Dalam Konvensi Hukum Laut 1982, terdapat tiga rejim hukum tentang hak lintas pelayaran kapal-kapal asing melalui wilayah perairan suatu negara. Hak lintas kapal-kapal asing itu adalah Hak lintas damai (right of innocent passage), Hak lintas transit (right of transit passage) dan Hak lintas melalui alur laut kepulauan (right of archipelagic sea lanes passage).98
98
1. Lintas Damai ("Innocent Passage").
Lintas damai semula merupakan suatu produk hukum kebiasaan yang kemudian dikukuhkan dalam konvensi Geneva 1958 maupun Konvensi Hukum Laut 1982. Pengertian Lintas damai pada dasarnya adalah hak kapal suatu negara untuk melintasi wilayah (territory) negara lain dengan kewajiban tidak menimbulkan ancaman terhadap kedaulatan negara yang dilewati, secara rinci pengertian lintas damai adalah sebagai berikut:
a. Batasan (Pasal 18 dan 19 KHL 82).
1) Bernavigasi melalui laut teritorial, tanpa memasuki perairan pedalaman atau singgah di tempat berlabuh di tengah laut ("roadstead") atau fasilitas pelabuhan di luar perairan pedalaman, atau
2) Berlaku ke atau dari perairan pedalaman atau singgah di tempat berlabuh di tengah laut ("roadstead") atau fasilitas pelabuhan tersebut.
3) Lintas harus dilakukan secara terus-menerus, langsung serta secepat mungkin. Berhenti dan buang jangkar hanya apabila berkaitan dengan navigasi yang lazim atau perlu dilakukan karena dalam keadaan terpaksa atau untuk memberi pertolongan kepada orang, kapal, atau pesawat terbang yang dalam keadaan bahaya atau kesulitan.
4) Tidak merugikan kedamaian, ketertiban atau keamanan negara pantai, dilakukan sesuai dengan ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 dan peraturan laut lainnya.
b. Kewajiban Pelintas
1) Di laut teritorial kapal selam atau kendaraan bawah air lainnya diharuskan bernavigasi di permukaan air dan menunjukkan benderanya (pasal 20 Konvensi Hukum Laut 1982).
2) Berkewajiban mematuhi semua peraturan perundang-undangan yang dibuat negara pantai di laut teritorialnya dan semua peraturan Internasional bertalian dengan pencegahan tubrukan di laut yang diterima secara umum (Pasal 21 ayat 4 KHL 82).
c. Kewajiban Negara Pantai
1) Membuat peraturan perundang-undangan sesuai dengan ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 dan peraturan hukum internasional lainnya yang berkaitan dengan lintas damai melalui laut teritorial mengenai aspek- aspek :
(a) Keselamatan navigasi dan pengaturan lintas maritim.
(b) Perlindungan alat-alat bantu dan fasilitas navigasi dan fasilitas atau instalasi lainnya.
(c) Perlindungan kabel dan pipa laut. (d) Konservasi kekayaan hayati laut.
(e) Pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan perikanan negara pantai.
(f) Pelestarian lingkungan negara pantai dan pencegahan, pengurangan dan pengendalian pencemarannya.
(g) Penelitian ilmiah kelautan dan survey hidrografi.
(h) Pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai, fiskal, imigrasi atau saniter negara pantai.
2) Mengumumkan semua peraturan perundang-undangan tersebut sebagaimana mestinya.
3) Dapat mewajibkan kapal asing yang melaksanakan hak lintas damai melalui laut teritorialnya untuk menggunakan alur laut dan skema pemisah lalu lintas, demi keselamatan navigasi dan sebagainya (Pasal 22 ayat 1, 2, 3 KHL 82).
4) Tidak menghalangi lintas damai di laut teritorial (Pasal 24 ayat 1 KHL 82).
5) Tidak menetapkan syarat-syarat yang mengurangi hak lintas damai kapal asing (Pasal 24 ayat 1 (a).
6) Tidak mengadakan diskriminasi terhadap kapal pelintas (Pasal 24 ayat 1 (b).
7) Mengumumkan secara tepat bahaya apapun bagi navigasi dalam laut teritorialnya yang diketahui (Pasal 24 ayat 2).
8) Mencegah lintas yang tidak damai (Pasal 25 ayat 1).
9) Tidak menetapkan pungutan apapun, kecuali biaya pelayanan khusus yang diberikan kepada kapal pelintas.
2. Lintas Transit ("Transit Passage").
Bagi Indonesia, lintas transit hanya berlaku di Selat Malaka, di mana terdapat perbatasan tiga negara. Pengertian lintas transit secara rinci adalah sebagai berikut:
a. Batasan
1) Melintas di selat yang digunakan untuk pelayaran internasional antara satu bagian laut lepas atau ZEE ke bagian laut lepas atau ZEE lainnya (Pasal 37 KHL 82).
2) Kebebasan pelayaran dan penerbangan didasarkan semata-mata untuk tujuan transit yang terus-menerus, langsung dan secepat mungkin antara salah satu bagian laut lepas atau ZEE dan bagian laut lepas ZEE lain (Pasal 38 ayat 2 KHL 82).
3) Persyaratan di atas tidak menutup kemungkinan bagi lintas melalui selat untuk memasuki, meninggalkan atau kembali dari suatu negara yang berbatasan dengan selat itu dengan tunduk pada syarat-syarat masuk negara itu (Pasal 38 ayat 2 KHL 82).
b. Kewajiban Pelintas (Pasal 39 KHL 82)
1) Lewat dengan cepat melalui atau di atas selat.
2) Menghindarkan diri dari perbuatan yang mengancam atau menggunakan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, atau kemerdekaan politik negara yang berbatasan dengan selat yang bersangkutan.
3) Menghindarkan diri dari kegiatan apapun selain transit secara terus menerus, langsung dan secepat mungkin dalam cara normal kecuali bila diperlukan karena "force majeure" atau karena keadaan darurat.
4) Memenuhi ketentuan hukum internasional yang diterima secara umum, prosedur dan praktek tentang keselamatan di laut termasuk Peraturan Internasional tentang Pencegahan Tubrukan di Laut dan tentang Pencegahan, Pengurangan dan Pengendalian Pencemaran.
5) Pesawat udara harus mentaati semua ketentuan internasional yang berlaku. 6) Kapal riset dan survey tidak dapat melakukan kegiatan riset dan survey
apapun tanpa izin dari negara yang berbatasan dengan selat tersebut. c. Kewajiban Negara Pantai (Pasal 41 dan 42 KHL 82).
1) Menentukan alur laut dan dapat menetapkan skema pemisah lalu lintas untuk pelayaran di selat, dan harus mengumumkan hal tersebut.
2) Mengganti alur laut dan skema pemisah di selat, sesuai dengan peraturan internasional yang diterima secara umum dengan mengajukan usul kepada organisasi internasional terlebih dahulu untuk mendapat persetujuan. 3) Dapat membuat peraturan-peraturan yang bertalian dengan lintas transit
melalui selat tentang hal-hal sebagai berikut :
(a) Keselamatan pelayaran dan pengaturan lalu lintas di laut/di selat tersebut.
(b) Mencegah, mengurangi dan mengendalikan pencemaran dengan melaksanakan peraturan internasional yang berlaku tentang pembuangan minyak, limbah berminyak dan bahan beracun lainnya di selat.
(c) Tentang kapal penangkap ikan
(d) Bongkar muat setiap komoditi yang ada hubungannya dengan perundang-undangan bea cukai, fiskal dan imigrasi atau saniter negara yang berbatasan dengan selat.
4) Tidak mengadakan diskriminasi di antara kapal-kapal asing dalam melaksanakan hak lintasnya.
3. Lintas Alur Laut Kepulauan ("Archipelagic Sea Lane Passage").
Alur Laut Kepulauan ("Archipelagic Sea Lane") merupakan alur laut yang melewati laut wilayah dan perairan kepulauan dari suatu negara kepulauan ("archipelagic state"). Menurut Pasal 53 ayat 3 Konvensi Hukum Laut 1982, "Lintas Alur Laut Kepulauan" berarti pelaksanaan hak pelayaran dan penerbangan sesuai ketentuan konvensi ini dalam cara normal semata-mata untuk melakukan transit yang terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang antara satu bagian laut lepas atau Zone Ekonomi Ekslusif dan bagian laut lepas atau ZEE lainnya.
Menurut PP No. 37 tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal dan Pesawat Udara Asing Dalam Melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan Melalui Alur Laut Kepulauan yang Ditetapkan, dalam pelaksanaan lintas alur kepulauan diatur sebagai berikut :
a. Batasan
1) Kapal dan pesawat udara asing dapat melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan, untuk pelayaran atau penerbangan dari satu bagian laut bebas atau zona ekonomi eksklusif ke bagian lain laut bebas atau zona ekonomi eksklusif melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan Indonesia (Pasal 2)
2) Pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan dilakukan melalui alur laut atau melalui udara di atas alur laut yang ditetapkan sebagai alur laut kepulauan yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tersebut sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 11. (Pasal 3 ayat 1)
3) Pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini di bagian-bagian lain Perairan Indonesia dapat dilaksanakan setelah di bagian-bagian lain tersebut ditetapkan alur laut kepulauan yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tersebut (Pasal 3 ayat 2)
b. Kewajiban Pelintas
1) Kapal dan pesawat udara asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan harus melintas secepatnya melalui atau terbang di atas alur laut
kepulauan dengan cara normal, semata-mata untuk melakukan transit yang terus- menerus, langsung, cepat, dan tidak terhalang. (Pasal 4 ayat 1)
2) Kapal atau pesawat udara asing yang melaksanakan lintas alur laut kepulauan, selama melintas tidak boleh menyimpang lebih dari 25 (dua puluh lima) mil laut ke kedua sisi dari garis sumbu alur laut kepulauan, dengan ketentuan bahwa kapal dan pesawat udara tersebut tidak boleh berlayar atau terbang dekat ke pantai kurang dari 10 % (sepuluh per seratus) jarak antara titik-titik yang terdekat pada pulau-pulau yang berbatasan dengan alur laut kepulauan tersebut. (Pasal 4 ayat 2)
3) Kapal dan pesawat udara asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tidak boleh melakukan ancaman atau menggunakan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, atau kemerdekaan politik Republik Indonesia, atau dengan cara lain apapun yang melanggar asas-asas Hukum Internasional yang terdapat dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Pasal 4 ayat 3)
4) Kapal perang dan pesawat udara militer asing, sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan, tidak boleh melakukan latihan perang-perangan atau latihan menggunakan senjata macam apapun dengan mempergunakan amunisi. (Pasal 4 ayat 3)
5) Kecuali dalam keadaan force majeure atau dalam hal musibah, pesawat udara yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tidak boleh melakukan pendaratan di wilayah Indonesia (Pasal 4 ayat 4)
6) Semua kapal asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tidak boleh berhenti atau berlabuh jangkar atau mondar-mandir, kecuali dalam hal force majeure atau dalam hal keadaan musibah atau memberikan pertolongan kepada orang atau kapal yang sedang dalam keadaan musibah. (Pasal 4 ayat 5)
7) Kapal atau pesawat udara asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tidak boleh melakukan siaran gelap atau melakukan gangguan terhadap sistem telekomunikasi dan tidak boleh melakukan komunikasi langsung dengan orang atau kelompok orang yang tidak berwenang dalam wilayah Indonesia. (Pasal 4 ayat 6)
8) Kapal atau pesawat udara asing, termasuk kapal atau pesawat udara riset atau survey hidrografi, sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan, tidak boleh melakukan kegiatan riset kelautan atau survey hidrografi, baik dengan mempergunakan peralatan deteksi maupun peralatan pengambil contoh, kecuali telah memperoleh izin untuk hal itu. (Pasal 5)
9) Kapal asing, termasuk kapal penangkap ikan, sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan, tidak boleh melakukan kegiatan perikanan. (Pasal 6 ayat 1)
10) Kapal penangkap ikan asing, sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan, selain memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), juga wajib menyimpan peralatan penangkap ikannya ke dalam palka. (Pasal 6 ayat 2)
11) Kapal dan pesawat udara asing, sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tidak boleh menaikkan ke atas kapal atau menurunkan dari kapal, orang, barang atau mata uang dengan cara yang bertentangan dengan perundang- undangan kepabeanan, keimigrasian, fiskal, dan kesehatan, kecuali dalam keadaan force majeure atau dalam keadaan musibah. (Pasal 6 ayat 3)
12) Kapal asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan wajib menaati peraturan, prosedur, dan praktek internasional mengenai keselamatan pelayaran yang diterima secara umum, termasuk peraturan tentang pencegahan tubrukan kapal di laut. (Pasal 7 ayat 1)
13) Kapal asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan dalam suatu alur laut di mana telah ditetapkan suatu Skema Pemisah Lintas untuk pengaturan keselamatan pelayaran, wajib menaati pengaturan Skema Pemisah Lintas tersebut. (Pasal 7 ayat 2)
14) Kapal asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan tidak boleh menimbulkan gangguan atau kerusakan pada sarana atau fasilitas navigasi serta kabel-kabel dan pipa-pipa bawah air. (Pasal 7 ayat 3)
15) Kapal asing sewaktu melaksanakan Hak Lintas Alur Laut kepulauan dalam suatu alur laut kepulauan di mana terdapat instalasi-instalasi untuk eksplorasi atau eksploitasi sumber daya alam hayati atau non hayati, tidak boleh berlayar terlalu
dekat dengan zona terlarang yang lebarnya 500 (lima ratus) meter yang ditetapkan di sekeliling instalasi tersebut. (Pasal 7 ayat 4)
16) Pesawat udara sipil asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan harus :
a. menaati peraturan udara yang ditetapkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional mengenai keselamatan penerbangan
b. setiap waktu memonitor frekuensi radio yang ditunjuk oleh otorita pengawas lalu lintas udara yang berwenang yang ditetapkan secara internasional atau frekuensi radio darurat internasional yang sesuai
17) Pesawat udara negara asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan harus :
a. menghormati peraturan udara mengenai keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a ;
b. memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b. 18) Kapal asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan dilarang membuang minyak, limbah minyak, dan bahan-bahan perusak lainnya ke dalam lingkungan laut, dan atau melakukan kegiatan yang bertentangan dengan peraturan dan standar internasional untuk mencegah, mengurangi, dan mengendalikan pencemaran laut yang berasal dari kapal (Pasal 9 ayat 1)
19) Kapal asing yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan dilarang melakukan dumping di Perairan Indonesia (Pasal 9 ayat 2)
20) Kapal asing bertenaga nuklir, atau yang mengangkut bahan nuklir, atau barang atau bahan lain yang karena sifatnya berbahaya atau beracun yang melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan, harus membawa dokumen dan mematuhi tindakan pencegahan khusus yang ditetapkan oleh perjanjian internasional bagi kapal-kapal yang demikian (Pasal 9 ayat 3)