dewan pengupahan; dan g. Pemerintah.
34 Mengenai para pihak dalam hubungan kerja / industrial yang terkait dalam penelitian ini, akan dijelaskan lebih lanjut antaralain sebagai berikut :
a. Tenaga kerja
Pengertian tenagakerja atau pekerja/buruh menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 Ayat 4 adalah
“pekerja/buruh adalah setiap orang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk apapun”. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa yang dimaksud tenagakerja bisa mencakup siapa saja, bisa orang perorangan ataupun persekutuan jika mereka bekerja dan menerima upah sebagai hasil dari pekerjaan mereka maka mereka dapat disebut sebagai pekerja/buruh, maka dapat dikatakan bahwa pengertian tenagakerja yang telah dituangkan didalam pasal 1 ayat 4 tersebut memiliki makna yang sangat luas.
b. Serikat kerja/Serikat Buruh
Pekerja/buruh sebagai bagian dari warga negara memiliki kesamaan kedudukan dalam hukum dan memiliki kesamaan hak untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak, memberikan pendapat, berserikan di suatu organisasi, serta mendirikan dan menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh.
Serikat pekerja/serikat buruh berdasarkan pasal 1 UU No. 21/2000 tentang serikat pekerja/buruh menjelaskan serikat buruh adalah “suatu organisasi yang dibuat dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh, baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, dan bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela, serta melindungi hak dan kepentingan
35 pekerja/buruh dan berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh beserta keluarganya”.
c. Pemberi kerja/Pengusaha
Pasal 1 UU No.13/2003 menjelaskan, Pemberi kerja adalah “orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain”.
d. Pemerintah
Salah satu faktor yang penting adalah Kehadiran negara dalam ketenagakerjaan karena dengan adanya kehadiran negara inilah, maka hukum ketenagakerjaan dibidang hubungan kerja dapat menjadi adil. Bentuk kehadiran negara dalam persoalan ketenagakerjaan dapat dilihat dari adanya instansi-instansi yang memiliki kewenangan untuk mengurus permasalahan terkait ketenagakerjaan secara keseluruhan mulai dari hubungan kerja penyelesaian perselisihan dan persoalan lainnya yang masih merupakan lingkup dari ketenagakerjaan.
b. Jaminan hak atas pekerjaan
Pasal 28D Ayat (2) UUD 1945 menegasakan, “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”. Ketentuan normatif ini mengafirmasi konstitusionalitas hak dalam bekerja (Right in work) dan hak atas pekerjaan (right to work) sebagaimana hak asasi manusia (HAM). Hal ini di konfirmasi oleh Krzystof Drzewicki dengan
36 pernyataannya, “the right to work and the right in work constitute a core of not only socio-economic right, but also fundamental human right”.
Kedua hal tersebut memang terlihat sama, tetapi berbeda secara prinsip.
Akses ke dalam dunia kerja tanpa diskriminasi atas dasar agama, etnis, dan sebagainya lebih dititikberatkan dalam pemenuhan hak atas pekerjaan yang layak, sementara pada pemenuhan hak dalam bekerja yang menjadi perhatian adalah konkretisasi dan implementasi pemenuhan hak-hak normatif bagi pekerja seperti gaji, fasilitas keamanan dan keselamatan serta masa depan mereka. Negara kemudian berkewajiban untuk memberikan fasilitas keterbukaan dan ketersediaan lapangan pekerjaan beserta ruang aktualisasi kehidupan bermartabat dalam dunia kerja yang dijalankan sebagai konsekuensinya. (Muhtaj, 2009, p. 180)
Dengan meningkatnya jumlah angkatan kerja produktif dan keterbatasan peluang kerja tentunya semakin menambah keprihatinan bagi Indonesia. Sering kita lihat pekerja yang berada dalam iklim subordinatif yang kuat relasi yang tak seimbang itu mengakibatkan mereka berada prilaku “menyembah”. Status eksistensi, dan penghasilan dari kerja yang mereka lakukan muncul sebagai konsekuensi dari ketidakberdayaan. Upah dibawah standard kebutuhan tentunya memberatkan cara berfikir dan prilaku yang rasional di tengah pekerjaan yang dapat dikatakan berat dan menguras tenaga yang besar.
Hak dalam bekerja dan hak atas pekerjaan adalah bagian dari hak asasi manusia. Pemerintah memiliki kewajiban untuk merealisasikan hak tersebut dengan semaksimal mungkin dan pemenuhan serta perlindungan hak tersebut
37 memberikan arti penting bagi pencapaian standar kehidupan yang layak. Hak terhadap pekerjaan telah tercantum dalam pasal 23 DUHAM sebagai berikut: “
1. Setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih pekerjaan, berhak atas syarat-syarat perburuhan yang adil serta baik, dan berhak atas perlindungan dari pengangguran;
2. Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak atas pengupahan yang sama untuk pekerjaan yang sama;
3. Setiap orang yang melakukan pekerjaan berhak atas pengupahanyang adil dan baik yang menjamin kehidupannya dan keluarganya, suatu kehidupan yang pantas untuk manusia yang bermartabat, dan jika perlu ditambah dengan perlindungan social lainnya; dan
4. Setiap orang berhak mendirikan dan memasuki serikat-serikat pekerja untuk melindungi kepentingannya.”(United nation, human right; a compilation of international instrument, vol 1 (firtst part) new york UN 2002 hlm 5)
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan merupakan penerapan dari mandat keberadaan manusia. Terdapat kebebasan dalam memilih pekerjaan. Pendapatan / penghasilan dari bekerja haruslah diberikan dengan baik agar memberikan pengaruh positif dalam keberlangsungan kehidupan dan dengan tanpa adanya diskriminasi. (Muhtaj, 2009, p. 182)
Jelas bahwa keseluruhan hak tersebut menjadi landasan terpenuhinya hak atas pekerjaan dan juga memberikan suatu kepastian terhadap jaminan keselamatan dan kesehatan dalam hubungan kerja, serta memerikan pembuktikan bahwa hak atas pekerjaan terletak di posisi yang strategis yang membuat manusia menjadi makhluk bermartabat, bukan sebagai sebuah objek pesakitan dalam dunia kerja. Dapat dikatakan salahsatu langkah cerdas dalam perlindungan dan pemenuhan hak atas pekerjaan dan hak dalam bekerja adalah dengan cara memenuhi hak-hak dasar tersebut.
38 Pencapaian titik keserasaian diantara nilai kemampuan dan kesempatan harus diupayakan dalam hubungan ketenagakerjaan. Hal tersebut bertujuan untuk mencapai suatu situasi di mana seluruh kemampuan buruh dapat digunakan dengan maksimal. Begitu juga dengan seluruh kesempatan dapat diisi oleh orang yang benar-benar mampu dibidangnya. Setiap orang pada dasarnya memiliki kesempatan yang setara dalam melakukan suatu pekerjaan, namun kesempatan tersebut tidak selalu dapat digunakan oleh setiap orang, terutama jika berhubungan dengan prinsip yang menjadi acuan, seperti “the right man on the right place (job)”. (Uwiyono, 2014)
Kurang lebih terdapat sekitar 180 konvensi dan rekomendasi Internasional Labour Organization (ILO) yang dengan tegas melindungan hak atas pekerjaan.
Setidaknya hampir keseluruhan dari konvensi tersebut memuat jaminan perlindungan hak atas pekerjaan yang fundamental yakni, hak untuk bebas dari diskriminasi, hak atas kesamaan upah dan kesamaan kerja, hak untuk penghapusan pekerja anak, hak untuk bebas dari kerja paksa, dan hak untuk berserikat. Jelas bahwa seluruh hak tersebut menjadi landasan untuk terpenuhinya hak atas pekerjaan dan juga memberikan kepastian terhadap jaminan keselamatan dan kesehatan dalam dunia kerja.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Negara untuk memberikan jaminan pada setiap orang agar mendapatkan pekerjaan salah satunya dengan membuat berbagai peraturan. Sebagaimana yang telah tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat (2) sebagai berikut: “setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan pelindungan yang layak bagi kemanusiaan. Artinya adalah
39 memberikan kesempatan kepada seluruh warga negara untuk ikut serta dalam pembangunan tanpa diskriminasi. Baik laki-laki maupun perempuan berhak mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan perlindungan”. Secara yuridis Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 5 juga telah memberikan perlindungan terhadap diskriminasi dalam memperoleh pekerjaan bahwasanya setiap tenaga kerja memiliki kesempatan. Adapun ketentuan dalam Pasal 5 ini memberikan kesempatan bagi siapapun untuk dapat mengakses ke semua sektor pekerjaan, dengan syarat bahwa seorang tersebut berkeinginan dan memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Untuk menjamin hak atas pekerjaan dapat terpenuhi sesuai dengan yang telah dicantumkan dalam undang-undang, maka segala bentuk hak atas pekerjaan harus berdasarkan fitur-fitur yang saling berkaitan dan harus memenuhi 3 (tiga) indikator. Adapun penjelasan mengenai ketiga indikator tersebut adalah:
(KomNasHAM, 2009)
a. Ketersediaan:
Layanan-layanan khusus harus disediakan oleh Negara-negara penandatangan guna membantu dan mendukung para individu serta memberikan kemungkinkan bagi mereka untuk megidentifikasi dan menemukan pekerjaan yang tersedia.
40 b. Aksesibilitas
Negara-negara penandatangan harus menjamin Bursa tenaga kerja terbuka bagi setiap orang yang berada dalam yurisdiksi Negara tersebut, aksesibilitas terdiri dari tiga dimensi:
1) Sesuai dengan Pasal 2 ayat 2 dan Pasal 3, “kovenan melarang segala diskriminasi dalam hal akses kepada serta mempertahankan pekerjaan atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lainnya, asal usul Negara atau sosial, kekayaan, kelahiran, difabilitas fisik atau mental, status kesehatan (termasuk HIV/AIDS), orientasi seksual, atau sipil, politil-politik, status sosial atau status lainnya, yang memiliki maksud atau akibat mengurangi atau meniadakan pelaksanaan hak atas pekerjaan dalam basis kesetaraan”. Sesuai dengan konvensi ILO Nomor 111. Menciptakan suatu kebijakan nasional yang dirancang untuk meningkatkan, dengan langkah-langkah yang sesuai dengan kondisi dan praktik nasional, adanya kesetaraan kesempatan dan perlakuan dalam hal pekerjaan, dengan maksud meniadakan diskriminasi ini harus dilakukan oleh Negara penandatangan. Guna menghapuskan diskriminasi yang berkaitan dengan pekerjaan sudah banyak tindakan seperti strategi dan program yang dibuat, seperti yang tercantum dalam paragraf 18 Komentar Umum Nomor 14 (2000) tentang hak atas standar tertinggi kesehatan yang dapat dicapai, dengan implikasi sumber daya yang minimal melalui pengesahan, modifikasi atau perubahan peraturan atau melalui penyebarluasan informasi standar kesehatan tertinggi dapat
41 dicapai. Komite berpendapat bahwa, seluruh individu dan kelompok-kelompok yang kurang beruntung dan temajinalkan harus dilindungi dengan pelaksanaan program yang terarah dan relative berbiaya rendah, walaupun tengah terjadi pembatasan sumber daya yang sangat parah.
2) Aksesibilitas fisik merupakan suatu dimensi dari aksesibilitas pekerjaan seperti yang telah dijelaskan dalam Komentar Umum Nomor 5 tentang orang-orang difabel pada paragraf 22.
3) Aksesibilitas termasuk hak untuk mendapatkan, mencari, dan penyampaian informasi terkait sarana-sarana guna memperoleh akses ke pekerjaan melewati pembentukan jaringan data mengenai bursa tenaga kerja di tingkat lokal, regional, nasional dan internasional.
c. Akseptabilitas dan mutu
Terdapat beberapa komponen dalam perlindungan hak atas pekerjaan, yang paling utama adalah hak mendapatkan kondisi kerja yang adil dan nyaman, khususnya kondisi kerja yang aman, hak untuk membuat serikat buruh serta hak untuk menerima dan memilih pekerjaan dengan bebas.