• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : KEDUDUKAN ANAK DALAM PERKAWINAN

B. Hak dan Kewajiban orang tua terhadap Anak

79

Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hal. 2

Apabila suatu perkawinan memperoleh keturunan (anak), maka perkawinan tersebut tidak hanya menimbulkan hak dan kewajiban antara suami dan isteri, tetapi juga menimbulkan hak dan kewajiban antara suami isteri yang bersangkutan sebagai orang tua dan anak-anaknya. Hak dan kewajiban orang tua dan anak-anaknya ini dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan diatur pada Pasal 45 s/d Pasal 49.81

Berkenaan dengan kehidupan masyarakat Indonesia, hubungan hukum

antara orang tua dengan anak terlihat secara jelas dalam “alimentatieplicht” yaitu

suatu kewajiban orang tua terhadap anak untuk memberikan penghidupannya sampai si anak memiliki kemampuan untuk mencari nafkah sendiri, misalnya sudah bekerja, bahkan adakalanya anak dibiayai oleh orang tuanya walaupun sudah berumah tangga misalnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal tergantung kepada kondisis orang tua masing-masing anak. sebaliknya adakalanya si anak sudah dibebani kewajiban untuk mencari nafkah hidupnya sejak tamat Sekolah Dasar dan bahkan membantu orang tuanya untuk mengurangi beban kehidupan mereka.

Secara normatif, orang tua memiliki kewajiban hukum sebagai perwujudan tanggung jawab terhadap anaknya untuk membiayai kehidupan sandang, pangan, dan pendidikan selama anak-anak tersebut masih belum dewasa. Kewajiban normatif tersebut bersifat hukum memaksa artinya tidak boleh kewajiban orang tua terhadap anaknya dilepaskan dengan membuat perjanjian untuk itu.

Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan telah

meletakkan kewajiban orang tua terhadap anak adalah: a. Kedua orang tua wajib memelihara anak; b. Kedua orang tua wajib mendidik anak; c. Kedua orang tua wajib memberi nafkah;

d. Kedua orang tua wajib menyediakan tempat tinggal;

e. Kedua orang tua mewakili kepentingan hukum si anak sampai anak tersebut dewasa.82

Kewajiban orang tua tersebut akan berakhir jika anak tersebut berumah tangga, atau anak sudah mandiri. Kekuasaan orang tua perlu diberikan terhadap anak-anak, yaitu kewajiban mendidik dan memelihara anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya. Jadi kekuasaan itu tidak diberikan untuk kepentingan orang tua sendiri, melainkan untuk kepentingan si anak. Untuk kepentingan itu kepada

orang tua diberikan hak untuk “menghukum” dan “mengkoreksi” terhadap anak -anak mereka, jika -anak-anak berkelakuan tidak baik. Hak itu dapat dikatakan “hak koreksi” dan “hak disipliner”, yaitu hak untuk mengkoreksi kelakuan anak yang tidak baik.83

Anak harus tunduk dan patuh kepada orang tuanya dan anak-anak harus disiplin. Jika kelakuan anak tidak baik, maka orang tuanya berhak memberikan hukuman atau memberikan koreksi. Hukuman dapat berupa fisik misalnya dengan memukul asal bukan bersifat penganiayaan. Undang-nndang tidak menentukan batas-batas kekuasaan orang tua, apakah yang boleh dan apakah yang dilarang.

Sebaliknya anak tidak hanya mempunyai hak terhadap orang tuanya, tetapi

juga mempunyai kewajiban. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah meletakkan kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah:

1) Anak wajib menghormati orang tua; 2) Anak wajib mentaati kehendak orang tua;

3) Anak wajib mememlihara dan memberikan bantuan kepada orang tuanya jika anak sudah dewasa menurut kemampuannya.84

Sesungguhnya kewajiban anak menghormati orang tua dan mentaati kehendaknya bersifat universal, barangkali tidak ada suatu bangsa yang tidak menghendaki demikian. Tetapi sebaliknya orang tua harus memberikan contoh teladan yang baik dengan cara yang bijaksana dan tidak bersifat paksaan. Jika orang tua taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan taat beribadah, tentunya anak wajib hormat dan mentaatinya, tetapi jika orang tua penjudi, pemabuk dan penuh maksiat, tidak wajib anak mentaatinya.85

C. Perlindungan Terhadap Hak-Hak Anak

Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak merupakan tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara di masa depan. Ketentuan Pasal 28B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia menyebutkan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

84

Tan Kamello dan Syarifah Lisa Andriati, Op.Cit., hal. 65

85

Perlindungan hak-hak anak diatur dalam sejumlah undang-undang yang terkait yaitu Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak serta Instruksi Presiden Nomor 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.86

Hak-hak anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen kedua

disebutkan “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan

berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Hak

anak dalam perspektif hukum memiliki aspek yang universal terhadap kepentingan anak. Meletakkan hak anak dalam pandangan hukum, memberikan gambaran bahwa tujuan dasar kehidupan manusia adalah membangun umat manusia yang memegang teguh ajaran agama. Dengan demikian, hak anak dalam pandangan hukum meliputi aspek hukum dalam lingkungan hidup seseorang.

Pada tindakan lain Maulana Hasan Wadong mengatakan “seorang umat Islam

harus taat dalam menegakkan hak-hak anak dengan berpegang pada hukum

nasional yang positif”.87

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah disebutkan bahwa hukum pengasuhan anak secara tegas yang merupakan rangkaian dari hukum perkawinan di Indonesia, akan tetapi hukum pengasuhan

86

https://www.researchgate.net/publication/42348871 Kajian Yuridis Terhadap Perlindungan Hak Hak Anak Dan Penerapannya Penelitian Di Kota Binjai Kota Medan Dan Kabupaten Deli Serdang, di akses pada tanggal 24 Mei 2016, Pukul 13.30 WIB

anak itu belum diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 secara luas dan rinci. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 45 sampai dengan Pasal 49 dijelaskan bahwa orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya yang belum mencapai umur 18 tahun dengan cara yang baik sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri. Kewajiban ini berlaku terus meskipun perkawinan antara orang tua si anak putus karena perceraian atau kematian.88

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dalam Bab III Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar Manusia pada Bagian Kesepuluh mengatur mengenai hak anak. Bagian yang mempunyai judul Hak Anak ini memberikan ketentuan pengaturan yang dituangkan ke dalam 15 (lima belas) pasal, dimana dalam Pasal 52 ayat (2) disebutkan bahwa hak anak adalah hak asasi manusia dan untuk kepentingannya hak anak itu diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungan.

Pasal 1 angka 5 Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia memberikan batasan pengertian mengenai anak yaitu setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. Batasan pengertian mengenai anak yang terdapat dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia tersebut mempunyai makna yang sama dengan batasan pengertian yang terdapat dalam Pasal 1 angka 1 Undang_Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang

88

http://journal.uin-suka.ac.id/media/artikel/ASY134702-Imam%20Jauhari.pdf di akses pada tanggal 1 Mei 2016, Pukul 11.00 WIB

belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.89

Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan pada setiap warga negaranya salah satunya adalah dengan memberikan perlindungan terhadap hak anak yang merupakan salah satu dari hak asasi manusia. Pemerintah Indonesia dalam usahanya untuk menjamin dan mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak adalah melalui pembentukan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindunagn Anak menentukan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Perlindungan anak juga dapat diartikan sebagai segala upaya yang ditunjukkan untuk mencegah, rehabilitasi dan memberdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran, agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang secara wajar, baik fisik, mental maupun sosialnya. Perlindungan anak adalah suatu usaha melindungi anak agar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya.90

Pasal 3 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar

89

http://www.kumham-jogja.info/karya-ilmiah/37-karya-ilmiah-lainnya/801-perlindungan-atas-hak-anak-dalam-undang-undang-nomor-23-tahun-2002 di akses pada tanggal 24 Mei 2016, Pukul 13.30 WIB

90

Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dan Perempuan, Rafika Aditama, Cet- Ke 2, Jakarta, 20013, hal. 70

dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

Hak anak dalam Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia diatur dalam ketentuan Pasal 52 sampai dengan Pasal 66 yang antara lain meliputi hak :

a. Atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat, dan negara; b. Sejak dalam kandungan untuk hidup, mempertahankan hidup, dan

meningkatkan taraf kehidupannya;

c. Sejak kelahirannya atas suatu nama dan status kewarganegaraannya; d. Untuk anak yang cacat fisik dan/atau mental untuk memperoleh

perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara. e. Untuk anak yang cacat fisik dan/atau mental untuk terjamin kehidupannya

sesuai dengan martabat kemanusiaan, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;

f. Untuk beribadah menurut agamanya, berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan biaya di bawah bimbingan orang tua dan/atau wali;

g. Untuk mengetahui siapa orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri;

h. Untuk dibesarkan, dipelihara, dirawat, dididik, diarahkan, dan dibimbing kehidupannya oleh orang tua atau walinya sampai dewasa;

fisik atau mental, penelantaran, perlakuan buruk, dan pelecehan seksual selama dalam pengasuhan orang tua atau walinya, atau pihak lain manapun yang bertanggungjawab atas pengasuhan anak tersebut;

j. Untuk tidak dipisahkan dari orang tuanya secara bertentangan dengan kehendak anak sendiri kecuali jika ada alasan dan aturan hukum yang sah yang menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak;

k. Untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya;

l. Untuk beristirahat, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri;

m. Untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya;

n. Untuk tidak dilibatkan di dalam peristiwa peperangan, sengketa bersenjata, kerusuhan social dan peristiwa lain yang mengandung unsur kekerasan; o. Untuk mendapat perlindungan dari kegiatan eksploitasi ekonomi dan

setiap pekerjaan yang membahayakan dirinya sehingga dapat mengganggu pendidikan, kesehatan fisik, moral, kehidupan sosial dan mental spiritualnya;

p. Untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan eksploitasi dan pelecehan seksual, penculikan, perdagangan anak serta berbagai bentuk penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya;

q. Untuk tidak dijadikan sasaran penganiayaan, penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi; dan

r. Untuk tidak dirampas kebebasannya secara melawan hukum.

Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia tidak mencantumkan ketentuan mengenai kewajiban anak secara terperinci. Ketentuan mengenai kewajiban yang terdapat dalam undang-undang tersebut adalah kewajiban dasar manusia secara menyeluruh. 91

Bab III Undang-Undang tentang Perlindungan Anak mengatur mengenai hak dan kewajiban anak. Hak anak diatur dalam ketentuan Pasal 4 sampai dengan Pasal 18 sedangkan kewajiban anak dicantumkan pada Pasal 19. Hak anak yang tercantum dalam Undang-Undang tentang Perlindungan Anak tersebut antara lain meliputi hak :

1. Untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi;

2. Atas suatu nama sebagai identitas dan status kewarganegaraan;

3. Untuk beribadah menurut agamanya, berpikir dan berkreasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan orang tua;

4. Untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri;

5. Memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial;

91

http://www.kumham-jogja.info/karya-ilmiah/37-karya-ilmiah-lainnya/801-perlindungan-atas-hak-anak-dalam-undang-undang-nomor-23-tahun-2002 di akses pada tanggal 24 Mei 2016, Pukul 13.30 WIB

6. Memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya; 7. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari

kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

8. Memperoleh pendidikan luar biasa, rehabilitasi, bantuan sosial dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial bagi anak yang menyandang cacat; 9. Memperoleh pendidikan khusus bagi anak yang memiliki keunggulan; 10.Menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari dan

memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan; 11.Untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak

yang sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri;

12.Mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi (baik ekonomi maupun seksual), penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan serta perlakuan salah lainnya;

13.Untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir; 14.Memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan atau

penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi; 15.Memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum;

dipisahkan dari orang dewasa, memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku, serta membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum, bagi setiap anak yang dirampas kebebasannya;

17.Untuk dirahasiakan, bagi setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum; dan

18.Mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya, bagi setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana.

Pasal-pasal yang memuat ketentuan mengenai hak anak dalam Undang-Undang tentang Perlindungan Anak mempunyai banyak kesamaan dengan ketentuan hak anak dalam Undang tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang tentang Perlindungan Anak juga mengatur mengenai kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap anak. Ketentuan Pasal 19 menyebutkan bahwa setiap anak berkewajiban untuk a) menghormati orang tua; b) mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman; c) mencintai tanah air, bangsa, dan negara; d) menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan e) melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.

Perlindungan anak sebagaimana batasan pengertian yang tercantum dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak dapat terwujud apabila mendapatkan dukungan dan tanggungjawab dari berbagai pihak. Dukungan yang dibutuhkan guna mewujudkan perlindungan atas hak anak di Indonesia diatur dalam ketentuan Bab IV Undang-Undang tentang Perlindungan Anak. Pasal 20 undang-undang tersebut menyebutkan bahwa negara, pemerintah,

pemerintah daerah, masyarakat, keluarga, dan orang tua atau wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

Negara dan Pemerintah Republik Indonesia mempunyai kewajiban dan tanggungjawab untuk menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau mental. Negara dan pemerintah juga berkewajiban serta bertanggungjawab untuk memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Pengaturan mengenai kewajiban dan tanggungjawab negara, pemerintah dan pemerintah daerah tercantum dalam ketentuan Pasal 21 dan Pasal 22 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak.

Pasal 23 dan Pasal 24 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak mengatur mengenai jaminan Negara, pemerintah dan pemerintah daerah atas penyelenggaraan perlindungan anak. negara, pemerintah, dan pemerintah daerah menjamin perlindungan, pemeliharaan dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secara hukum bertanggungjawab terhadap anak. Negara dan pemerintah juga menjamin anak untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak. Jaminan yang diberikan oleh negara dan pemerintah tersebut diikuti pula dengan pengawasan dalam penyelenggaraan perlindungan anak.

Kewajiban dan tanggungjawab masyarakat atas perlindungan anak sebagaimana diatur dalam Pasal 25. Kewajiban dan tanggungjawab masyarakat terhadap perlindungan anak dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat

dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Ketentuan Pasal 72 ayat (2) Undang-Undang tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa peran masyarakat dilakukan oleh orang perseorangan, lembaga perlindungan anak, lembaga kesejahteraan sosial, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, media massa dan dunia usaha.

Pasal 26 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak mengatur mengenai kewajiban dan tanggung jawab orang tua dan keluarga. Orang tua berkewajiban dan bertanggungjawab untuk a) mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak; b) menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan anak, bakat dan minatnya; c) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak; dan d) memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak. Apabila orang tua tidak ada, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, atau tidak diketahui keberadaannya, maka kewajiban dan tanggungjawab orang tua atas anak dapat beralih kepada keluarga yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penyelenggaraan perlindungan terhadap anak diatur dalam Bab IX Undang-Undang tentang Perlindungan Anak. Perlindungan terhadap anak diselenggarakan dalam bidang agama, kesehatan, pendidikan, sosial, serta perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat.

PEMALSUAN IDENTITAS DAN KAITANNNYA DENGAN KEDUDUKAN ANAK MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN (STUDI PADA PENGADILAN AGAMA

MEDAN KELAS 1-A)

Kasus Posisi

Penulis telah melakukan penelitian mengenai pembatalan perkawinan dan akibat hukumnya di Pengadilan Agama Medan Kelas I-A. Penulis meneliti perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama Tanjungpinang, yaitu perkara Nomor : 767/Pdt.G/2013/PA.TPI tentang pembatalan perkawinan karena adanya pemalsuan identitas. Penulis melakukan penelitian di Pengadilan Agama Medan Kelas I-A tentang perkara Nomor : 767/Pdt.G/2013/PA.TPI yang dilaksanakan di Pengadilan Agama Tanjung pinang untuk mengetahui bagaimana pendapat hakim mengenai akibat pembatalan perkawinan karena adanya pemalsuan identitas dan kaitannya dengan kedudukan anak. Berdasarkan perkara Nomor: 767/Pdt.G/2013/PA.TPI kasus posisinya sebagai berikut:

Nomor Perkara: 767/Pdt.G/2013/PA.TPI

Pemohon : SAID KAMALUDDIN bin SAID IDRIS, umur 33 tahun, agama Islam, pekerjaan PNS ( Penghulu KUA Kecamatan Bukit Bestari), tempat tinggal di Jalan Perum. Bukit Indah Lestari, Blok D, RT.003/RW.014 No.11, Kelurahan Batu IX, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang

Termohon I : YON HENDRI bin ALI ANAS, umur 30 tahun, agama Islam, pekerjaan Wiraswasta, tempat tinggal di Jalan Sungai Jang, RT.003/RW.003, Kelurahan Sungai Jang, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang.

Termohon II : SULASMI binti WAKINO, umur 29 tahun, agama Islam, pekerjaan Wiraswasta, tempat tinggal di Jalan Sungai Jang, RT.003/RW.003, Kelurahan Sungai Jang, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang.

Duduk perkara:

Menimbang, bahwa Pemohon dengan surat permohonannya tertanggal 18 Desember 2013, yang telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Agama anjungpinang pada hari itu juga dengan Nomor Register: 767/Pdt.G/2013/PA.TPI, dengan dalil-dalil yang pada pokoknya sebagai berikut :

1. Bahwa pada tanggal 18 Juli 2013, Termohon I dan Termohon II melangsungkan pernikahan yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang (Kutipan Akta Nikah Nomor: 267/18/VII/2013 tanggal 18 Juli 2013); 2. Bahwa setelah pernikahan tersebut Termohon I dan Termohon II

bertempat tinggal di rumah kontrakan sampai sekarang, selama pernikahan tersebut Termohon I dengan Termohon II telah hidup rukun sebagaimana layaknya suami isteri dan dikaruniai seorang anak yang bernama: OLIFIA SALSABILA binti YON HENDRI, umur 3 bulan;

3. Bahwa kemudian ditengah rumah tangga Termohon I dengan Termohon II ada seorang laki-laki yang bernama TEGUH SLAMET RIYANTO bin

ANWAR, umur 37 tahun, pekerjaan Wiraswasta, tempat kediaman di Jalan Gatot Subroto, RT.002/RW.001, Kelurahan Kp. Bulang, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, yang mana yang bersangkutan datang ke Kantor KUA Bukit Bestari atas permintaan Termohon I dan Termohon II untuk merubah status Termohon II dari Perawan menjadi Janda, dengan melampirkan Akta Cerai dari Pengadilan Agama Tanjungpinang No. 0358/AC/2013/PA.TPI, dan atas dasar

Dokumen terkait