KAJIAN PUSTAKA A.Kajian Pustaka
2. hakekat Pembelajaran Matematika di SD a.Pengertian Belajar dan Pembelajaran
H.M.Ali Hamzah dan Muhlisrarini (2014:58) menjelaskan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan manusia dan aneka raga kompetensi/kemampuan, skill/ketrampilan dan attitude/sikap secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat dengan keterlibatan dalam pendidikan formal (sekolah), informal (kursus) dan non formal (majelis-majelis ilmu) bukan atas dasar insting, kematangan, kelelahan atau temporary states lainnya.
Azhar Arzyad (2014:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada dii orang sepanjang hidupnya. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Arief S. Sadiman, dkk (2014:2) juga mengatakan bahwa belajar adaah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga liang lahat nanti. Sugihartono, dkk (2007:74) juga mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan Slameto
(2010:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Seseorang dikatakan sudah belajar apabila adanya perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri yang mungkin karena terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, kterampilan dan sikapnya.
Istilah belajar dan pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan. Gagne (Miftahul Huda, 2013:3) menjelaskan bahwa pembelajaran dapat diartikan sebagai proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang bisa dipertahankan dan ditingkatkan levelnya. Hamruni (2011:48-52) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses berpikir yang memanfaatkan potensi otak dan berlangsung sepanjang hayat.
H.M.Ali Hamzah dan Muhlisrarini (2014:58) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah upaya dari guru atau dosen untuk siswa/mahasiswa dalam bentuk kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode dan strategi yang optimal untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Sedangkan Sudjana (Sugihartono dkk, 2007:80) mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar. Mujiono (H. Rostina Sundayana 2013:25) juga berpendapat bahwa ada
beberapa komponen dalam proses belajar mengajar yang penting dan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa yaitu bahan belajar yang akan diajarkan, suasana belajar, media dan sumber belajar, dan guru sebagai subyek pembelajaran.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar dan pembelajaran saling berkaitan dan tidak akan dipisahkan. Dalam pembelajaran akan terjadinya belajar. Seperti yang dikemukakan Sugihartono, dkk bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. maka Pembelajaran dapat dilakukan oleh manusia sepanjang hayat yang dapat menghasilkan pengalaman-pengalaman yang bermanfaat bagi diri sendiri. b. Pengertian Matematika
Ruseffendi (1992:45) mengemukakan bahwa Matematika adalah ilmu tentang struktur yang terorganisasikan, sebab berkembang dari unsur yang tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke postulat/aksioma, dan ke dalil/teori. Rostina sundayana (2013:2) berpendapat bahwa Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun sampai ssat ini masih banyak siswa yang merasa Matematika sebagai mata pelajaran yang susah, tidak menyenangkan, bahkan menakutkan.
Ending Setyo Winarni dan Sri Harmini (2011:1) menjelaskan bahwa untuk memahami Matematika membutuhkan pemikiran yang kritis dan juga diperlukan penguasaan konsep yang baik sehingga dapat memahami dan mengungkapkan kembali masalah, merencanakan penyelesaiannya, membuat langkah-langkah penyelesaikan dan melakukan dugaan dari informasi yang tidak lengkap dalam menyelesaikan masalah yang dipelajari. Dalam berpikir kritis ini dapat menggunakan penalaran induktif dan deduktif. Penalaran induktif adalah penalaran yang bersifat generalisasi dari hal khusus ke umum sedangkan penalaran deduktif adalah penalaran yang bersifat generalisasi dari hal umum ke khusus.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Matematika merupakan mata pelajaran yang membutuhkan pemikiran yang lebih kritis untuk memahami materinya. Sehingga guru harus mampu menguasai materi yang diajarkan sehingga tidak salah dalam mengajar. Guru harus mampu mengkondisikan kelas agar siswa lebih senang dalam belajar Matematika.
c. Pembelajaran Bidang Datar
J. Tombokan dan Selpius Kandou (2014: 153) menjelaskan bahwa bangun datar atau bangun dua dimensi adalah kurva tertutup sederhana yang terletak pada bidang.
d. Tujuan Pengajaran Matematika
Muchtar A. Karim, dkk (1996:11) mengemukakan tujuan umum dan tujuan khusus pengajaran Matematika. Tujuan umumnya yaitu menata nalar atau cara berpikir, pembentukan sikap, dan ketrampilan siswa untuk menerapkan matemaatika. Sedangkan tujuan khusus di SD adalah (1) suatu alat yang dapat mengembangkan ketrampilan berhitung dengan menggunakan bilangan, (2) menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dipindahkan, (3) sebagai bekal dalam mengembangkan pembelajaran Matematika di sekolah lebih lanjut, (4) membentuk sikap logis, kritis, kreatif, cermat dan disiplin. Jadi, pengajaran Matematika di SD sangat penting dilakukan karena merupakan dasar dari pembentukan karakter, dan melatih cara berpikir siswa yang kritis.
e. Teori Belajar dalam Proses Belajar Matematika
1.) Ruseffendi (1992:109) mengemukakan Teori belajar menurut Bruner mengatakan bahwa belajar Matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan.
2.) Muchtar A. Karim, dkk (1996:18-26) menjelaskan beberapa teori yaitu a.) Teori belajar Wiliam Brownell yang dikenal dengan nama meaning
theory yaitu teori yang dimana siswa dalam memahami konsep Matematika menggunakan benda-benda kongkret dan dilakukan secara terus-menerus untuk waktu yang lama.
b.) Teori belajar Zoltan P. Dienes yang meyaakini bahwa siswa akan dapat memahami penuh konsep Matematika jika menggunakan berbagai sajian atau representasi. Karena siswa akan lebih memahami materi yang diajarkan jika diajarkan secara berulang-ulang.
c.) Teori belajar Richard Skemp yang meyakini bahwa agar belajar menjadi berguna bagi siswa, maka sifat-sifat umum dari pengalaman harus dipadukan untuk membentuk suatu struktur konsep tual atau skema.
d.) Teori belajar Robert M. Gagne yang meyakini bahwa belajar dapat ditingkatkan jika untuk menuntaskan tugas-tugas yang lebih luas harus sudah jelas mendefinisi dan urutannya.
Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran Matematika guru harus merancang pembelajaran yang baik. Guru harus menggunkan media pemeblajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan seperti dalam teori belajar William Brownell, siswa dalam memahami konsep Matematika harus menggunakan benda-benda kongkret dan dilakukan secara terus-menerus sehingga adanya interaksi yang aktif antara guru dan siswa. Materi yang diajarkan juga mudah dipahami oleh siswa, suasana belajarpun menyenangkan dan hasil belajar siswapun memuaskan.