HAK-HAK BURUH APABILA PERUSAHAAN DINYATAKAN PAILIT
C. Hak-Hak Buruh Apabila Perusahaan Dinyatakan Pailit
Pekerja merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan peran dan fungsi pekerja dalam menghasilkan barang dan atau jasa untuk perkembangan suatu perusahaan. Sudah sewajarnya apabila hak-hak pekerja diberikan secara memadai demi terciptanya hubungan kerja yang seimbang antara pekerja dan pengusaha dalam perusahaan.Terutama ketika para pekerja melaksanakan pekerjaannya secara bersungguh-sungguh dan maksimal.
Proses kepailitan pada umumnya adalah proses panjang yang melelahkan. Di satu sisi akan banyak pihak (kreditor) yang terlibat dalam proses tersebut, karena pihak debitor yang dipailitkan pasti memiliki utang lebih dari satu, sedangkan di sisi lain, belum tentu harta pailit mencukupi, apalagi dapat memenuhi semua tagihan yang ditunjukkan pada debitor. Masing-masing debitor akan berusaha untuk secepat-cepatnya mendapatkan pembayaran setinggi-tingginya atas piutang mereka masing-masing. Kondisi tersebutlah yang melatarbelakangi lahirnya tauran-aturan yang
76Abdul R. Saliman dkk, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan; Teori dan Contoh Kasus, (Jakarta, Renada Media Grup,2005), hlm. 153
mengikat didalam proses kepailitan, yang mengatur pembagian harta pailit dibawah kendali kurator disertai pengawasan hakim pengawas.77
Adapun hak-hak pekerja tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
Meskipun begitu, adanya aturan-aturan dalam proses kepailitan, belum jelas mengatur posisi buruh yang perusahaannya dinyatakan pailit. Buruh pada prinsipnya berhak atas imbalan dari pekerja yang telah mereka kerjakan.Tagihan semacam ini bahkan telah secara tegas dinyatakan sebagai utang yang telah didahulukan pembayarannya dari pada utang-utang lainnya.
Sebab risiko yang dapat timbul dari bisnis, baik itu risiko investasi, risiko pembiayaan dan risiko operasi. Semua risiko dapat mengancam kesinambungan dari keuangan perusahaan dan yang paling fatal perusahaan bisa mengalami bangkrut (pailit) karena tidak bisa membayar semua kewajiban utang perusahaannya. Ketika pekerja sudah melaksanakan kewajibanya kepada perusahaan maka sudah seharusnyalah perusahaan memenuhi hak-hak pekerjanya sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
78
1. Tenaga kerja idealnya memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan (Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 6).
2. Terkait dengan pembekalan, pelatihan, dan bentuk kegiatan lain dalam rangka meningkatkan keterampilan (kompetensi) untuk menunjang bidang kerjanya,
77Penjelasan UU No.37/2004 Tentang Kepailitan.
78UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
pekerja/buruh berhak untuk memperoleh pelatihan (Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 11, 18 Ayat (1), 23).
3. Tenaga kerja juga memiliki kebebasan untuk pindah pekerjaan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensinya (Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 31).
4. Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat karena melahirkan atau keguguran (miscarried) (Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 82).
5. Pekerja/buruh mempunyai hak terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 86).
6. Pekerja/buruh berhak terhadap penghasilan yang layak (Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 88).
7. Pekerja/buruh dan keluarganya di jamin dengan jaminan sosial tenaga kerja (Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 99) .
Hak-hak inilah yang harus dipenuhi oleh perusahaan bagi pekerjanya yang ada dalam perusahaan. Pemenuhan hak-hak pekerja tersebut bukan hanya pada saat perusahan itu masih berjalan sebagimana mestinya, tetapi ada hak-hak pekerja yang harus tetap dipenuhi oleh perusahaan pada saat perusahaan tersebut pailit. Pailitnya suatu perusahaan biasanya mengakibatkan pemutusan hubungan kerja atau PHK.
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak kerap terjadi perusahaan mengalami masalah terutama dalam hal keuangan. Para pekerja di rumahkan satu persatu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kondisi perusahaan. Akan tetapi, pemutusan hubungan kerja yang paling sulit dihindari adalah ketika perusahaan tersebut jatuh pailit berdasarkan putusan pengadilan. Dalam Pasal 1 butir 1 Undang-Undang No. 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diberikan definisi “Kepailitan” sebagai berikut. “Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas.79
Pada dasarnya, sebelum pernyataan pailit hak-hak debitor untuk melakukan semua tindakan hukum berkenaan dengan kekayaannya harus di hormati, tentunya dengan memperhatikan hak-hak kontraktual secara kewajiban debitor menurut peraturan perundang-undangan.80
Kepailitan memang tidak merendahkan martabatnya sebagai manusia, tetapi apabila ia berusaha untuk memperoleh kredit, disanalah baru terasa baginya dosa artinya sudah pernah di nyatakan pailit. Dengan perkataan lain, kepailitan memengaruhi “credietwaardigheid” nya dalam arti yang merugikannya, ia tidak akan mudah mendapatkan kredit.
Pada saat kepailitan terjadi, kewenangan dalam mengurus dan menguasai kekayaan debitor setelah putusan pernyataan pailit beralih sepenuhnya berada di dalam penguasaan kurator, baik kurator swasta orang perorangan maupun Balai Harta Peninggalan.
81
Ada beberapa akibat hukum yang di timbulkan dengan adanya putusan pailit.
Sebelum menempuh jalan melalui kepailitan debitor sebaiknya melakukan upaya
79Jono, Hukum Kepailitan, (Jakarta:Sinar Grafika. 2010), hlm.2
80Imran Nating, Op.Cit., hlm. 39
81Kartono, Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran,(Jakarta, Pradnya Paramita,1982), hlm.
42
restrukturisasi terlebih dahulu apabila suatu upaya restrukturisasi tidak tercipta oleh sebab itu maka sektor hukum kepailitan dapat di tempuh. Putusan pailit tersebut akan menimbulkan akibat terhadap debitor dan kreditor. Akibat hukum putusan pailit dapat berupa akibat umum dan akibat khusus.82
Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga, saat itu juga segala yang berhubungan dengan harta perusahaan akan menjadi tanggung jawab Kurator untuk mengurus harta pailit milik perusahaan tersebut. Sehingga yang bertugas untuk membagi harta debitor pailit kepada para Kreditor menjadi tanggung jawab Kurator. Pekerja yang di PHK karena perusahaan mengalami kepailitan.
Mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi oleh pihak perusahaan. Dalam hal pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh kurator, pemutusan tersebut harus sesuai dengan Pasal 165 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (UUTK):83
Harta kekayaan perusahaan dalam hal ini Perseroan Terbatas/PT adalah terpisah dari harta kekayaan pemegang saham. Sesuai Pasal 3 ayat (1) UU No.40
“Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena perusahaan pailit dengan ketentuan pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4).”
82Ibid, hlm. 98
83Ibid. hlm.119
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) beserta penjelasannya, pemegang saham hanya bertanggung jawab sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya dan tidak meliputi harta kekayaan pribadinya. Oleh karena itu, dalam hal perusahaan dipailitkan, pemegang saham tidak bertanggung jawab secara pribadi namun hanya sebatas saham atau modal yang dimasukkan ke dalam PT yang kemudian menjadi harta PT. Pada saat perusahaan tidak membayar gaji karyawannya, maka perusahaan tersebut menjadi debitur dari karyawan dan dapat digugat pailit apabila memenuhi syarat-syarat kepailitan. Seluruh harta perusahaan kemudian akan menjadi harta pailit untuk kemudian diserahkan kepada pengurusan kurator untuk memenuhi semua kewajiban perusahaan terhadap para kreditor.84
Namun, Pasal 1134 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”) mengatakan gadai dan hipotik tempatnya lebih tinggi dari pada kreditor lainnya kecuali dinyatakan sebaliknya oleh undang-undang. Apabila mengacu pada UUK, maka sesungguhnya UUK telah memberikan posisi pembayaran upah
Pada dasarnya, hak karyawan atas pembayaran upah saat perusahaan dipailitkan telah dilindungi oleh UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUKT). Pasal 95 ayat (4) UUK menentukan bahwa dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya.
84Lihat UU No. 40Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
karyawan untuk didahulukan pembayarannya dari pada kreditor lainnya. Akan tetapi, dalam praktiknya apa yang terjadi ternyata berbeda ketentuan Pasal 95 ayat (4) UUK tersebut di atas. Jika ada kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hak agunan maupun hipotik, maka merekalah yang mendapat prioritas. Prioritas kepada kreditor jenis ini didasarkan pada ketentuan Pasal 138 UU Kepailitan yang berbunyi:85
Jika setelah diputuskan pernyataan pailit ada karyawan bekerja pada debitur pailit baik karyawan maupun kurator sama-sama berhak untuk memutuskan ubungan kerja tersebut diberitahukan suatu pemberitahuan PHK (notice) dengan jangka waktu pemberitahuan sebagai berikut:
“Kreditor yang piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya, atau yang mempunyai hak yang diistimewakan atas suatu benda tertentu dalam harta pailit dan dapat membuktikan bahwa sebagian piutang tersebut kemungkinan tidak akan dapat dilunasi dari hasil penjualan benda yang menjadi agunan, dapat meminta diberikan hak-hak yang dimiliki kreditor konkuren atas bagian piutang tersebut, tanpa mengurangi hak untuk didahulukan atas benda yang menjadi agunan atas piutangnya.”
86
a. Jangka waktu pemberitahuan PHK yang sesuai dengan perjanjian kerja atau, b. Jangka waktu tersebut sesuai dengan perundang-undangan.
Undang-undang menyebutkan bahwa dalam keadaan pailit, pembayaran upah didahulukan daripada utang lainnya. Hal ini didukung pada pasal 95 ayat 4
Undang-85M.Hadi Shubhan, Prinsip, Norma, Dan Praktik di Peradilan Kencana, Hukum Kepailitan,(Jakarta: Pt. Sinar Grafika, 2009), hlm. 425.
86Tomy Satrya Pamungkas, Hak-hak Normatif Pekerja pada perusahaan pailit, (Surabaya:
2010), hlm 33
unang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang berbunyi dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilidikuasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku maka upah dan hak lainnya merupakan utang yang didahului pembayarannya. Sedangkan pada pasal 165 menyebutkan pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena perusahaan pailit dengan ketetntuan pekerja atau buruh berhak atas pesangon satu kali ketentuan pasal 156 ayat 2, uang penghargaan masa kerja sebesar satu kali ketentuan pasal 165 ayat 2, uang penghargaan masa kerja sebesar satu kali ketentuan pasal 156 atau 4.87
Pasal 95 ayat (4) UU Ketenagakerjaan menyatakan, “Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau di likuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan hutang yang didahulukan pembayarannya.”88
1. Pasal 95 ayat (4) UU No.13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4179) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai :
“Pembayaran upah pekerja/buruh yang terhutang didahulukan atas semua jenis kreditor termasuk atas tagihan kreditor separatis, tagihan hak Negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk pemerintah, sedangkan pembayaran
hak-Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 melalui amar putusan menyatakan bahwa:
87Ibid, hlm. 36
88Lihat Pasal 95 ayat (4) UU Ketenagakerjaan
hak pekerja/buruh lainnya didahulukan atas semua tagihan hak Negara, kantor lelang,dan badan umum yang dibentuk pemerintah, kecuali tagihan dari kreditor separatis”;
2. Pasal 95 ayat (4) UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4179) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai : “Pembayaran upah pekerja/buruh yang terhutang didahulukan atas semua jenis kreditor termasuk atas tagihan kreditor separatis, tagihan hak Negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk pemerintah, sedangkan pembayaran hak-hak pekerja/buruh lainnya didahulukan atas semua tagihan termasuk tagihan hak Negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk pemerintah, kecuali tagihan dari kreditor separatis.”89
Menurut Sutan Remy Sjahdeini dari ketentuan pasal 2 ayat (1) UU No.13 Tahun 2003 Kepailitan dapat disimpulkan bahwa permohonan pernyataan pailit terhadap seorang debitor hanya dapat diajukan apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Debitor terhadap siapa permohonan itu diajukan harus paling sedikit mempunyai dua kreditor, atau dengan kata lain harus memiliki lebih dari satu kreditor.
b. Debitor tidak membayar lunas sedikitnya satu hutang kepada salah satu kreditornya.
89Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi No. 67/PUU-XI/2013
c. Hutang yang tidak dibayar itu harus telah jatuh waktu dan telah dapat ditagih (due and payable)90
Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan Pengadilan Niaga apabila ketiga persyaratan tersebut diatas terpenuhi, namun apabila salah satu persyaratan diatas tidak terpenuhi maka permohonan pernyataan pailit akan ditolak. 91
1. Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada ketua pengadilan
Prosedur permohonan pernyataan pailit berdasarkan UU Kepailitan dijelaskan berdasarkan ketentuan pasal dibawah ini:
Pasal 6 UU Kepailitan menyatakan:
2. Panitera mendaftarkan permohonan pernyataan pailit pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan, dan kepada pemohon berikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal pendaftaran 3. Panitera wajib menolak pendaftaran permohonan pernyataan pailit bagi institusi
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan pasal (5) jika dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam ayat-ayat tersebut
4. Penitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada Ketua Pengadilan paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan
90Ibid, hlm. 18
91Shanti Rachmadsyah, Syarat Kepailitan, melaluihttp://www.hukumonline.com/berita/diakses tanggal 24 september 2018 pukul 21.00 WIB
5. Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan, pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan hari siding
6. Sidang pemeriksaan atas permohonan pernyataan pailit diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan
7. Atas permohonan debitor dan berdasarkan alasan yang cukup, pengadilan dapat menunda penyelanggaraan siding sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sampai dengan paling lambat 25 (dua puluh lima) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan.92
Pasal 7 UU Kepailitan menyatakan, “Permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh seorang advokat” sebab segala permohonan dan upaya hukum yangberkaitan dengan kepailitan harus diajukan oleh sorang advokat kecuali permohonan sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (2) UU Kepailitan.93
Pasal 8 ayat (5) UU Kepailitan menyatakan,“Putusan pengadilan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan.94
Pasal 11 ayat (1) UU Kepailitan menyatakan, “Upaya hukum yang dapat dilakukan terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah kasasi ke
92Lihat Pasal 6 UU Kepailitan
93Ivida Dewi Amrih Suci dan Herowati Poesko,Hukum Kepailitan Kedudukan dan Hak Kreditor Separatis atas Benda Jaminan Debitor Pailit,(Yogyakarta,Laksbag Presindo,2016), hlm. 70
94Lihat Pasal 8 ayat (4) dan (5)
Mahkamah Agung.95Pasal 12 ayat (1) UU Kepailitan menyatakan, “Permohonan kasasi wajib menyampaikan kepada panitera pengadilan memori kasasi pada tanggal permohonan kasasi di daftarkan.”96
Pasal 13 ayat (3) UU Kepailitan menyatakan, “Putusan atas permohonan kasasi harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung.” 97Pasal 14 ayat (1) UU Kepailitan menyatakan, “Terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat diajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.”98
1. Terhadap putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat diajukan permohonan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung, kecuali di tentukan lain dalam undang-undang ini
Pasal 295 UU Kepailitan menyatakan :
2. Permohonan peninjauan kembali dapat diajukan apabila:
a. Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa di pengadilan sudah ada, tetapi belum ditemukan; atau
b. Dalam putusan hakim yang bersangkutan terdapat kekeliruan yang nyata.99 Pasal 296 UU Kepailitan menyatakan:
95Lihat Pasal 11 ayat (1) UU Kepailitan
96Lihat Pasal 12 ayat (1) UU Kepailitan
97Lihat Pasal 13 ayat (3) UU Kepailitan
98Lihat Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Kepailitan
99Lihat Pasal 295 UU Kepailitan
1. Pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 295 ayat 2 huruf a, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 180 (seratus delapan puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum tetap.
2. Pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 295 ayat (2) huruf b, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum tetap.100
Adapun pertimbangan Majelis Hakim memutus demikian terdiri dari beberapa pertimbangan yang salah satunya yaitu menurut Mahkamah upah pekerja/buruh secara konstitusional telah diatur berdasarkan pasal 28D ayat (2) UUD 1945 yaitu setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.
Dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi yang menempatkan upah pekerja sebagai prioritas pertama untuk dilakukan pembayaran dalam hal terjadi kepilitan termasuk lebih diutamakan daripada kreditor separatis, hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketentuan UU Kepailitan dan UU jaminan yang ada. Permasalahan ini sering menuai perdebatan jika terjadi kepailitan Syarat-syarat kepailitan merupakan tolak ukur bagi pengadilan yang akan menetapkan kepailitan debitor apakah permohonan kepailitan yang diajukan oleh kreditor atau debitor memenuhi syarat untuk menetapkan debitor pailit. Oleh karena syarat-syarat
100Lihat Pasal 296 ayat (1) dan (2) UU Kepailitan
kepailitan tersebut merupakan tolak ukur bagi pengadilan, maka permohonan pernyataan pailit harus menggunakan juga syarat-syarat tersebut sebagai tolak ukur apakah permohonannya layak untuk diajukan kepada pengadilan.
BAB IV
HAK-HAK BURUH BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH