BAB III PENYELENGGARAAN PENGANGKUTAN DARAT DAN
C. Hak Dan Kewajiban Para Pihak Dalam Perjanjian
Dalam Perjanjian pengangkutan darat terdapat para pihak dan dari para pihak tersebut yang mengikatkan diri maka timbullah hak dan kewajiban antar pihak dalam perjanjian pengangkutan darat.Hak dan kewajiban menjadi pendukung dalam subjek hukum. Menurut HMN Purwosujtipto, Kewajiban-Kewajiban dari
pihak pengangkut adalah :28
1. Meyediakan alat pengangkut yang akan digunakan untuk
menyelenggarakan pengangkut.
2. Menjaga keselamatan orang (penumpang) dan/atau barang yang
diangkutnya.dengan demikian maka sejak pengangkut menguasai orang (penumpang) dan/atau barang yang akan diangkut, maka sejak saat itulah pihak pengangkut mulai bertanggung jawab (pasal 1235 KUHperdata).
3. Kewajiban yang disebutkan dalam pasal 470 KUHD yang meliputi:
a. Mengusahakan pemeliharaan, perlengkapan atau peranakbuahan alat
pengangkutnya;
b. Mengusahakan pengangkutan alat pengangkut itu untuk dipakai
menyelenggarakan pengangkutan menurut persetujuan;
c. Memperlakukan dengan baik dan melakukan penjagaan atas muatan
yang diangkut.
28
4. Menyerahkan muatan ditempat tujuan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian.
Dalam UU no. 22 Tahun 2009 terdapat beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh perusahaan penyedia angkutan umum yaitu :
1. Menyerahkan tiket penumpang (pasal 167 UU No. 22 Tahun 2009);
2. Menyerahkan tanda bukti pembayaran pengangkut untuk angkutan tidak
dalam trayek (pasal 167 UU no. 22 tahun 2009);
3. Menyerahkan tanda pengenal bagasu kepada penumpang
4. Menyerhakan manifest kepada pengemudi penumpang
5. Perusahaan angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang
setelah disepakati perjajian angkutan dan/atau pengirim barang (pasal 186 UU no. 22 Tahun 2009)
6. Perusahaan angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang
telah dibayar oleh penumpang dan/ atau pengirim barang jika terjadi pembatalan pemberangkatan(pasal 187 UU no. 22 Tahun 2009)
7. Perusahaan angkutan umum wajib mengganti kerugian yang diderita oleh
penumpang atau pengirim barang karena lalai dalam melaksanakan pelayanan angkutan (pasal 188 UU No. 22 Tahun 2009);
8. Perusahaan angkutan umum wajib mengasuransikan tanggung jawabnya (
pasal 189 UU no. 22 Tahun 2009 ).
Di samping kewajiban yang dibebankan kepada pengangkut (perusahaan penyedia angkutan) oleh undang-undang, terdapat juga hak-hak yang diberikan kepada pengangkut. Hak-hak yang dimiliki oleh pihak pengangkut, antara lain;
41
2. Pemberitahuan dari pengirim mengenai sifat, macam dan harga barang
yang akan diangkut, seperti yang disebutkan dalam pasal 469,470 ayat (2), 479 ayat (1) KUHD.
3. Penyerahan surat-surat yang diperlukan dalam rangka mengangkut barang
yang diserahkan oleh pengirim kepada pengangkut berdasarkan pasal 478 ayat (1) KUHD.
Selain kewajiban-kewajiban yang telah disebutkan di atas, pada UU No. 22 Tahun 2009 juga terdapat beberapa hak-hak dari pihak pengangkut, yaitu :
1. Perusahaan angkutan umum berhak untuk menahan barang yang diangkut
jika pengirim atau penerima tidak memenuhi kewajiban dalam batas waktu yang ditetapkan sesuai dengan perjanjian angkutan (pasal 195 ayat (1).
2. Perusahaan angkutan umum berhak memungut biaya tambahan atas
barang yang disimpan dan tidak diambil sesuai dengan kesepakatan (pasal 195 ayat (2).
3. Perusahaan angkutan umum berhak menjual barang yang diangkut secara
lelang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan jika pengirim atau penerima tidak memnuhi kewajiban (pasal 195 ayat (3).
4. Jika barang angkutan tidak diambil oleh pengirim atau penerima sesuai
dengan batas waktu yang tekag disepakati, perusahaan angkutan umum berhak memusnahkan barang yang sifatnya berbahaya atau mengganggu dalam penyimpanannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan (pasal 196).
Adapun juga kewajiban dari pengemudi kendaraan bermotor umum menurut Pasal 124 ayat (1) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan jalan yaitu :
1. Mengangkut penumpang yang membayar sesuai dengan tariff yang telah
ditetapkan;
2. Memindahkan penumpang dalam perjalanan ke kendaraan lain yang
sejenis dalam trayek yang sama tanpa dipungut biaya tambahan jika kendaraan mogok, rusak, kecelakaan, atau atas perintah petugas;
3. Menggunakan lajur jalan yang telah ditentukan atau menggunakan lajur
paling kiri, kecuali saat akan mendahului atau mengubah arah;
4. Memberhentikan kendaraan selama menaikkan dan/atau menurunkan
penumpang;
5. Menutup pintu selama kendaraan berjalan dan
6. Mematuhi batas kecepatan paling tinggi untuk angkutan umum.
Sedangkan hak dari pengemudi kendaraan bermotor mendapatkan upah dari perusahaan angkutan sesuai dengan perjanjian pengangkutan darat, mengenai hak pengemudi kendaraan bermotor tidak dijelaskan pada UU no. 22 Tahun 2009.
Selanjutnya Pihak penumpang turut dikenakan kewajiban dan haknya dalam perjanjian pengangkutan dimana yang menjadi kewajiban utamanya adalah membayar biaya pengangkutan.setelah membayar biaya pengangkutan kepada pihak pengangkut maka secara otomatis pihak penumpang mempunyai hak atas
pelayanan pengangkutan dari pihak pengangkut.29
29
43
BAB IV
PENYELENGGARAAN PENGANGKUTAN DARAT DENGAN KENDARAAN BERMOTOR PRIBADI (MOBIL PLAT HITAM) MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG
LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN
A. Peraturan Yang Digunakan Untuk Mengatur Kendaraan Bermotor Pribadi (Mobil Plat Hitam) Sebagai Angkutan Umum
Telah kita ketahui bersama di lapangan, bahwa kendaraan bermotor pribadi sangat banyak digunakan sebagai angkutan umum.Hal tersebut sudah dilakukan oleh pemilik kendaraan bermotor pribadi sehari-hari dan lebih parah lagi dijadikan sebagai mata pencaharian. Pemilik kendaraan bermotor pribadi tersebut mengetahui bahwa tindakan itu sebenarnya telah melanggar hukum khususnya terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang lalu lintas dan Angkutan jalan.
Kendaraan bermotor (mobil Plat Hitam) yang digunakan sebagai angkutan umum sebelumnya harus memenuhi persyaratan Undang-Undang lalu lintas dan jalan umum (UULLAJ) terlebih dahulu. Hal tersebut perlu dilakukan mengingat jaminan pelayanan kualitas angkutan umum harus diutamakan. Persyaratan- persyaratan tersebut meliputi izin usaha, trayek, dan operasi angkutan umum, kelaikan jalan mobil yang digunakan sebagai angkutan umum, asuransi kendaraan angkutan umum, serta ketentuan mobil yang harus dipenuhi sebagai angkutan umum menurut UULLAJ. Adapun izin usaha angkutan umum yang
menyelenggarakan angkutan orang diatur dalam Pasal 173 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 selanjutnya disebut (UULLAJ) yang berbunyi antara lain : Pasal 173 UULLAJ
1. Perusahaan angkutan umum yang menyelenggarakan angkutan orang
dan/atau barang wajib memiliki :
a. Izin penyelenggaraan angkutan orang dalam trayek;
b. Izin penyelenggaraan angkutan orang tidak dalam trayek; dan/atau
c. Izin penyelenggaraan angkutan barang khusus atau alat berat.
2. Kewajiban memiliki izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku untuk:
a. Pengangkutan orang sakit dengan menggunakan ambulans; atau
b. Pengangkutan jenazah.
Syarat wajib perolehan ijin usaha angkutan umum lebih khusus di atur dalam Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 Tentang Angkutan Jalan mengenai persyaratan yang wajib dipenuhi yaitu :
a. Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP)
b. Memiliki akte pendirian perusahaan bagi pemohon yang berbentuk
badan usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (2) huruf a dan huruf b, akte pendirian koperasi bagi pemohon sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) huruf c dan tanda jati diri bagi pemohon sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) huruf d;
c. Memiliki surat keterangan domisili perusahaan;
45
e. Pernyataan kesanggupan untuk memiliki atau menguasai kendaraan
bermotor;
f. Pernyataan kesanggupan untuk menyediakan fasilitas penyimpanan
kendaraan bermotor.
Untuk izin penyelenggaraan angkutan orang dalam trayek diatur dalam pasal - pasal berikut ini :
Pasal 174 UULAJ
1. Izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 173 ayat (1) berupa dokumen
kontrak dan/atau kartu elektronik yang terdiri atas surat keputusan, surat pernyataan, dan kartu pengawasan.
2. Pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui
seleksi atau pelelangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
3. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa izin pada 1(satu)
trayek atau pada beberapa trayek dalam satu kawasan.
Syarat wajib lainnya untuk memperoleh ijin trayek angkutan umum tertuang dalam pasal 27 perauran pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 yaitu :
1. Untuk memperoleh ijin trayek sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat
(2) wajib memenuhi persyaratan :
a. Memiliki ijin usaha angkutan;
b. Memiliki atau menguasai kendaraan bermotor yang laik jalan;
c. Memiliki atau menguasai fasilitas penyimpanan kendaraan bermotor;
2. Untuk kepentingan tertentu kepada perusahaan angkutan dapat diberikan ijin untuk menggunakan kendaraan bermotor cadangannya menyimpang dari ijin trayek yang dimiliki.
Pasal 175 UULLAJ
1. Izin penyenggaraan angkutan umum berlaku untuk jangka waktu tertentu
2. Perpanjangan izin harus melalui proses seleksi atau pelelangan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 174 ayat (2).
Pasal 176 UULLAJ
Izin penyelenggaraan angkutan orang dalam trayek sebagaimana dimaksud dalam pasal 173 ayat (1) huruf a diberikan oleh :
a. Menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas
dan angkutan jalan untuk penyelenggaraan angkutan orang yang melayani:
1. Trayek lintas batas Negara sesuai dengan perjanjian antar Negara;
2. Trayek antar kabupaten kota yang melampui wilayah 1(satu) provinsi;
3. Trayek angkutan perkotaan yang melampaui wilayah 1 (satu) provinsi;
dan
4. Trayek perdesaan yang melewati wilayah 1 (satu) provinsi
b. Gubernur untuk penyelenggaraan angkutan orang yang melayani:
1. Trayek antar kota yang melampaui wilayah 1 (satu) kabupaten/kota
dalam 1 (satu) provinsi;
2. Trayek angkutan perkotaan yang melampaui wilayah 1(satu)
kabupaten/kota dalam satu provinsi; dan
3. Trayek perdesaan yang melampui wilayah 1 (satu) kabupaten dalam
47
c. Gubernur daerah khusus ibukota Jakarta untuk penyelenggaraan angkutan
orang yang melayani trayek yang seluruhnya berada dalam wilayah provinsi daerah khusus ibu kota Jakarta.
d. Bupati untuk penyelenggaraan angkutan orang yang melayani:
1. Trayek perdesaaan yang berada dalam satu wilayah kabupaten;
2. Trayek perkotaan yang berada dalam satu wilayah kabupaten.
e. Walikota untuk penyelenggaraan angkutan orang yang melayani trayek
perkotaan yang berada dalam satu wilayah kota.
Pasal 177 UULLAJ
Pemegang izin penyelenggaraan angkutan orang dalam trayek wajib:
a. Melaksanakan ketentuan yang ditetapkan dalam izin yang diberikan; dan
b. Mengoperasikan kendaraan bermotor umum sesuai dengan standar
pelayanan minimal sebagaimana dimaksud dalam pasal 141 ayat (1).
Lebih khusus mengenai permohonan ijin trayek angkutan umum diatur dalam pasal 30 peraturan pemerintah nomor 41 tahun 1993 yaitu :
1. Permohonan ijin trayek sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat (2)
diajukan kepada menteri.
2. Persetujuan atau penolakan ijin trayek diberikan dalam jangka waktu 14
(empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
3. Penolakan permohonan ijin trayek sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
diberikan secara tertulis disertai dengan alasan penolakan.
Sedangkan untuk perizinanan penyelenggaraan angkutan orang diatur dalam pasal 179 UULLAJ yang antara lain berbunyi :
Pasal 179 UULLAJ
1. Izin penyelenggaraan angkutan orang tidak dalam trayek sebagaimana
dimaksud dalam pasal 173 ayat (1) huruf b diberikan oleh :
a. Menteri yang bertanggung jawan di bidang sarana dan prasarana lalu
lintas dan angkutan jalan untuk angkutan orang yang melayani :
a.1. angkutan taksi yang wilayah operasinya melampui satu daerah provinsi ;
a.2. angkutan dengan tujuan tertentu atau a.3. angkutan pariwisata.
b. Gubernur untuk angkutan taksi yang wilayah operasinya melampui lebih dari satu daerah kabupaten/kota dalam satu provinsi;
c. Gubernur daerah khusus ibu kota Jakarta untuk angkutan taksi dan angkutan kawasan tertentu yang wilayah operasinya berada dalam wilayah provinsi daerah khusus ibukota Jakarta dan
d. bupati/walikota untuk taksi dan angkutan kawasan tertentu yang wilayah operasinya berada dalam wilayah kabupaten/kota.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan.
Izin penyelenggaraan angkutan untuk barang diatur dalam pasal 180 UULAJ yang isinya antara lain :
49
Pasal 180
1. Izin penyelenggaraan angkutan barang khusus sebagaimana dimaksud
dalam pasal 173 ayat (1) huruf c diberikan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang saraba dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan dengan rekomendasi dari instansi terkait.
2. Izin penyelenggaraan angkutan alat berat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 173 ayat (1) huruf c diberikan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan pemberian izin
penyelenggaraan angkutan barang khusus dan alat berat diatur dengan peraturan menterti yang bertanggung jawab di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan.
Khusus bagi angkutan umum untuk keperluan wisata termasuk carter dan sewa, juga harus memiliki perizinan. Mobil yang dipergunakan tetap berplat hitam bukan kuning seperti angkutan umum lain akan tetapi menggunakan tanda atau kode khusus pada plat nomornya dan ijinnya diatur sendiri oleh Dinas lalu lintas dan angkutan jalan raya (DLLAJR). Hal tersebut diatur dalam pasal 154 UULLAJ Yakni :
1. Angkutan orang untuk keperluan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam
pasal 151 huruf c harus digunakan untuk pelayanan angkutan wisata.
2. Penyelenggaraan dimaksud pada ayat (1) harus menggunakan mobil
3. Angkutan orang untuk keperluan pariwisata tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor umum dalam trayek, kecuali di daerah yang belum tersedia angkutan khusus untuk pariwisata.
Mobil yang digunakan sebagai angkutan umum harus memiliki ijin operasi angkutan karena sudah diatur dalam pasal 35 peraturan pemerintah nomor 41 Tahun 1993 yaitu :
1. Untuk melakukan kegiatan pengangkutan dengan kendaraan umum tidak
dalam trayek sebagaimana dimaskud dalam pasal 9, wajib memiliki ijin operasi angkutan.
2. Ijin operasi angkutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan
menteri.
Perolehan ijin operasional angkutan umum diatur dalam pasal 36 peraturan pemerintah nomor 41 tahun 1993 dengan persyaratan sebagai berikut :
a. Memiliki ijin usaha angkutan;
b. Memiliki atau menguasai fasilitas penyimpanan kendaraan bermotor;
c. Memiliki atau menguasai fasilitas perawatan kendaraan bermotor.
Permohonan ijin operasi angkutan umum diatur dalam pasal 38 peraturan pemerintah nomor 41 tahun 1993 yaitu :
1. Permohonan ijin operasi angkutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 35
ayat (1) diajukan kepada menteri.
2. Persetujuan permohonan penolakan ijin operasi dalam jangka waktu 14
51
3. Penolakan ijin operasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan
secara tertulis disertai dengan alasan penolakan.
Mobil yang akan dipergunakan sebagai angkutan umum sebelumnya harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan peruntukannya sebagai angkutan umum yang memadai. Tujuannya untuk memenuhi keselamatan dan kenyamanan penumpang beserta awak angkutan umum sendiri mengingat keselamatan keduanya harus diutamakan. Hal ini sesuai dengan bunyi dari pasal 48 UULLAJ ayat 1 sampai 3 yang berbunyi :
Pasal 148
1. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus memenuhi
persyaratan teknis dan laik jalan.
2. Persyaratan teknis sebagaimana dimaskud pada ayat (1) terdiri atas :
a. Susunan
b. Perlengkapan
c. Ukuran
d. Karoseri
e. Rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukkannya
f. Pemutaran
g. Penggunaan
h. Penggandengan kendaraan bermotor dan atau
i. Penempelan kendaraan bermotor.
3. Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan
oleh kinerja minimal kendaraan bermotor yang diukur sekurang- kurangnya terdiri atas :
a. Emisi gas buang
b. Kebisingan suara
c. Efisiensi sistem rem utama
d. Efisiensi sistem rem parker
e. Kincup roda depan
f. Suara klakson
g. Daya pancar dan arah sinar lampu utama
h. Radius putar
i. Akurasi alat penunjuk kecepatan
j. Kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban dan
k. Ksesuaian daya mesin penggerak terhadap beray kendaraan.
Sedangkan mengenai kenyamanan dan keamanan penumpang dalam mempergunakan fasilitas angkutan dapat ditegaskan pada pasal 34 UULAJ, yang menyatakan bahwa “ pengangkuan orang dengan kendaraan bermotor wajib menggunakan kendaraan bermotor untuk penumpang.”
Pasal 137
1. Angkutan orang dan/atau barang dapat menggunakan kendaraan bermotor
kendaraan tidak bermotor.
2. Angkutan orang yang menggunakan kendaraan bermotor berupa sepeda
motor, mobil penumpang, atau bus.
3. Angkutan barang dengan kendaraan bermotor wajib menggunakan mobil
barang.
53
a. Rasio kendaraan bermotor untuk angkutan orang, kondisi geografis,
dan prasarana jalan di provinsi/kabupaten/kota belum memadai;
b. Untuk pengerahan atau pelatihan tentara nasional Indonesia dan/atau
kepolisian Negara republik Indonesia; atau
c. Kepentingan lain berdasarkan pertimbangan kepolisian Negara
republic Indonesia dan/atau pemerintah daerah.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai mobil barang yang digunakan untuk
angkutan orang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan peraturan pemerintah.
Begitu juga asuransi harus dipenuhi sebagai penunjang persyaratan keselamatan, khususnya bagi penumpang umum dan awak angkutan seain persyaratan teknis dan laik jalan bagi kendaraan bermotor khususnya mobil yang akan dijadikan sebagai angkutan umum. Dalam pasal 237 UULLAJ yang mengatur asuransi yaitu :
Pasal 237
1. Perusahaan angkutan umum wajib mengatasi program asuransi kecelakaan
sebagai wujud tanggung jawabnya atas jaminan asuransi bagi korban kecelakaan.
2. Perusahaan angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang
dipekerjakan sebagai awak kendaraan.
Menurut penjelesan pasal 237 UULLAJ disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “awak kendaraan” adalah pengemudi,pengemudi cadangan, kondektur,dan pembantu pengemudi. Ketentuan-ketentuan mengenai mobil yang harus dipenuhi sebagai angkutan umum adalah mobil tersebut harus sah didaftarkan dan
lulus uji dari Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) untuk beroperasi dijalan. Mengenai pengujian kendaraan bermotor diatur dalam pasal 49 UULLAJ yaitu :
Pasal 49
1. Kendaraan bermotor, keretea gandengan, dan kereta tempelan yang
diimpor, dibuat dan atau dirakit di dalam negeri yang akan dioperasikan di jalan wajib dillakukan pengujian.
2. Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. Uji tipe dan
b. Uji berkala.
Menurut UULLAJ uji tipe terdiri atas pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan yang dilakukan terhadap landasan kendaraan bermotor dan kendaraan bermotor dalam keadaan lengkap.Sedangkan uji berkala meliputi kegiatan pemeriksaan dan pengujian fisik kendaraan bermotor dan pengesahan hasi uji.Uji tipe sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh unit pelaksana uji tipe pemerintah.Sedangkan untuk pengujian fisik berkala pada kendaraan bermotor selain bisa dilakukan oleh unit pelaksana pengujian pemerintah kabupaten/kota juga bisa dilakukan oleh unit pelaksana agen tunggal pemegang merek yang mendapat izin dari pemerintah; atau unit pelaksana pengujian swasta yang mendapatkan izin dari pemerintah.
Tujuan pengujian kendaraan bernotor yang dilakukan secara berkala adalah untuk menjaga agar kendaraan bermotor selalu memenuhi syarat teknis,
55
tidak membahayakan dan tetap dalam keadaan laik jalan, termasuk persyaratan
tambang batas emisi gas buang dan kebisingan harus dipenuhi.30
1. Setiap kendaran bermotor wajib diregristrasikan.
Pendaftaran kendaraan bermotor terutama bagi mobil yang digunakan sebagai angkutan umum juga penting, karena menyangkut pengendalian kendaraan yang beroperasi di jalan. Diatur dalam pasal 64 UULLAJ yaitu :
2. Regristrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. Registrasi kendaraan bermotor baru
b. Registrasi perubahan identitas kendaraan bermotor dan pemilik
c. Registrasi perpanjangan kendaraan bermotor dan/atau
d. Registrasi pengesahan kendaraan bermotor.
3. Registrasi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertujuan untuk :
a. Tertib administrasi
b. Pengendalian dan pengawasan kendaraan bermotor yang dioperasikan
di Indonesia
c. Mempermudah penyidikan pelanggaran dan/atau kejahatan
d. Perencanaan, operasional manajemen dan rekayasa lalu lintas dan
angkutan jalan; dan
e. Perencanaan pembangunan nasional.
4. Registrasi kendaraan bermotor dilaksanakan oleh kepolisian Negara
republik Indonesia melalui sistem manajemen registrasi kendaraan bermotor.
30
5. Data registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor merupakan bagian dari sistem informasi dan komunikasi lalu lintas angkutan jalan dan digunakan untuk forensik kepolisian.
6. Ketentuan lebih lanjut mengenai registrasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur dengan peraturan kepala kepolisian Negara republik Indonesia.
Setelah kendaraan tersebut didaftarkan, maka diberikan bukti pendaftaran bermotor (BPKB) sebagai tanda bukti pendaftaran atas kendaraan tersebut. Selain diberikan BPKB, diberikan pula surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNK) dan tanda nomor kendaraan bermotor bagi kendaraan sesuai dengan ketentuan-
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.31
1. Angkutan orang dan/atau barang dapat menggunakan kendaraan bermotor
dan kendaraan tidak bermotor.
Mengenai standar mobil yang dipergunakan dalam angkutan umum dimana sesuai dengan peruntukannya mengacu pada Pasal 137 UULLAJ yaitu :
2. Angkutan orang yang menggunakan kendaraan bermotor berupa sepeda
motor, mobil penumpang atau bus.
3. Angkutan barang dengan kendaraan bermotor wajib menggunakan mobil
barang.
4. Mobil barang dilarang digunakan untuk angkutan orang, kecuali:
a. Rasio kendaraan bermotor untuk angkutan orang, kondisi geografis,
dan prasarana jalan di provinsi/kabupaten/kota belum memadai.
31Ibid
57
b. Untuk pengerahan atau peatihan Tentara Nasional Indonesia dan/atau
Kepolisian Negara Republik Indonesia atau
c. Kepentingan lain berdasarkan pertimbangan kepolisian Negara
Republik Indonesia dan/atau Pemerintah Daerah.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai mobil barang yang digunakan untuk
angkutan orang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan peraturan pemerintah.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993, juga ditegaskan mengenai mobil yang dipergunakan sebagai angkutan umum dalam pasal 4 yaitu Pengangkutan orang dengan kendaraan umum dilakukan dengan menggunakan mobil bus atau mobil penumpang.
B. Faktor-Faktor yang Mendorong Terjadinya Penyelenggaraan Angkutan Darat Dengan Kendaraan Bermotor Pribadi (mobil Pribadi Plat Hitam)
Timbulnya mobil pribadi plat Hitam yang dijadikan kendaraan umum diakibatkan adanya beberapa faktor-faktor yang mendorong hal ini terjadi dan semakin bebas dalam kegiatan transportasi ada 4 ( empat ) Faktor yaitu Faktor Ekonomi, administrasi mengenai ijin angkutan umum, banyaknya pengguna angkutan umum dibandingkan angkutan resmi dan Faktor kendala penertiban operasional angkutan umum oleh Instalasi terkait.
A. Faktor Ekonomi
Setiap manusia diharuskan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta memperoleh kehidupan yang layak, baik untuk dirinya sendiri, keluarga,dan orang-orang di sekitarnya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan memperoleh kehidupan yang layak. Diantaranya menjadi pengusaha, pengrajin,karyawan,dan profesi pekerjaan lainnya. Begitu juga dengan supir atau kernet angkutan umum ataupun termasuk pemilik/pengusaha angkutan umum. Semua profesi tersebut adalah cara dimana mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Bagi supir dan kernet sebagian besar dari mereka bekerja sepenuh waktu untuk mengejar setoran atau mencapai target yang telah ditetapkan oleh pemilik usaha angkutan umum. Semakin bertambahnya jumlah angkutan umum setiap