BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4. Hak-hak Pegawai Negeri Sipil
orang dalam memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri adalah karena adanya pemberian hak-hak yang cukup menguntungkan. Dalam UU No. 8 tahun 1974 (Djatmika & Marsono, 1995, h. 99) diatur mengenai hak-hak pegawai negeri. Beberapa hak yang dianggap menguntungkan adalan sistem penggajian yang pasti setiap bulannya, pemberian bermacam-macam tunjangan, fasilitas kenaikan pangkat, pemberian kesempatan cuti, dan pemberian jaminan hari tua. Pemberian uang pensiun akan lebih dibahas pada usaha kesejahteraan pegawai.
Sistem penggajian pegawai negeri seperti yang dianut dalam UU No.8 tahun 1974 adalah sistem gabungan antara sistem skala tunggal dan skala ganda (Djatmika & Marsono, 1995, h. 99). Pemberian gaji kepada pegawai negeri tidak hanya didasarkan bahwa kepada pegawai yang berpangkat sama diberikan gaji yang sama (menurut skala tunggal), tetapi juga didasarkan pada sifat pekerjaan yang dilakukan, prestasi kerja yang dicapai, dan beratnya tanggung jawab yang dipikul dalam melaksanakan tugas pekerjaan itu (menurut sistem skala ganda). Sistem penggajian pegawai negeri yang berlaku adalah bahwa kepada pegawai yang berpangkat sama diberikan gaji pokok yang sama, dan juga diberikan tunjangan kepada pegawai yang melakukan pekerjaan tertentu yang sifatnya memerlukan pemusatan perhatian dan pengerahan tenaga secara terus menerus.
Dalam pasal 7, seperti yang telah disebutkan, setiap pegawai negeri berhak memperoleh gaji yang layak sesuai dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Penghasilan yang akan diterima pegawai negeri terdiri atas gaji
pokok ditambah dengan tunjangan-tunjangan, dikurangi dengan pemotongan- pemotongan tertentu masing-masing sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku (Djatmika & Marsono, 1995, h. 99).
Pemberian gaji pokok kepada pegawai negeri yang diangkat dalam suatu pangkat tertentu diberikan gaji pokok berdasarkan golongan/ruang yang ditetapkan untuk pangkat itu, sesuai dengan masa kerja ia miliki. Pemberian gaji sesuai pangkat ini memungkinkan seseorang untuk mendapatkan kenaikan gaji sesuai dengan kenaikan pangkatnya. Hal inilah yang juga dipertimbangkan seseorang dalam memilih untuk menjadi pegawai negeri.
Kenaikan gaji PNS diatur dalam Bab III, pasal 11 s.d. pasal 14 PP No. 7 tahun 1977 (Djatmika & Marsono, 1995, h. 106). Kenaikan gaji PNS terdiri atas kenaikan gaji berkala dan kenaikan gaji istimewa. Kenaikan gaji berkala diberikan kepada PNS apabila telah memenuhi syarat-syarat telah mencapai masa kerja golongan yang ditentukan untuk kenaikan gaji berkala dan mendapat penilaian rata-rata “cukup” dalam penilaian pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan berdasarkan PP No. 10 tahun 1979. Kenaikan gaji istimewa diberikan sebagai penghargaan kepada PNS yang menurut daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan menunjukkan nilai “amat baik” sehingga ia patut dijadikan teladan, dengan memajukan saat kenaikan gaji berkala selanjutnya, selama pegawai dimaksud dalam pangkat yang dijabatnya pada saat pemberian kenaikan gaji istimewa.
Hak kedua yang didapatkan pegawai negeri adalah tunjangan. Tidak semua tempat bekerja menjamin pemberian tunjangan seperti PNS. Kepada
PNS diberikan tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, dan beberapa tunjangan lain (Djatmika & Marsono, 1995, h. 111). Tunjangan keluarga terdiri atas tunjangan suami/istri dan tunjangan anak. Pemberian tunjangan keluarga ini sudah diatur, baik dalam segi persentase besarnya tunjangan maupun syarat lain, seperti pekerjaan pasangan (suami/istri), usia anak, status anak, dan jumlah anak yang jadi tanggungan.
Tunjangan jabatan (Djatmika & Marsono, 1995, h. 112 – 126) diberikan kepada PNS yang memangku jabatan strukturil dan jabatan penting lainnya yang mengakibatkan para pejabatnya memikul tanggung jawab yang berat. Jenis dari tunjangan jabatan ini antara lain: tunjangan jabatan struktural, tunjangan jabatan bidang pendidikan, tunjangan tugas belajar pada Fakultas Pascasarjana, tunjangan jabatan tenaga kesehatan, tunjangan jabatan penatar, tunjangan bahaya nuklir, tunjangan jabatan pengamat gunung berapi, tunjangan jabatan pengamanan dan penyelamatan pelayaran, tunjangan jabatan hakim pada peradilan agama, tunjangan jabatan hakim dan panitera pada peradilan tata usaha negara, tunjangan jabatan jaksa, tunjangan jabatan peneliti, tunjangan jabatan persandian, tunjangan mahkamah pelayaran, tunjangan jabatan BPK, tunjangan jabatan bagi jabatan pimpinan pada pengurus Korpri, tunjangan bagi PNS yang memangku jabatan tertentu, tunjangan jabatan kesyahbandaran, tunjangan jabatan Widyaiswara.
Tunjangan lain-lain (Djatmika & Marsono, 1995, h. 127) yang akan diperoleh oleh pegawai negeri selama mereka masih menjabat sebagai pegawai negeri antara lain: tunjangan pangan, tunjangan cacat, dan bantuan
kematian. Syarat dan ketentuan berlakunya tunjangan dan bantuan tersebut sudah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hak yang didapatkan oleh pegawai negeri yang berikutnya adalah kenaikan pangkat. Pemberian kenaikan pangkat dilaksanakan berdasarkan sistem kenaikan pangkat reguler dan kenaikan pangkat pilihan (Djatmika & Marsono, 1995, h. 133). Kenaikan pangkat reguler merupakan hak, oleh sebab itu jika ada seorang PNS yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan tanpa terikat jabatannya dapat dinaikkan pangkatnya, kecuali apabila ada alasan-alasan yang sah untuk menundanya. Kenaikan pangkat pilihan bukan merupakan hak, tetapi merupakan kepercayaan dan penghargaan kepada PNS yang telah menunjukkan prestasi kerja yang tinggi yang diberikan kepada PNS yang memangku jabatan struktural atau jabatan fungsional tertentu yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.
Selain itu, ada juga beberapa fasilitas kenaikan pangkat yang bisa didapatkan ketika ketika menjadi pegawai negeri (Djatmika & Marsono, 1995, h. 137 – 141). Kenaikan pangkat istimewa adalah kenaikan pangkat yang diberikan kepada PNS yang menunjukkan prestasi kerja yang luar biasa baiknya, atau menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara. Kenaikan pangkat pengabdian adalah PNS yang telah mencapai batas usia pensiun yang akan berhenti dengan hormat dengan hak pensiun, dapat dinaikkan pangkatnya lebih tinggi. Kenaikan pangkat anumerta yaitu PNS yang tewas dinaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi secara anumerta yang mulai berlaku pada tanggal tewasnya PNS yang bersangkutan dan keputusan
kenaikan pangkat anumerta dimaksud diusahakan sebelum PNS yang tewas itu dikebumikan. Tiga jenis kenaikan pangkat yang lain, yaitu: kenaikan pangkat dalam tugas belajar, kenaikan pangkat selama dalam penugasan, dan kenaikan pangkat sebagai penyesuaian ijazah.
Pemberian cuti merupakan salah satu hak yang didapatkan oleh pegawai negeri. Cuti adalah tidak masuk bekerja yang diizinkan dalam jangka waktu tertentu untuk menjamin kesegaran jasmani dan rohani serta kepentingan pegawai negeri (Djatmika & Marsono, 1995, h. 146). Menurut PP No. 24 tahun 1976, cuti PNS terdiri atas: cuti tahunan, cuti besar, cuti sakit, cuti bersalin, cuti karena alasan penting, dan cuti di luar tanggungan negara. Segala syarat telah ditetapkan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Salah satu hal yang dijadikan alasan seseorang memilih menjadi PNS adalah karena adanya jaminan kelanggengan pekerjaannya. Ada anggapan bahwa menjadi tidak akan terkena risiko dipecat dari pekerjaannya kecuali jika masa pensiunnya tiba. Anggapan ini tidak bisa dibenarkan karena sebenarnya telah diatur dalam pasal 23 dan pasal 24 UU No. 8 tahun 1974 bahwa ada beberapa jenis pemberhentian PNS dari pekerjaannya. Pasal ini kemudian telah diubah dalam UU No. 43 tahun 1999.
Beberapa hal yang bisa menjadi alasan pemberhentian seorang pegawai negeri yaitu: pemberhentian atas permintaan sendiri, telah mencapai usia tertentu, telah meninggal dunia, adanya penyederhanaan organisasi pemerintah, tidak cakap secara jasmani atau rohani, melanggar sumpah/ janji atau peraturan disiplin, dihukum berdasar keputusan pengadilan, melakukan
penyelewengan terhadap ideologi negara, Pancasila, UUD 1945, atau terlibat dalam kegiatan yang menentang negara dan pemerintah, dan dikenakan tahanan sementara oleh yang berwajib (Djatmika & Marsono, 1995, 199). Selain itu, jenis pemberhentian ini juga dibagi menjadi dua, yaitu pemberhentian dengan hormat dan pemberhentian dengan tidak hormat. Jadi, kelanggengan pekerjaan sebagai PNS memang akan terus didapat asalkan individu tidak melakukan pelanggran yang bisa menyebabkan diberhentikan dari pekerjaannya.