BAB I PENDAHULUAN
G. Batasan Istilah
3. Hakekat Media Pembelajaran
“Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar”
(Sadiman, dkk, 2009: 6). Menurut Heinich, Molenda, dan Russel (via Sanjaya, 2008: 204) mengungkapkan bahwa ”media is a channel of communication. Derived from the Latin word for “between”, the terms refers “to anything that
carries information between a source and a receiver”. Pendapat Heinich di atas dapat diartikan bahwa media adalah alat saluran komunikasi. Jadian dari kata latin
“antara”, terminologi yang mengarah kepada segala sesuatu yang membawa
informasi antara sumber dan penerima.
Menurut Arsyad (2011: 3) mengartikan “media sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal”. Sedangkan menurut Cangara (2006: 119) media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antar manusia, media yang paling dominan dalam berkomunikasi adalah pancaindera manusia seperti mata dan telinga. Pesan-pesan yang diterima oleh pancaindera selanjutnya diproses oleh pikiran manusia untuk mengontrol sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan. Sedangkan media menurut Djamarah (2002: 137) adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.
Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa media adalah alat bantu yang digunakan pada proses pembelajaran sebagai penyalur pesan antara komunikator (guru) dan khalayak (siswa) agar tujuan pengajaran tercapai.
b. Tujuan Penggunaan Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Menurut
Mulyani (2001: 153) Secara khusus mengemukakan bahwa media pengajaran digunakan dengan tujuan sebagai berikut:
1) Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik bahan.
2) Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar, sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
3) Menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu.
4) Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik. Sementara Susilana dan Riyana (2008: 9) mengemukakan bahwa secara umum media mempunyai kegunaan.
1) Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
3) Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
4) Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya.
5) Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan media pembelajaran adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam proses belajar mengajar untuk mempermudah peserta didik memahami pelajaran yang diajarkan, memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi, menumbuhkan sikap tertentu terhadap teknologi, menciptakan situasi belajar yang tidak terlupakan, sehingga berguna untuk memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis, mengatasi keterbatasan ruang, menimbulkan gairah belajar, memungkinkan anak belajar mandiri, dan memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.
c. Langkah-Langkah Penggunaan Media Pembelajaran
Menurut Sadiman, dkk (1990) penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran akan memberi kontribusi terhadap efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. Berbagai hasil penelitian pada intinya menyatakan bahwa berbagai macam media pembelajaran memberikan bantuan sangat besar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Namun demikian peran tenaga pengajar itu sendiri juga menentukan terhadap efektivitas penggunaan media dalam pembelajaran. Peran tersebut tercermin dari kemampuannya dalam memilih media yang digunakan, sehingga penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran perlu mempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu:
1. Tidak ada satu media pun yang paling baik untuk semua tujuan. Suatu media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok untuk pembelajaran yang lain.
2. Media adalah bagian integral dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar guru saja, tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen lain dalam perancangan pembelajaran. Tanpa alat bantu mengajar mungkin pembelajaran tetap dapat berlangsung, tetapi tanpa media itu tidak akan terjadi.
3. Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar peserta didik. Kemudahan belajar peserta didik haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.
4. Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dengan pembelajaran yang berlangsung.
5. Pemilihan media hendaknya objektif, yaitu didasarkan pada tujuan pembelajaran, tidak didasarkan pada kesenangan pribadi tenaga pengajar.
6. Penggunaan beberapa media sekaligus akan dapat membingungkan peserta didik. Penggunaan multimedia tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus, tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain untuk tujuan yang lain pula.
7. Kebaikan dan kekurangan media tidak tergantung pada kekonkritan dan keabstrakannya saja. Media yang konkrit ujudnya, mungkin sukar untuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstrk dapat pula memberikan pengertian yang tepat.
Menurut Sungkono (2009: 17) media pembelajaran yang telah dipilih agar dapat digunakan secara efektif dan efisien perlu menempuh langkah-langkah secara sistematis. Ada tiga langkah pokok yang dapat dilakukan yaitu persiapan, pelaksanaan atau penyajian, dan tindak lanjut.
1) Persiapan
Persiapan maksudnya kegiatan dari seorang tenaga pengajar yang akan mengajar dengan menggunakan media pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan tenaga pengajar pada langkah persiapan di antaranya:
a) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran/ perkuliahan sebagaimana bila akan mengajar seperti biasanya. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran/ perkuliahan cantumkan media yang akan digunakan.
b) Mempelajari buku petunjuk atau bahan penyerta yang telah disediakan. c) Menyiapkan dan mengatur peralatan yang akan digunakan agar dalam
pelaksanaannya nanti tidak terburu-buru dan mencari-cari lagi serta peserta didik dapat melihat dan mendengar dengan baik (Sungkono, 2009).
2) Pelaksanaan atau Penyajian
Tenaga Pengajar pada saat melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran perlu mempertimbangkan seperti:
a) Keyakinan bahwa semua media dan peralatan telah lengkap dan siap untuk digunakan dalam proses pembelajaran.
b) Kejelasan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
c) Penjelasan terlebih dahulu apa saja yang harus dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran.
d) Pencegahan terhadap kejadian-kejadian yang sekiranya dapat mengganggu perhatian/ konsentrasi, dan ketenangan peserta didik dalam proses pembelajaran (Sungkono, 2009).
Menurut E’en (2012) dalam tahap pelaksanaan terdapat dua kegiatan, di antaranya:
a) Kegiatan awal untuk mempersiapkan dan memeriksa kesiapan penggunaan media pembelajaran yang akan digunakan; dan menyampaikan tujuan yang akan dicapai.
b) Kegiatan ini yaitu: (1) mengoperasikan media yang akan digunakan dalam pembelajaran, dalam hal ini media Rosetta Stone; (2) memperhatikan aktivitas siswa dan mengelola kelas sesuai rancangan pembelajaran yang telah ditentukan; (3) menjelaskan materi dengan baik; (4) berhenti memutarkan media dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya; (5) memutar ulang bagian yang kurang jelas; (6) meminta siswa mencatat bagian penting dari materi yang diajarkan; (7) meminta siswa
bertanya jika ada penjelasan yang kurang jelas; (8) jika diperlukan, membagi siswa dalam kelompok; dan (9) setelah selesai pembelajaran, siswa ditanya tentang pembelajarannya.
c) Kegiatan akhir yaitu: (1) melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilakukan; dan (2) memberikan evaluasi kepada siswa.
3) Tindak lanjut
Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang materi yang dibahas dengan menggunakan media, di samping itu kegiatan ini dimaksudkan untuk mengukur efektivitas pembelajaran yang telah dilakukannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya diskusi, eksperimen, observasi, latihan dan tes (Sungkono, 2009).
Menurut E’en (2012) ada beberapa kegiatan dalam tindak lanjut ini, di
antaranya: (1) memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami; (2) memberi penguatan, penjelasan tambahan, dan pengayaan terhadap materi yang telah disampaikan; (3) jika perlu memutarkan kembali media dari bagian yang belum dipahami; (4) membimbing siswa membuat kesimpulan; dan (5) mengoreksi jawaban siswa.
4. Hakekat Rosetta Stone