• Tidak ada hasil yang ditemukan

Legalitas Pemerintah Dalam Pengambil Alihan Aset Investasi

BAB III : BENTUK PENYELESAIAN SENGKETA DI BIDANG

C. Legalitas Pemerintah Dalam Pengambil Alihan Aset Investasi

Perekonomian dunia ditandai oleh kompetisi antar bangsa yang semakin ketat. Sehingga kebijakan penanaman modal harus didorong untuk menciptakan daya saing perekonomian nasional, guna mendorong integrasi perekonomian Indonesia menuju perekonomian global. Perekonomian dunia juga diwarnai oleh adanya blok perdagangan, pasar bersama, dan perjanjian perdagangan bebas yang didasarkan atas sinergi kepentingan antarpihak atau antar negara yang mengadakan perjanjian. Hal itu juga terjadi dengan keterlibatan Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional yang terkait dengan penanaman modal, baik secara bilateral, regional maupun multilateral (World Trade Organization/WTO), menimbulkan berbagai konsekuensi yang harus dihadapi dan ditaati.115

Peraturan perundang-undangan ini sangat penting sebagai peraturan pelaksana bagi pemerinntah dalam mengambil suatu tindakan, baik tindakan dalam hal menyelesaikan sengketa atau upaya represif, maupun tindakan-tindakan

Pemerintah, dalam melakukan tindakan, harus didasari dengan peraturan perundang-undangan. Hal ini dikarenakan, peraturan perundang-undangan dapat menjadi suatu dasar acuan normatif yang kuat terhadap setiap tindakan pemerintah. Tindakan ini juga termasuk tindakan pemerintah terkait dengan penyelesaian sengketa investasi.

115 Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

pemerintah lainnya. Dengan adanya peraturan perundang-undangan yang melegitimasi tindakan pemerintah tersebut, maka akan dapat menimbulkan kepastian hukum.

Persengketaan tidak hanya terjadi di bidang perdata, maupun pidana. Akan tetapi, pada masa globalisasi ini, permasalahan mengenai investasi kerap kali menjadi perhatian publik. Permasalahan mengenai investasi ini, acap kali menimbulkan persengketaan, baik persengketaan yang terjadi antar investor, ataupun persengketaan yang terjadi antara investor dan pemerintah sebagai penguasa. Sehingga, perlu suatu peraturan perundang-undangan untuk mengatur mengenai bagaimana penyelesaian persengketaan tersebut.

Investasi, merupakan salah satu kegiatan usaha yang menggunakan aset, yang digunakan sebagai modal. Aset-aset investasi, dapat berupa aset yang berwujud, dan juga tidak berwujud. Yang menjadi pokok pembahasan kali ini adalah mengenai persengketaan antara pemerintah, dengan investor asing. Banyak sekali faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya persengketaan antara pemerintah dan investor asing ini.

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal menjadi salah satu payung hukum mengenai investasi telah mengatur sedemikian rupa mengenai bentuk-bentuk penyelesaian sengketa dalam bidang investasi.

Selain itu, Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal juga memberikan legitimasi kepada pemerintah untuk mengambil suatu tindakan terhadap persengketaan investasi asing tersebut.

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal juga mengatur hak pengalihan aset dan hak untuk melakukan transfer dan repatriasi dengan tetap memperhatikan tanggung jawab hukum, kewajiban fiskal, dan kewajiban sosial yang harus diselesaikan oleh penanam modal. Kemungkinan timbulnya sengketa antara penanam modal dan Pemerintah juga diantisipasi Undang-undang ini dengan pengaturan mengenai penyelesaian sengketa.

Selain itu, Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal ini juga mengatur mengenai tindakan pengambil alihan aset investasi asing.

Sebenarnya, dapat dikatakan bahwa pengambil alihan aset investasi asing ini merupakan hak dari pemerintah sebagai lembaga yang memegang kontrol dalam pelaksanaan penanaman modal. Akan tetapi terdapat beberapa syarat suatu perushaan asing tersebut dapat di nasionalisasi.

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, memberikan legitimasi kepada pemerintah, dalam melakukan nasionalisasi, atau pengambil alihan aset investasi asing. Hal tersebut diatur dalam Pasal 7 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, sebgai berikut :

(1) Pemerintah tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan penanam modal, kecuali dengan undang-undang.

(2) Dalam hal Pemerintah melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah akan memberikan kompensasi yang jumlahnya ditetapkan berdasarkan harga pasar.

(3) Jika di antara kedua belah pihak tidak tercapai kesepakatan tentang kompensasi atau ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), penyelesaiannya dilakukan melalui arbitrase.

Dalam hal tindakan pemerintah terkait pengambil alihan hak kepemilikan penanam modal, atau pengambil alihan aset investasi asing, Undang-undang Tidak hanya memberikan kewenangan kepada pemerintah, melainkan juga memberikan perlindungan kepada investor, terkhusus investor asing. Apabila pemerintah melakukan tindakan nasionalisasi, maka hak dari investor adalah untuk mendapatkan biaya kompensasi yang sesuai dengan harga pasar. Hal ini dijelaskan dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Harga pasar yang dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, dielaskan dalam penjelasan Pasal 7 ayat (2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Harga pasar yang dimaksud adalah harga yang ditentukan menurut cara yang digunakan secara internasional oleh penilai independen yang ditunjuk oleh para pihak.

Walaupun ketetapan mengenai biaya kompensasi ini telah diatur jelas dalam Undang-undang, akan tetapi, dalam memberikan biaya kompensasi tersebut harus mendapatkan kesepakatan antara pemerintah dan investor. Jika tidak tercapai suatu kesepakatan, maka menurut Pasal 7 ayat (3) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, dapat diselesaikan dengan penyelesaian sengketa malalui arbitrase.

Banyak kasus-kasus pengambil alihan aset investasi asing yang bersengketa diantaranya Cemex Asia Holding yang menggugat pemerinta karena pemerintah dianggap pelanggaran perjanjian jual beli CSPA (Conditional Sales and Purchase agreement) yaitu jual beli yang telah di tandatangani pemerintah

dengan Cemex pada September 1998. Dimana point didalam perjanjian menyatakan bahwa Cemex berhak memiliki saham 51% saham Semen Gresik.

Penyelesaian dari sengketa ini Cemex menjual sahamnya ke PT. Rajawali Group dan mencabut tuntutan kepada pemerintah. Contoh kasus selanjutnya antara Pertamina Vs. Commerz Asia Emerald, Bank Century yang menggugat pemerintah Indonesia, Newmont Vs. pemerintah Indonesia dan lainnya.

Menurut Hikmahanto Juwana116

Alasan terakhir, kasus Bank Century sebaiknya tidak dibawa ke forum peradilan internasional, karena termasuk sengketa hukum yang tidak perlu diselesaikan ICSID. Hikmahanto menduga Rafat mencoba memanfaatkan ICSID,

mengapresiasi putusan International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) yang memenangkan Pemerintah Indonesia terhadap gugatan yang diajukan terpidana kasus korupsi Bank Century, Rafat Ali Rizvi. "Ada tiga alasan mengapa patut diapresiasi”.

Alasan pertama, yakni tidak semua investasi asing dapat diargumentasikan oleh investor untuk diajukan ke forum ICSID. Pasalnya, investor asing cenderung membawa atau mengancam pemerintah Indonesia ke forum ICSID saat pihak asing merasa dirugikan kondisi investasi di Indonesia.

Alasan kedua, pemerintah mampu menyampaikan bukti yang kuat, karena investasi yang dilakukan Rafat tidak termasuk yang dilindungi berdasarkan

"Bilateral Investment Treaty" antara Inggris dengan Indonesia. "Untuk itu, pemerintah Indonesia wajib menyimpan apapun dokumen yang dikemudian hari kemungkinan dapat dijadikan bukti di peradilan internasional,"

116 http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51e8102cdb75f/prof-hikmahanto-apresiasi-putusan-icsid-terkait-century/html, diakses pada tanggal 3 Nopember 2017

agar terbebaskan dari berbagai masalah hukum di Indonesia. Sebelumnya, majelis hakim pengadilan arbitrase ISCID menerima eksepsi pemerintah RI dan menolak permohonan gugatan terpidana kasus korupsi Bank Century, Rafat Ali Rizvi.

Jaksa Agung Basrief Arief mengungkapkan, pengadilan arbiter memenangkan pemerintah Indonesia dengan menerima eksepsi yurisdiksi, karena investasi Rafat tidak dapat izin berdasarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) sebagai ketentuan dari "Bilateral Investment Treaty" (BIT).

Dengan demikian, Rafat tidak dapat menggugat RI di forum arbitrase ICSID terkait penyelamatan Bank Century,"

Berdasarkan gugatannya, Rafat yang menjabat pemegang saham Bank Century, menganggap Pemerintah RI melakukan pelanggaran terhadap ketentuan perjanjian investasi antara Indonesia dan Inggris (BIT) dalam penyelamatan Bank Century. Rafat menuntut Pemerintah RI membayar ganti rugi sebesar USD 75 juta melalui pengadilan arbitrase internasional di Amerika Serikat, 12 Mei 2011. Rafat memiliki dua alasan mengajukan gugatan terhadap pemerintah Indonesia, karena penggugat merasa dirugikan atas pengucuran bailout Bank Century sebesar Rp6,7 triliun dan putusan pidana Pengadilan Jakarta Pusat yang memvonis hukuman 15 tahun penjara secara inabsentia, telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :

1. Kedudukan investor asing dalam hukum di Indonesia, pemerintah haruslah memberikan perlakuan yang sama terhadap investor asing manapun, maupun terhadap investor dalam negeri. Hal tersebut telah dijelaskan dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, yang menyatakan “dalam menetapkan kebijakan dasar, pemerintah memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional”.

Pemerintah tidak membedakan perlakuan terhadap penanam modal yang telah menanamkan modalnya di Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Penyelesaian sengketa investasi telah diatur dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal yaitu dalam Pasal 32 dijelaskan bahwa bila terjadi sengketa antara pemerintah dengan penanaman modal maka para pihak menyelesaikan terlebih dahulu melalui musyawarah dan mufakat.

Jika penyelesaian sengketa tidak tercapai/terpenuhi maka akan diselesaikan melaui arbitrase atau pengadilan sesuai perundang-undangan. Penyelesaian secara arbitrase ini lebih dipilih karena putusannya yang mengikat, sifatnya yang rahasi sehingga lebih sesuai bagi sengketa bisnis. Sehingga secara waktu

104

dan biaya lebih efisien. Penyelesaian perselisihan lebih diutamakan melalui perundingan, bila tidak tercapai diajukan ke arbitrase internasional, baik melalui International Center for Settlement Disoute (ICSID) maupun United Nations Commission on International Trade (UNCITRAL).

3. Pengambil alihan aset investasi asing atau nasionalisasi, dilakukan oleh Presiden melalui undang-undang, atas persetujuan dari DPR, berdasarkan Pasal 7 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal Modal dicantumkan bahwa pemerintah Indonesia tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan penanaman modal, kecuali dengan Undang-undang. Jika pemerintah melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambil alihan, pemerintah akan memberikan kompensasi yang jumlahnya ditetapkan berdasarkan harga pasar. Kemudian jika di antara kedua belah pihak tidak tercapai kesepakatan tentang kompensasi atau ganti rugi maka penyelesaiannya dilakukan melalui arbitrase.

B. SARAN

1. Seharusnya, Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tidak membuka celah bagi investor asing untuk membuka badan usaha dalam bentuk selain perseroan terbatas. Karena hal tersebut merupakan bentuk inkonsistensi dari undang-undang tersebut. Dan apabila terdapat pengecualian terhadap salah satu investor asing walaupun ada pengecualian oleh undang-undang, sebenarnya akan melanggar prinsip non diskriminasi yang ada dalam kegiatan investasi.

2. Sebaiknya, pemerintah membenahi lembaga peradilan yang ada, dan membentuk lembaga peradilan khusus dalam menyelesaikan persengketaan investasi, agar penyelesaian persengketaan investasi melalui jalur litigasi dapat dioptimalkan.

3. Pemerintah bekerjasama dengan DPR harus membentuk undang-undang khusus untuk mengenai tindakan pengambil alihan aset investasi asing atau nasionalisasi.

DAFTAR PUSTAKA 1. Buku;

Adolf, Huala, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Bandung : Sinar, 2004

---, Hukum Perdagangan Internasional, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005

Ali, Achmad, Keterpurukan Hukum di Indonesia Penyebab dan Solusinya. Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002

Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2006

Amriani, Nurnaningsih, Mediasi, Alternatif Penyelesaian Sengketa di Pengadilan, Jakarta : Rajawali Pers, 2012

Fess-Werem, Pengantar Akutansi, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2005 Friedman, Wolfgang, The Changing Structure of International Law ,England :

Oxford, 2001

Ganjong, Pemerintahan Daerah Kajian Politik dan Hukum, Bogor : Ghalia Indonesia, 2007

Himawan, Charles, Hukum Sebagai Panglima, Jakarta :Buku Kompas : Jakarta, 2003

Hulman Panjaitan dan Anner Mangatur Sianipar, Hukum Penanaman Modal Asing, Jakarta : IND HILL CO, 2008

Head, John W., Pengantar Hukum Ekonomi, Jakarta : Proyek Elips, 1997.

I Wayan Irawan dan I Ketut Srtadi, Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan.

Bali : Udayana Press, 2010

I Gede Pantja Astawa dan Suprin Na’a, Memahami Ilmu Negara dan Teori Negara, Bandung : Refika Aditama, 2012

Lubis, T. Mulya, Hukum dan Ekonomi, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1992.

Marwan, Pengantar Ilmu Hukum, Cet. 1., Jakarta : Ghalia Indonesia, 2014

Rakhmatussa’ Dyah. A dan Suratman, Hukum Investasi dan Pasar Modal, Jakarta : Sinar Grafika, 2009

Radjagukguk, Erman, Hukum Investasi di Indonesia, Jakarta : UAI Press, 2004 Salim HS dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, Jakarta : PT. Raja

Grafindo Persada, 2008

Salim HS, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2010

Sa’diah, Ana Rokhmatus, Hukum Investasi dan Pasar Modal, Jakarta : Sinar Grafika, 2009

Siahaan, Sondang. P, Administrasi Pembangunan Konsep Dimensi dan Strategi, Jakarta : Gunung Agung, 1990

Sudargo, Gautama, Arbitrase Luar Negeri dan Pemakaian Hukum Indonesia, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum,Jakarta : UI-Press, 2007 Soemarso S.R. Akutansi : Suatu Pengantar, Jakarta : Gunung Agung, 2005.

Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta : Intermasa, 1994.

Suratman dan Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, Bandung : Alfabeta, 2013

Surya, Raja Adri Satriawan, Akutansi Keuangan, Yogyakarta : Graha Ilmu, 2012 Suparji, Modal Asing di Indonesia Insentif Vs Pembatasan, Jakarta : Universitas

Al-azhar, 2008.

Syarief, Mustofa, Indonesia Antara Akumulasi Krisis dan Tuntutan Reformasi, Jakarta : LP3NI, 1999.

Soemartono, Gatot, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006

Untung , Hendrik Budi, Hukum Investasi, Jakarta : Sinar Grafika, 2010.

Usman, Rachmadi, Hukum Arbitrase Nasional, Jakarta : Grasindo, 2002

2. Majalah, Makalah, Artikel, dan Jurnal Hukum;

Ahmad Yulianto, Jurnal Hukum Bisnis, “Multilateral Invesment Guarantee Agency (MIGA) dalam Kegiatan Investasi”. Vol. 22, No. 5 Tahun 2003 Asmoro, Pudji, Berita, ”Faktor SDM dalam Rangka PMA”, Bussines News No

5568 tanggal 10 Juni 1994

Darwanto dan Achma Hendra Setiawan, Makalah, “Perekonomian Indonesia”, Malang : Universitas Diponegoro, 2011

Darwanto dan Achma Hendra Setiawan, Makalah, “Perekonomian Indonesia”, Malang : Universitas Diponegoro, 2011

Dewi Tuti Muryati dan B. Rini Haryanti, Jurnal, “Pengaturan dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Nonlitigasi di Bidang Perdagangan”. J. Dinamika Sosbud Volume 13 Nomor 1 : USM, 2011

Girsang, Erna S.U, Artikel, “Nasionalisasi Mungkin Dibahas Dalam Undang-undang Investasi”, Harian Bisnis Indonesia, 17 Oktober 2006

Haki, Hayasi, Makalah, “Penyelesaian Sengketa Investasi”, Universitas Indonesia : Jakarta, 2013

Lukas William Andypratama dan Ronny H. Mustamu, Jurnal Agora “Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Pada Perusahaan Keluarga : Studi Deskriptif Pada Distributor Makanan” Vol. 1, No. 1, 2013

Nainggolan, GS., Skripsi, “Perlindungan Hukum Terhadap Investor Dalam Reksa Dana Berbentuk Perseroan”, Unviersitas Sumatera Utara, 2011

Ridwan Khairandy, Jurnal Hukum Bisnis, “Peranan Perusahaan Penanaman Modal Asing Joint Venture dalam Ahli Teknologi di Indonesia”, Vol. 22, No. 5, Tahun 2003

Riyanto, R. Benny, Artikel, “Alternatif Penyelesaian Sengketa”, Universitas Diponegoro : Bandung, 2012.

Rochani Urip dan Rahadi Wasi Bintoro, Jurnal, “Alternatif Penyelesaian Sengketa Transaksi Elektronil (E-CommerceI)”, Fakultas Hukum Universitas Soedirman, Jakarta, 2012.

Rusdianto, makalah, “Teori Kewenangan (Theorie van Bevoegheid), Makalah dibuat untuk memenuhi tugas kuliah di Magister Kenotariatan Universitas Narotama, 2012.

Soon, Hur Young, Tesis, “Perlindungan Investor Asing Dalam Hukum Penanaman Modal di Indonesia (Studi Banding Hukum Penanaman Modal Asing Indonesia dan Korea Selatan)”, Fakultas Hukum Universitas Indonesia : Jakarta, 2012.

Tulus Tambunan, Jurnal Hukum Bisnis “Kendala Perizinan Dalam Kegiatan Penanaman Modal Di Indonesia dan Upaya Perbaikan Yang Perlu di Lakukan Pemerintah”, Vol. 26 No. 4 Tahun 2007.

Yonathan, S., Hadi, Jurnal, “Analisis Vector Autoregression (VAR) terhadap Korelasi antara Pendapatan Nasional dan Investasi Pemerintah di Indonesia, 1983/1984 – 1999/2000”, 2001

Widiyanti, Ikarani Dani, Artikel, “Tinjauan Yuridis Terhadap Penanaman Modal Asing di Indonesia”, Universitas Jember: Jember, 2013.

3. Undang-undang, Peraturan;

Undang-undang Dasar 1945

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal

Undang-Undang No 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

4. Internet;

https://visiuniversal.blogspot.co.id/2015/06/sumber-pendapatan-negara-dan-daerah.html. Diakses pada tanggal 15 September 2016

http://accounting-media.blogspot.co.id/2015/03/pengertian-dan-definisi-aset-liabilas.html?m=1 di akses pada tanggal 20 September 2016

http://sejarah-indonesia-raya.blogspot.co.id/2014/11/sejarah-nasionalisasi-perusahaan.html, Diakses pada tanggal 22 September 2017

http://www.belajarakuntansionline.com/pengertian-aktiva-tidak-berwujud-dan-contohnya/ Diakses pada tanggal 24 September 2016

http://www.academia.edu/19640131/makalah_aset Diakses pada tanggal 25 September 2016

http://sp.beritasatu.com/home/pt-freeport-berikan-rp-34-triliun-ke-pemerintah/17361. Diakses pada tanggal 08 November 2016

http://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt507597-4ac972/mengapa-penanaman-modal-asing-harus-dalam-bentuk--pt, Diakses pada tanggal 23 November 2016

http://www.ceritamanda.com/2016/07/iklim-investasi-di-indonesia.html. Di akses pada Tanggal 30 November 2016

http://m.katadata.co.id/berita/2016/20/pemerintah-akan-bentuk-badan-khusus-sengketa-investasi Diakses Pada Tanggal 1 Desember 2016

Badan Koordinasi Penanaman Modal, Berita, “BKPM Bentuk Badan Mediasi Khusus Sengketa Investasi Asing”, CNN Indonesia, dalam http://www2.bkpm.go,id/id/publikasi/detail/berita-investasi/bkpmbentuk-badan-mediasi-khusus-sengketa-investasi-asing diakses pada Tanggal 1 Desember 2016

http://artidanpengertian.blogspot.co.id2016/02/pengertian-nasionalisasi.html?m=1 diakses pada tanggal 5 Desember 2016

http://asevysobari. co.id/2014/08/makalah-pengambilalihan-perseroan.html, diakses pada tanggal 1 Nopember 2017

https://samuelhasiholan. /2011/03/14/makalah-investasi-dan-penanaman-modal/html, diakses pada tanggal 1 Nopember 2017

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51e8102cdb75f/prof-hikmahanto-apresiasi-putusan-icsid-terkait-century/html, diakses pada tanggal 3 Nopember 2017

Dokumen terkait