• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PELAKSANAAN SEWA-MENYEWA PADA

B. Hak dan Kewajiban para Pihak dalam Perjanjian

Perjanjian sewa menyewa menimbulkan hubungan hukum antara para pihak yang satu dengan pihak yang lain, yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak secara timbale balik. Hubungan secara timbale balik itu timbul karena adanya peristiwa hukum berupa perbuatan, kejadian atau keadaan.

Perjanjian sewa menyewa diatur dalam buku III KUH Perdata pada bab ke-7 yang mengatur mengenai hak dan kewajiban pihak yang menyewakan dan pihak penyewa.

58 I ketut Oka Setiawan, op.cit., hlm. 180-188.

1. Hak dan Kewajibaan Pihak yang Menyewakan

a. Hak pihak yang menyewakan, yaitu uang sewa yang harus dibayar oleh penyewa pada waktu tertentu sesuai dengan perjanjian sewa-menyewa.59

b. Kewajiban pihak yang menyewakan

Kewajiban pihak yang menyewakan Pasal 1550 KUH Perdata, yaitu:

1. Menyerahkan barang yang disewakan kepada si penyewa.

2. Memelihara barang yang disewakan sedemikian rupa, hingga barang itu dapat dipakai untuk keperluan yang dimaksudkan.

3. Menjamin kepada penyewa kenikmatan tentram dan damai atas benda selama perjanjian sewa-menyewa berlangsung dan tidak adanya cacat yang merintangi pemakaian barang yang disewa.

4. Selama berlangsungnya perjanjian sewa-menyewa melakukan perbaikan/reparasi kecil yang harus dilakukan oleh penyewa.

Apabila yang menyewakan tidak melaksanakan reparasi termaksud dalam Pasal 1551 KUH Perdata maka penyewa dapat menuntut di muka pengadilan agar ia sendiri diperkenankan untuk melakukan sendiri reparasi termasuk atas biaya yang menyewakan (Pasal 1241 KUH Perdata).

Jaminan bagi penyewa untuk menikmati benda yang disewanya dengan tentram dan damai adalah kewajiban yang menyewakan untuk menangkis tuntutan pihak ketiga.Jika cacat itu menimbulkan kerugian bagi penyewa, maka yang menyewakan harus membayar ganti rugi kepada penyewa, walaupun yang

59 M. Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, (Bandung: Alumni, 2006), hlm. 61.

72

menyewakan tidak mengetahui cacat termaksud pada saat dibuatnya pernjanjian sewa menyewa (Pasal 1552 KUH Perdata).60

2. Hak dan Kewajibaan Pihak Penyewa a. Hak pihak penyewa, yaitu:

1. Penyerahan barang dalam keadaan terpelihara sehingga barang itu dapat dipergunakan untuk keperluan yang doperlukan.

2. Jaminan dari yang menyewakan mengenai kenikmatan tentram dan damai dan tidak adanya cacat yang merintangi pemakaian barang yang disewanya.61

b. Kewajiban pihak penyewa, yaitu:

1. Kewajiban-kewajiban pihak penyewa disebutkan dalam Pasal 1560 dimana dikatakan bahwa si penyewa harus menepati dua kewajiban utama:

a. Untuk memakai barang yang disewa sebagai seorang bapak rumah yang baik, sesuai dengan tujuan yang diberikan pada barang itu menurut perjanjian sewanya, atau jika tidak ada suatu perjanjian mengenai itu, menurut tujuan yang dipersangkahkan berhubung dengan keadaan;

b. Untuk membayar harga sewa pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

Kewajiban penyewa untuk memakai barang sebagai seorang bapak rumah yang baik dan memberikan pembetulan-pembetulan kecil di sehari-hari, mengenai pembetulan-pembetulan tersebut tetap harus dilakukan oleh pihak yang

60 R.M. Suryodiningrat, Perikatan-Perikatan Bersumber Perjanjian, (Bandung: Penerbit ,,TARSITO” , 1978), hlm. 44-45.

61 M. Yahya Harahap, Op.Cit, hlm. 63.

menyewakan apabila pembetulan-pembetulan itu terpaksa dilakukan karena barang dalam keadaan rusak atau karena keadaan memaksa.

C. Pelaksanaan Sewa-menyewa Papan Bunga pada Perangkai Bunga Debora’N Florist

Dalam perspektif hukum, perjanjian sewa-menyewa haruslah memenuhi syarat-syarat sebagaimana diminta oleh Pasal 1320 KUH Perdata.

1. Format dan isi surat perjanjian sewa menyewa

Format surat perjanjian sewa-menyewa pada dasarnya sama dengan format surat perjanjian yang lain. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan surat perjanjian adalah:

a. Pihak yang terlibat harus dinyatakan secara detail dan jelas. Pestikan identitas pihak penyewa adalah benar, dan pastikan pihak yang menyewakan adalah pihak yang benar-benar memiliki hak yang sah atas objek yang disewakan.

b. Identitas objek yang disewakan harus dicantumkan secara jelas. Baik alamat, ukuran, maupun identitas lain dari objek yang disewakan.

Keterangan kondisi objek yang disewakan, dan keterangan fasilitas yang disepakati juga harus dinyatakan secara jelas.

c. Nilai sewa yang telah disepakati dan cara pembayaran yang dilakukan.

d. Masa sewa-menyewa yang disepakati.

e. Hak dan kewajiban lainnya dari pihak yang menyewakan dan pihak yang menyewakan harus dinyatakan secara jelas.62

62Agus sugiarto & Lina Sinarta, Op. Cit., hlm. 99-100.

74

Perjanjian sewa-menyewa Papan Bunga untuk memberikan ucapan selama ataupun ucapan turut berdukacita adalah perjanjian yang dilakukan oleh Perangkai Bunga Debora’N Florist sebagai pihak pelaku usaha yang menyewakan Papan Bunga kepada konsumen, perjanjian sewa-menyewa Papan Bunga tersebut dibuat dalam bentuk lisan dan tertulis di dalam nota pembayaran. Perjanjian sewa-menyewa merupakan perjanjian bernama dan dikenal di KUH Perdata.

Perjanjian secara lisan biasanya dalam hal pembuktian apabila terjadi suatu sengketa ataupun untuk membuktikan suatu peristiwa hukum yang terjadi bagi para pihak, maka akan didapatkan sedikit kesulitan bagi pihak penyelesaian sengketa, karena para pihak dalam mengungkapkan peristiwa hukum yang terjadi diantara mereka, dan dalam hak dan kewajiban para pihak akan didapati perbedaan diantara kedua belah pihak. Perjanjian yang dilakukan secara tertulis biasanya mengandung keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

1. Lebih mudah pembuktian bila terjadi perselisihan.

2. Lebih mudah menentukan secara konkrit hak dan kewajiban para pihak.

3. Lebih mudah pihak penyelesaian dalam mengakhiri persengketaan.

4. Lebih memudahkan para pihak menyelesaikan prestasinya.

5. Lebih memudahkan menentukan para pihak terlibat dalam perjanjian.63

Sewa-menyewa merupakan suatu bentuk perjanjian yang melahirkan kewajiban ataupun perikatan untuk memberikan sesuatu dalam bentuk menyerahkan benda yang disewakan oleh pelaku usaha ke konsumen dan penyerahan uang sewa dari consume ke pelaku usaha.

63 Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), (Bandung: PT Citra Aditya Bhakti, 2001), hlm. 69.

Proses sewa-menyewa antara Perangkai Bunga Debora’N Florist dengan konsumen yang menyewa Papan Bunga seperti halnya proses sewa-menyewa pada umumnya hanya berbeda pada objek yang disewakan. Sudah banyak konsumen yang mengetahui bentuk-bentuk dari Papan Bunga yaitu bentuk yang single (biasa) dan bentuk yang segandeng (jumbo: terdiri dari dua papan single).

Perangkai Bunga Debora’N Florist memberikan kebebasan kepada konsumen untuk menentukan jenis Papan Bunga yang biasa atau yang jumbo dan memberikan kebebasan untuk memilh warna papan dimana Perangkai Bunga Debora’N Florist hanya menyediakan 4 warna Papan Bunga yaitu Merah, Biru, Hijau, dan Hitam, selain itu juga memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memberikan tulisan yang akan dirangkai di Papan Bunga.

Hasil wawancara dengan pemilik Perangkai Bunga Debora’N Florist, pelaksanaan sewa-menyewa Papan Bunga pada Perangkai Bunga Debora’N Florist yaitu pelaku usaha melayani setiap konsumen yang datang ke toko Perangkai Bunga Debora’N Florist dan melakukan tawar-menawar untuk menentukan kesepakatan harga sewa Papan Bunga dari harga sewa yang ditentukan sebelumnya oleh pelaku usaha baik terhadap Papan Bunga jenis biasa atau jenis jumbo dan sesuai jarak ataupun alamat yang ditentukan konsumen, semakin jauh jarak yang ditempuh dari Perangkai Bunga Debora’N Florist maka harga sewa juga semakin tinggi. Setelah proses tawar-menawar selesai dan didapatkan harga yang sesuai dengan kesepakatan dengan jenis Papan Bunga yang disewa, maka konsumen memilih warna yang diinginkan dan memberikan bentuk tulisan yang akan dirangkai di Papan Bunga. Kemudian diantara pelaku usaha dan konsumen menyepakati tentang waktu pengantaran dan waktu pengembalian

76

Papan Bunga. Setelah dicapai kata sepakat maka konsumen membayar uang sewa kepada pelaku usaha dan pelaku usaha Perangkai Bunga Debora’N Florist mengantarkan Papan Bunga yang disewakan sesuai dengan waktu yang ditentukan konsumen dengan syarat konsumen melunasi pembayaran sebelum Papan Bunga diantar sehingga apabila konsumen tidak melunasinya maka Papan Bunga tidak diantar ke lokasi yang ditentukan konsumen, dan pelaku usaha mengambil Papan Bunga sesuai dengan waktu yang ditentukan. Sistem pembayaran yang dilakukan dapat secara tunai yaitu konsumen secara langsung membayarkan uang sewa dan konsumen memperoleh nota pembayaran dari Perangkai Bunga Debora’N Florist dan dapat juga melakukan pembayaran secara non-tunai yaitu dengan mentransfer melalui Bank ke rekening pemilik Perangkai Bunga Debora’N Florist dan mengirimkan foto bukti transfer, kemudian pelaku usaha mengirimkan foto nota pembayaran kepada konsumen. Pelaksanaan sewa-menyewa Papan Bunga pada Perangkai Bunga Papan Debora’N Florist selain dilakukan secara lansung dapat juga dilakukan secara online yaitu konsumen tidak datang langsung ke toko Perangkai Bunga Debora’N Florist melainkan melalui menghubungi melalui Nomor HP ataupun sosial media Perangkai Bunga Debora’N Florist dengan proses dan ketentuan sewa-menyewa yang sama dengan proses sewa-menyewa secara langsung.64

64 Edranto Naibaho, Wawancara, Pemilik Perangkai Bunga Debora’N Florist, pada tanggal 30 Januari 2020, pukul 14.30 WIB.

SEWA-MENYEWA PAPAN BUNGA (STUDI PADA PERANGKAI BUNGA DEBORA’N FLORIST PERDAGANGAN

KABUPATEN SIMALUNGUN) A. Gambaran Umum Perangkai Bunga Debora’N Florist

Perangkai Bunga Debora’N Florist merupakan perangkai bunga pertama di kota Perdagangan yang diresmikan pada tanggal 28 Juli 1997 dan berlokasi di Jalan Merdeka Nomor 1184 Perdagangan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, Kode Pos 21184. Sebelumnya, pemilik usaha Debora’N Florist membuka usaha merangkai Papan Bunga di kota Medan bekerja sama dengan salah satu Salon di Pasar 1 Padang Bulan Medan sehingga nama yang digunakan masih nama Salon bukan Debora’N Florist. Kemudian setelah pemilik usaha Debora’N Florist berumah tangga pada Tahun 1997 maka diresmikan toko Perangkai Bunga Debora’N Florist di kota Perdagangan. Setelah kurang lebih 5 tahun membuka toko di Perdagangan, pemilik usaha Debora’N Florist masih sering dipanggil ke Medan untuk membuat Bunga Meja dan Bunga Semat di acara Perayaan Natal Keluarga Besar Fakultas Hukum USU, Fakultas Ekonomi USU, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik USU, dan berbagai acara di kantor Agraria Medan.

Sejak berdirinya, Perangkai Bunga Debora’N Florist melakukan kerja sama dengan salah satu shooting video di kota Pematang Siantar dan berakhirnya kerja sama pada tahun 2010 karena sudah banyaknya pelaku usaha shooting video

78

di Perdagangan dan banyaknya permintaan konsumen Papan Bunga sehingga tidak maksimal lagi dalam mengendalikan kerja sama dengan shooting video.

Jenis produk bunga yang tersedia di Perangkai Bunga Debora’N Florist hingga saat ini, yaitu: menyewakan Papan Bunga, menyewakan bunga panggung untuk pengantin, menjual bermacam-macam bunga (Bunga Meja, Bunga Semat, Bunga Tabur, Bunga Salib, Bunga Krans, Bunga Pangku dan Bunga Sanggul untuk pengantin), serta Debora’N Florist juga menghias mobil pengantin. Selain itu, Perangkai Bunga Debora’N Florist juga menerima murid yang ingin belajar membuat dan merangkai Bunga Papan.

Pada tahun 2006, usaha Debora’N Florist menambahkan produk menjual Ulos Batak Toba dan Batak Simalungun, menyewakan pakaian adat Batak Toba dan Batak Simalungun.Pada Tahun 2014 juga menambahkan produk menyewakan kursi yang dipakai dalam berbagai acara.

Mulai dari berdirinya hingga saat ini Perangkai Bunga Debora’N Florist masih tetap melayani masyarakat ataupun konsumen secara lansung maupun melalui Nomor HP/WA: 081361740624 dan sosial media seperti Facebook:

DEBORA’N Florist Perdagangan dan Instagram: @tokopapanbungadebora.

Modal untuk satu Bunga Papan biasa (single) berkisar 1 Juta rupiah untuk dapat layak disewakan selama 2 tahun. Untuk harga sewa terhadap konsumen juga dilihat dari jarak tempuh dari toko ke tempat Bunga Papan akan di antar. Semakin jauh jarak maka harga semakin tinggi. Untuk harga sewa Bunga Papan biasa (single) di sekitar daerah kota Perdagangan berkisar Rp. 100.000,- dan untuk Bunga Papan jumbo (gandeng) berkisar Rp. 200.000,-. Untuk pemesanan yang jaraknya sudah tidak di sekitar daerah kota Perdagangan maka akan dikenakan

biaya sesuai dengan jarak yang dituju. Keuntungan yang diperoleh dari hasil menyewakan Bunga Papan sangat tinggi sehingga melalui keuntungan yang diperoleh dapat memenuhi kebutuhan hidup dan menambah jumlah Bunga Papan yang disewakan sehingga saat ini jumlah Bunga Papan yang layak disewakan sebanyak 42 Bunga Papan yang terdiri dari 20 Bunga Papan jumbo dan 2 Bunga Papan biasa yang dari awal berdirinya Perangkai Bunga ini hanya memiliki 1 Bunga Papan jumbo.

Menyewakan Bunga Papan adalah produk yang paling diminati oleh banyak konsumen karena proses yang sederhana dan harga yang terjangkau.

Konsumen yang menyewakan Bunga Papan datang dari berbagai golongan masyarakat baik di kota Perdagangan maupun dari luar, seperti Perusahaan-perusahaan besar maupun kecil, berbagai Instansi seperti Instansi Pendidikan, TNI dan POLRI, Instansi Kesehatan, dan Instansi Lainnya, konsumen Bunga Papan juga datang dari golongan pemilik Pabrik dan Perkebunan, dan masyarakat lainnya bahkan anak sekolah juga menjadi konsumen Bunga Papan pada Perangkai Bunga Papan Debora’N Florist.65

B. Problematika dalam Pelaksanaan Sewa-menyewa Papan Bunga

Perangkai Bunga Debora’N Florist merupakan suatu bidang usaha yang menyediakan sewa-menyewa Papan Bunga bagi masyarakat.Papan Bunga adalah pilihan yang sering digunakan bagi masyarakat untuk memberikan ucapan selamat ataupun ucapan turut berdukacita. Banyaknya masyarakat yang menyewakan Papan Bunga untuk alternatif ucapan selamat bahagia ataupun turut berdukacita karena harga yang terjangkau dan proses yang sederhana. Tetapi dibalik harga

65Edranto Naibaho, Wawancara, Pemilik Perangkai Bunga Debora’N Florist, pada tanggal 20 Januari 2020, pukul 11.00 WIB.

80

yang terjangkau dan proses yang sederhana, terdapat problematika yang terjadi terhadap konsumen yang menyebabkan kerugian bagi konsumen.

Papan Bunga yang disewakan kepada konsumen tersebut harus dalam keadaan layak dan kelihatan menarik.Selain itu, Papan Bunga tersebut yang disewakan harus sesuai dengan waktu yang diperjanjikan untuk diserahkan ke konsumen untuk di sewakan.Namun demikian, sering kali Papan Bunga tidak sesuai dengan yang ditetapkan.

Permasalahan yang sering dihadapi oleh konsumen berkaitan dengan adanya ketidakpuasan terhadap Papan Bunga yang disewakan dalam bentuk rangkaian yang diberikan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, kurang menarik, mengalami kerusakan, dan keterlambatan dalam pengantaran.

C. Tanggung Jawab Pihak Perangkai Bunga Debora’N Florist terhadap Penyelesaian Problematika dalam Pelaksanaan Sewa-menyewa Papan Bunga

Perlindungan hukum adalah gambaran dari fungsi hukum, dimana hukum dapat memberikan suatu keadilan, kepastian, ketertiban, kedamaina, dan kemanfaatan.

Pelaku usaha bertanggung jawab untuk memberikan ganti kerugian atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau yang diperdagankan.Kerugian yang dialami konsumen harus dengan benar kenyataannya yang dapat dibuktikan agar pelaku usaha dapat mempertanggungjawabkan kesalahan yang diperbuatnya.Salah satu yang ditanggungjawabkan dari pelaku usaha Papan Bunga yaitu tanggung jawab terhadap produknya yaitu tampilan dari Papan Bunga itu sendiri.

Tanggung jawab produk adalah suatu konsepsi hukum yang intinya dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.66Perlindungan yang diberikan kepada konsumen mengenai produk yaitu berkaitan dengan kondisi produk yang disewakan.Pelaku usaha memberikan tanggung jawab terhadap produk yang termasuk kedalam cacat produk.

Cacat produk atau produk yang cacat adalah setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pembuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses maupun disebabkan hal-hal lain yang terjadi didalam peredarannya, atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda mereka dalam penggunaannya, sebagaimana diharapkan orang.67

Suatu produk dikatakan cacat (tidak dapat memenuhi tujuan pembuatannya) karena:

1. Cacat produk atau manufaktur;

Cacat produk atau manufaktur adalah keadaan produk yang umumnya berada di bawah tingkat harapan konsumen.

2. Cacat Desain;

Cacat desain adalah cacat yang dapat membahayakan harta benda, kesehatan tubuh atau jiwa konsumen.

3. Cacat Peringatan atau cacat industri.

Cacat Peringatan atau cacat industriadalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau instruksi penggunaan tertentu.68

66 Abdul Halim Barkatulah, Op. Cit., hlm. 49.

67Ibid.

68Ibid., hlm. 50.

82

Prinsip-prinsip tanggung jawab produk terus berkembang, dengan perkembangannya pemikiran dan kebutuhan mencari prinsip tanggung jawab produk yang dapat memebrikan perlindungan yang lebih baik bagi konsumen.

Jika berbicara soal pertanggungjawaban hukum, mau tidak mau kita harus berbicara soal ada tidaknya suatu kerugian yang telah diderita oleh suatu pihak sebagai akibat (dalam hal hubungan konsumen dan pelaku usaha) dari penggunaan, pemanfaatan, serta pemakaian oleh konsumen atas barang dan/atau jasa yang dihasilkan oleh pelaku usaha tertentu.

Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen tidak memberikan rumusan yang jelas dan tegas tentang definisi dari jenis barang yang dapat secara hukum dapat dipertanggungjawabkan, dan sampai seberapa jauh suatu pertanggungjawaban atas barang tertentu dapat dikenakan bagi pelaku usaha tertentu atas hubungan hukumnya dengan konsumen.Hal ini erat hubungannya dengan konsep Product Liability yang banyak dianut oleh negara-negara maju.69 Produk Liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk (producer, manufacture) atau dari orang atau badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk (processor, assembler) atau orang atau badan yang menjual atau mendistribusikan produk tersebut.70

Dalam perkembangannya, prinsip tanggung jawab terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu:

1. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Kesalahan

69Ibid., hlm. 52.

70Ibid., hlm. 51.

Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan perdata. Dalam KUH Perdata, khususnya Pasal 1365, 1366 dan 1367, prinsip ini dipegang secara teguh.

Teori murni dalam prinsip tanggung jawab berdasarkan kelalaian (negligence) adalah suatu tanggung jawab yang didasarkan pada adanya unsur kesalahan dan hubungan kontrak.Teori tanggung jawab berdasarkan kelalaian merupakan yang paling merugikan konsumen, karena gugatan konsumen dapat diajukan kalau telah memenuhi dua syarat tersebut, yaitu adanya unsur kesalahan atau kelalaian dan hubungan kontrak antara produsen dan konsumen.Teori tanggung jawab produk berdasarkan kelalaian tidak memberikan perlindungan yang maksimal bagi konsumen, karena konsumen dhadapkan pada dua kesulitan dalam mengajukan gugatan kepada produsen, yaitu, pertama, tuntutan adanya hubungan kontrak antara konsumen sebagai penggugat dengan produsen sebagai tergugat.Kedua, argumentasi produsen bahwa kerugian konsumen diakibatkan oleh kerusakan barang yang tidak diketahui.71

2. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkkan Wanprestasi

Ajaran hukum memperkenalkan pula konsumen mengajukan gugatan berdasarkan wanprestasi.Tanggung jawab produsen yang dikenal dengan wanprestasi adalah tanggung jawab berdasarkan kontrak.Dengan demikian, ketika suatu produk rusak dan mengakibatkan kerugian, maka konsumen melihat isi kontrak atauperjanjian atau jaminan yang merupakan bagian dari kontrak, baik tertulis maupun lisan.Keuntungan bagi konsumen berdasarkan teori ini adalah penerapan kewajiban yang sifatnya mutlak, yaitu suatu kewajiban yang tidak

71Ibid,.hlm. 53-55.

84

didasarkan pada upaya yang telah dilakukan penjual untuk memenuhi janjinya.Itu berarti apabila produsen telah berupaya memenuhi janjinya, tetapi konsumen tetap mengalami kerugian, maka produsen tetap dibebani tanggung jawab untuk mengganti kerugian.

Prinsip penting dalam hukum kontrak adalah para pihak berada pada posisi tawar yang seimbang.Dengan demikian, apabila salah satu pihak tidak puas dengan isi perjanjian, maka pihak tersebut memiliki kekuatan untuk merundingkan kembali isi perjanjian.Namun cukup banyak ahli hukum yang melihat bahwa prinsip posisi tawar yang seimbang antara produsen dan konsumen tidak ditemukan dalam praktik.Bakhan, produsen dengan kekuatannya cenderung menerapkan prinsip tanggung jawab dengan pembatasan sebagai klausula eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya.72

3. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak

Prinsip tanggung jawab dalam hukum perlindungan konsumen secara umum digunakan untuk “menjerat” pelaku usaha, khususnya produsen barang, yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen.Tanggung jawab mutlak atau strict liability, yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat

sebagai dasar ganti kerugian, ketentuan ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya.Namun, penggugat (konsumen) tetap diberikan beban pembuktian, walaupun tidak sebesar si tergugat. Dalam hal ini, ia ahanya perlu membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha dan kerugian yang dideritanya. Selebihnya dapat digunakan prinsip tanggung jawab mutlak.73

72Ibid., hlm. 60-62.

73Ibid., hlm. 65.

Prinsip tanggung jawab juga diatur dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen. Tanggung jawab pelaku usaha atas kerugian konsumen dalam Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen diatur khusus dalam satu bab, yaitu Bab VI, mulai dari Pasal 19 sampai dengan Pasal 28. Dari sepuluh pasal tersebut, dapat dipilah sebagai berikut:

1. Tujuh pasal, yaitu Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, dan Pasal 27 yang mengatur Pertanggungjawaban pelaku usaha;

2. Dua pasal, yaitu Pasal 22 dan Pasal 28 yang mengatur pembuktian;

3. Satu pasal, yaitu Pasal 23 yang mengatur penyelesaian sengketa dalam hal pelaku usaha tidak memenuhi kewajibannya untuk memberikan ganti rugi kepada konsumen.

Dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen terdapat 3 (tiga) Pasal yang menggambarkan sistem tanggung jawab produk dalam hukum perlindungan konsumen di Indonesia, yaitu ketentuan Pasal 19, Pasal 23, dan Pasal 28.

Pasal 19 Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen merumuskan tanggung jawab produsen sebagai berikut:

1. Pelaku Usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atas diperdagangkan.

2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan

2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan

Dokumen terkait